
Disisi lain.
Usai menikmati sarapan dari ikan yang pernah dikeringkan oleh Timo sebelumnya, kelompok Jubaedah dan lainnya bersiap untuk meninggalkan kastil.
Mereka bergegas mengemasi perlengkapan serta perbekalan. Anak-anak itu juga menyempatkan mandi di kolam pemandian tempat Laika dan lainnya mencuci sebelumnya.
Namun, Timo tampak sedih karena harus meninggalkan Tina di tempat antah berantah itu. Ia terlihat kebingungan dan murung di depan kuburan sang adik.
"Kamu percaya sama mimpi Juby aja, Timo. Siapa tau ada keajaiban, dan ternyata, Tina masih hidup meski di alam lain," ucap Jubaedah mencoba memberikan semangat.
"Ya. Selain itu, kaulihat sendiri jika darah Tina berwarna biru. Entah apa yang terjadi pada kita, mungkin ada campuran lain dalam tubuh sehingga kita memiliki kemampuan ajaib seperti menjadi makhluk Mitologi. Jujur, aku sebenarnya tak percaya sihir. Pasti ada penjelasan logisnya," sahut Rex.
Timo terlihat serius mendengarkan. Remaja asal Filipina itu seperti mulai mendapatkan semangat juangnya lagi.
"Ya! Aku percaya jika Tina masih hidup! Akan kucari tahu kebenarannya saat aku berhasil menyelesaikan misi hingga level 10! Ada banyak hal yang harus Oag jelaskan pada kita seperti janjinya," tegas Timo, dan anak-anak mengangguk setuju.
"Oke, kita pergi. Pasha, bawa kami ke tempat Vadim berada," pinta Laika, dan remaja gemuk itu mengangguk mantap.
Seketika, kompas yang digenggam olehnya bergerak. Anak-anak yang memiliki kemampuan terbang segera berubah. Bagi yang tidak, mereka menunggangi kawan-kawan yang bisa mengangkut penumpang.
"Kita selesaikan misi level 6 dan kembali ke Bumi! Ayo!" seru Bara semangat dengan wujud Kesatria Garuda.
"Ayo!" sahut yang lain serempak.
Siapa sangka, air minum yang mereka konsumsi selama ini adalah jenis air yang bisa menerjemahkan bahasa lain ke dalam Mitologi.
Hanya saja, khasiat itu bertahan sampai orang tersebut buang hajat. Saat mereka sudah membuang limbah dalam tubuh, mereka kembali normal.
Sayangnya, anak-anak itu seperti tak menyadarinya. Kepolosan mereka terkadang membuat hal-hal yang dirasa penting seperti diabaikan begitu saja.
Kompas membawa kelompok besar itu menuju tempat Vadim berada. Sedang di tempat Vadim serta lainnya, anak-anak itu tampak tak bersemangat dan pesimis jika akan berhasil lolos misi level 6.
"Sudahlah, ikuti saja alurnya. Jika kita tewas, mau bagaimana lagi," ucap Mandarin lesu.
Mereka membersihkan kapal dengan wajah murung. Para alien bajak laut seperti menyadari hal tersebut. Namun, mereka memilih diam dan tak mengomentari apa pun.
Kapal tetap berlayar dan kini sedang mencoba pergi ke sisi lain dari negeri dongeng di mana sang kapten yakin jika anak-anak lainnya berada di wilayah tak jauh dari keberadaan mereka saat ini.
"Kapten! Kita akan tiba di perbatasan dengan wilayah gelap. Apa kauyakin ingin tetap ke sana?" tanya alien dengan wujud seperti serangga karena memiliki empat tangan dengan tiga jari besar, mulut berliur dan bergigi runcing, memiliki ekor seperti kadal, dua kaki dan berjalan layaknya dinosaurus, serta mata-mata kecil di bagian rahang sampai ke leher.
(alien ini lupa gak diinsert pas ketemu Gibson di hutan gegara geli dengan wujud para bajak laut, kwkwkw)
Sang kapten tampak serius ketika berdiri di geladak seperti mengamati sesuatu di kejauhan. Saat alien mirip hiu martil itu ingin memberikan perintahnya, tiba-tiba ....
"Ada makhluk terbang menuju ke arah kita!" seru alien yang berdiri pada menara pengawas.
Praktis, semua orang tampak serius dan waspada.
"Siapkan senjata! Bunuh semua yang menghalangi misi kita! Aku tak ingin urusanku dengan harta karun tertunda karena makhluk-makhluk pengganggu," tegas sang kapten.
