
Mata dan mulut tiga remaja itu melebar seketika saat melihat sebuah kapal bajak laut yang terperangkap dalam lautan es sehingga tak bisa berlayar.
"Yang terakhir sampai di kapal akan menjadi tukang bersih-bersih!" seru Nicolas langsung berlari.
"Hei!" sahut Vadim panik karena ia kesulitan berlari akibat tubuhnya yang gemuk.
Tiga anak manusia itu terlihat begitu bersemangat untuk menjelajahi kapal tersebut. Namun, tanpa mereka sadari, di atas tebing di sebuah pintu gua, gerak-gerik mereka diawasi oleh sosok yang tak mereka duga sebelumnya.
Ia berbicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Ah ... pasti itu anak-anak yang akan menjalankan misi. Hem, hebat juga ada yang berhasil sampai di level ini. Kita akan lihat, seberapa besar keberanian kalian untuk mengarungi lautan dan berhadapan dengan Kraken," cibirnya.
Nicolas dan Mandarin terlihat senang karena Vadim yang harus terkena hukuman untuk menjadi tukang bersih-bersih kapal.
Tentu saja remaja gemuk itu kesal, tapi tak bisa merengek karena memang tak sanggup berlari cepat.
"Jika kau menjadi Pegasus, kau pasti bisa mengalahkan kami, Vadim," kekeh Nicolas karena napas Vadim sampai tersengal.
Vadim baru menyadari kebodohannya. Ia yang panik sampai tak bisa berpikir cerdas untuk mengakali pertandingan itu.
Vadim pasrah dan memilih untuk mengikuti kawan-kawannya yang sedang berusaha untuk naik ke kapal karena ternyata, jarak yang terlalu tinggi.
"Hah, aku tak bisa memanjat tali dari jangkar ini," keluh Mandarin yang merasa tangannya sakit karena tali tambang yang kasar.
Sedang tiga hewan penyimpan cadangan jiwa, dengan mudah memanjat sampai ke atas kapal. Tiga remaja itu melongo.
"Aku bisa membantu, tapi hapus tugasku untuk menjadi tukang bersih-bersih kapal," tegas Vadim dengan dua tangan menyilang depan dada.
"Oh, dia mengancam. Mentang-mentang bisa terbang," sindir Nicolas, dan Vadim mengangguk bangga akan hal itu.
Saat tiga remaja itu sedang membuat kesepakatan, tiba-tiba ....
"Oh! Lapisan esnya ... cepat! Cepat! Permukaan es akan mencair!" seru Mandarin panik karena merasa jika lantai es yang dipijaknya mulai bergelombang seperti terjadi gempa.
Benar saja, matahari mulai bersinar terang dan lapisan es mulai mencair perlahan. Tiga anak itu panik.
Vadim dengan sigap merubah dirinya menjadi Pegasus. Nicolas dan Mandarin menaiki punggung Vadim dengan tergesa.
KRAK ... KREKKK ....
"Vadim terbang! Cepat! Cepat!" titah Nicolas ketakutan karena retakan besar mulai terlihat di sekitar kaki kuda Vadim.
KRAKK!! BRUSSH!!
"Waaa!" teriak Mandarin dan Nicolas bersamaan.
Vadim segera mengepakkan sayap besarnya untuk membawa mereka terbang. Nicolas dan Mandarin memeluk tubuh Pegasus erat karena kaki kuda Vadim tercebur ke dalam air laut.
"Lebih kuat atau kita akan tenggelam!" seru Nicolas yang bisa melihat gelombang ombak itu cukup ganas.
Vadim berusaha keras mengepakkan sayapnya hingga perlahan, tapal kudanya yang terendam air terangkat ke udara.
Mandarin dan Nicolas bernapas lega karena Vadim berhasil membawa mereka terbang. Kuda bersayap itu menurunkan dua kawannya di atas geladak kapal.
Vadim segera berubah menjadi manusia dan duduk dengan lesu karena merasa kedua tangannya pegal akibat mengepakkan kedua sayapnya kuat.
"Sini, sini kupijat," ucap Nicolas sebagai bentuk terima kasih karena ditolong oleh kawan bertubuh gemuk itu.
Vadim terkekeh karena ia dilayani bak raja. Mandarin juga ikut memijat di tangan yang lain. Hingga tiga hewan penyimpan cadangan jiwa menyuarakan lengkingan di pinggir kapal seperti ingin memberitahukan sesuatu.
"Lihat, Kawan-kawan! Pemandangan dari atas kapal ini sungguh menakjubkan! Aku tak pernah berlayar sebelumnya terlebih dengan kapal semacam ini," seru Nicolas seraya berlari mendatangi tiga hewan menggemaskan itu.
Vadim segera bangun dan ikut mendekat. Mandarin mengembangkan senyuman saat bisa merasakan angin yang berhembus kuat menerpa tubuhnya.
"Oh! Di tempat ini angin sangat kencang!" seru Vadim sampai matanya menyipit kaena menghalau terpaan angin.
