
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Semua anak tampak tegang karena Sphinx memulai pertanyaannya terlebih dahulu.
"Hem, kau terlihat cerdas, Anak manusia. Coba jawab ini," ucap Sphinx. Gibson tampak fokus dan serius. "Badannya lurus, bermata satu, ekornya satu. Apakah aku?" tanya Sphinx tenang.
Semua anak gugup seketika. Mandarin melihat sekitar seperti mencari petunjuk dari benda yang ditangkap oleh matanya untuk membantu menjawab.
Sayang, tempat itu hanya dipenuhi oleh pasir yang menumpuk serta bangunan terbuat dari batu.
Anak-anak mulai frustasi. Terlebih, kini Satyr menjadi tawanan Sphinx. Kening Gibson berkerut tampak tegang saat melihat penunjuk waktu pada tombak Lady Elf yang tertancap di atas pasir mulai bergerak.
"Hem, tidak tahu ya? Baiklah," sindir Sphinx lalu mengangkat tubuh Satyr dengan ujung kuku singa di kaki kanannya, dan membuat manusia setengah kambing itu panik seketika.
"Hei! Hei! Turunkan aku!" teriak Satyr mencoba membebaskan diri, tapi tak bisa karena kaki singa Sphinx sebelah kiri sudah menjaga tubuhnya agar tak kabur. "Kenta! Jika sampai aku mati, aku bersumpah akan menggentayangi hidupmu!" ancam Satyr ketakutan saat melihat Sphinx mulai membuka mulut siap menyantap.
Mata semua anak-anak melotot. Gibson melihat kuku Sphinx yang tajam begitupula giginya yang bertaring. Namun tiba-tiba, ia seperti menyadari sesuatu.
"Jarum!" teriak Gibson seraya melangkah mendekat dengan menunjuk makhluk Mitologi bertubuh raksasa itu.
Seketika, Sphinx menghentikan gerakan. Ia melirik ke arah Gibson dengan tubuh Satyr masih terangkat di ujung kuku karena manusia kambing itu enggan melepaskan tas topinya.
"Jarum? Kau yakin?" tanya Sphinx memicingkan mata.
"Ya, aku yakin," jawab Gibson mantap meski wajahnya tegang.
Tiba-tiba, BRUKK!!
"Arghh!"
"Satyr!" seru Kenta terkejut saat manusia setengah kambing itu dijatuhkan oleh Sphinx begitu saja hingga ia mengerang kesakitan di atas lantai batu.
"Giliranmu," ucap Sphinx menatap Gibson tajam dan menggunakan dua kaki depannya untuk mengurung pergerakan Satyr agar tak kabur.
Manusia setengah kambing bertanduk itu tergeletak lemas di atas lantai batu. Napas Satyr tersengal.
Gibson terlihat bingung. Ia melihat kawan-kawan yang berdiri di sekitar tegang karena mempercayakan hal ini padanya. Gibson menundukkan pandangan dan berpikir keras seraya melihat dua kakinya.
"Oh! Apakah aku?" ucap Gibson tiba-tiba. Sphinx terlihat serius seketika. "Aku bisa terbang, melompat, berjalan, bahkan berlari. Aku bisa menjadi tinggi, pendek, dan menghilang. Apa jawabanmu!" tanya Gibson menatap Sphinx lekat.
Semua anak ikut berpikir seolah pertanyaan itu ditujukan pada mereka, padahal tidak.
"Hem, apa ya? Bara beneran ngerasa bego karena gak ngerti tebak-tebakan beginian," keluh Bara menggaruk kepala.
"Waktumu hampir habis, Sphinx!" seru Rex mengingatkan sebagai wasit permainan.
Sphinx terlihat kesal. Ia tak mau dirinya dibawa kepada sosok hitam karena tahu jika hal itu akan merenggut jiwanya.
"Argh! Cermin!" jawab Sphinx terlihat marah.
"Salah!" sahut Gibson cepat.
"Yeah!" seru anak-anak senang.
Sphinx mendengus kesal, tapi melihat sosok naga Rex siap menyemburkan asap beracun karena mulutnya mengeluarkan gas tersebut, makhluk itu memilih untuk membuat ekor singa yang tadinya menjadi batu kini bergerak.
"Apa jawabannya?!" tanya Sphinx geram.
"Bayangan," jawab Gibson tenang.
Sphinx diam sejenak seperti berpikir dengan serius akan jawaban itu.
"Kau boleh juga, Anak manusia. Aku meremehkanmu. Baiklah, giliranku," ucap Sphinx terlihat fokus kali ini.
Suasana kembali tegang. Kini, semua pertanyaan Sphinx dilimpahkan pada Gibson. Pertarungan satu lawan satu itu membuat jantung semua anak seakan meledak dan napas tercekik.
