MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
KESEDIHAN SATYR


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Gibson meminta kawan-kawannya agar tak menangisi kepergiannya nanti.


"Sudah. Aku mati saja belum, kalian sudah menangis seperti ini," ucap Gibson yang merasa teman-temannya aneh.


"Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku, Gib. Aku tak rela kau tewas. Kepergian Tina sudah menjadi pukulan berat untukku. Aku tak mau bertambah sedih dengan kematianmu," jawab Timo dengan wajah sembab karena menangis terlalu banyak.


Gibson hanya tersenyum tipis tak tahu harus berkata apa lagi. Namun, ia terharu karena tak menyangka jika para remaja pria yang sedang bersedih itu sangat menyayanginya.


Di markas Oag tempat tujuh anak dibangkitkan.


"Oag, kau harus melihatnya," ucap salah satu alien bercorak merah mendatangi alien bertentakel biru tersebut.


Jenderal yang ikut penasaran mengikuti pemimpin planet Mitologi di belakang. Seketika, mata Oag dan Jenderal tersebut melebar.


"Apa yang mereka lakukan? Pemberontakan?" tanya Oag terdengar marah.


"Itu bukan pemberontakan. Itu demo," sahut sang Jenderal dengan senyum tipis.


"Demo?" ulang Oag.


"Yah. Di Bumi banyak orang melakukan hal itu ketika mereka tak setuju dengan suatu hal atas perlakuan seorang pemimpin. Namun entah kenapa, bagiku lucu. Apalagi, mereka melakukannya dengan peralatan bekas makanan," jawab sang Jenderal dengan kekehan di akhir kalimat.


Mata Oag kembali pada layar saat melihat anak-anak itu menggunakan alat makan yang diberikan oleh alien bertentakel tersebut untuk menyajikan hidangan tiap harinya.


"Gibson Tidak Boleh Mati!" tulis Hihi pada sebuah piring putih dengan saos tomat di atasnya.


"Loloskan Gibson! Loloskan Gibson! Loloskan Gibson!" teriak anak-anak serempak sembari memukul-mukul sendok ke gelas kaca dan piring sehingga membuat suasana gaduh dalam ruangan tersebut.


Namun, Oag mengabaikannya. Alien itu berpaling dan kembali ke ruangan entah apa yang dilakukan. Sang Jenderal hanya tersenyum.


Di tempat Gibson dan kawan-kawannya berada.


Saat semua anak berkumpul, tiba-tiba Kenta memisahkan diri usai ia melihat sesuatu. Pemuda asal Jepang itu berlari mendatangi reruntuhan dan berjongkok di depan sebuah benda.


"Ada apa, Kenta?" tanya Boas penasaran seraya ikut mendekat.


"Ce-cerminnya pecah," jawabnya sampai tergagap saat melihat kaca-kaca di atas cermin itu berserakan dan hanya menyisakan seperempat.


"Agh, sial! Jika disatukan lagi pecahannya, apa tak bisa digunakan?" tanya Boas ikut menjumputi pecahan kaca tersebut.


"Entahlah, kita coba aja. Padahal kita masih belum tahu Siren yang mana untuk kita tangkap. Jika salah sasaran, akan gawat," tegasnya.


Boas ikut cemas lalu bergegas menempelkan pecahan kaca itu ke cermin. Anak-anak yang penasaran ikut mendekat. Kenta melihat pantulan wajahnya di cermin retak itu.


"Cermin ajaib. Katakan padaku Siren yang harus kami tangkap," pintanya.


Namun, tak ada jawaban seperti yang sudah-sudah. Semua anak langsung memelas seketika.


"Tenang, kita masih memiliki manusia ensiklopedia," sahut Ryan seraya menunjuk Satyr yang duduk menyender di badan naga Rex terlihat pucat.


"Dia masih terluka. Kita pikirkan nanti. Satyr sudah terlalu banyak membantu," ucap Kenta pelan terlihat sedih.

__ADS_1


Namun sepertinya, Satyr mendengar hal tersebut.


