MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
SELAMAT TINGGAL,TINA*


__ADS_3

Para remaja itu tampak sedih. Air mata membasahi paras muda anak-anak itu karena harus kehilangan teman mereka yang memberikan kesan mendalam selama berpetualang di planet Mitologi.


Timo terlihat begitu kehilangan hingga ia sesenggukan dan air matanya sampai tak menetes lagi. Seolah, semua kesedihannya terkuras karena kepergian sang adik.


"Oh! Bukankah ada hewan penyimpan cadangan jiwa milik Tina?!" seru Rangga teringat akan dirinya yang hidup kembali karena setengah nyawanya tersimpan.


"Ya, itu benar!" sahut Pasha seraya menghapus air matanya.


Namun, Bara menggeleng dengan wajah berkerut.


"Ada apa?" tanya Czar melihat gelagat Bara yang aneh.


"Hewan itu tewas, termasuk milikku dan punyamu, Ryan. Mereka ... jatuh dari tebing. Oleh karena itu, kami berada di bawah sini karena ingin menyelamatkan ketiganya. Namun, aku gagal," jawab Bara terlihat begitu bersalah.


Ryan akhirnya baru menyadari hal aneh saat muncul cahaya seperti kristal di sekelilingnya kala itu.


Jubaedah dan lainnya tampaknya ikut memahami hal tersebut. Suasana hening penuh duka kembali terasa.


"Eh, itu ... istana? Kastil?" tanya Laika saat mendongak ke arah langit dan mendapati bangunan besar di mana ia sempat melihatnya ketika terbang tadi bersama Czar.


"Ya. Aku dan Tina tadi menyusuri kastil tua itu. Oleh karena itu, Tina menggendong tas besar. Tasku ini adalah milik manusia serigala yang menyerang Tina tadi. Semuanya kacau!" jawab Bara terlihat frustasi seraya memegangi kepalanya yang terasa berat seperti ada batu besar di atasnya.


"Jadi ... Tina tak bisa hidup kembali?" tanya Timo sedih seraya melepaskan pelukannya dari jasad sang adik.


"Aku sungguh minta maaf, Timo. Namun, memang begitulah kenyataannya," jawab Bara lesu.


"Udah, jangan saling menyalahkan. Kita kuburin Tina aja yuk. Kasihan Tina," ajak Jubaedah dengan wajah sembab karena banyak mennangis. Semua anak mengangguk setuju.


Mereka lalu menggali sebuah lubang untuk makam Tina di dekat tepian sungai dan menumpuk beberapa batu di atas gundukan tanah itu.


Timo seperti tak tega meninggalkan mayat sang adik di tempat antah berantah, tapi baginya sia-sia jika membawa jasadnya.


Timo terlihat seperti orang linglung dan kebingungan ketika Rex meminta kepada semua kawan-kawannya untuk beristirahat terlebih dahulu di kastil temuan Bara.


Bara mengatakan jika kastil tersebut aman dan tak ada makhluk buas yang menghuni tempat itu. Mereka sepakat melanjutkan perjalanan esok hari.


Hanya Timo saja yang terlihat tak bersemangat dan tampak kehilangan gairah hidup usai kepergian Tina.

__ADS_1


Rangga yang pernah mati sebelumnya termasuk Jubaedah, memilih untuk menemani Timo di sebuah kamar yang ditemukan Bara dan Tina kala itu sebagai tempatnya istirahat.


"Jika aku berhasil lolos sampai level 10 dan kembali ke Bumi, apa yang harus kukatakan pada ayah dan ibu? Bagaimana aku menjelaskannya pada ibu Tina? Apakah mereka akan percaya dengan ceritaku? Yang ada, aku akan dianggap gila dan mengarang," ucap Timo seperti orang depresi.


"Aku juga sempat memikirkan hal itu. Pasti orang-orang akan mengatakan aku tak waras. Yang ada, masa depanku hancur dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa sampai akhir hidup. Tempat itu lebih buruk dari petualangan kita di planet ini," sahut Rangga tampak tertekan.


"Jadi ... kalau kita berhasil pulang ke Bumi, kita diem aja gitu? Gak cerita sama mereka? Biar tetap jadi rahasia agar tak disangka gila? Juby setuju sih. Yang ada, pasti Juby dibilang mimpi dan diolokin sama orang-orang," sahut Jubaedah ikut lesu memikirkan masa depannya.


Tiga anak itu tambah terpuruk. Mereka diam saja duduk di atas ranjang besar entah milik siapa, tapi terasa nyaman untuk berbaring.


Perlahan, Jubaedah membaringkan tubuhnya.


