
Tina yang kelelahan tertidur di tepian sungai. Ia membiarkan tubuhnya terpapar sinar matahari yang secara tak langsung mengeringkan tubuhnya yang basah.
Di sisi lain. Kawan-kawan Tina tercerai-berai karena riak air sungai yang deras dan menenggelamkan mereka. Beruntung, anak-anak itu berhasil selamat.
Cahaya di langit mulai meredup. Semua penghuni di wilayah tersebut tahu jika hari sebentar lagi gelap.
Bobby turun dari batang kayu yang masih terapung di aliran sungai tenang mendatangi Oscar yang tergolek tak sadarkan diri di tepian.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia.
"Oscar!"
BYUR!
"Oscar!" panggil Bobby lantang seraya berenang menuju ke tepian sungai dangkal.
Bobby meninggalkan batang pohon dan menghampiri kawannya.
"Oscar! Hei, hei!" panggilnya seraya menggoyangkan tubuh kawannya dengan kuat.
PLAK!
"Emph," keluh Oscar setelah menerima tamparan kuat di pipi kanannya.
Bobby tersenyum saat ia merobohkan tubuhnya di samping kawannya yang mulai sadar.
"Oh, Bobby?" kejut Oscar saat membuka matanya dan mendapati Bobby menatap langit dengan napas tersengal. "Agh, aduh," rintihnya seraya memegangi lengannya yang sakit. Bobby melirik dan berdecak kesal.
"Kauterluka?" Oscar mengangguk. "Hah, kauakan menyusahkan kita dalam menyelesaikan misi," keluhnya.
Oscar melirik Bobby tajam terlihat tak menyukai cara bicara pemimpin kelompoknya tersebut. Oscar duduk perlahan seraya melihat sekitar. Terlihat, anak lelaki itu tampak takut.
"Bobby, kita di mana? Tempat ini menyeramkan," ucapnya seraya memegangi lengannya yang sakit.
"Entah. Selain itu, baru kausaja yang berhasil kutemukan. Aku tak tahu di mana yang lainnya," sahutnya seraya berdiri dan ikut melihat sekitar.
"Sekarang bagaimana, Bobby?" tanya Oscar mulai menggigil kedinginan.
"Semua barang bawaan kita sudah hanyut terseret arus. Kita harus mencari makanan dan membuat api unggun. Ayo," ajak Bobby berjalan lebih dahulu dengan tubuh basah kuyup masuk ke hutan untuk mencari kayu bakar.
Oscar mengangguk dan mengikuti Bobby seraya memegangi lengannya yang sakit.
Di sisi lain tempat Gibson dan timnya berada.
Anak-anak itu berhasil tiba di jalan masuk sarang naga dengan selamat. Namun, terlihat jelas jika para remaja itu gugup karena tempat mereka berada tampak menyeramkan.
Rex membagikan daun merah muda kepada kawan-kawannya dan merekapun segera memakannya. Para kurcaci dan Hihi ikut berkumpul.
"Apakah kita akan langsung menuju ke sarang? Jujur, aku lapar dan lelah. Tanganku pegal," keluh Vadim karena terus mendayung agar batang pohon yang mereka naiki tak melenceng dari jalur.
__ADS_1
"Hei!" seru Timo yang masih berada di air saat ia menunjukkan setengah tubuh bagian atas seraya membawa sebuah tas.
"Oh! Kau menemukan sesuatu?" tanya Mandarin sembari mendekat ke tepian sungai. Timo berenang mendatangi kawan-kawannya yang mulai berkumpul.
Saat Mandarin menerimanya, ia terkejut ketika mendapati telur naga dalam tas ransel itu. Para kurcaci meminta tas itu lalu mengambil telur warna putih seperti tertutupi es tersebut.
"Naga es," ucap kurcaci topi biru yang mengejutkan semua anak.
"Apakah itu tas milik anak-anak yang mengejar kita?" tanya Rex menebak.
"Bisa jadi, tapi ... jika tas mereka hanyut, jangan-jangan mereka tenggelam!" seru Ryan dengan mata melotot.
