MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MENYUSURI KASTIL TUA*


__ADS_3

Tina tampak serius melihat lukisan pada dinding yang seperti menceritakan sebuah kisah pada masa lalu.


Bara mendekat perlahan dan mengambil sebuah obor agar gambar tersebut terlihat makin jelas.


"Oh, lihat tiga manusia itu. Ada logo di lengannya seperti tato. Kayaknya gak asing," ungkap Bara saat melihat gambar seorang lelaki dengan memakai pakaian berwarna putih tanpa lengan.


"Ya! Simbol petir ini seperti Dewa Zeus. Lalu trisula ini seperti Dewa Poseidon dan yang ini Dewa Hades!" seru Tina langsung melebarkan mata saat menunjuk tiga gambar lelaki yang tampak akrab dengan para makhluk Mitologi di sekelilingnya.


"Lihat makhluk-makhluk itu. Ada Minotaur, Centaur, Naga, Elf, Mermaid, Yeti, dan ada banyak jenis lainnya!" seru Bara memekik tampak kagum.


"Ya, kau benar," sahut Tina tampak terpukau karena tiga dewa itu seperti menyayangi makhluk-makhluk tersebut. "Eh, ada tulisan di tepian gambar ini seperti bingkai. Namun, aduh. Aku gak paham dengan maksudnya," imbuh Tina seraya menunjuk tulisan yang melingkar di tepian gambar besar tersebut.


"Iya, tulisan apa ya? Bahasa Mitologi mungkin," sahut Bara. Tina mengangguk ragu.


"Bara. Coba kita keliling kastil ini yuk. Sepertinya kosong dan tak berpenghuni," ajaknya.


Bara mengangguk dan memberikan Tina obor yang dipegangnya. Keduanya menggunakan obor sebagai penerangan mereka selama menyusuri kastil tersebut.


Keduanya menaiki tangga dan menemukan lilin-lilin di sepanjang koridor yang belum menyala.


Dua remaja itu menyalakan semua lilin yang ditemukan hingga kastil megah berkesan mencekam itu, perlahan mulai terasa lebih manusiawi.



"Tempat ini sangat besar, Tina. Ini pertama kalinya aku memasuki sebuah kastil. Bagaikan mimpi! Ini sungguh hebat!" seru Bara tampak senang, dan Tina mengangguk setuju.


"Oh lihatlah gambar-gambar di jendela-jendela ini, Bara. Ini seperti kisah para dewa dengan para makhluk Mitologi," tunjuk Tina saat mereka melewati koridor lain dengan banyak jendela berukuran besar seperti pintu dengan beragam gambar.


Bara mendekat dan melihat gambar-gambar besar itu dengan saksama.


"Ini seperti kisah dewa dan dewi Yunani. Bara gak begitu paham sih, tapi lihat. Para dewa itu sangat dekat dengan para makhluk Mitologi," ungkapnya, dan Tina mengangguk setuju.


Terlihat, gambar para manusia yang diyakini oleh Bara dan Tina adalah dewa serta dewi Yunani sedang menikmati waktu bersama para mahluk Mitologi.


Seperti berada di sebuah museum, anak-anak itu terlihat asyik mengamati gambar-gambar pada kaca tersebut yang berlukis warna-warna indah sehingga tampak seperti hidup.


Lama mereka menyusuri tiap seluk-beluk kastil kuno tersebut hingga menemukan sebuah ruangan yang lebih mirip laboratorium.


Bara dan Tina tampak ragu saat akan memasukinya karena terkesan menyeramkan.

__ADS_1


"Kaya di rumah sakit. Bara gak suka dengan hal-hal berbau medis begini," ucapnya dengan mata melirik ke kanan dan ke kiri memindai sekitar. Namun, Tina tersenyum.


"Berbeda denganku. Ayahku seorang profesor, dia ilmuwan. Hampir setiap hari, aku dan Timo datang ke laboratorium ayah. Bagiku, malah sangat keren karena mereka mampu menciptakan hal hebat di sana. Seperti vaksin, serum penawar, obat, dan lainnya," ucap Tina semangat.


Namun, Bara seperti tak sependapat karena wajahnya berkerut. Tina terkekeh.


"Oh, lihat! Ada almari kaca!" seru gadis itu langsung masuk begitu saja terlihat penuh percaya diri. Sedang Bara, memilih untuk tetap berada di luar pintu terlihat gelisah. "Bara. Ada serum warna biru di dalam lemari kaca ini, tapi hanya satu. Isinya apa ya?" tanya Tina sampai matanya melebar saat melihat sebuah silinder terbuat dari kaca dengan cairan warna biru kental tersimpan di dalamnya.


"Bara gak tau, dan gak mau tau. Udah, kita ke tempat lain aja yuk. Bara jadi pengen pipis nih karena panik," rengeknya.


