
Yang pada nanyain kelanjutan MH sabar yak. Kwkwkw lele lagi rempong karena mau tamatin Red Lips akhir bulan ini plus hula-hula mau ujian kenaikan. Ditambah lagi hamil jadi penyakit baru si mager suka menyerang tetibaš© Masih bonus tips dari koin sebelumnya. Lele padamuā¤ļø
---- back to Story :
Laika dan Pasha panik saat persembunyian mereka ditemukan oleh para Goblin yang menangkap naga Rex.
Hewan cadangan nyawa milik Rex dan Gibson mengerang seperti berusaha untuk melindungi dua remaja itu.
"Laika! Pasha!" teriak Rex berusaha untuk membebaskan diri dari jeratan itu.
"Rex! Gunakan gas beracunmu!" seru Laika saat ia dan Pasha langsung berdiri.
Keduanya saling memunggungi mencoba melindungi diri dengan batu dalam genggaman tangan.
Mata naga Rex langsung melebar. Ia berusaha untuk membuka mulutnya dan, HOOSHH!!
"Harghh! Garrr!" erang para Goblin saat asap warna hijau menyembur dari mulut naga Rex yang memiliki racun.
Para Goblin yang menjerat Rex mulai menggelepar kesakitan. Laika dan Pasha melihat kesempatan untuk kabur.
Mereka melemparkan batu dalam genggaman tangan ke arah para Goblin hingga dua makhluk itu merintih kesakitan yang berlipat. Keduanya dengan sigap menggendong hewan cadangan nyawa dan berlari menghindar.
Rex terus menyemburkan gas beracunnya ke sekitar tempat hingga wilayah itu tertutup kepulan asap hijau pekat.
Laika dan Pasha terpaksa pergi sejauh mungkin agar tak terkena dampak yang bisa merenggut nyawa mereka.
"Hah, hah, apakah harus berlari lebih jauh lagi?" tanya Pasha mulai ngos-ngosan.
"Gas itu akan bisa mengenai kita! Kita harus bersembunyi. Cepat!" titah Laika.
Pasha berusaha untuk menggerakkan kaki gemuknya ke sebuah tempat yang memiliki gua.
"Ke sana!" seru Pasha seraya menunjuk.
Laika melihat gua itu dan mengangguk setuju. Keduanya segera masuk bersama dua makhluk penyimpan cadangan jiwa ke dalam gua, dan ternyata, ada kolam di sana.
"Apakah air ini aman diminum? Hah, aku haus sekali," tanya Pasha.
"Entahlah," jawab Laika bingung, tapi dua hewan penyimpan cadangan jiwa melompat dari gendongan mereka lalu meminum air tersebut.
Laika dan Pasha saling melirik seperti satu pemikiran. Hingga tiba-tiba, gas hijau itu masuk ke dalam gua sampai ke tempat mereka berada.
"Pasha!" teriak Laika panik melihat gas hijau itu seperti siap melahap mereka.
"Lompat!" teriak Pasha lantang.
__ADS_1
Dengan sigap, BYUR!!
Laika bersama Pasha melompat ke dalam kolam di dalam gua yang mereka temukan. Dua hewan ikut menceburkan diri karena ditangkap oleh dua remaja itu agar tak mati terkena dampak gas.
Saat keduanya mencoba menyelamatkan diri di dalam air kolam, mata dua remaja itu melebar ketika mendapati sosok yang mereka kenal. Laika menepuk pundak Pasha yang ikut melotot melihat pergerakan makhluk itu.
"Hem, hem!" jawab Pasha mengangguk cepat di dalam air seraya menahan napas.
Dua hewan penyimpan cadangan jiwa berenang mendatangi makhluk tersebut yang berenang ke arah mereka bersama seseorang yang dikenal dua remaja itu.
BLUB! BLUB!
Panggil Rangga yang kembali hidup, tapi sudah tak memiliki topeng ikan yang membantunya bernapas dalam air.
Ia kehilangan kemampuannya karena benda itu telah hancur saat diserang oleh monster laut sebelumnya.
Rangga yang tak kuat menahan napas lagi, segera berenang ke permukaan dan disusul oleh lainnya.
SPLASH!
"Hah, hah, ohok! Oh! Asap hijaunya sudah hilang!" ucap Laika saat melihat sekeliling gua tak terdapat asap beracun tersebut.
Pasha segera berenang ke tepian diikuti oleh tiga makhluk penyimpan cadangan jiwa termasuk dua kawannya.
"Hah, hah, rasanya ... aku ... mau mati," ucap Pasha langsung tergeletak di tepi kolam.
"Kau ... sudah mati sebelumnya?" tanya Laika menatap Rangga lekat dengan tubuh basah kuyup.
Rangga mengangguk sebagai jawabnya, tapi pengakuannya membuat dua remaja itu menelan ludah.
"Oh! Rex! Kita harus menyelamatkannya!" seru Pasha teringat akan teman naganya.
"Rex di sini? Ayo!" sahut Rangga melebarkan mata dan langsung berdiri.
