
Bara dan Boas dengan sigap berlari mengikuti jalan pelangi yang bersinar terang bagaikan lampu festival dalam kegelapan hutan.
Tubuh yang lelah akibat menjelajah Pulau Pelangi demi mencari harta karun sebagai syarat menyelesaikan misi level 6, membuat anak-anak yang terbagi menjadi lima wilayah itu mengabaikan keluhan di tubuh mereka.
Hal hampir serupa juga terjadi di wilayah Barat tempat Lazarus, Vadim, Laika dan Czar berada. Para remaja itu juga tak menemukan petunjuk apa pun mengenai harta karun yang dicari.
Mereka akhirnya memilih untuk beristirahat dan dilanjutkan pencarian esok hari. Anak-anak itu menikmati keindahan malam di tepi sungai berlumpur seraya mengisi perut yang kelaparan dari temuan di hutan dalam wujud makhluk Mitologi untuk mengantisipasi keracunan makanan, kecuali Laika.
Gadis cantik itu mengkonsumsi perbekalan yang ia bawa dari kapal. Saat anak-anak itu sedang asyik mengobrol, muncul sosok hewan di dekat mereka.
BLUB!
"Errr ...."
"Ohok! Uhuk, uhuk!" Vadim langsung tersedak saat melihat kemunculan makhluk aneh ketika ia melihat ke arah sungai.
Praktis, semua anak langsung menjauh dari sungai karena khawatir jika makhluk tersebut berbahaya. Namun uniknya, muncul tanda berbentuk hati di atas kepalanya yang menyala terang.
"Sungguh hewan yang aneh," ucap Lazarus sampai menyipitkan mata karena sosok berwarna biru itu.
"Errr ... Errr ...."
"Ada yang tahu, apa yang dikatakan makhluk itu?" tanya Laika yang merasa makhluk itu bukan sebuah ancaman.
Semua anak menggeleng, tapi pergerakan makhluk itu membuat kening anak-anak berkerut.
Hewan itu seperti memanggil-manggil meski hanya bersuara 'Errr' saja dan diulang-ulang. Selain itu, setelah mendekat ke tepian ia lalu menjauh, tapi kembali ke tepian dengan mengucapkan panggilan itu lagi dan kemudian menjauh lagi. Terus seperti itu.
"Insting Mitologi-ku mengatakan kita harus mengikutinya," ucap Czar yang mengejutkan anak-anak lain.
"Kau yakin?" tanya Laika menatap kawan Rusia-nya saksama, dan Czar mengangguk berulang.
"Oke," jawab Laika, Lazarus dan Vadim pada akhirnya.
"Kami akan mengikutimu. Kami harus ke mana?" tanya Laika memberanikan diri bertanya meski ia merasa konyol dengan hal ini karena tak yakin jika makhluk itu mengerti.
"Errr ... Errr," jawab makhluk itu lalu berenang menjauh, tapi sosoknya masih terlihat setengah di atas permukaan air lumpur.
Laika dan lainnya bergegas mengikuti makhluk bergigi tak rata dari tepian sungai. Laika menaiki punggung Pegasus Vadim agar tak tertinggal.
Ternyata, aliran sungai itu cukup panjang dan berliku. Mereka sampai harus melompati batuan untuk menyeberang ke daratan di sisi lainnya.
"Hah, hah, dia ingin membawa kita ke mana?" tanya Czar saat ia sengaja tak terbang karena khawatir akan kehilangan jejak kawan-kawannya mengingat sekitar tempat itu ditumbuhi pepohonan yang memancarkan cahaya seperti hewan tersebut.
Czar dan Vadim terpaksa menelengkupkan sayap besarnya karena akan mengenai pepohonan di tepi sungai.
"Entahlah, tapi hewan gendut itu cukup gesit. Kakinya tak terlihat, tapi bergerak sangat cepat. Jangan sampai kehilangan jejaknya!" seru Lazarus yang ikut kerepotan karena harus berlari dengan lincah.
Hingga tiba-tiba, "Woah!" seru Vadim terkejut karena harus menghentikan laju larinya ketika seseorang keluar dari dalam hutan.
BRUKK!!
"Agh!"