"Sebentar lagi gelap. Kita harus segera pergi dari sini. Kudengar, ada makhluk lain yang tinggal di dalam pasir dan mereka adalah pemangsa," ujar Satyr yang terdengar lemah karena ulah Sphinx.


"Oke. Semuanya, bersiap. Namun saranku, kita pergi ke wilayah selanjutnya. Terlalu jauh jika harus kembali ke tempat biasanya kita berkumpul. Sekalian saja menuju ke tempat Siren berada. Kita bermalam sebelum berurusan dengan mereka esok hari. Bagaimana?" saran Gibson.


"Ya, aku setuju!" sahut Mandarin.


"Kita cukup terbang ke arah berlawanan dari lokasi sekarang. Ayo," ajak Satyr seraya jalan membungkuk karena punggungnya sakit.


Satyr duduk di atas punggung naga Rex. Kenta meminumkan ramuan ajaib miliknya yang diyakini bisa menyembuhkan luka pemberian Oag pada misi sebelumnya.


"Terima kasih, Kenta," ucap Satyr dengan mata sayu saat ia duduk dengan tubuh Harun sebagai sandaran punggung agar tak jatuh.


"Bertahanlah. Kau sudah membantu kami sejauh ini. Jangan khawatir, para tahanan di penjara Hades tak akan menyakitimu. Kami akan memastikannya. Jangan termakan ucapan Sphinx. Dia licik," ucap Kenta seraya memasukkan kembali botol itu dalam tasnya.


Satyr hanya tersenyum tipis lalu memejamkan mata seperti tertidur. Harun dan lainnya fokus pada tujuan mereka menuju ke tempat Siren berada. Lama mereka terbang dan terlihat langit mulai senja. Semua anak tetap fokus jika diserang oleh makhluk tak dikenal saat melintasi suatu wilayah.


"Aku melihat sungai!" seru Czar dengan Gibson menungganginya.


"Bagus! Terus ikuti aliran sungai itu, C! Menurut informasi dari Satyr, para Siren berada di aliran sungai deras menuju air terjun tak berdasar. Namun, kita tak akan melawannya malam ini. Terlalu berbahaya," tegas Gibson.


"Oke!" sahut Czar mantap dan terus mengepakkan sayap Griffin-nya.


Tak lama, terlihat sungai itu semakin lebar. Bebatuan besar tampak dari atas langit dan aliran sungai semakin deras.


"Semuanya! Kita cari tempat bermalam. Memutar!" seru Gibson karena merasa jika lokasi Siren sudah hampir dekat.


"Oke!" jawab semua anak serempak.


Sedang Nicolas dalam wujud Elf, melindungi kawan-kawannya di atas kepala Tuan Pohon dengan busur Elf-nya. Satyr terlihat pulas usai meminum ramuan ajaib. Ia dibaringkan di dekat api unggun agar tetap hangat. Kenta duduk menjaganya seraya meraut beberapa ranting pohon untuk digunakan menusuk ikan.


"Hehe, dia mendengkur," ucap Vadim terkekeh saat berhasil menyalakan api dan membuat api unggun menggunakan kayu serta dedaunan kering.


"Tampaknya, dia lelah sekali," ujar Kenta dengan senyuman.


Tiba-tiba, Timo datang tergesa bersama timnya dengan hasil tangkapan.


"Wah! Kalian dapat banyak!" seru Bara senang.


"Jangan gembira dulu. Tadi, Timo mengatakan jika melihat segerombolan Siren dekat ia menangkap ikan. Jumlah mereka cukup banyak. Bukan masalah melawannya, tapi bagaimana kita tahu Siren mana yang akan ditangkap nantinya?" sahut Lazarus.


"Waduh! Kasus Laika bisa terulang kalau gini caranya," keluh Rangga langsung menepuk jidat.


Semua anak diam dan saling melirik terlihat bingung. Mereka menoleh ke arah Gibson yang sudah tertidur terlihat lelah di dekat Satyr.


"Pikirkan nanti saja. Dan jangan lupa, sisakan untuk Gibson dan Satyr. Malam ini, tugas jaga adalah Mandarin dan Boas," ucap Harun mengingatkan.