Mereka panik dan hanya bisa berdoa semoga Gibson bisa memenangkan pertandingan atau mereka menjadi santapan.
"Apakah aku?" tanya Sphinx memulai pertanyaan. Gibson mengangguk pelan. "Saat aku berdiri, dia tengkurap. Ketika aku berbaring, dia berdiri."
"Eh buset. Apaan tuh? Orang bangkit dari kubur apa gimana?" celetuk Rangga.
"Orang salat kali," sahut Bara seraya menggaruk dagunya.
"Ha?" sahut Timo bingung.
"Kan orang salat begini geraknya," ujar Bara seraya mempraktekkan.
"Orang salat gak ada berbaringnya woi! Itu orang udah mati disalatin! Ketauan gak pernah salat lu ya," sindir Harun menunjuk.
"Jangan berisik! Gibson tak bisa konsentrasi!" bentak Lazarus. Seketika, semua anak diam.
Sphinx tersenyum tipis. Ia kembali melirik Satyr karena dianggap berkhianat sebab mendukung anak-anak manusia. Satyr terlihat gugup seraya memegang topi Azumi erat sebagai tasnya.
"Oke, oke, kita coba praktek," ucap Nicolas memperagakan.
__ADS_1
Gibson menoleh ke arah Nicolas saat ia berdiri dan Boas tengkurap. Kemudian saat Nicolas berbaring, Boas berdiri. Semua anak terlihat bingung karena pertanyaan itu sedikit tak masuk akal.
"Agh! Panas!" keluh Vadim yang bergegas mendatangi bayangan karena terkena paparan sinar matahari terik. Kening Gibson berkerut seraya melirik Satyr.
"Aku tak yakin dengan jawabanku, Satyr," ucapnya menatap Satyr sendu.
Namun, Satyr hanya tersenyum. "Bisa sampai sejauh ini cukup bagus."
Semua anak terlihat cemas jika jawaban Gibson salah. Sphinx mulai mengarahkan ujung kuku singanya yang tajam untuk menarik tubuh Satyr kembali.
"Argh!" erang Satyr, karena kini Sphinx sengaja menusuk meski pelan ke punggung tubuh manusianya.
"Jangan sakiti dia!" seru Kenta terlihat marah.
Rex yang tak berpihak ikut cemas. "Aku hitung sampai tiga. Satu ... dua—"
"Telapak kaki!" jawab Gibson lantang.
Kening semua anak berkerut dan secara otomatis, kepala mereka menunduk untuk melihat kaki masing-masing.
"Ha? Kenapa bisa telapak kaki?" tanya Ryan bingung seraya menggerakkan salah satu kakinya meski tertutup alas sepatu.
"Ya, dia benar! Telapak kaki!" sahut Lazarus mantap.
"Harghhh!"
GRUDUK ... GRUDUK ....
"Wow! Wow! Awas!" seru Timo saat melihat atap bangunan besar itu mulai runtuh karena Sphinx memukul lantai batu dengan kuat menggunakan dua kaki depan singanya.
"Kau sudah berjanji! Gerakkan kaki belakangmu!" titah Gibson menunjuk.
Napas makhluk itu memburu. Ia menatap Gibson tajam penuh amarah. Semua anak terlihat panik dan menjauh agar tak terkena amukan Sphinx yang membuat mereka tertimpa puing bangunan.
"Tepati janjimu. Dua kaki belakang," tegas Gibson penuh penekanan.
Sphinx tersebut menepati janjinya. Perlahan, ia mulai berdiri. Kini, empat kakinya telah terbebas tak menjadi batu lagi.
Semua anak terlihat senang karena tinggal badan singa dan sayap saja yang masih keras seperti batu.
"Berikutnya," ucap Gibson mulai percaya diri. Semua anak bersorak menyemangati. "Apakah aku? Dia bersiul, dia berbisik. Kadang terasa panas, dingin, dan sejuk. Bisa disentuh, tak bisa ditangkap. Apa jawabanmu?" tanya Gibson mantap.
Namun, kali ini Sphinx menyeringai. "Angin."
Praktis, mata Gibson melebar. Sphinx menunjukkan taring tajam saat membuka mulutnya lebar siap untuk memakan Satyr yang masih tergeletak lemas di atas batu.
Sphinx menoleh, tapi kaki kiri depannya menahan tubuh Satyr agar tak kabur. Semua anak panik seketika.
"Percuma memakan Satyr, kau hanya kenyang beberapa menit. Dia tak akan memuaskanmu. Namun, cermin ini bisa menunjukkan padamu segalanya. Lepaskan Satyr dan ambil ini sebagai gantinya," ucap Kenta seraya berjalan mendekat lalu meletakkan cermin ajaib itu di depan Sphinx.
