
Kini, anak-anak itu menggunakan cara lama dengan bantuan cermin ajaib peninggalan Azumi.
Semua barang-barang yang dimiliki oleh Azumi disimpan dengan apik oleh Kenta. Termasuk anak-anak lain ketika kawan mereka yang telah tewas saat menjalankan misi, tas itu diamankan oleh teman dekatnya.
Mereka bicara bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Cermin ajaib. Tunjukkan padaku sosok Chimera yang harus diburu untuk menyelesaikan misi level 7," pinta Kenta yang wajahnya kini terpantul di cermin tersebut.
Semua anak dibuat tegang karena khawatir jika cermin itu meminta imbalan. Namun, keajaiban terjadi lagi. Cermin tersebut menunjukkan sosok Chimera dengan suka rela.
Anak-anak langsung mendekat dan menatap makhluk itu saksama yang ternyata cukup menyeramkan karena kombinasi dari tiga hewan. Singa, kambing, dan berekor ular.
Makhluk itu terlihat buas dan tangguh seperti sulit untuk dikalahkan. Kenta sampai kaget dibuatnya, tapi kembali serius.
"Di mana aku bisa menemukan makhluk itu?" tanyanya menatap wajah diri sendiri tajam.
Lagi, cermin ajaib menunjukkan sebuah tempat di mana mereka tak pernah mendatangi wilayah itu sebelumnya. Anak-anak lainnya ikut mencermati hingga akhirnya, tampilan dalam cermin menghilang begitu saja.
Kenta dan kawan-kawan lelakinya saling memandang dalam diam. Mereka terlihat seperti memikirkan sesuatu dengan serius.
"Tempat itu ... apakah di dalam wilayah penjara ini, atau penjara lain? Bukankah ... masih ada satu lorong lagi di pintu terakhir yang belum kita kunjungi?" tanya Mandarin mengingatkan.
"Entahlah. Namun, selama aku terbang, tempat dengan bukit berbatu, tanah lapang dengan rumput yang jarang, tak terlihat olehku dari atas langit. Wilayah tempat kita menemukan makhluk seperti ayam juga tak demikian," sahut Rex dari pengamatannya selama di penjara Hades.
"Apakah kita bisa keluar dari penjara ini tanpa membawa buruan?" tanya Boas penasaran.
"Aku tak tahu. Kita coba saja. Jika tak bisa keluar, berarti Chimera ada di dalam penjara ini," sahut Vadim.
Anak-anak mengangguk setuju. Namun, Gibson menyarankan agar mereka beristirahat dan menyusun ulang strategi sebelum berhadapan dengan musuh.
Ia juga meminta agar semua orang memeriksa persenjataan dan perbekalan karena penjara tempat mereka berada paling menjanjikan. Di tempat itu, ditemukan banyak makanan dan air.
Entah apa yang terjadi, tapi rona kebahagiaan dengan wajah ceria seolah tak terlihat lagi. Wajah anak-anak itu berubah serius.
Lazarus dan lainnya tampak fokus ketika mengasah pedang Elf dan senjata bawaan dari wujud mitologi mereka di tepi sungai agar selalu tajam.
Bahkan, Gibson mengajarkan kepada beberapa kawannya cara menggunakan pedang karena ia berpengalaman dengan senjata tajam itu. Gibson sering menggunakannya ketika berlatih bersama sang ayah—One—di Grey House.
"Bagus, ayunkan seperti itu. Buat pergelangan tanganmu lentur dan terbiasa ketika menggenggamnya. Jangan sampai pedang itu jatuh atau kau sudah dianggap kalah," ujar Gibson seraya memutar-mutar pedang Elf yang telah diasah oleh Rangga bersama yang lain sehingga terlihat kilau indahnya.
"Begini?" tanya Ryan yang masih terlihat ragu, tapi tak putus asa mencoba meski pedang itu masih terlepas dari genggaman.
"Ya, benar. Kuatkan lagi peganganmu. Kau harus menganggap jika pedang itu pelindungmu. Kau tak akan membiarkan musuh merebut dan menjatuhkannya. Kau harus mempertahankannya, Ryan," tegas Gibson menatap kawannya tajam.
"Bagaimana caranya agar kita tahu jika serangan kita mematikan untuk lawan?" tanya Rex yang ikut berlatih dengan mencoba menggunakan tombak milik Lady Elf dan cara menusuk.
"Gunakan batang pohon. Ayo, ikut denganku. Malam ini, kita perkuat fisik untuk menghadapi musuh selanjutnya. Aku sudah menganggap, yang kita lakukan ini bukan sekedar permainan lagi, melainkan peperangan hidup dan mati," tegas Gibson.