"Siap!" jawab Mandarin dan Boas serempak. Dua remaja tampan itu adu tos kepalan tangan untuk tugas ronda.


Usai makan malam, anak-anak tertidur pulas. Mandarin dan Boas terlihat waspada dengan sekitar dalam wujud Mitologi mereka.


"Emph," keluh Satyr saat ia mulai bangun, tapi terlihat lesu.

__ADS_1


"Oh! Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" tanya Mandarin menatap Satyr saksama.


"Yah, aku masih hidup. Hanya saja, entahlah. Aku merasa jika tak sesemangat biasanya. Ini aneh," jawabnya seraya menggaruk kepala.


Namun tiba-tiba, Satyr seperti terkejut. Ia melihat tangannya sampai melotot.


"Ada apa?" tanya Boas heran.


"Ku-kuku tajamku! Ke-kenapa jari-jariku menjadi tumpul tak runcing lagi?" tanyanya panik.


"Ha? Maksudmu?" tanya Boas bingung.


Satyr tampak panik. Ia lalu berdiri seraya meraba tubuh lalu memegangi tanduknya.


"Oh, tidak. Ini tak mungkin terjadi," ucapnya terlihat panik.


"Satyr, ada apa?" tanya Mandarin bingung saat Satyr berlari ke arah sungai dengan tergesa.


Gibson terbangun karena mendengar suara gaduh di dekatnya.


"Oh! Maaf membangunkanmu, Gib. Hanya saja, Satyr bersikap aneh," ucap Boas tak enak hati.


Gibson melihat ke samping dan tak mendapati Satyr di sisinya.


"Kejar dia! Pastikan tak terjadi hal buruk!" titah Gibson.


Boas segera terbang. Saat Mandarin akan menyusul, Gibson menahannya.


"Kau tetap di sini menjaga yang lain. Aku saja yang ke sana," ucapnya.


"Oke. Hati-hati," jawab Mandarin, dan diangguki oleh Gibson.


Segera, Gibson berlari mengejar Satyr dan Boas dengan pedang Elf dalam genggaman. Setibanya di tepi sungai, ia melihat Satyr seperti menangis karena terdengar isak tangis darinya. Gibson berjalan mendekat di mana Boas sudah berdiri di samping makhluk setengah kambing itu dengan wajah sendu.


"Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Gibson penasaran.


Boas menatap Gibson lekat, tapi terlihat bingung saat akan menjawab.


"Aku menjadi Faun, Gib. Aku bukan Satyr lagi," ucap makhluk bertanduk itu yang membuat Gibson ikut terkejut.


"What? Bagaimana bisa?" tanya Gibson heran.


"Aku juga tak tahu. Namun, lihatlah aku. Kau tahu perbedaannya?" tanya Satyr terlihat sedih seraya berdiri.


Gibson mengerutkan kening menatap lawan bicaranya tajam.


"Oh! Tandukmu tak sebesar dulu!" jawab Gibson seraya menunjuk. Satyr mengangguk pelan. "Lalu ... kukumu yang runcing sudah tak ada lagi," imbuhnya.


"Aku merasa tak berdaya. Aku merasa lemah seperti mudah ditindas. Aku tak mau menjadi Faun. Aku Satyr yang memiliki banyak pengetahuan. Aku bukan si bodoh Faun," jawabnya terlihat sedih dan kembali duduk dengan menutup wajah menggunakan dua tangannya.


Gibson dan Boas saling memandang dalam diam. Mereka terlihat bingung menyikapi hal ini. Siapa sangka, pembicaraan mereka didengar oleh seekor makhluk mitologi dari balik batu besar dekat sungai. Seringai makhluk itu terpancar meski kegelapan menyelimuti sekitar. Ia menghilang dalam bayangan entah menuju ke mana usai mendengar kabar yang mengejutkan.


***

__ADS_1



uhuy ada yg tips. horeee senangnya hatiku❤️ tengkiyuw 💋


__ADS_2