"Ai, ai, Kapten!" jawab semua ABK serempak.
Gibson dan anak-anak lainnya yang mendengar hal tersebut, segera keluar dari lambung kapal untuk mencari tahu.
Mereka tampak gugup karena melihat para alien itu bersiap dengan persenjataan seperti ingin menembak sesuatu.
"Apakah kita diserang? Apakah Kraken muncul?" tanya Lazarus panik.
__ADS_1
"Diam dan amati cara bertarung kami, Anak manusia," jawab alien seperti kadal tersebut.
Gibson dan lainnya sepakat untuk berubah menjadi makhluk Mitologi. Saat remaja yang tinggal di China itu berubah wujud menjadi Hanoman dan memanjat menara pengawas, matanya melebar seketika.
"Jangan tembak! Itu kawan-kawan kami! Mereka datang kemari!" seru Gibson menunjuk saat melihat wujud naga Rex yang diiringi oleh sosok lainnya di sekitar.
"Benarkah?" sahut Vadim semangat dan langsung terbang dengan wujud Pegasus-nya. "Hahaha! Benar! Itu Juby dan lainnya. Heiii!" panggil Vadim riang dan terbang keluar kapal.
"Oh! Itu Vadim!" seru Czar dalam wujud Griffin.
"Hei! Hei!" panggil Rangga ikut melambaikan tangan.
Boas, Azumi dan Vadim sangat senang saat mereka berkumpul kembali bersama teman-teman lainnya.
Namun, saat Rex akan mendarat di geladak kapal, "AAAA! Itu apaan?!" teriak Jubaedah histeris saat melihat sekelompok makhluk aneh menatap mereka dari atas kapal.
"Woah! Alien!" teriak Kenta ikut panik hingga matanya melotot dalam wujud Phoenix.
"Jika tak mengingat misi gabungan demi mendapatkan harta karun impian kita, sudah kumakan mereka," ucap Kapten bajak laut tampak kesal.
"Jangan takut, mereka bajak laut yang ditugaskan untuk membantu kita menyelesaikan misi level 6. Tampangnya saja menyeramkan, tapi mereka baik hati!" seru Nicolas dari atas kapal.
"Juby takut, Rexy," rengek gadis manis itu seraya memeluk leher naga kekasihnya erat.
"Ayo! Turun sini. Tidak apa-apa!" ajak Harun seraya mengayunkan tangannya.
Jubaedah dan lainnya terpaksa turun meski menjaga jarak dengan makhluk-makhluk yang tampak menyeramkan bagi mereka. Rex kembali berubah menjadi manusia.
Gibson lalu mengajak kawan-kawannya berkumpul. Ia dengan sigap memberikan para remaja itu cairan biru agar mereka bisa memahami bahasa Mitologi secara permanen.
Rex dan lainnya menurut meski setelah mereka meneguknya, rasa yang tak ada lezatnya sama sekali itu ingin membuat muntah.
"Ternyata ... jumlah kalian cukup banyak. Aku tak menyangka," ucapnya seraya mengelilingi kumpulan anak-anak yang berdiri membentuk lingkaran di atas geladak kapal.
"Bahkan ada yang berwujud naga. Aku selalu suka naga, daging mereka enak," sahut alien siput, tapi membuat Rex melebarkan mata seketika.
"Ubah wujud kalian semua kecuali si naga dan Phoenix itu. Aku ingin tahu, perubahan seperti apa yang kalian miliki," pinta sang kapten, dan Gibson meyakinkan jika hal tersebut memang harus dilakukan.
Saat semua anak sudah berubah wujud, pandangan sang kapten tertuju pada Laika yang masih dalam sosok manusia, termasuk Jubaedah.
"Kau, kenapa tak berubah?" tanya alien berbentuk seperti hiu martil tersebut menunjuk gadis asal Rusia tersebut.
"A-aku sebelumnya memiliki wujud Medusa, tapi ...."
"Medusa?!" pekik alien lainnya tampak terkejut dan langsung mundur.
"Ya, tapi ... kekuatan itu lenyap saat aku pernah mati sebelumnya," jawab Laika kaku.
"Jadi ... kau kini manusia seutuhnya? Tak mengalami perubahan lain? Kekuatan lain?" tanya alien seperti kadal menebak.
"Ya. Aku ... menjadi manusia seutuhnya," jawab Laika canggung.