"Doain aja yang terbaik untuk adikmu, Timo. Bukan kamu aja yang sedih, tapi kita semua. Kita kenal Tina dengan baik. Bahkan, banyak kenangan Juby dengan Tina yang susah dilupain. Ya Allah, kenapa orang baik itu matinya selalu cepet ya?" tanya Jubaedah seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


Timo dan Rangga memilih tak berkomentar karena hati mereka ikut merasa lelah karena misi yang tak berkesudahan.


Timo dan Rangga memilih untuk membaringkan tubuh. Perlahan, mata tiga anak itu terpejam hingga tertidur lelap.


Sedang yang lain, sibuk menyusuri seluruh ruangan. Ryan bahkan mengabadikannya di mana hanya ponsel miliknya yang masih menyala dengan memotret dan melakukan rekaman video.


Ryan dengan sigap mengambil semua gambar yang dirasa menyimpan misteri. Namun, Bara lupa dengan temuan Tina akan serum biru yang sempat mereka amankan.


Bara malah sibuk membagikan pakaian-pakaian temuannya agar tasnya tak terlalu berat jika harus dibawa berkelana nantinya.


"Hahaha! Aku seperti orang yang hidup jaman kuno. Malah seperti ikut cosplay," ungkap Pasha seraya melihat dirinya pada cermin besar di sebuah ruangan yang akan menjadi kamarnya nanti.


"Tadi aku melihat seperti ada kolam pemandian di lantai bawah. Bagaimana jika kita mencuci semua pakaian di tempat itu? Jadi, kita nanti memiliki pakaian ganti," tanya Rex menyarankan.


"Ya! Siapa tahu ada sabun," sahut Laika semangat.


Bara dan kawan-kawannya segera pergi ke tempat yang dikatakan mirip pemandian itu. Siapa sangka jika ucapan Rex benar. Air di tempat itu juga mengalir dan cukup jernih.


Anak-anak itu mencuci semua barang yang dirasa kotor agar kembali bersih dan bisa digunakan lagi nantinya.


Kenta bahkan menemukan cairan warna merah yang berbau wangi seperti parfum. Ia menggunakannya seperti pengharum pakaian ketika baju-baju tersebut akan dikeringkan.


Laika menjemur semua pakaian mereka di ruangan besar tersebut meski tak ada cahaya matahari.

__ADS_1


Namun, Kenta membantu dengan sosok burung Phoenix yang bisa menyemburkan api. Kenta memanaskan sebuah batu besar pipih seperti papan meja.


"Hahaha! Seperti menyetrika zaman kuno!" seru Bara yang ikut membantu dengan menggelar pakaian-pakaian basah mereka di atas batu agar cepat kering. Anak-anak terkekeh.


Bara lupa jika baju pramukanya belum dicuci karena Tina yang menyimpannya kala itu. Siapa sangka, cara yang digunakan Kenta dan Bara membuat pakaian-pakaian mereka cepat kering.


Pasha, Laika, Czar dan Rex membantu melipat pakaian-pakaian kering tersebut lalu dimasukkan dalam tas yang masih muat.


Wilayah yang selalu diselimuti kegelapan, membuat anak-anak itu tak tahu hari telah berganti atau belum.


Namun mereka sudah memiliki alarm alami, yakni ketika Pasha terbangun dan merasa lapar, saat itulah fajar menyingsing.


Para remaja itu tertidur pulas di tiga kamar temuan mereka dengan tas sudah terisi penuh semua perlengkapan yang dirasa akan membantu selama berpetualang.


Di sisi lain tempat Boas dan Lazarus berada.


"Hahaha! Hahahah!" tawa Lazarus dan Boas begitu gembira saat mereka ditemukan oleh Azumi serta Harun usai terperosot dalam celah es.


"Beruntung luka kalian tak terlalu buruk. Hewan cadangan jiwa ternyata memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka," ucap Harun seraya melihat hewan milik Azumi yang tampak menikmati waktunya di kubangan lumpur.



"Jadi ... bagaimana ceritanya kalian menemukan kami?" tanya Lazarus dengan mata berbinar saat Azumi dan Harun duduk di depannya ditemani api unggun yang hangat.


"Kalian tak akan percaya!" sahut Azumi dengan senyum manisnya.


Terlihat, Boas dan Lazarus tak sabar menunggu cerita itu di mana sebelumnya, mereka pingsan usai terperosot bersama hewan penyimpan cadangan jiwa.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Eh ada cara ngetips koin baru nih. Cek caranya ya~

__ADS_1


__ADS_2