Tina cemberut, tapi ia yang penasaran, memberanikan diri membuka lemari kaca yang ternyata tak terkunci itu.


Tina mengambil serum biru tersebut yang dikelilingi oleh bongkahan es seperti melindunginya.


Tina menatap serum itu saksama dalam genggamannya lalu menutup lemari kaca itu lagi.


Gadis cantik itu memasukkan serum tersebut ke dalam tas yang digendong oleh Bara. Ia menggunakan baju pramuka Bara untuk melindunginya agar tak pecah.


"Yuk, pergi yuk. Udah aja liat-liatnya. Kita gak nemuin temen-temen di sini," ucap Bara terlihat gelisah.


Tina tersenyum dan berjalan di samping Bara untuk menyusuri wilayah lainnya. Namun, tanpa sepengetahuan dua remaja itu, pergerakan mereka diawasi oleh makhluk-makhluk bercorak biru.


"Oag. Mereka mengambil serum terakhir peninggalan para leluhur," ucap salah satu makhluk bertentakel dari pengamatannya.


Oag diam saja, tapi seperti menyadari hal itu.


"Biarkan saja. Bukankah, serum itu salah satu isi dari perjanjian kita dengan para manusia? Biarkan mereka memilikinya. Jika serum itu sampai rusak atau hancur, itu bukan salah kita. Mungkin benar yang dikatakan oleh para makhluk Mitologi jika manusia tak pantas untuk ditolong," tegas Oag, dan para makhluk sejenis tampak sependapat dengan pemimpin mereka.


Saat Bara dan Tina memasuki sebuah ruangan seperti kamar, dua remaja itu menemukan banyak baju meski berkesan kuno.


Tina yang merasa pakaiannya sudah kotor, apek, dan lusuh itu, memilih untuk menggantinya.


Bara ikut mengambil beberapa pakaian yang dirasa muat untuk dirinya dan kawan-kawannya nanti.


Tina juga menemukan sebuah tas dari kulit hewan tampak kuno model punggung yang ia isi dengan banyak barang temuan.



"Aku rasa kita butuh penerang ini, Bara. Bisa saja kita nanti memasuki wilayah gelap dan tak ada cahaya. Pasti akan sangat berguna," ucap Tina saat menemukan lentera tua dengan lilin sebagai cahayanya.

__ADS_1


"Hem, aku setuju," sahut Bara dengan anggukan mantap.


Tina mendapatkan tiga buah lentera tua dengan lilin padam di dalamnya. Bara mengambil beberapa lilin yang berada di koridor sebagai cadangan dan memasukkannya dalam tas ransel.


"Wah, bawaan kita banyak sekali. Aku rasa sudah cukup," ucap Bara dengan tas ransel sampai tak bisa dikancingkan.


"Aku rasa sudah cukup menjelajah kastil ini. Sebaiknya kita bergegas pergi untuk menemukan kawan-kawan," ucap Tina, dan Bara mengangguk setuju.


Mereka pun sepakat untuk keluar dari kastil, tapi melalui jalan lain yang belum dilewati. Saat mereka mendapati sebuah pintu, keduanya terkejut.


Mereka melihat sisi lain dari perbatasan dua dimensi di mana seberang sana, wilayah terang dan terasa hangat berada.


"Mungkin itu portal untuk menuju ke sisi terang. Ingat? Jika planet Mitologi memiliki sisi terang dan gelap. Mungkin selama ini kita berada di sisi gelap, dan di sanalah sisi terang!" seru Bara dengan mata membulat penuh.


"Ya, bisa jadi!" sahut Tina riang.


Tiga makhluk penyimpan cadangan nyawa tampak senang akan sesuatu. Saat mereka akan menyeberang, langkah anak-anak itu terhenti ketika melihat jembatan yang membawa ke sisi terang roboh dan jaraknya sangat tak mungkin untuk dijangkau.



"Bagaimana melewatinya? Jika sampai jatuh, kita bisa mati. Jurangnya dalam sekali," ucap Tina seraya melongok terlihat panik.


Bara diam sejenak, tapi tiba-tiba menjentikkan jari. "Ksatria Garuda!" serunya lantang dan berubah menjadi wujud itu.


"Yey!" teriak Tina senang seraya melompat kegirangan.


Namun, KRAKKK!! BRUSHH!!


"AAAAA!"


"TINA!" panggil Bara dengan mata membulat penuh saat ia melihat Tina jatuh karena jembatan batu yang dipijaknya runtuh berikut tiga hewan penyimpan cadangan jiwa.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Wah ada yg ngetips🤩 Makasih yaa❤️ Yang lain kuy, target lele bulan depan tamat nih novel Monster Hunter. Yuk yg mau jejak tips koin😘


__ADS_2