
Hari itu, anak-anak yang telah berhasil menyelesaikan misi level 1 mencoba kemampuan dari wujud makhluk Mitologi mereka hingga petang menjelang.
"Gibson. Kita akan berkemah di mana malam ini?" tanya Vadim mulai letih dan merasa lapar, dilihat dari tangannya yang mengelus perut sedari tadi.
"Aku rasa, tempat ini cukup aman mengingat Rex, Juby dan Ryan pernah ke sini sebelumnya," jawab Gibson mantap.
"Ya, aku rasa itu ide bagus. Kita bagi kelompok untuk mencari kayu bakar, mencari makanan dan menyiapkan tempat tidur," jawab Lazarus mengemukakan pendapatnya.
"Oke! Tim cewek siapin tempat tidur ya. Para pejantan, kalian sisanya," sahut Jubaedah genit.
Para pria mengangguk tidak mempermasalahkan hal tersebut. Jubaedah dan teman-teman wanitanya menyiapkan tempat untuk tidur dalam gua.
Malam itu, Kenta tugas jaga malam dengan Ryan. Kenta penasaran dengan kisah kijang bercahaya yang pernah ia temui di tempat tersebut.
"Apakah masih bisa bertemu kijang itu lagi?" tanya Ryan menatap Kenta lekat.
"Entahlah. Kita cari tahu saja malam nanti. Habiskan makananmu. Kau terlihat kurus. Makan yang banyak Ryan agar menjadi anak lelaki yang kuat!" jawab Kenta menyemangati.
Ryan mengangguk seraya memakan buah berupa pisang warna biru yang ditemukan oleh kelompok Rangga.
Usai menikmati makan malam bersama, anak-anak tidur dalam gua. Ternyata benar, tangan Ryan bercahaya dalam kegelapan. Kenta tampak kagum dengan keajaiban itu.
"Julukan untukmu tepat sebagai Mr. Lamp, Ryan," kekeh Kenta dan Ryan ikut tersenyum.
"Eh iya. Bisa kaubantu aku memetakan wilayah? Aku sudah menggambar beberapa tempat yang aku sesuaikan dengan foto di bukuku ini. Aku ingin tahu, ke mana saja kita sudah menjelajah. Aku merasa, planet ini tak begitu luas seperti Bumi," pinta Ryan penuh harap.
"Oke! Kita kerjakan di luar saja agar tak mengganggu teman-teman yang sedang tidur," jawab Kenta dan Ryan mengangguk senang seraya menggendong tasnya.
Ryan menyalakan ponselnya. Kenta melihat jika daya baterai Ryan masih ada 50%. Kenta cukup kaget karena ia merasa sudah cukup lama di planet tersebut.
"Kenapa baterai ponselmu masih banyak?" tanya Kenta penasaran.
Ryan tak menjawab, tapi ia memberikan sebuah power bank dengan kapasitas besar yang bisa menyimpan daya untuk 10 ponsel dengan baterai penuh.
"Woah! Hebat sekali!" seru Kenta kagum, tapi Ryan meminta untuk merahasiakannya.
"Aku termasuk boros dalam menggunakan baterai ponsel karena suka bermain video games. Namun, semenjak masuk ke sini, aku tak menggunakan ponselku untuk bermain. Selain itu, tak ada sinyal. Jadi ... hanya kugunakan seperlunya saja," jawab Ryan santai dan Kenta mengangguk setuju.
Ryan lalu membuka bukunya. Ia menandai per halaman itu dengan catatan khusus. Kenta melihat gambar berupa sketsa itu saksama.
"Ini adalah markas Minotaur, dan ini tempat kita menguburkan Hihi, sekaligus tempat kita menyelamatkan Lazarus dan lainnya melalui terowongan rahasia yang ditemukan Tina kala itu," ucap Ryan menjelaskan denahnya.
"Ah, lalu ada jalan lain yang menembus ke gua dengan air jernih itu ya? Saat Timo menyusul?" tanya Kenta menambahkan.
"Ya, itu benar!" jawab Ryan dengan wajah berbinar.
__ADS_1
"Wah, jika ada pensil warna akan semakin bagus gambarmu, Ryan. Aku tak menyangka jika kau bisa menggambar," ucap Kenta memuji. Ryan tersenyum terlihat senang.