Tiga remaja itu segera berlari keluar dari gua diikuti oleh dua hewan penyimpan cadangan jiwa. Gurita Timo naik ke atas kepala Rangga karena kesulitan jika harus berjalan di daratan.
Tiga anak manusia itu berlari kencang di mana kepulan asap hijau sudah hilang, dan anehnya, para Goblin tak terlihat di sana padahal mereka yakin jika makhluk-makhluk itu mati terkena asap beracun tersebut.
"Rexy!" panggil Pasha saat melihat Rex masih terkurung dan berada di tempatnya seperti saat ditinggalkan.
Mata naga Rex melirik lalu tersenyum. Saat tiga anak itu berusaha untuk membebaskan Rex dari jeratan, hewan cadangan nyawa Rex menggunakan tanduknya untuk memotong penjerat itu.
"Wow! Tandukmu ternyata tajam! Aku baru tahu," sahut Pasha terkejut.
Rex terlihat senang karena dirinya dengan mudah dibebaskan padahal ia kesulitan untuk melepaskan jeratan yang membelenggu tubuhnya.
__ADS_1
"Rex, di mana para Goblin?" tanya Laika seraya melemparkan sulur-sulur itu ke pinggiran agar tak tersandung.
"Aku melihat ada hal yang aneh saat asap beracunku menyelimuti sekitar," jawabnya seraya berdiri perlahan, tapi kembali roboh karena ternyata, tubuh naga Rex terluka akibat jeratan-jeratan itu.
"Oh! Badanmu seperti tersayat-sayat. Pasti sakit," ucap Rangga miris, dan Rex terlihat begitu lemah.
Tiba-tiba, hewan cadangan jiwa milik Timo melompat. Hewan seperti gurita itu merayap di atas punggung naga Rex dengan tentakel-tentakelnya. Akan tetapi, hal itu malah membuat Rex bergidik ngeri karena terasa geli.
Namun, keajaiban kembali terjadi. Tiap tentakel yang melekat pada lukanya, pengisap dari gurita itu seperti menyedot luka tersebut hingga perlahan kembali tertutup.
"Wow!" seru Rangga terkejut sampai matanya melebar.
"Ternyata dia bisa menyembuhkan! Atau ... memiliki fungsi menghisap seperti racun mungkin? Lihat, darah Rex berwarna biru," ucap Laika mengamati luka-luka tersebut.
Rex terlihat senang saat satu per satu luka di tubuh naganya berangsur pulih. Rex berdiri perlahan dan berubah menjadi manusia meski kembali roboh karena letih yang teramat sangat.
"Terima kasih, Gurita lucu," ucap Rex seraya menepuk kepala hewan milik Timo yang terasa kenyal itu.
"Mo-Mo!" jawabnya terlihat senang karena tentakelnya bergerak lincah, tapi membuat Rex kembali merinding. Laika dan lainnya terkekeh.
Rex ternyata masih menggendong sebuah tas. Ia mengeluarkan isi tasnya dan menggelar sebuah kain warna putih di tempat ia ditangkap tadi.
Semua anak terlihat lelah dan memilih untuk bermalam di sana karena tak sanggup untuk menjelajah lagi.
"Oia, kau tadi ingin bilang apa?" tanya Rangga seraya menerima bekal dari Laika yang diberikan untuk teman-temannya.
"Ah! Saat asap hijau menutupi keberadaan para Goblin, aku melihat makhluk yang hampir mirip dengan alien sebelumnya. Mm, siapa? Oag ya?" jawab Rex seraya memegang sebuah roti dalam genggaman. Semua anak mengangguk membenarkan dan terlihat serius menyimak. "Aku melihat sebuah cahaya seperti portal. Saat para Goblin itu seperti mati, alien-alien itu membawa bangkai mereka seperti jasa pembersih mayat. Saat asap hijauku hilang, portal dan para Goblin itu sudah tak ada. Aneh bukan?"
Semua anak diam sejenak.
"Mungkinkah ... makhluk-makhluk Mitologi sebelumnya yang hilang usai peperangan karena diambil oleh alien-alien itu? Seperti saat kita bertarung dengan para Minotaur hingga membuat Hihi tewas?" tanya Pasha, dan dugaannya membuat kawan-kawan lainnya berkerut kening memikirkan hal tersebut.
"Mungkin saja. Namun, untuk apa?" tanya Laika bingung, tapi Rangga, Pasha dan Rex hanya menaikkan kedua bahu sebagai jawaban.
"Hah, aku haus sekali. Tak bisakah kita cari tempat yang lebih teduh dan memiliki air?" tanya Rex serak usai menghabiskan rotinya dengan cepat.
"Ah! Ada gua dekat sini dan airnya bisa diminum. Kita ke sana saja. Tempat ini terlalu terbuka. Aku sedikit takut jika kita diserang oleh makhluk tak dikenal lainnya," sahut Rangga, dan Rex mengangguk setuju.
Anak-anak kembali berkemas untuk berpindah tempat. Rex melihat hewan milik Timo masih tampak nyaman dengan alas putih sebagai dudukkannya.
Rex tersenyum dan membawa gurita merah muda itu dalam buntalan kain putih karena merasa geli jika harus menggendongnya.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE