
Anak-anak itu menyusuri jalan setapak yang terbuat dari permen berwarna-warni layaknya batuan.
Tentu saja, para remaja itu menikmati perjalanan mereka seraya mencomot biskuit, kue, dan permen yang mereka temukan karena terlihat menggiurkan.
"Aduh, aku haus. Apakah ada air minum?" tanya Nicolas berdehem seraya memegangi lehernya.
"Stok airku hanya tinggal satu botol ini. Kita harus berhemat," jawab Vadim seraya menunjukkan botol minumnya.
Nicolas melihat kawan-kawannya yang sepertinya ikut kehausan.
"Baik. Kita istirahat minum. Kita bagi secara rata. Satu orang hanya satu teguk," ucap Gibson yang kini sudah pulih sepenuhnya termasuk Rangga.
"Oke," jawab anak-anak dengan anggukan.
Gibson meminta mereka untuk mengantri. Gibson memegangi botol itu saat satu per satu dari mereka secara bergantian meneguk air.
Dan benar saja, satu botol itu habis dibagi ke seluruh anak dengan tegukan terakhir untuk Gibson.
"Kita harus mencari air atau kita akan kehausan," ucap Tina dan diangguki semua anak.
"Oke, terus jalan. Semoga kita menemukan sumber mata air," jawab Gibson menyemangati kawan-kawannya yang mulai terlihat cemas.
Boas berinisiatif untuk kembali terbang dengan tubuh perinya. Gibson dan lainnya tetap berjalan seraya melihat ke arah Boas yang sedang mencari sumber mata air.
"Oh! Aku melihat seperti ada kolam, tapi terbuat dari cokelat!" serunya menunjuk.
"Kolam cokelat?" tanya Pasha dengan mata melebar dan Boas mengangguk membenarkan.
"Minuman cokelat?" tanya Harun memastikan.
"Ya, seperti ... air terjun, begitulah. Ayo, kita ke sana!" ajak Boas.
Gibson melihat kawan-kawannya yang tampak antusias ingin pergi ke tempat itu.
"Baiklah. Kita ke sana untuk memastikan. Jika benar air itu bisa kita minum, ambil persediaan di botol masing-masing, tapi ingat, harus berhemat. Kalian paham?" tegas Gibson.
"Yeah!" seru anak-anak senang.
Boas akhirnya memberikan arahan ke mana mereka pergi dengan tetap menjadi peri. Anak-anak bersemangat untuk pergi ke kolam cokelat yang tampak menggiurkan itu di mana tercium aroma lezat meski di kejauhan.
Benar saja, terlihat sebuah gunung kecil yang mengeluarkan lahar, tapi sebuah coklat panas. Praktis, anak-anak itu dibuat kagum akan keajaiban tempat tersebut.
"Bagaimana kita tahu jika air cokelat itu aman dikonsumsi?" tanya Azumi cemas.
"Oh, sembunyi!" pekik Boas yang mengejutkan anak-anak karena peri tersebut langsung turun dengan tergesa dan menggiring mereka ke sebuah batu besar terbuat dari roti.
"Hem, enak," ucap Pasha malah merobek roti itu dan memakannya.
"Ish, Pasha!" pekik Jubaedah dengan suara tertahan menepuk pundak kawannya. Pasha langsung berhenti mengunyah karena dipelototi.
"Sstt ... lihat! Aku rasa, itu penduduk planet ini," ucap Rangga menunjuk.
Anak-anak itu mengintip dari tempat persembunyian mereka. Benar saja, seekor makhluk berbulu setinggi lutut para remaja itu muncul dengan berjalan menggunakan dua kaki kecilnya menuju ke kolam cokelat panas.
Makhluk yang tak terlihat berbahaya itu membawa sebuah wadah seperti ember terbuat dari cokelat yang terlihat keras.
__ADS_1
Mereka melihat hewan berbulu itu membawa air cokelat yang ia masukkan dalam ember ke suatu tempat. Gibson dan lainnya penasaran.
Vadim, Pasha, Ryan, dan empat anak Amerika diminta untuk tetap berada di dekat kolam cokelat untuk mengisi botol sebagai persediaan air minum.
Sedang anak-anak lainnya, mengikuti hewan berwarna biru yang terlihat lucu karena memiliki tanduk di atas kepala dan syal melilit di lehernya. Gibson tetap menjaga jarak agar sosok mereka tak ketahuan.
Mereka berjalan mengendap dan bersembunyi dibalik roti besar seperti batu.
Hingga akhirnya, mereka memasuki wilayah dengan udara terasa dingin. Gibson dan lainnya terkejut saat menyadari jika ada kawasan es di tempat itu.
"Huff, dingin," ucap Jubaedah seraya menggosok lengannya dengan kedua tangan.
Dengan sigap, Rex mendekati kekasihnya dan menutup tubuhnya dengan kain biru hasil robekan dari bendera yang ditemukan oleh Nicolas dan Harun di gua Yeti.
"Makasih, Rexy. Love you," ucap Jubaedah genit yang membuat Rex tersipu malu.
Sedang anak-anak lainnya, terkekeh geli melihat tingkah keduanya. Mereka terpesona dengan tumpukan salju yang terasa dingin dan terlihat lembut berwarna merah muda bertabur permen di atasnya.
Rex menggunakan ujung telunjuknya untuk mencolek cream seperti salju yang menumpuk di tempatnya berdiri.
"Hem, rasa stroberi. Ini es krim!" serunya dengan mata berbinar dan anak-anak bergegas ikut mencoba.