Praktis, ucapan Gibson membuat anak-anak mengangguk membenarkan dengan wajah serius. Mereka termotivasi untuk memperkuat diri agar tak kalah dan tak ada lagi kawan yang tewas.
__ADS_1
Gibson mengajarkan cara menusuk, mengayunkan pedang dari beberapa sisi untuk menyayat tubuh lawan, menebas, dan beberapa teknik lainnya.
Terlihat, anak-anak itu bersemangat. Mereka berhadapan dengan satu buah pohon pilihan sebagai lawan.
Gibson juga mengajari untuk memanfaatkan tubuh lawan yang besar dengan menjadikannya sebagai tolakan, pijakan, tumpuan, atau bahkan perisai.
"Hah, kenapa kita tak lakukan hal ini sejak dulu? Mungkin teman-teman kita yang tewas bisa bertahan jika memiliki teknik bertarung sepertimu, Gibson," engah Harun ketika ia belajar bagaimana memanjat dengan pedang dalam genggaman dan tak jatuh.
"Awalnya aku ingin melakukannya. Namun, saat itu aku merasa jika kita mampu bertahan karena kerjasama cukup apik. Hanya saja, setelah melewati beberapa level dengan musuh yang berbeda, aku mulai sadar jika permainan ini tak hanya membutuhkan keberuntungan, tapi juga kemampuan, keberanian, nyali, kecerdikan, kesabaran dan fisik yang kuat," jawabnya dengan keringat ikut menetes seraya berpegangan pada batang pohon setelah berhasil memanjat sampai ke atas.
"Yah. Aku rasa ucapanmu benar, Gib. Aku juga perlahan menyadari hal tersebut. Kita dipaksa untuk berubah agar tak lemah lagi. Awalnya memang terasa begitu kejam, tapi setelah melalui beberapa rintangan, aku mulai terbiasa," sahut Bara yang juga ikut belajar memanjat bersama Gibson dan Harun.
"Bagus. Selanjutnya, jangan sampai lengah dan tetap waspada. Musuh kita makhluk-makhluk kuat dengan kemampuan tak biasa. Namun, kita juga sudah mulai memahami kemampuan perubahan mitologi masing-masing termasuk milik teman-teman lainnya. Intinya, kita harus bekerja sama," ucapnya mantap.
Anak-anak yang mendengar mengangguk setuju. Mereka berlatih dengan giat seperti tak terlihat lelah meski harus beberapa kali minum.
Sekilas, pelatihan di malam hari itu bagaikan di Camp Militer China bentukan Komandan Zeno pada masanya.
Bedanya, kali ini mereka berlatih karena sebuah tuntutan agar tetap bertahan hidup hingga misi level selesai.
Di markas Oag.
Alien bertentakel itu berhasil kembali ke planetnya dengan selamat bersama tujuh anak manusia yang dihidupkan kembali.
Jubaedah dan lainnya masih dalam pengaruh hypersleep. Namun, Oag menepati janjinya. Ia membangunkan mereka dan mengizinkan untuk melihat perjuangan teman-temannya yang masih hidup.
"Apa?! Laika tewas? Azumi juga!" pekik Jubaedah langsung melotot saat alien bercorak merah berjenis kelamiin betina itu menginformasikan hal tersebut.
"Tonton saja dan jangan ribut," tegas alien itu lalu pergi meninggalkan ruangan tempat anak-anak dikurung sampai didapatkan pemenang dari permainan Maniac.
"Kalian siap?" tanya Jubaedah, dan semua anak mengangguk pelan.
Jubaedah terlihat mengatur napasnya. Ia menggerakkan telunjuknya pada papan pipih itu untuk memilih tayangan.
Anak-anak tampak kagum hingga mulut mereka menganga karena ternyata, sudah banyak kejadian yang mereka lewatkan.
"Oh, Juby! Bagaimana dengan tayangan setelah kematianmu saja? Aku penasaran bagaimana kelanjutannya!" pinta Pasha, dan anak-anak lain mengangguk setuju.
"Em, oke. Wait ... itu ... kalau tidak salah ... Juby lagi ada di ... nah, ini dia!" serunya dengan mata bergerak ke berbagai tampilan layar di hadapan mereka.
Sebuah tembok dari batu berukuran besar dan datar seperti bisa memancarkan sinar berupa tayangan layaknya televisi.
PIP!
"Itukah Cerberus? Seram sekali!" teriak Oscar langsung memekik.
"Hihi takut," rengek gadis manis itu seperti akan menangis.
"Jangan takut. Kita kan cuma nonton bukan berada di sana sungguhan. Kalau Hihi di sana, boleh deh nangis," ucap Jubaedah, tapi gadis kecil itu seperti sungguh takut.
