MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
TERHARU*


__ADS_3

Saat semua anak tegang, tangan Ryan bercahaya. Pemuda itu terkejut, tapi juga senang karena gua tersebut jadi terang.


"Wah, Mr. Lamp!" seru Jubaedah dengan senyum terkembang, begitupula Ryan.


"Ryan, bisa kau cek sekitar tempat ini untuk memastikan jika kita aman untuk istirahat sampai pagi menjelang?" pinta Gibson dan Ryan mengangguk.


Boas dan Lazarus menemani remaja itu saat berkeliling. Sedang anak-anak lainnya, terlihat ketakutan di dalam gua tersebut meski berkelompok.


"Aku penasaran dengan air kolam itu. Apakah ada penghuninya?" tanya Vadim seraya menunjuk kolam yang tak terlihat dasarnya karena gua yang gelap.


"Tar ada monster serem muncul gimana? Juby takut. Jangan deket-deket kolam," rengeknya semakin memegang lengan Rex erat.


"Ya, benar yang dikatakan Juby. Jaga jarak dengan kolam itu. Aku juga yakin jika ada penghuni di dalamnya," sahut Gibson.


Anak-anak menelan ludah. Hingga akhirnya, Ryan, Boas dan Lazarus kembali setelah menyusuri sekitar.


"Bagaimana?" tanya Bara yang duduk memepet tembok.


"Sejauh ini aman, tak ada makhluk yang menghuni gua," jawab Boas yakin dan diangguki oleh Lazarus.


"Oke, kalau begitu kita istirahat. Namun, tetap ada tugas jaga. Malam ini, biar aku. Siapa yang ingin menemaniku?" tanya Gibson menawarkan.


"Aku saja," sahut Timo. "Aku masih mencemaskan keadaan Tina. Makhluk yang menculiknya terlihat begitu menyeramkan. Aku takut Tina dimakan atau semacamnya," ucapnya terlihat sedih.


"Oh! Bagaimana jika menggunakan alatku? Kalian ingat, alat itu bisa menghentikan waktu!" seru Rocky.


"Ya, dia benar!" sahut Rex sependapat.


"Maksudmu bagaimana?" tanya Harun terlihat bingung.


"Sebagian dari kita tidur untuk beristirahat dan berjaga. Lalu sebagian pergi mencari keberadaan Tina. Selama waktu berhenti, Timo bisa mencari keberadaan Tina," ucap Rocky menjelaskan.


"Namun, yang tak terpengaruh oleh berhentinya waktu hanya orang yang memegang benda itu. Berarti, hanya satu orang yang bisa mencari Tina," ucap Azumi mengingatkan.


"Agh, itu benar. Sial," keluh Rocky baru ingat hal tersebut.


"Oh, atau bisa diakali," sahut Kenta. Semua anak kini melihatnya. "Timo pergi dengan salah satu dari kita yang bisa terbang. Pemegang jam pasir itu yang memiliki kemampuan terbang. Timo akan terbang bersamanya. Saat jam pasir habis, mereka sudah tiba di lokasi tempat Tina disekap. Sehingga, peluang untuk menyelamatkan Tina lebih besar karena dilakukan berdua. Bagaimana?" tanya Kenta berpendapat.


"Jika begitu, Rex yang pergi. Dia bisa membawa banyak orang," timpal Laika mengusulkan.


"Ya, itu benar," sahut anak-anak yang sepemikiran dengan gadis Rusia tersebut.


"Juby gak papa kok ditinggal. Rex harus pergi bantu temuin Tina. Dia 'kan teman kita," ucap Jubaedah seraya melepaskan genggamannya.


"Aku akan ikut. Dengan wujud Elf dan kemampuanku memanah, pasti akan membantu," ucap Nicolas langsung mendekat.


"Aku juga. Para makhluk seperti vampir itu takut dengan kemampuan apiku. Saat misi selesai, aku bisa terbang sendiri," ucap Kenta semangat.

__ADS_1


"Aku juga ikut. Dengan wujud Medusa-ku, jika hal gawat terjadi, aku bisa membekukan mereka semua menjadi patung," timpal Laika seraya mengangkat tangan.


"Aku akan bergabung. Setidaknya, aku bisa menjadi pengalih perhatian para makhluk itu ketika diantara kita menyelamatkan Tina dan Peter," sahut Czar berdiri di samping Laika.


Tiba-tiba, Timo menangis. Anak-anak yang sedang antusias berdiskusi langsung diam.


"Kau tak apa?" tanya Rangga seraya mendekat lalu menepuk pundak kawannya.


"Terima kasih. Kalian baik sekali. Kalian bahkan tak takut dengan makhluk yang menculik Tina dan Peter," ucap Timo berusaha menghentikan air mata.


"Sudahlah, kita ini teman. Sudah seharusnya saling membantu. Simpan air matamu. Kau harus kuat dan tegar untuk menyelamatkan Tina," ucap Rangga seraya memijat bahu Timo kuat.


"Ya! Demi Tina, aku akan bertahan meski berat," jawab Timo mantap.


"Dan ini. Kaubutuh ini untuk menemukan Tina dan Peter," ucap Vadim seraya memberikan kompasnya.


Timo menerima benda itu dan sangat berterima kasih. Jam pasir yang disimpan dalam tas Azumi segera dikeluarkan.


Rocky dengan senang hati meminjamkan alat berharganya tersebut. Kenta memberikan topi tidurnya kepada sang adik sebelum ia pergi.


"Pakailah agar kau mimpi indah," ucap Kenta dengan senyuman.


"Hati-hati, Kak, dan segeralah pulang," ucap Azumi sedih menggenggam topi itu erat.