"Mereka mati gitu? Ya ampun, kasian banget," sahut Jubaedah sedih.
"Timo! Bisa kaususuri sekitar? Siapa tahu masih ada yang selamat dari mereka," pinta Azumi dan Timo mengangguk siap lalu menyelam lagi.
"Biarkan saja, kenapa ditolong? Kau tak lihat perbuatan mereka pada Kenta, aku dan Harun? Itu balasan karena sudah berbuat jahat!" seru Nicolas marah.
"Ih, gak boleh gitu, Nico! Kalau kamu jahat begitu, apa bedanya kamu sama mereka? Juby yakin kalau mereka jahat karena keadaan. Kau yang bilang sendiri kalau mereka punya misi. Juby yakin mereka ngejar kita untuk ambil telur itu kembali," serunya.
Semua anak diam memikirkan hal itu.
"Aku ... ingin istirahat dulu," ucap Kenta lirih dan semua anak terlihat iba pada kondisi kakak Azumi tersebut.
Jubaedah mendatangi Kenta yang tampak murung saat duduk menyender di sebuah batu besar pinggir sungai.
"Kenta marah ya sama Juby karena belain mereka?" tanya Jubaedah terlihat sedih.
Jubaedah tertunduk lesu. Azumi menepuk pundak sahabat wanitanya agar memaklumi sikap kakaknya. Jubaedah mengangguk pelan.
Di dalam air, Timo mencoba mencari benda-benda yang mungkin bisa mendapatkan petunjuk tentang keberadaan anak-anak itu.
Hingga ia menemukan sebuah tas warna merah muda yang tersangkut di celah batu di aliran air yang cukup deras.
Timo menggerakkan ekornya dengan kuat dan fokus ke benda tersebut. Timo mengambil tas yang terlihat masih bagus itu dan membawanya ke tepian.
Gibson masih berdiri di pinggir sungai karena mencemaskan keadaan Timo.
"Oh! Dia kembali!" seru Gibson menginformasikan kepada teman-temannya.
Mandarin, Ryan, Rex, Harun dan Pasha mendekat. Timo duduk di batuan pinggir sungai seraya memandangi tas ransel itu saksama.
"Ada apa?" tanya Ryan menatap Timo lekat.
"Aku ... seperti mengenali tas ini," jawabnya dengan kening berkerut.
"Oh ya? Coba kaubuka. Mungkin ada petunjuk di dalamnya," sahut Pasha dan Timo mengangguk.
Tas yang terbuat dari kain itu basah kuyup. Air masih menetes saat Timo memangkunya. Ketika Merman itu membuka penutup tas bagian atas dan menarik sleting hingga seluruh isi tas itu terlihat, seketika mata Timo melebar.
"Oh!" pekiknya yang mengejutkan semua orang.
"Ada apa?" tanya Rex ikut penasaran.
__ADS_1
"Ini ... ini ponsel adikku! Tina!" serunya lantang.
"Maksudmu ... adik perempuan lain ibu?" tanya Gibson memastikan dan Timo mengangguk.
Ia mengaktifkan ponsel berwarna merah muda itu dengan menekan kode pada layar sentuh. Dengan sigap, Timo menunjukkan layar ponsel itu ke hadapan kawan-kawannya.
"Dia adikku, namanya Tina!" serunya lantang menunjukkan foto gadis cantik dengan senyum menawan.
"Woah, cantik sekali," puji Ryan dan semua anak lelaki mengangguk setuju.
"Itu si manusia serigala!" seru Nicolas tiba-tiba yang menyelinap di kerumunan seraya menunjuk layar ponsel merah muda itu.
"Ha? Apa maksudmu?" tanya Timo heran.
"Dia adikmu? Asal kautahu, Timo. Dia hampir membunuhku. Dia berubah menjadi manusia serigala saat aku, Harun dan Kenta diserang oleh segerombolan anak-anak nakal!" seru Nicolas.
"Ya, itu benar. Pantas saja, aku seperti pernah melihatnya. Ternyata, gadis itu memang orang yang sama dari kelompok di mana salah satu anggota mereka bisa berubah menjadi Troll. Aku yakin, mereka melacak kita karena telur yang kita temukan itu," sahut Harun mantap.