Hihi menggunakan dua tangannya untuk menutup mata seperti tak siap untuk melihat tayangan itu.
__ADS_1
"Oke, aku siap. Play, Juby!" pinta Bobby tak sabar.
Seketika, wajah semua anak tegang. Mereka melihat Rex dan lainnya menangis saat Jubaedah dilahap oleh sungai lava dan menewaskannya.
Jubaedah terlihat pucat seolah merasakan kembali panas lava saat membakar tubuhnya hingga ia hanya bisa pasrah menerima kematian dan nyawanya terenggut.
Makanan yang tersaji di hadapan mereka diabaikan begitu saja karena mata anak-anak begitu fokus melihat perjuangan kawan-kawan yang masih bertahan hidup.
Hihi berteriak berulang kali saat melihat adegan horor di matanya. Tina dan lainnya sampai terperanjat karena teriakan Hihi.
"Tangan Ryan patah!" teriak Hihi histeris. Semua anak-anak mengerutkan wajah seolah bisa merasakan kesakitan itu.
Wajah yang awalnya tegang lalu berubah menjadi sendu. Hihi menangis saat melihat Rex berduka atas kematian kekasihnya termasuk anak-anak yang lain. Namun, Jubaedah terharu karena kekasihnya terlihat begitu mencintainya.
"Rexy, i love you!" teriak Jubaedah seraya melakukan kiss bye jarak jauh.
"Jangan menyerah! Ayo, kalian bisa!" teriak Tina menyemangati teman-temannya yang tampak terpuruk.
"Gibson keren ya. Hihi suka cowok kuat dan pintar seperti Gibson," ucap Hihi tersipu malu saat melihat Gibson memotivasi kawan-kawannya agar terus berjuang.
"Cieh, Hihi ganjen deh," ledek Jubaedah seraya mencolek dagunya. Namun, Hihi malah cekikikan seraya memegangi pipinya yang merona.
Ketegangan demi ketegangan membuat jantung anak-anak itu seperti ikut meledak. Namun, disusulnya duka dan kesedihan, membuat wajah mereka kembali tergenang air mata.
Oag dan para ilmuwan yang melihat dari balik jendela saat mengawasi anak-anak itu hanya tersenyum tipis.
"Mereka cukup mengesankan," puji Oag yang mulai membaik usai diobati.
"Ya. Termasuk anak-anak yang masih bertahan. Lihatlah, mereka kini seperti para manusia dewasa. Permainan ini, mengubah cara berpikir dan bersikap para remaja itu," sahut sang Jenderal.
"Ya, Anda benar. Terus awasi mereka. Ada hal yang harus kukerjakan," pinta Oag seraya pergi meninggalkan pusat kendali.
Jenderal itu mengangguk pelan. Para manusia dewasa yang mengamati tujuh anak di ruangan khusus itu seperti saling berdiskusi akan sesuatu. Jenderal tersebut menyadari hal tersebut dan menatap orang-orangnya saksama.
"Apa yang kalian pikirkan?" tanya Jenderal.
"Kuakui, meski mereka keturunan para mafia, tapi ... mereka bisa menyelamatkan Bumi di masa depan. Pernah dengar istilah, 'Buah tak jatuh jauh dari pohonnya?'," tanya salah satu arkeolog wanita. Jenderal tersebut mengangguk. "Anak-anak itu sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi yang terpilih. Memang kenapa jika mereka lahir dari kalangan para penjahat? Siapa tahu, saat mereka besar nanti, para remaja itu menjadi pahlawan tak mengikuti jejak pendahulunya."
Sang Jenderal kembali menatap anak-anak itu tajam, lalu menoleh ke para cendikiawan lagi.
"Kalian percaya pada mereka?" tanya sang Jenderal, dan para ilmuwan itu mengangguk mantap. Sang Jenderal mengembuskan napas panjang. Ia terlihat memikirkan hal tersebut dengan serius. "Kita lihat saja. Jika salah satu dari mereka ada yang berhasil lolos hingga level 10, akan kupikirkan kembali permintaan kalian untuk memberikan mereka kesempatan menyelamatkan Bumi di masa depan."
Terlihat, wajah para cendikiawan itu berbinar. Mereka menaruh harapan besar kepada para generasi penerus Bumi di mana terdapat maksud tersembunyi dan sebuah alasan besar kenapa mereka tersedot ke planet Mitologi.
Anak-anak itu bahkan harus menjalani permainan hidup dan mati bernama Maniac meski sampai sekarang tak tahu alasannya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya diriku. lele padamu😆 kwkwkw. selamat akhir pekan 💋