"Mandarin, tolong jaga Adikku ya. Sejak pertama kaubertemu dengannya, kulihat kau bisa melindunginya. Maaf, aku harus pergi dan membebanimu dengan tugas ini," ucap Kenta menatap remaja tampan itu lekat.


Azumi tersenyum karena ucapan Mandarin. Kenta dan lainnya segera keluar dari gua. Rex segera berubah menjadi naga. Kawan-kawannya duduk di punggung dengan tali mengikat tubuh mereka agar tak jatuh.


"Pelan-pelan saja terbangnya, Rex. Dan jangan sampai benda itu hilang. Hati-hati, jangan terlalu dekat dengan sarang musuh," ucap Gibson mengingatkan dan Rex mengangguk paham.


Anak-anak yang tak ikut dalam misi segera masuk ke dalam gua. Mereka tak ingin saat waktu berhenti masih berada di luar.


Khawatir, saat waktu habis dan tak siap, nyawa mereka bisa terancam jika bertemu makhluk buas.


Kompas Vadim yang memiliki rantai tersebut bisa dijadikan kalung. Timo memejamkan matanya terlihat bersungguh-sungguh dengan permintaannya.


"Tunjukkan jalan ke tempat Tina dan Peter," ucap Timo seraya membuka mata.


Seketika, jarum pada kompas bergerak menunjuk ke sebuah arah. Timo menunjukkan arah itu pada Rex dan sang naga hijau mengangguk paham.


Timo mengalungkan kompas itu ke lehernya. Jam pasir sudah diletakkan di atas pasir oleh Jubaedah sebelum masuk ke gua.


Rex memutar tutup pada jam pasir dengan gigi naganya. Seketika, Rex menyadari adanya perubahan di sekitar saat ia membalik jam pasir itu. Pasir hitam di bagian atas bergerak turun secara perlahan.


Rex melihat daun-daun tak lagi bergoyang seperti tertiup angin. Ia juga menoleh ke arah kawan-kawannya yang mematung. Rex merasa jika jam pasir itu telah bekerja.


"Aku tak boleh membuang waktu," ucapnya seraya menggigit jam pasir itu dengan mulut naganya.

__ADS_1


Rex terbang meninggalkan lokasi itu dengan empat orang kawannya duduk di punggung. Rex mengingat jelas di mana jarum dari kompas itu mengarah. Rex melihat dari atas langit ternyata wilayah baru itu sangat luas.


Namun, ia mendapati sebuah bangunan di kejauhan yang tampak megah seperti istana yang ditinggalkan. Hanya saja, Rex mengurungkan niat untuk mencari tahu lebih lanjut tempat itu.


Ia fokus untuk pergi ke tempat Tina dan Peter disekap. Rex juga cemas jika dua kawannya terluka mengingat makhluk yang menangkap Tina dan Peter sangat mengerikan.


Semakin lama, wilayah yang didatangi oleh Rex semakin mencekam. Tak terlihat daratan hijau atau beberapa makhluk malam yang masih berkeliaran di daratan.



Hingga akhirnya, Rex memasuki sebuah tempat dengan banyak batuan terjal di sekitar. Wilayah berkabut sehingga menyulitkan penglihatannya. Rex melihat jika waktunya tinggal sedikit lagi.


Rex memilih untuk mendarat di sebuah tempat dekat aliran sungai agar sosok naganya tak terlihat ketika waktu kembali berjalan seperti semula.


Saat Rex akan mencari tempat berlindung, ia melihat sebuah gua. Sayangnya, gua itu sempit. Rex berhati-hati agar kepala kawan-kawannya tak terkena langit-langit gua. Beberapa kristal biru menyala terang di sekeliling.



Rex memilih untuk merangkak dan menyembunyikan tubuh besarnya di dalam gua sampai waktu jam pasir habis. Rex yang mengantuk malah tertidur saat jam pasir tersebut sudah habis waktu.


BRUKK! BRUKK!


"Agh! Aduh," rintih Laika dan lainnya saat tubuh mereka jatuh dari atas punggung Rex karena ikatan yang tak kuat. Beruntung, mereka tak jatuh saat naga itu terbang.


"Eh, kita di mana?" tanya Czar seraya melepaskan ikatan yang masih membelenggunya.


"Oh, apakah efek dari jam pasir telah habis?" tanya Timo saat melihat jam pasir di samping mulut naga Rex sudah tak bergerak lagi.


"Apakah kita sudah dekat dengan lokasi?" tanya Nicolas gugup karena tempat itu cukup menyeramkan.


"Ya, sepertinya begitu. Lihatlah, jarum dari kompas ini mengarah ke dalam gua. Mungkin ini jalan masuknya ke sarang makhluk menyeramkan itu," jawab Timo seraya melihat kompas dalam genggamannya yang ia jadikan kalung.


"Namun ... Rex mendengkur. Ia sepertinya mengantuk dan lelah setelah membawa kita terbang. Bagaimana jika kita biarkan dia tidur?" tanya Laika iba dan semua orang mengangguk setuju termasuk Timo.


"Sebaiknya, kita juga tidur. Aku akan berjaga. Kurasa, sebentar lagi matahari terbit. Aku belum mengantuk," ucap Czar meyakinkan.


"Baiklah. Kami tidur dulu. Jangan sungkan untuk membangunkan kami," ucap Nicolas dan Czar mengangguk siap.


Timo, Laika dan Nicolas tidur dengan menjadikan tubuh naga Rex sebagai sandaran. Czar melihat sekitar di mana tempat itu cukup terang karena adanya cahaya kristal biru yang berkilauan.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Wah tips koinnya abis😩 Gak ada yg mau sedekah biar lele cemangat upnya dimana rasa kantuk sungguh hebat melanda😆

__ADS_1


__ADS_2