"Nah, lalu ini wilayah di sini. Yang bagian retak ini adalah saat aku bertemu naga api," ucapnya seraya menunjuk gambar buatannya. Kenta mengangguk pelan dengan wajah serius. "Lalu ini adalah jalan menuju ke gua dan hutan ini. Sisanya belum kupetakan. Mungkin akan lebih terperinci jika aku bisa melihatnya dari atas langit," ucap Ryan.
"Tapi ... wujudku burung Phoenix. Kau bisa terbakar jika menunggangiku," ucap Kenta dan Ryan mengangguk mengerti.
"Oh! Atau kau bisa meminta tolong kepada Vadim, Pasha, Bara, C atau Rex. Mereka 'kan memiliki sayap," saran Kenta.
"Ah, kau benar! Aku akan coba memintanya nanti," jawab Ryan senang.
"Lalu ... ini di mana? Kolam air asin? Oh! Tempat kalian bertemu Elena ya?" tanya Kenta menebak. Ryan mengangguk mantap.
"Ya, itu benar. Nah jika aku petakan, kurang lebih beberapa wilayah sudah saling terhubung. Untuk sisa yang belum dijelajahi, mungkin sebaiknya aku tanyakan pada yang lain. Misal seperti Timo dan Gibson. Mereka muncul dari seberang kolam. Aku tak tahu wilayah itu seperti apa. Termasuk kau, Nicolas dan Harun. Kudengar, kalian memiliki petualangan seru!" jawab Ryan dengan mata berbinar.
Kenta lalu dengan semangat menceritakan kisahnya saat pertama kali bertemu Nicolas dan Harun.
Ryan mendengarkan dengan serius seraya mencoba menggambarkan wilayah yang Kenta jabarkan.
"Wilayah bersalju, lalu ada gua Yeti. Selanjutnya hutan dan kalian sampai ke sebuah danau. Namun, banyak Centaur di sekitar lalu kalian masuk gua dan menembus ke wilayah bukit. Di sini kalian bertemu naga dan para Goblin," guman Ryan pelan seraya menggambar dengan pensilnya.
"Ya itu benar. Lalu kami memasuki hutan dan berhasil menyelamatkan telur naga. Si Kolor Hijau," sambung Kenta.
"Ya, ya. Oh! Wilayah ini saling bertemu! Saat aku dan lainnya menemukan kalian ketika tak sadarkan diri setelah diserang oleh tim Tina kala itu. Benar 'kan?" tanya Ryan menatap Kenta lekat.
"Ya! Ya!" jawab Ryan semangat.
"Seandainya tiap lembarmu bisa disejajarkan dan kita sambung, kita bisa memetakan wilayah ini, Ryan!" ucap Kenta mantap.
"Aku juga berencana begitu. Namun, aku takut malah jadi hilang dan rusak. Mungkin nanti saja saat kita menemukan kertas ukuran besar. Aku bisa menggambarnya ulang dengan lebih terperinci. Yang kubuat ini jelek dan banyak coretan," sahutnya. Kenta mengangguk setuju.
Saat mereka sedang asyik berdiskusi untuk menyempurnakan peta, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari balik hutan. Seketika, kepala Kenta dan Ryan menoleh bersamaan ke asal suara.
"Kenta?" panggil Ryan gugup lalu perlahan menutup bukunya.
Kenta menajamkan pandangannya. Ia berdiri perlahan seraya mengambil sebuah batang kayu yang dijadikan api unggun layaknya obor.
Ryan segera merapikan peralatan alat tulisnya dan memasukkan dalam tas. Ryan bersiap menjadi Pohon Ajaib jika yang datang adalah musuh.
Kenta berjalan semakin mendekat ke asal suara dan mendapati semak di depannya bergerak-gerak. Saat Kenta mengarahkan obor ke arah semak, "Piikkk!"
"Oh!" kejut Kenta karena seekor makhluk tertangkap matanya sedang memakan sisa dari kulit pisang biru dan kabur membawanya pergi.
Kenta bernapas lega karena makhluk tersebut tidak berbahaya. Hewan itu mirip kadal dengan kulit berwarna-warni seperti pelangi disekujur tubuhnya.