"Aku harus menemukan adikku. Aku ... minta maaf jika dia jahat pada kalian. Namun sungguh, percaya padaku, Tina adalah gadis yang baik hati dan manis. Jika ia sampai berbuat jahat, pasti ada alasannya. Kumohon, jangan dendam pada adikku," pinta Timo seraya mendekap tas milik Tina erat.
Nicolas dan Harun saling berpandangan. Mereka berdua mengangguk. Kenta yang tertidur tak mendengar pembahasan tersebut.
"Lalu ... sekarang bagaimana?" tanya Mandarin ikut bingung.
"Ada banyak rencana di kepalaku. Kita ambil suara terbanyak untuk memutuskan. Bagaimana?" tegas Gibson dan anak-anak itu mengangguk. "Oke, mari berkumpul," pintanya.
Anak-anak itu pun membuat lingkaran termasuk para kurcaci dan peri Hihi. Kenta ikut dibangunkan agar tak melewatkan hal penting tersebut. Kenta diam saja saat Gibson menjelaskan rinciannya.
"Oke. Pertama. Kita akan bagi dua tim. Tim Merman akan pergi mencari keberadaan adik Timo si Tina. Hanya dibutuhkan 5 orang saja untuk menemukannya. Lalu, kita bertemu lagi di tempat ini. Saranku yang pergi mencari Tina adalah, Timo, Hihi, Ryan, Kurcaci Topi Biru dan Nicolas," ucap Gibson menjelaskan.
Nicolas dan Ryan terlihat tak keberatan. Mereka mengangguk siap termasuk Hihi, Kurcaci Topi Biru dan Timo sendiri.
"Lalu yang kedua. Tim Yeti dan Ogre akan pergi ke sarang naga. Tujuan utama kita adalah mengembalikan penglihatan Kenta. Kita memiliki tiga telur naga. Aku yakin, para naga-naga itu akan berhutang budi pada kita. Setelah berhasil, kita kembali ke sini. Intinya, tempat ini adalah lokasi kita berkumpul," sambung Gibson.
"Ya, oke. Juby setuju," ucapnya dan diangguki oleh beberapa orang.
"Baiklah. Tim Yeti dan Ogre akan bermalam di sini, kemudian melanjutkan perjalanan esok pagi ke sarang naga. Bagaimana?" tanya Gibson menyarankan dan semua anak mengangguk setuju. "Namun, Tim Merman, sebaiknya kalian pergi sekarang. Aku sangat yakin jika Tina dalam bahaya. Tasnya sampai terlepas darinya. Itu berarti, dia sendirian dan bisa berada di manapun. Saranku, Timo tetap mencari di dalam sungai, tapi yang lain menyusuri tepian," sambungnya.
"Ya, aku setuju. Aku sangat khawatir dengan keadaannya. Semoga ... dia belum jauh," ucap Timo penuh harap.
"Semangat, Timo! Kamu harus percaya kalau Tina baik-baik saja. Kita tunggu di sini," sahut Jubaedah memberikan semangat termasuk anak-anak yang lain. Senyum Timo terkembang, ia mengangguk berterima kasih.
"Lalu ... jika nanti kami berhasil dan sudah ada di sini, tapi kalian belum muncul bagaimana?" tanya Ryan gugup. Semua anak kembali diam.
"Kalau begitu, kita berkumpul di rumah kurcaci saja. Masing-masing dari kita pergi bersama para kurcaci 'kan? Pasti mereka ingat jalan pulang. Apakah tebakanku benar?" tanya Gibson menatap para kurcaci, dan orang-orang kerdil itu mengangguk membenarkan terlihat bangga. "Benar 'kan apa kataku. Kita memiliki navigator hebat. Jadi ... jangan cemas. Meskipun kita berpisah, kita pasti akan bertemu lagi. Semangat untuk kita semua!" seru Gibson dengan kepalan tangan di depan tubuhnya.
"Yey!" seru anak-anak ikut bersemangat termasuk Kenta yang mulai bisa memaafkan kelompok musuh yang membuat matanya rabun.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1