Tentu saja, tumpukan es krim itu bagaikan pelepas dahaga. Saat mereka sedang asyik menikmati ice cream itu, tiba-tiba saja turun salju dari atas langit.
Jubaedah dan lainnya mendongak karena hujan salju itu berupa es krim dengan rasa vanila.
Anak-anak menjulurkan lidahnya dan malah bersuka cita. Mereka melupakan misi untuk mengintai makhluk yang tampak menggemaskan.
Tumpukan salju berwarna merah muda itu kini tertutupi oleh warna putih dari es krim rasa vanila.
"Waa!" kejut Timo saat seekor makhluk yang tadi mereka ikuti muncul di hadapan sekelompok anak itu dengan wajah imutnya.
"Ba! Ba-ba?"
"Dia bicara apa?" tanya Laika bingung.
"Oh! Juby ngerti yang dia ucapin. Kalian tidak tahu?" tanya Jubaedah heran, dan anak-anak itu menggeleng. "Dia bilang, kalian makhluk apa?"
"Oh, katakan saja kami ini manusia dan tak ada niatan jahat. Bilang saja kita tersesat di sini dan ingin pulang ke Bumi," sahut Kenta, dan disetujui anak-anak lain dengan anggukan.
"Gitu ya, oke," jawab Jubaedah yang lalu berbicara dengan bahasa makhluk tersebut.
"Baaa!" teriak makhluk imut itu dengan histeris.
Jubaedah dan lainnya bingung ketika makhluk biru tersebut berlari dengan kencang seperti ketakutan. Ia berteriak dan menjauh dari mereka menuju ke wilayah bersalju.
"Ups. Sepertinya, hal buruk akan terjadi. Kembali ke kolam cepat!" seru Gibson mengajak kawan-kawannya.
Segera, anak-anak itu berlari meninggalkan wilayah dingin bersalju. Mereka kembali ke tempat Vadim dan lainnya berada.
Terlihat, Pasha dan kawan-kawannya sedang memenuhi botol dengan air cokelat yang mereka temukan.
__ADS_1
"Kembali ke rute menuju hutan. Cepat!" perintah Gibson yang membuat kawan-kawannya bingung.
"Cepetan! Jangan bengong! Ini gawat!" seru Jubaedah seraya mengangkat roknya yang seperti gaun.
Vadim dan anak-anak yang sedang mengisi botol saling memandang ketika Gibson serta lainnya berlari kencang.
"Waaa!" seru Ryan yang segera ikut berlari sembari memasukkan semua botol yang telah terisi ke dalam tas.
Pasha dan Vadim masih menyempatkan untuk mengambil secangkir air cokelat lalu meneguknya.
"Vadim! Pasha!" teriak Czar karena dua kawannya tak menyadari jika sedang dalam bahaya.
"Emph! Oke, oke!" jawab keduanya seraya mengelap mulut dengan lengan baju lalu ikut berlari.
Dalam keadaan terdesak pun, Pasha masih menyempatkan untuk merobek sebuah roti besar layaknya batu di dekat kolam dan memasukkannya dalam tas.
Anak-anak itu berlari dengan cepat meninggalkan kolam coklat panas menuju ke hutan seperti rencana awal.
Perlahan, jalanan itu berubah menjadi warna lain. Kue dan biskuit yang berada di sepanjang perjalanan mulai tak ditemui.
Namun, permen-permen dengan berbagai jenis dan warna layaknya pohon mulai terlihat di sepanjang mata memandang. Langit juga tampak cerah dengan warna biru dan awan layaknya cotton candy.
"Itukah hutannya?" tanya Gibson dengan napas tersengal.
"Ya! Masuk cepat!" jawab Boas yang berlari lebih dahulu.
Anak-anak lainnya segera mengikuti Boas yang menggiring mereka untuk keluar dari jalan setapak warna ungu seperti taburan gula manis dengan rasa blueberry.
"Hah, hah, bagaimana? Apakah kita dikejar?" tanya Lazarus yang berdiri di sebuah permen lolipop layaknya pohon.
"Sepertinya tidak. Huff, hampir saja," jawab Mandarin langsung merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau, tapi ternyata berupa permen kapas yang lembut.
"Woah, semua tanaman dan benda di sini bisa kita makan," ucap Vadim yang kini mengambil rumput yang diduduki lalu memakannya.
"Jangan terlalu banyak. Ingat, gula bisa merusak gigimu," ucap Rex mengingatkan dan diangguki anak-anak yang lain.
"Tempat ini cukup tertutup. Kita di sini saja dulu sampai besok. Bagaimana? Persediaan kita cukup 'kan?" tanya Tina yang ikut duduk di bawah pohon lolipop warna merah.
"Hem. Aku tadi sempat mengambil roti yang bentuknya seperti batu untuk stok makanan kita," sahut Pasha seraya membuka tasnya.
"Wah! Makan roti sambil minum cokelat hangat enak banget nih," sahut Bara dan diangguki anak-anak lainnya.
Para remaja itu pun duduk berkumpul membuat lingkaran. Pasha membagikan roti yang ia sobek kepada kawan-kawannya seukuran genggaman tangan.
Vadim menuangkan cokelat hangat ke cangkir dari tutup sebuah botol mirip termos yang akan diminum bergantian oleh kawan-kawannya.
Terlihat, anak-anak itu gembira menikmati petualangan mereka di Planet yang belum mereka ketahui nama dan misi di dalamnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
wah ada tips dari bee😍 tengkiyuw 💋