__ADS_1
"Ya, kau benar. Woah, semua es di permukaan telah mencair dan menjadi laut. Untung kita bergegas, jika tidak mungkin sudah tenggelam. Hal ini sungguh mengerikan. Perubahan suhu cukup ekstrim di tempat ini. Jangan sampai kita membeku ketika malam tiba. Kita harus bersiap," ucap Nicolas berpendapat, dan dua kawan mereka mengangguk setuju.
Kapal besar yang terbuat dari kayu itu masih mengapung di permukaan. Tiga remaja tersebut sepakat untuk menjelajah sekitar karena penasaran dengan isi dalam kapal.
Mereka merasa, jika kapal itu dirawat cukup baik karena banyak benda di dalamnya termasuk pelontar meriam begitu pula bahan-bahan peledak seperti yang pernah mereka tonton di film tentang kapal sebelumnya.
"Oh! Lihat itu!" seru Vadim menunjuk saat mereka keluar dari dalam kapal dan kembali ke geladak.
Mandarin dan Nicolas mendongak. Mereka melihat sebuah bendera hitam seperti bajak laut. Seketika, tiga anak itu saling melirik terlihat pucat.
"Ada yang ingat apa isi dari misi?" tanya Mandarin gugup.
Vadim dan Nicolas diam sejenak terlihat berpikir serius.
"Oh! Kita bergabung dengan para bajak laut lalu berkumpul bersama teman-teman untuk menemukan sebuah harta karun di Pulau Pelangi," jawab Nicolas kaku.
"Jangan lupakan Kraken!" seru Vadim.
"Huwaaa! Apa jangan-jangan ada Kraken di laut ini?" teriak Nicolas langsung histeris dan memeluk Mandarin erat.
"AAAA!" Ternyata, Mandarin dan Vadim ikut panik, termasuk tiga hewan penyimpan cadangan jiwa.
Mereka malah sibuk berlari ke sana kemari di atas geladak kapal karena tak bisa turun sebab kapal itu berada sedikit jauh dari tepian.
Hingga tiba-tiba, "Emph! Emph! Ahhh ...."
BRUKK! BRUKK! BRUKK!!
"Didi!" panggil hewan penyimpan cadangan jiwa milik Vadim yang melengking kencang saat melihat beberapa makhluk menaiki atas kapal dan membuat tiga anak manusia itu tergeletak tak sadarkan diri.
Mereka bicara dalam bahasa Planet Mitologi. Terjemahan.
"Kurung tiga hewan itu. Kalian sudah dengar yang dikatakan anak-anak Bumi tersebut. Sita semua perlengkapannya sebagai tiket untuk mengantarkan ke misi selanjutnya," ucap seekor makhluk dengan bentuk tak lazim atau biasa disebut alien oleh para manusia.
"Yes, Capt!" jawab salah satu awak kapal dan segera mengambil tas milik Vadim dan Mandarin.
"Kembangkan layar! Kita harus tiba di sisi terang sebelum malam kembali menjebak kita!" seru Kapten tersebut.
"Ai-ai, Captain!" jawab seluruh ABK kapal serempak.
Jangkar dinaikkan dan layar kapal dibentangkan. Tiang-tiang kokoh itu siap untuk membawa perahu besar itu berlayar mengarungi lautan di Planet Mitologi sisi lain yang belum diketahui oleh para anak manusia tersebut, Negeri Dongeng.
Di tempat Gibson berada.
"Negeri Dongeng?" tanyanya pada seekor Mermaid yang tampak ramah ketika Gibson menaiki sebuah pohon berdaun biru dan membuatnya berada di bagian atas dimensi lain.
"Begitulah. Misi yang barusan kaulihat, membawamu ke negeri dongeng. Aku bisa mengantarmu ke sana, tapi ... ada syaratnya," jawab Duyung cantik itu yang menopang setengah tubuhnya di sebuah batu saat berbincang dengan pemuda tersebut.
Gibson tampak ragu, tapi ia melihat tak ada pilihan.
"Oke, apa yang kauinginkan?" tanya Gibson gugup.
Wanita cantik itu menunjuk dirinya dengan senyum terkembang. Gibson bingung dan malah menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?" Duyung itu mengangguk.
"Aku ingin kau menjadi kekasihku. Aku tak pernah memiliki kekasih seorang manusia," jawabnya yang membuat mata Gibson melotot.
"Ba-bagaimana caranya? Oh, ini sungguh gila," ucap Gibson sampai memegangi rambutnya dan hampir jatuh dari pohon yang dipanjatnya demi mengetahui di mana dirinya berada.
Duyung itu terkekeh dan malah bersikap manja. Gibson yang merasa tak memiliki pilihan akhirnya mengangguk pasrah.
"Dengar, jangan menertawaiku. Di Bumi, aku tak pernah memiliki pacar sebelumnya. Hal itu karena ... dilarang oleh ayah ibuku. Jadi, entah ini sebuah berkah atau petaka untukmu karena kau akan menjadi pacar pertamaku," ucap Gibson yang membuat duyung itu melebarkan mata seketika.