Makhluk itu menyipitkan mata. Ia mengambil cermin kecil itu dan melihat wajahnya di sana.
"Kau. Buktikan jika ini memang berfungsi," pinta Sphinx menatap Satyr tajam.
Makhluk setengah kambing itu mengangguk pelan seraya meraih cermin tersebut masih dalam posisi tengkurap.
"Ce-cermin ajaib. Katakan padaku, seperti apa Mesir saat ini," tanyanya yang membuat mata Sphinx melebar.
Seketika, cermin menampilkan kondisi Mesir di Bumi pada zaman sekarang. Bola mata Sphinx bergerak tak beraturan. Ia tampak kaget akan perubahan Mesir usai ia tinggalkan, termasuk Satyr. Hingga akhirnya, tampilan itu lenyap.
"Lepaskan Satyr!" teriak Kenta tegas.
Napas Sphinx memburu, tapi ia mengangkat kakinya yang menahan tubuh Satyr agar tak kabur. Kenta dan remaja lainnya sumringah seketika.
Namun, saat Satyr akan melangkah pergi, tubuh Satyr kembali dikurung oleh dua kaki depan Sphinx. Praktis, anak-anak kembali dibuat tegang.
"Kau jangan curang!" teriak Boas marah.
"Pertanyaan belum usai. Dia masih tawananku. Pertanyaan selanjutnya," jawabnya tenang menatap Gibson tajam. "Apakah aku?" ucapnya serius. Anak-anak kembali dibuat berdebar karena pertandingan ini belum berakhir. "Aku selalu datang dalam jumlah besar. Kadang siang, kadang malam. Kadang dipuji, kadang dimaki. Aku anugerah, tapi juga bencana. Tebaklah," ucap Sphinx tenang.
"Kaya kita ya. Dateng keroyokan. Ini pertanyaan nyindir apa gimana sih?" ucap Bara dengan kening berkerut.
"Rangga gak bisa mikir. Di sini panas, haus, laper lagi," keluh Rangga seraya menutupi kepalanya dengan tas ransel.
Sedang Gibson, terlihat seperti bingung mencari jawaban. Ia berjalan mondar-mandir sembari berguman entah apa yang dikatakan. Sesekali mendongak melihat atap bangunan dan beberapa kali menundukkan wajah.
"Kemarilah, Satyr. Aku lapar," ucap Sphinx seraya menarik tubuh Satyr hingga manusia setengah kambing itu terdorong ke belakang dan kini terpepet kuku-kuku tajam yang siap menusuknya.
"Gibson!" panggil Nicolas panik karena nyawa Satyr di ujung tanduk lagi.
"Hujan!" pekik Gibson dengan mata melebar.
"Hujan? Mm ...," guman Harun seperti memikirkan jawaban itu.
"Ya, hujan. Dia bisa menjadi bencana jika terjadi banjir. Orang-orang yang menginginkan hujan akan bersyukur, tapi yang tidak mereka akan mengeluh. Jawabanku benar, Sphinx. Sayap," tegasnya dengan seringai menatap Sphinx tajam.
__ADS_1
"Hargh!" teriak Sphinx marah dan langsung menyibakkan tubuh Satyr hingga makhluk bertanduk itu terhempas menghantam pilar bangunan.
"Satyr!" teriak Kenta panik karena makhluk berekor itu mengerang kesakitan.
"Kau pasti curang!" teriak Sphinx marah seraya melebarkan dua sayap besarnya hingga cahaya matahari seolah tertutup olehnya.
"Bagaimana caraku curang? Seperti katamu. Aku pintar. Sekarang giliranku. Ini akan menjadi yang terakhir," ucap Gibson mantap tak terlihat takut karena masih berdiri tegap padahal sosok Sphinx tepat di hadapannya. Makhluk bersayap itu menatap Gibson tajam dengan napas memburu. "Apakah aku? Tidak memiliki kaki, tapi bisa berlari. Ia melahap semua hal di sekitar dan tak bisa dimuntahkan. Aku, tak bisa disentuh. Tebaklah," ujar Gibson dengan senyum tipis.
"Sosok hitam?" sahut Mandarin begitu saja.
Praktis, mata Gibson melebar.
"Ya, benar, sosok hitam. Dia tak memiliki kaki dan memakan semuanya. Hahaha, kau terjebak dalam pertanyaanmu sendiri, Gibson. Kali ini, kau tak bisa menyelamatkan Satyr," tegas Sphinx yang dengan sigap menangkap tubuh Satyr dan merematnya.
"Arghhh!" erang makhluk bertanduk itu saat tubuhnya terhimpit oleh dua kaki depan singa Sphinx seperti ingin memimpihkannya.
