
Di tempat Bara dan Tina berada.
Tina yang akhirnya siuman, merasa senang karena akhirnya bertemu Bara. Tina merubah wujudnya kembali menjadi manusia.
Keduanya memilih untuk menghemat energi dan membiarkan robot aneh yang ditumpangi mereka membawa ke tempat yang tak dikenal.
"Bara. Apa kau tak menemukan jejak dari kawan-kawan lainnya?" tanya Tina sedih seraya mengelus hewan penyimpan cadangan jiwa miliknya di pangkuan.
"Tidak ada. Aku juga heran kenapa kita bisa terpisah begitu jauh," jawabnya seraya menatap langit malam.
Keduanya tampak lesu karena sama-sama tak memiliki petunjuk di mana mereka berada, terlebih kawan-kawan lainnya.
Cukup jauh robot itu membawa mereka pergi hingga ke suatu tempat di mana langit selalu berwarna biru dengan kilauan.
Hingga akhirnya, dua remaja itu bingung saat robot yang ditumpangi berhenti di tepi sebuah sungai begitu saja.
"Kenapa tak bergerak lagi? Kita sudah sampai atau bagaimana? Ini di mana?" tanya Tina heran seraya melihat sekitar.
"Entah. Robot ini tau-tau jalan sendiri, dan tau-tau berhenti," tegasnya.
"Kita turun saja. Mungkin, robot ini seperti taksi yang mengantarkan sampai ke suatu tempat. Bisa jadi ini lokasi pemberhentian kita," ungkap Tina.
Bara yang tak bisa berpikir karena banyak hal aneh menimpa dirinya mengangguk setuju. Dua remaja itu turun dari robot perlahan diikuti oleh tiga hewan penyimpan cadangan jiwa milik Ryan, Tina dan Bara.
Mereka menyusuri tepian sungai mencari tahu hal tersembunyi yang mungkin bisa ditemukan. Hingga akhirnya, Bara berlari seperti mendapati sesuatu yang tak diketahui Tina.
"Ada perahu! Kita bisa menggunakannya untuk menyusuri sungai tanpa harus lelah berjalan!" serunya sembari menunjuk sebuah benda mengapung di tepi sungai.
Gadis cantik itu segera berlari mendekati Bara diikuti oleh tiga hewan penyimpan cadangan jiwa. Tina tampak kagum karena mereka menemukan sebuah perahu di tempat antah berantah.
"Oh, lihat! Perahu ini bahkan memiliki mesin. Apakah ... ini buatan manusia? Dan ... Bara, tengok! Ada tas di dalamnya. Coba buka!" seru Tina menunjuk.
Bara yang baru menyadari hal itu segera masuk ke perahu. Benda itu mengapung di aliran sungai tanpa pemilik. Tina melihat sekitar untuk memastikan jika ada manusia lain di tempat itu, tapi tak ada jejak.
"Tina, lihat. Sepertinya tas ini milik anak lain yang masuk ke permainan ini. Seorang anak laki-laki," ucap Bara saat membuka isi tas ransel itu.
"Benarkah? Apa ada identitas lainnya?" tanya Tina kaget.
"Tidak ada dompet, tapi ada beberapa perlengkapan. Woah! Ada baju yang dilipat rapi dan dimasukkan dalam plastik perekat!" seru Bara yang menemukan baju bersih dalam tas tersebut.
Bara bersemangat untuk membuka plastik tersebut dan membukanya. Namun seketika, Tina memalingkan wajah saat Bara sepertinya lupa jika ada seorang gadis di sana.
Bara melepas pakaian pramukanya dengan baju baru yang ternyata pas ia kenakan. "Hahaha! Baju ini bagus. Semoga pemiliknya tak masalah jika kupinjam," ucapnya senang seraya mengancingkan pakaian bermotif kotak-kotak tersebut.
Tina yang penasaran mencoba membuka isi tas itu, tapi tak menemukan petunjuk siapa pemiliknya.
"Apa tak masalah jika kita menggunakan perahu ini? Bagaimana jika dicari oleh anak lelaki tersebut?" tanya Tina ragu.
Bara diam sejenak di mana mereka berdua kini sudah berada di dalam perahu. Hingga tiba-tiba, Bara menjentikkan jari seperti terpikirkan sesuatu.