__ADS_1
"Benarkah? Aku pacar pertamamu? Wow!" ucapnya terlihat senang seraya makin kuat menggoyangkan ekor besarnya, tapi membuat batang pohon yang dipeluk oleh Gibson jadi bergoyang.
"Oh, sebentar. Bagaimana kau bisa bahasa manusia? Selain itu, bagaimana kau bisa berada di sini? Apakah aku masih berada di Planet Mitologi?" tanya Gibson bingung seraya melihat sekitar.
"Ya, kau masih berada di Mitologi. Soal kenapa aku bisa bahasa manusia, itu karena aku seorang bangsawan, seorang puteri. Hanya kaum bangsawan yang bisa bahasa manusia, termasuk jenis makhluk lainnya. Centaur, Minotaur, dan sebagainya," jawab Duyung cantik itu menjelaskan. Gibson mengangguk. "Lalu soal kenapa aku bisa berada di sini? Itu karena kau berada dalam wilayahku, Kerajaan Duyung Barat," imbuhnya.
"Ah ... jadi ... aku berada di sisi Barat dari Planet Mitologi. Oke, aku mengerti," ucap Gibson mengangguk dan masih berada di atas pohon.
Tiba-tiba, duyung itu menyelam ke dalam air. Sosoknya yang dilihat dari atas terlihat cukup menyeramkan bagi Gibson karena ukurannya yang besar serta coraknya bagaikan ikan pemangsa laut dalam.
Gibson menelan ludah, tapi saat duyung itu menampakkan setengah tubuhnya, wajah cantiknya membuat ketakutan tersebut kembali memudar.
"Aku bisa membawamu sampai ke pulau terdekat. Apa kau bisa menahan napas sekitar 5 menit selama aku menyelam?" tanya Duyung bersisik biru itu seraya mengapung.
"Aku bisa bertahan hingga 10 menit," sambungnya, dan duyung itu tampak kagum.
"Oke, turunlah," pinta Duyung itu dan Gibson mengangguk pelan.
Pemuda itu tampak gugup saat ia menarik napas dalam seperti akan melompat dari atas pohon.
Benar saja, BYURRR!!
"Hah, hah," engah Gibson. Duyung cantik itu segera mendatanginya.
Gibson masih terlihat takut mengingat pengalaman terakhirnya dengan para duyung bersama Timo tidak berjalan mulus.
"Aku akan memegang tubuhmu dengan mendekapnya di dadaku. Kita harus cepat. Saat malam, para duyung menjadi agresif. Yah, itu ... sudah secara alamiah terjadi. Jadi kusarankan, saat malam tiba, kau menjauhlah dari pantai. Saat matahari datang, segeralah menemuiku di tempat aku akan menurunkanmu nanti. Kau mengerti, Tampan?" tanya Duyung tersebut dan Gibson mengangguk.
Pemuda itu tampak gugup karena kali ini, ia diminta untuk menjadi kekasih seekor mahkluk berekor dan hidup dalam air.
Gibson merasa alur di permainan ini sudah melenceng jauh dan membuatnya gila. Gibson saling bertatapan dengan duyung cantik itu.
Gibson malah tersipu malu ketika tubuhnya diputar dan membuatnya memunggungi wanita ikan tersebut.
Gibson merasa ia seperti dipeluk dari belakang. Jantung pemuda itu berdebar kencang karena tak pernah sedekat ini dengan seorang perempuan.
Terlihat, duyung itu sungguh menyukai Gibson. Senyumnya selalu merekah sejak ia melihat pemuda itu ketika menaiki pohon.
"Aku siap," ucap Gibson dengan tubuh mulai dari dada ke bawah sudah terendam air laut.
"Hem," jawab wanita duyung itu mantap dan BLUB! BLUB!
Gibson menyimpan napasnya dalam saat ikan itu mengajaknya menyelam. Gibson berpegangan kuat pada kedua tangan ikan cantik itu yang mendekap dadanya saat ekor besar tersebut mulai membawanya berenang dengan cepat.
Gibson melihat sekitar di mana wilayah itu memang terlihat lain tak seperti yang pernah ia jelajahi sebelumnya.
Gibson melihat ke bawah di mana daratan dengan cahaya biru tempat ia menemukan jaket masih terbentang luas.
Hanya saja, pohon yang ditemukannya, hanya itu satu-satunya yang membawanya sampai ke perbatasan dimensi hingga bertemu duyung tersebut.
Gibson kali ini percaya pada ikan cantik itu dan berharap, ia memang akan bertemu dengan teman-temannya usai tahu jika misi selanjutnya adalah ke Pulau Pelangi.
Gibson mendapatkan misinya saat ia mencoba untuk memintanya kepada Oag. Harapannya seperti dikabulkan. Sebuah portal muncul dekat pohon yang ia panjat.
Usai portal itu menghilang, duyung cantik bernama Serena menampakkan diri dengan senyum manisnya.
Dari sanalah, Gibson memberanikan diri mengobrol, dan ternyata, Serena cukup ramah baginya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya untuk diriku😆 Kwkwkw lagi asik rekaman eh tau2 hujan gede. Hadeh😩 Jangan lupa vote vocer keburu angus ya gaes. Lele padamu❤️