"Laika!" seru Czar langsung sigap mendatangi gadis berambut panjang itu yang jatuh dari punggung Pegasus Vadim.
__ADS_1
"A-aku tak apa," jawabnya seraya bangun perlahan.
"Bara? Boas?" panggil Lazarus ketika mengenali dua kawannya tersebut.
"Hahaha, hei! Kalian di sini?" tanya keduanya dengan napas tersengal dan keringat bercucuran.
"Kalian dikejar sesuatu? Kenapa terlihat letih sekali?" tanya Lazarus langsung bersiaga dengan senjatanya.
"Ha? Oh, tidak. Kami tadi ... eh?" jawab Bara langsung terkejut saat melihat jalan pelanginya lenyap ketika mereka keluar dari hutan.
"Hei! Hewan bermata kuning bulat itu menghilang!" seru Vadim saat menyadari makhluk aneh itu tak berada di sungai berlumpur lagi.
"Apakah ... kalian mengejar atau mengikuti sesuatu?" tanya Boas penasaran.
"Ya! Tadi ada makhluk aneh, gendut, bermata bulat, bergigi tak rata dan ada love-love di atas kepalanya di sungai berlumpur itu," jawab Vadim semangat, tapi membuat Bara dan Boas malah mengedipkan mata dengan wajah lugu.
"Love-love di kepala? Kau bicara apa?" tanya Bara berkerut kening.
"Memang seperti itulah kenyataannya," sahut Laika seraya membersihkan pakaiannya yang kotor.
"Aku ... tak bisa membayangkan bagaimana wujudnya," sahut Boas dengan bola mata terangkat.
"Lalu ... kalian sendiri?" tanya Lazarus terlihat heran.
"Oh! Tadi ... kami melihat ada jalan pelangi yang berliku dalam hutan. Kami mengikutinya sampai ke sini, dan tiba-tiba ... hilang," jawab Boas masih melihat sekitar.
Semua anak diam untuk sesaat hingga perlahan, cahaya gelap yang di sekitar kawasan memudar seperti berganti dengan matahari pagi.
"Sudah pagi? Wow, cepat sekali," ucap Lazarus terheran-heran sampai kepalanya mendongak.
"Ya, aku saja baru mau tidur tadi, tapi tak jadi karena jalan pelangi itu," sahut Bara.
Anak-anak malah menaikkan kedua bahu seperti tak tahu. Laika melihat ke arah sungai dan berpikir untuk terus menyusurinya.
Para remaja yang tergabung dari dua tim itu mengikuti saran dari gadis berkulit cokelat tersebut.
Lama mereka berjalan dan rasa letih kembali melanda. Perlahan, sungai lumpur itu bercampur dengan air dari aliran lain lalu menjadi air jernih.
Sungai di depan mereka terlihat lebih lebar dengan kilau keungunan di permukaannya. Di seberangnya juga terdapat hutan yang mengeluarkan warna-warna beragam seperti pelangi.
"Aku haus sekali. Bisakah kita meminumnya?" tanya Boas dengan bibir sudah mengering.
"Sebaiknya kau berubah dalam wujud Mitologi agar tak keracunan seperti cerita Jubaedah," ucap Czar menyarankan.
Boas dan Bara dengan sigap mengubah wujud mereka menjadi mahluk Mitologi. Semua anak yang kelelahan segera meminum air itu langsung dari aliran sungai yang mengalir jernih.
Sedang Laika, minum dari botol yang ia bawa. Saat anak-anak itu sedang duduk di tepian sungai yang mengalir indah, tiba-tiba ....
"Hei!"
"Oh! Bukankah itu ... Rangga!" seru Lazarus saat ia kembali berdiri usai minum.
"Wah! Kita bertemu lainnya! Hei!" sahut Bara ikut semangat dan langsung terbang melayang mengepakkan sayap Garuda-nya.
Timo dan Mandarin mengarahkan perahu yang mereka gunakan untuk menyusuri sungai ke tepian tempat kawan-kawannya berkumpul.
Czar dan lainnya segera berubah wujud menjadi manusia untuk menolong merapatkan perahu.
__ADS_1
"Hahaha! Oh, sungguh tak disangka kita bertemu di sini!" ucap Nicolas seraya berjalan tertatih karena terluka.