"Berubahlah menjadi manusia serigala. Lalu, kauendus tas ini. Pasti aroma dari si pemilik tas bisa kaulacak seperti katamu yang bisa mencium bauku," ucap Bara menyarankan.
"Wah, ide bagus. Oke!" jawab Tina setuju.
__ADS_1
Tina merubah dirinya menjadi manusia serigala. Bara tampak tegang dan tak sabar saat melihat Tina mencoba mengendus tas temuan mereka.
Namun tiba-tiba, Tina malah merangkak mundur yang membuat Bara bingung. Tina langsung merubah dirinya lagi menjadi manusia dan terlihat gugup.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Bara menatap Tina lekat.
"Bau ini ... sama seperti manusia serigala yang menyerangmu waktu itu. Ingat?"
Praktis, mata Bara melebar. "Maksudnya ... manusia serigala yang ingin memangsaku? Lalu ... ia berhasil dikalahkan saat kuceburkan di sungai. Begitu?" tanya Bara melotot, dan Tina mengangguk cepat.
Keduanya langsung terlihat pucat.
"Kalau begitu, kita harus segera pergi sebelum dia menyerang kita lagi. Mungkin saja dia masih selamat. Mungkin dia bisa muncul dengan berenang mengikuti arus sungai atau menyusuri tepian," ucap Bara yang membuat Tina ikut panik.
"Oke, aku terima saranmu. Ayo cepat pergi," sahut Tina segera bersiap di mana dalam perahu tersebut terdapat dua dayung dari kayu.
Bara mencoba menyalakan mesin perahu, tapi tidak bisa. Dua remaja itu berasumsi jika mesin perahu rusak.
Oleh karena itu, anak lelaki tersebut memilih meninggalkan perahu dan menyusuri tepian hingga akhirnya bertemu dengan Bara kala itu.
Dua anak itu terpaksa mendayung dan membawa perahu ke tengah sungai agar jauh dari tepian.
Tina menyadari jika manusia serigala tak menyukai air sehingga mereka akan lebih aman jika jauh dari daratan.
Cukup lama mereka mengarungi sungai besar dengan aliran tenang, tapi langit masih saja gelap. Seolah, matahari enggan muncul untuk mereka.
Tina yang kelelahan tak sanggup untuk mendayung lagi. Tangannya terasa sakit dan Bara memakluminya.
"Sebaiknya kauistirahat saja dulu. Perahu ini cukup luas. Kaubisa merebahkan diri di lantai. Sejauh ini aman tak ada ancaman. Aku akan terus mendayung sampai menemukan tempat aman untuk beristirahat," ucap Bara.
"Jangan meremehkanku. Walaupun tubuhku tak berotot seperti kawan-kawan lelaki kita lainnya, aku ini kuat. Sudah, kautidur saja. Jadi, saat bangun, kau akan kembali bugar. Aku biasa begadang menemani bapakku untuk ronda. Tidurlah, gunakan tas itu sebagai alas kepalamu," jawab Bara meyakinkan.
"Oke. Maaf ya, merepotkan," ucap Tina sungkan.
Bara mengangguk dengan senyum terkembang. Ia menggunakan dua dayung untuk menggerakkan perahu.
Tina merebahkan dirinya dan menggunakan tas temuan mereka sebagai alas kepala. Hewan miliknya dan Ryan merapatkan diri di tubuh Tina seperti ikut menemani tidur.
Tina merasa hangat karena bulu hewan-hewan itu sangat lembut. Sedang hewan milik Bara, menemani tuannya selama menyusuri sungai entah membawa mereka ke mana.
Entah sudah berapa lama pemuda itu mendayung, Bara mulai merasakan lelah dan pegal di kedua tangan. Ia akhirnya pasrah dan memilih perahu itu untuk bergerak sendiri mengikuti aliran sungai.
Saat Bara berdiri untuk merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku, tiba-tiba ia melihat sebuah bangunan di tempat yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Bara terpaku dan berdiri mematung melihat di kejauhan dengan takjub.
"Ra-ra ...," panggil hewan penyimpan cadangan jiwa yang sepertinya juga melihat keajaiban itu.
"Ya, ya. Aku takut, tapi juga penasaran. Bangunkan Tina, cepat, cepat!" pinta Bara yang matanya masih terfokus pada sesuatu yang tampak bersinar terang di bawah atap seperti jembatan yang melintang membentuk huruf X.