__ADS_1
Hewan itu langsung pergi seraya membawa kulit pisang yang ia masukkan dalam mulut. Saat Kenta akan berbalik, WUSS!
Seketika, kobaran api di tongkat kayunya padam, termasuk api unggun. Kenta terkejut termasuk Ryan. Keduanya langsung waspada. Kenta melangkah mundur secara perlahan kembali ke tempat Ryan berada.
"Kenapa perasaanku jadi tak enak? Apa akan terjadi sesuatu?" tanya Ryan cemas.
Tiba-tiba, muncul sebuah portal di antara batang pohon di hadapan mereka. Cahaya silaunya membuat dua pemuda itu langsung memejamkan mata sejenak karena reflek.
"Oh! Ada tulisannya, Kenta!" ucap Ryan seraya menunjuk.
Kenta berjalan mendekat untuk membaca tulisan tersebut. "Selamat datang di Maniac. Level 2 akan segera dilangsungkan. Beberapa anak telah berhasil menyelesaikan misi Level 2. Pemain yang telah berhasil, diperbolehkan membantu pemain lain yang masih berlevel 1. Banyaknya level untuk menyelesaikan permainan Maniac adalah 10. Tiap level yang berhasil diselesaikan, akan terlihat pada kuku yang berubah menjadi ungu. Selamat bermain dan kalian akan mendapatkan hadiah untuk tiap level yang berhasil diselesaikan."
"Woah! Sampai 10 level?!" pekik Ryan dengan mata melotot dan Kenta mengangguk pelan.
Perlahan, portal itu memudar. Kenta lalu melihat jemarinya dan ternyata, ia sudah mendapatkan dua level.
Kenta lalu mendekati Ryan dan melihat jika kuku kawannya telah berubah ungu pada telunjuk dan ibu jari di tangan kanan.
"Level 2 yang kita lakukan, apa kau masih ingat itu kapan?" tanya Ryan bingung.
Kenta diam sejenak seperti mencoba mengingat beberapa kejadian yang sudah ia lalui.
"Oh!" Mungkinkah saat kita menyelamatkan Lazarus dan lainnya dari para Minotaur? Kalau tidak salah, kita mendapatkan misi dari level itu. Kita seharusnya berubah semua saat berhasil, tapi portal rusak, dan Juby bertukar tempat dengan Boas!" jawab Kenta yakin.
"Begitukah!? Coba kuperiksa!" jawab Ryan lalu dengan sigap masuk ke dalam lorong di mana semua anak tertidur pulas bahkan tak ada yang bangun, padahal mereka berbicara cukup kencang sejak tadi.
Ryan mendatangi Lazarus dan melihat jemari dari kukunya. Ternyata, dugaan Kenta benar. Lazarus, Rangga, Bara, C, L, dan lima anak asal Amerika hanya memiliki satu warna ungu pada ibu jari.
Ryan bergegas keluar dan menemui Kenta yang menunggu hasil penyelidikannya.
"Bagaimana?"
"Ya, kau benar! Kelompok Lazarus hanya memiliki satu tanda! Kalau begitu, kita harus membantu mereka menyelesaikan misi level 2. Hanya saja, misi apa? Kita belum mendapatkan misi apa pun baru-baru ini," tanya Ryan kembali bingung. Kenta tersenyum.
"Setidaknya, kita sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ayo, kita lanjutkan memetakan wilayah. Besok pagi, kita akan beritahu kepada kawan-kawan tentang portal itu. Atau ... kau sudah mengantuk? Jika ya, tidur saja. Aku akan membangunkan Nicolas untuk menggantikanmu," tanya Kenta seraya duduk kembali ke depan api unggun dan mencoba menyalakan api lagi.
"Tidak. Aku belum mengantuk. Ayo, lanjutkan," jawabnya.
Kenta mengangguk senang dan kembali fokus membakar api yang padam karena kemunculan portal.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy tengkiyuw tipsnya😍Semalem mau up gak jadi gegara diajak main Monopoli sama Hula-hula. Kwkwkw. Yg mau pesen kaos atau novel SIMULATION bisa japri by DM instagram atau WA atau tinggalin nomor di kolom komentar ya. Terima kasih❤️