MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
PERMINTAAN HADIAH*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Si pria tampan menatap Lazarus lekat saat pemuda itu ingin mengutarakan permintaan selanjutnya. Lelaki bersayap bagaikan malaikat dalam kisah dongeng mengangguk.


"Aku ingin salah satu sampel darah yang kami ambil saat menjalankan misi level 9. Katamu, Bumi akan terserang wabah bukan? Aku dengar dari Timo jika ayahnya seorang ilmuwan. Aku ingin memberikan darah makhluk itu padanya agar bisa dimanfaatkan untuk mengantisipasi bencana di masa depan entah dengan cara apa," tegasnya.


Wajah si pria tampan serius seketika. Ia diam sejenak seperti berpikir, tapi kemudian mengangguk. Ia menjentikkan jarinya, tapi Lazarus merasa ia tak mendapatkan apapun.


"Kau akan menerimanya saat bangun nanti. Segera selesaikan permintaanmu. Bergegaslah. Waktumu terbatas, Benedict," ucap si pria tampan, dan Lazarus mengangguk pelan.


"Entah kenapa sosok Atala cukup melekat dalam pikiranku. Bisakah ... aku mendapatkan seorang kekasih, atau mungkin ... isteri ketika dewasa nanti dengan sosok seperti Atala ketika di Bumi?" tanyanya yang membuat si pria tampan sedikit terkejut.


"Maksudmu ... Puteri Atala dari kaum Centaur?" Lazarus mengangguk pelan meski terlihat malu. "Hem, kurasa ... aku bisa melakukannya. Kau akan bertemu dengannya saat berumur 25 tahun. Kurasa di umur itu kau sudah cukup matang untuk menentukan sendiri, apakah gadis seperti Atala bisa menjadi pendamping hidupmu atau tidak. Kau yang menentukan takdirmu kepada siapa hatimu berlabuh. Aku hanya bisa mengantarkannya padamu saat waktunya tiba," ucap si pria tampan, dan Lazarus mengangguk mantap.


Pria bersayap itu kembali menjentikkan jarinya. Lazarus terlihat lega dan merasa senang dengan harapan tersebut. Ia kembali diam dan mencoba memikirkan permintaan selanjutnya di mana ia memang belum mempersiapkan hal itu sama sekali. Baginya, apa yang sudah dimiliki telah terpenuhi. Ia juga merasa, sifatnya sedikit berubah di mana dulunya ia begitu sombong dan egois. Semua keinginannya harus dipenuhi, jika tidak, dirinya tak segan melakukan ancaman bahkan kepada Ibu dan Ayah. Namun, Lazarus teringat akan sosok pamannya Jonathan. Ia kembali menatap si pria tampan lekat.


Sedang di tempat Timo berada.


Pemuda itu juga meminta sampel darah yang berhasil timnya dapatkan saat misi level 9. Si pria tampan memberikan salah satu dari empat jenis darah itu pada Timo. Tampaknya, beberapa anak sudah memikirkan hal ini usai mereka mengetahui banyak hal, terutama bencana yang akan menyerang Bumi.


"Kuberikan darah biru padamu, Timo," ucap pria tampan itu dan Timo mengangguk mantap. "Selanjutnya."


"Aku ingin saat dewasa nanti, laboratorium milik ayahku Jeremy jatuh padaku. Aku ingin menjadi ilmuwan sepertinya, termasuk Tina. Buat kami menjadi dua orang yang jenius dalam bidang farmasi. Kami berdua sudah sepakat dengan hal ini. Aku juga ingin Tina memiliki rumah sakit milik Ayah yang akan dikelola olehnya saat dewasa nanti. Kurasa, dengan memiliki dua aset besar dalam bidang farmasi, akan membantu mengatasi bencana di masa depan meski hal ini sengaja kami dirahasiakan kepada orang tua kami. Jadi ... kau bisa mengabulkannya?" tanya Timo menatap pria di hadapannya lekat.


"Kau tak ingin ayahmu tahu tentang bencana di masa depan? Kau ingin menghapus ingatannya padahal kau sudah membangkitkannya?" tanya pria itu, dan Timo mengangguk.


Pria tersebut lalu menjentikkan jari. Timo terlihat senang dan bersiap untuk permintaan selanjutnya di mana pasir pada jam kuno tersebut perlahan mulai menipis.


"Aku ingin agar darahku saat menjadi Mermaid, dan Tina ketika menjadi serigala sebagai hadiah kemenanganku," pintanya menatap pria itu tajam. Sosok berkharisma yang selalu tersenyum itu mengangguk lalu menjentikkan jarinya lagi.

__ADS_1


"Permintaanmu sudah habis. Kau memanfaatkan waktu dengan baik, Timo. Kau mendapatkan kesepuluh permintaan. Semoga harapanmu bisa menyelamatkan Bumi di masa depan. Sampai jumpa," ucap sosok itu yang mengakhirinya dengan senyuman.


Timo mengembuskan napas panjang. Ia senang karena akhirnya semua permintaan yang sudah disepakati dengan Tina ketika mereka berdua dipertemukan kembali telah disampaikan semuanya. Timo menoleh ketika mendapati sebuah portal terbuka untuknya. Senyum pemuda itu terkembang dan tak terlihat ragu saat mendatangi lalu masuk ke dalamnya.


Sedang di tempat Bara berada.


"Cairan biru?" tanya sosok rupawan itu menatap Bara lekat.