"Ra-ra! Ra-ra!" panggil hewan milik Bara yang melompat-lompat ke tubuh Tina.
Gadis serigala itu terkejut dan langsung membuka mata. Dua hewan yang ikut tidur bersamanya ikut bangun dan segera duduk di bangku kayu tempat Bara mendayung tadi.
__ADS_1
"Tina, lihat!" seru Bara dengan wajah berbinar.
Tina yang masih merasa lelah mengucek matanya perlahan sembari duduk. Saat ia menoleh, matanya langsung terbuka lebar ketika melihat hal yang membuatnya ikut tercengang.
"Wahhh ... itu apa?" tanyanya bingung dan ikut berdiri perlahan.
"Entah, tapi aku ingin sekali ke sana. Ayo!" ajak Bara semangat dan Tina mengangguk setuju.
Tina membantu Bara mendayung sampai ke sebuah bangunan mirip kastil yang ditinggalkan karena gelap dan tak terlihat cahaya di dalamnya.
Meskipun tempat itu terlihat menyeramkan, tapi keduanya yakin jika akan menemukan petunjuk di sana.
Bara merapatkan perahunya ke tepi kastil yang terbuat dari batu di mana ada bekas dermaga kecil tak terawat di sana.
Tina memilih menjadi manusia serigala agar bisa melindungi diri dan kawannya. Bara sepakat dengan hal itu.
Pemuda asal Indonesia itu menggendong tas temuannya dan melangkah dengan hati-hati ke jalan berbatu menuju ke kastil tersebut.
"Bagaimana? Apa kau mencium bau aneh?" tanya Bara yang berlindung di belakang tubuh serigala Tina.
Tina menggeleng, dan Bara tampak takut karena tempat itu gelap. Tina terus melangkah di mana matanya mampu melihat dalam kegelapan dan pergerakan.
Bara terus mengekor di belakang Tina dan tampak waspada. Sedang, tiga hewan penyimpan cadangan jiwa terlihat tak takut dan terus berlari mengikuti dengan empat kaki kecil mereka.
Tina menemukan pintu masuk di mana kayu tersebut terlihat sudah rapuh dan rusak. Mereka berusaha agar tak berisik ketika memasuki kastil besar itu.
"Harusnya kita bawa senter," ucap Bara merasa ngeri di ambang pintu. "Eh, bentar. Kayaknya tadi Bara nemuin ada lilin di tas ini. Sebentar, aku cek dulu," imbuhnya lalu membuka tas ransel tersebut.
Ternyata, dugaannya benar. Bara juga menemukan korek api gas serta rokok di mana ia yakin jika anak lelaki itu merokok. Bara yang tak merokok, memilih untuk menyimpan tembakau lintingan itu lagi dalam tas.
"Nah, better," ucapnya senang usai berhasil menyalakan lilin dan menjadikan cahaya itu sebagai penerang di kastil besar yang gelap.
Mereka melangkah masuk perlahan seraya melihat sekitar. Hingga tiba-tiba, tiga hewan penyimpan cadangan jiwa berlari ke sebuah dinding yang terbentang luas dan ada bekas obor di sana. Bara mencoba untuk menyalakan obor itu dengan api lilin miliknya.
WHOM!!
"Wah, tempat ini jadi terang," ucapnya senang. "Mm, Tina. Kau sebaiknya jadi manusia lagi saja. Tempat ini sudah mencekam. Ditambah wujudmu, suasananya makin horor. Maaf ya, tapi Bara takut hantu," pintanya memelas menatap wajah beringas teman serigalanya itu.
Tina mengangguk dan kembali ke wujud manusianya. Bara bernapas lega dan malah mengitari sekitar di mana ruangan tersebut cukup luas.
Bara menyalakan semua obor yang ditemukannya di tempat tersebut hingga ruangan seperti aula menyala terang.
Tiga hewan penyimpan cadangan jiwa seperti ikut senang karena ruangan itu tak gelap dan menyeramkan lagi.
Namun, mata Tina terfokus pada gambar di dinding seperti melukiskan sesuatu tentang sebuah kejadian.
"Mm, Bara. Kemarilah," panggil Tina pelan dengan mata masih terkunci pada gambar besar tersebut.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya dirikuh😆Kwkwkw. Bisa dobel eps gak ya hari ini biar cepet kelar gitu😁