"Luar biasa. Dia bisa bertahan dengan wujud manusia tanpa perubahan hingga level ini. Terlebih, kau seorang wanita. Siapa namamu?" tanya alien seperti kadal.
"La-Laika."
"Ah ... Laika. Aku suka wanita tangguh. Jika aku menjadi manusia, maukah kau menjadi isteriku?"
"What?!" pekik semua anak terkejut.
__ADS_1
"Aku cukup yakin bisa mendapatkan wujud manusia dengan paras tampan melebihi si pirang ini. Bagiku ... dia manusia paling tampan yang pernah kujumpai," sahut alien kadal menunjuk Lazarus.
"Terima kasih," ucap Lazarus malah kikuk karena pujian aneh itu.
"Kalian mendapatkan wujud manusia? Bagaimana caranya?" tanya Mandarin bingung, tapi para alien itu enggan menjawab.
"Lalu kau. Wujud apa kau ini? Kau sepertinya berubah, tapi ... tak banyak," tanya sang kapten seraya mendekati Jubaedah.
Gadis manis itu langsung memegang lengan Rex karena takut.
"Jangan salah. Dia yang paling kuat diantara kami semua. Dia Lady Dragon," ucap Harun tegas.
Praktis, para alien itu tampak seperti kaget dan langsung melangkah mundur. Jubaedah terlihat takut dan tetap berpegangan kuat pada Rex.
"Lady Dragon. Oh, jadi ... seperti ini wujud seorang pengendali dan penguasa para naga. Ah ... ini suatu kehormatan. Katakan padaku, siapa yang sudah kaukalahkan?" tanya sang kapten tampak tertarik dan kembali mendekati Jubaedah.
"Mm, apa ya? Juby gak inget banyak. Hydra mungkin," jawabnya gugup.
"Kau mengalahkan Hydra?" tanya alien siput ikut mendekat.
"Ya. Dia melakukannya seorang diri. Keren bukan," sahut Azumi.
"Jangan dipuji. Juby ngerasa pujian kalian malah menyesatkan," rengek Jubaedah tampak kawatir, dan benar saja. Perubahan cuaca terjadi.
Tiba-tiba, ombak menjadi besar dan kapal bergoyang dengan cepat. Semua anak panik, tapi para alien malah tertawa senang.
"Hahahaha! Lihatlah dan rasakan! Inilah kekuatan Lady Dragon! Dia berada di kapal kita! Hahaha!" seru kapten bajak laut malah menikmati petaka itu.
"Alien gak waras!" seru Rangga panik seraya berpegangan kuat pada pinggir kapal takut tercebur ke laut.
"Sayang sekali, kita tak bisa menggunakan kekuatannya untuk mengalahkan Kraken," ungkap alien dengan corak biru.
"Ha? Kenapa tak bisa?" tanya Rex penasaran.
Gibson dengan sigap menceritakan teknis misi level 6. Praktis, anak-anak yang baru mengetahui hal itu melebarkan mata seketika.
"Kita akan kehilangan kemampuan Mitologi dan hanya menjadi manusia biasa?!" teriak Timo.
"Hah! Jangan jadi pengecut. Kalian harus malu pada teman kalian bernama Laika. Kulihat dia cukup tangguh sebagai seorang wanita. Tunjukkan kalian tak hanya hebat dalam wujud Mitologi. Tunjukkan jika manusia memang seorang makhluk yang memiliki kemampuan hebat. Kalahkan Kraken dan pulanglah ke Bumi!" seru sang kapten yang membuat semua anak terdiam seketika.
"Ya! Kita pasti bisa! Kita kelompok besar. Kita selalu berhasil sejauh ini. Jangan takut," ucap Laika menyemangati.
Semua anak saling berpandangan. Satu per satu dari mereka mengangguk mantap terlihat siap untuk menjalani misi meski nanti harus dalam wujud manusia.
"Aku siap! Aku sudah berjanji pada Tina untuk menyelesaikan misi hingga level 10!" seru Timo yang kembali dalam wujud manusia karena merasa pengap jika terlalu lama dalam sosok Merman.
"Oia, di mana Tina?" tanya Azumi penasaran.
Seketika, wajah duka muncul di paras anak-anak yang mengetahui hal tersebut. Timo akhirnya bercerita.
Lazarus, Boas, Rangga, Vadim, Harun, Azumi, Mandarin dan Gibson terlihat shock seketika usai mengetahui jika kawan mereka tewas pada petualangan sebelumnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya😍 lele padamu❤️besok lagi ya. kwkwkw😆