"Ya. Cairan biru yang Tina dapatkan saat kami menyusuri kastil tua. Aku ingin cairan itu," jawab Bara mantap.


Pria dengan rambut ikal itu mengangguk pelan lalu menjentikkan jari pertanda ia mengabulkan permintaan tersebut. Bara terlihat senang. Ia lalu terlihat gugup akan sesuatu dan sosok rupawan menyadarinya.


"Waktumu terbatas, Bara. Apa yang kauinginkan selanjutnya?"


"Mm ... ini rahasia. Sebenarnya ... aku sudah menyukai Juby sejak pertama kali berjumpa dengannya. Namun, aku tak mau merusak hubungan Juby dengan Rex karena mereka berdua kawanku. Jadi ... bisakah saat di Bumi nanti, aku mendapatkan pacar seperti Jubaedah? Maksudku ... tak usah mirip 100 persen karena hal itu akan aneh. Setidaknya, perilakunya seperti Juby dan ... harus cantik tentunya. Malah kalau bisa, lebih cantik dari Juby," ucap Bara yang membuat sosok seperti malaikat itu mengedipkan mata.


"Yes!" ucap Bara senang dengan wajah gembira.


"Permintaan selanjutnya."


"Oh! Aku ingin kaya raya seperti Lazarus ketika dewasa nanti. Aku ingin sejajar dengannya dalam status sosial, kekayaan, dan ... intinya sederajat dengannya!" pintanya menggebu.


Sosok rupawan itu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, tapi ia menjentikkan jari. Bara terlihat begitu senang karena semua permintaannya terwujud.


"Lalu ... aku ingin ayahku mendapatkan isteri baru. Namun, aku ingin sosok Ibu yang penyayang, tidak mata duitan, tidak galak, dan pintar memasak. Kasihan, aku sering melihat Bapak seperti kesepian. Bisa kau kabulkan?" pinta Bara penuh harap.


Sosok rupawan itu mengangguk seraya menjentikkan jari. Bara melompat kegirangan di mana ia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.


"Sampai jumpa, Bara. Sekali lagi kuucapkan selamat dan ... semoga kau selamat saat bencana menghantam Bumi," ucap sosok rupawan itu yang membuat tawa bahagia Bara lenyap seketika.

__ADS_1


"Hei! Aku belum selesai meminta!" serunya marah, tapi sosok itu menunjuk pada pasir waktu yang sudah habis. Mulut Bara menganga, terlebih saat sosok itu tersenyum seraya melambaikan tangan lalu menghilang. "Agh, sial! Aku belum meminta hal keren lainnya!"


Namun, semua bentuk protes itu tak ada gunanya. Sebuah portal muncul dan Bara langsung mendesis kesal. Ia masih marah dan malah menendang batu kerikil di hadapan sehingga masuk ke portal. Bara melangkah masuk sambil menggerutu dan bertolak pinggang.


Di tempat Rex berada.


"Aku ingin sampel darah dari misi level 9. Khususnya yang berwarna hijau dengan bulu yang bisa berubah menjadi seperti jarum," pinta Rex tegas. Sosok bercahaya itu mengangguk lalu menjentikkan jarinya. Rex tersenyum senang karena permintaannya dikabulkan. "Lalu selanjutnya. Aku ingin hadiah yang diberikan oleh para alien bajak laut kubawa pulang ke Bumi."


"Maksudmu ... seperti racun dan kulit dari Viper?" tanya pria itu mengulang. Rex mengangguk pelan, dan pria itu mengangguk setuju. Sosok bagaikan malaikat itu mengulang permintaan Rex. "Kulit Viper," ucapnya lalu menjentikkan jari. Rex diam, tapi mengangguk membenarkan. "Racun Viper." Rex kembali mengangguk. "Darah sang Kapten," sambungnya, "lendir siput." Rex mengangguk.


Namun, saat si pria tampan akan membuka mulutnya untuk menyebutkan hadiah terakhir Rex, tiba-tiba saja pasir pada jam pengatur waktu sudah habis. Rex terkejut dan langsung terlihat tegang.


"Maaf, Rex. Waktu habis. Setidaknya kau sudah mendapatkan sembilan dari sepuluh permintaan. Selamat tinggal dan semoga kau selamat ketika bencana itu terjadi," ucap sosok rupawan itu yang tiba-tiba menghilang dari pandangan. Rex terkejut dan menoleh untuk mencari keberadaan sosok itu.


Saat Rex dilanda kebingungan, sebuah portal muncul. Mata Rex melebar dan menatap portal bercahaya itu tajam. Namun, Rex sadar jika portal itu adalah pintu untuk membawanya kembali pulang ke Bumi. Rex menarik napas dalam dan melangkah memasuki portal tak terlihat takut.


Hal serupa juga terjadi pada Mandarin saat sebuah portal muncul di hadapannya dengan cahaya biru menyala terang. Mandarin sudah mendapatkan 8 hadiah dari permintaannya seperti mempertahankan ingatan selama di Planet Mitologi pada dirinya dan Bobby, mengembalikan ingatan lama pada mereka berdua, darah warna merah dari makhluk pada misi level 9, pedang Silent Gold milik sang Ayah yang sudah diperbaiki, taring Ogre sebagai kenang-kenangan selama menjalankan misi level di Planet Mitologi, dan darah Ogre-nya yang kebal terhadap senjata.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Uhuy makasih tipsnya diriku. Aku padamuđź’‹

__ADS_1


__ADS_2