"Dasar bodoh! Kenapa kau memberikannya jawaban?!" pekik Kenta marah langsung memukul lengan Mandarin kuat.
"Terpikirkan begitu saja!" jawab Mandarin panik.
Satyr berteriak histeris saat melihat mulut Sphinx terbuka lebar siap menyantapnya.
"Kau salah!" jawab Gibson mantap. Sontak, semua anak terkejut, terlebih Sphinx.
"Penipu!" teriak Sphinx marah.
"Bukan sosok hitam, tapi waktu. Kau masih bisa menyentuh sosok hitam," ucap Gibson dengan seringainya.
"Kalian mempermainkanku!" teriak Sphinx marah dan tetap membuka mulutnya untuk memakan Satyr.
"Arrghhh!" teriak Satyr dengan mata melotot lebar saat tubuhnya sudah masuk ke mulut makhluk raksasa itu.
Namun tiba-tiba, "Woah!" kejut Timo ketika melihat sosok hitam tiba-tiba muncul di belakang tubuh Satyr yang membuat Sphinx langsung terperanjat.
"Sudah cukup, Sphinx. Waktumu habis," ucap sosok hitam dengan tubuh sebesar Satyr mulai mengarahkan tangannya ke wajah makhluk besar itu.
"AAAA!" teriak Satyr saat ia tiba-tiba dijatuhkan oleh Sphinx dan membuat tubuhnya siap menghantam lantai batu dari ketinggian.
"Satyr!" teriak Kenta panik.
Dengan sigap, BRUK!
"Hah? Oh, Czar!" panggil Satyr karena sosok Griffin itu dengan sigap menangkap tubuh manusia setengah kambing tersebut menggunakan punggung sebagai alas.
"Menyingkir!" seru Rex saat melihat jiwa Sphinx mulai tersedot oleh sosok hitam yang ukurannya jauh lebih kecil darinya.
"Harrghhh! Arghhh!" teriak Sphinx meraung-raung hingga puing-puing bangunan runtuh dengan bongkahan besar.
"Menghindar!" titah Gibson yang dengan sigap naik ke punggung Pegasus Vadim saat melihat tempatnya berpijak tak bisa bertahan lagi.
Anak-anak segera menjauh dari bangunan megah terbuat dari batu itu. Sosok hitam dan Sphinx tak terlihat karena tertimpa reruntuhan.
Para remaja itu terlihat cemas dengan sosok hitam karena dianggap berjasa telah menolong di saat tepat.
"Oh! Itu dia!" tunjuk Ryan yang naik ke punggung naga Rex saat melihat sosok hitam seperti memiliki kemampuan tembus pandang.
Anak-anak bergidik ngeri, tapi memilih untuk diam. Gibson terlihat gugup karena sosok hitam melayang di depannya.
"Siapa yang mengajukan diri kali ini?" tanyanya.
"Oh! Itu ... Rangga," jawab Gibson pucat.
"Kenapa bukan kau?" tanya sosok hitam.
"A-aku ... aku adalah nama terakhir dari misi ini. Aku ... mengorbankan diriku," jawab Gibson sampai tergagap.
Sosok hitam diam saja. Semua anak terlihat sedih karena pernyataan Gibson ada benarnya.
"Kau sudah berjuang, Gib. Aku tak masalah. Kau pantas mendapatkan hadiah itu," ucap Rangga.
"Tidak! Perjanjian tetap perjanjian!" bantahnya lantang. Rangga terkejut. "Rangga yang kuajukan untuk Sphinx. Dia lolos 'kan?" tanya Gibson menatap sosok hitam lekat yang masih melayang di depannya.
"Selamat, Rangga. Kau lolos," ucap sosok hitam lalu menghilang begitu saja.
"Wohooo! Kita berhasil!" seru Nicolas senang, dan semua anak ikut gembira. Namun, Rangga malah terlihat sedih saat Gibson tersenyum padanya.
"Bagaimana aku membalas budimu, Gib?" tanya Rangga seperti akan menangis.
"Mudah saja. Kau harus menang sampai level 10. Minta hadiah seperti yang pernah kusampaikan. Aku menunggu untuk dibangkitkan," jawab Gibson tenang, tapi Rangga hanya diam saja meski mengangguk berulang kali.
"Hiks, Gibson," tangis Vadim lalu berubah menjadi manusia.
Gibson tersenyum tipis saat Vadim memeluknya, dan disusul anak-anak yang lain.
***
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya diriku😆 Dan, Monster Hunter ternyata tamat bulan depan gaes. Wkwkwkw karena sampai tanggal ini saja masih level 7. Sabar. Akan lele ringkesin biar tamat on time. Terima kasih😘