"Kalian kenapa luka-luka begini? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Vadim cemas saat melihat Nicolas, Harun dan Mandarin dibalut perban.
Praktis, senyum terkembang itu meredup. Lazarus dan teman-temannya menyadari perubahan ekspresi tersebut. Jubaedah terlihat bersedih karena matanya berlinang.
"Juby, ada apa?" tanya Laika lirih seraya mendatangi kawan perempuannya.
Jubaedah tak menjawab dan hanya menangis. Ia langsung memeluk Laika erat, dan hal itu membuat semua anak dalam tim Lazarus yakin jika ada yang tak beres.
"Pasha ... tewas," ucap Rex pada akhirnya.
"Apa?!" teriak Vadim lantang dengan mata melotot, begitupula yang lain.
"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" tanya Czar ikut terkejut sampai napasnya tersengal.
Nicolas dan lainnya saling berpandangan. Rex akhirnya mendekati kelompok dari tim Barat dan Selatan untuk menjelaskan kronologi didampingi oleh Harun yang berada di lokasi saat kejadian.
BRUK!!
"Hiks, Pasha ... Pasha ...," panggil Vadim langsung roboh dan duduk di atas tanah dengan isak tangis. "Apa yang harus kukatakan pada paman Yuri dan bibi Julia jika Pasha tewas? Mereka ... mereka pasti akan sangat bersedih dan mungkin akan menyalahkanku," ucapnya sedih dengan pandangan tak menentu.
Czar dan Laika segera mendekati Vadim lalu memeluknya. Anak-anak itu terlihat begitu terpukul atas kematian Pasha yang tak disangka.
"Kalian sudah menguburkannya?" tanya Boas dengan wajah tergenang air mata.
Harun dan lainnya mengangguk pelan. Semua anak dirundung kesedihan. Tak ada satu pun dari mereka yang merasa bahagia karena hal ini.
Mereka tak menyangka, satu per satu dari anggota tim tiada padahal Tina baru saja berpulang.
"Tempat ini membunuh kita satu per satu secara perlahan dan bergantian. Benar ucapan para Elf itu. Pulau ini ... terkutuk," ucap Nicolas terlihat begitu tertekan sampai wajahnya berkerut.
Saat semua anak sedang diliputi kesedihan atas meninggalnya Pasha, kekecewaan karena permainan Maniac yang merenggut nyawa, dan marah karena misi yang sulit tak berkesudahan, tiba-tiba saja, SRAK! SRAK! BYUR!
"Oh! Apa itu?!" pekik Mandarin langsung menoleh ke arah sungai karena mendengar sesuatu tercebur ke dalamnya.
Seketika, tangis anak-anak reda. Mereka berjalan perlahan mendatangi tepian sungai untuk melihat apa yang terjadi.
"Eh, bukankah itu ...," ucap Jubaedah seraya menunjuk. "Gibson!"
"Ya, benar! Ada Azumi, Kenta dan Ryan juga!" seru Rangga ikut senang dan air mata itu lenyap seketika.
Saat kebahagiaan kembali merundung hati semua anak, lagi-lagi ....
"Awas!" seru Timo lantang ketika melihat pergerakan di aliran sungai seperti ada sesuatu yang besar mendatangi kawan-kawan mereka.
"Azumi! Kenta! Ryan! Gibson! Pergi dari sana!" teriak Mandarin lantang karena makhluk itu terlihat buas dan siap untuk menyerang.
"Tak akan kubiarkan kawan-kawanku mati lagi! Ayo!" seru Bara terlihat marah, dan segera berubah menjadi Kesatria Garuda.
Czar, Vadim, Boas dan Rex ikut berubah menjadi makhluk Mitologi bersayap untuk menolong kawan-kawannya yang seperti tak menyadari kehadiran makhluk buas di dekat mereka.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Makasih tipsnya untuk dirikuš Kwkwkw. Lagi rempong sampai senin depan karena ortu lagi berkunjung ke rumah dalam rangka kangen cucu. Jadi, kalau nanti lele gak bisa dobel eps harap dimaklumi ya. Tengkiyuw. Lele padamu LAPā¤ļø