
Terlihat, C dan kawan wanitanya seperti mengenali sosok Lazarus usai pemuda tampan itu menyebut nama belakangnya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran. Terjemahan.
"Kau ... berasal dari Inggris?" tanya C berkerut kening.
Lazarus, melakukan hal yang sama karena merasa dikenali oleh pemuda dan gadis di depannya. "Who are you?" tanyanya penuh selidik.
"Aku Czar Dorofey, panggil saja C. Lalu, gadis di sebelahku bernama Laika Duscha. Panggil saja L. Kau ... seharusnya kenal dengan sebutan Mix and Match," jawab C menjelaskan.
Seketika, mata Lazarus melebar. "Kalian berdua anak dari dua al—" ucapan Lazarus terhenti seketika saat semua orang menyipitkan mata menatapnya. "Mm, maksudku ... kalian anak dari Mix and Match? Rusia?" tanya Lazarus memastikan.
"Yes. Aku anak dari Mix dan Marry. Lalu L, anak dari Match dan Roza," jawab C menjelaskan.
Lazarus langsung mengulurkan tangan mengajak keduanya bersalaman. Sedang Rangga dan lainnya mengedipkan mata terlihat bingung karena tak paham dengan ikatan yang mereka miliki.
"Oke ... sepertinya kalian saling mengenal, baguslah. Jadi ... selamat bergabung, Lazarus," ucap Rangga mendekat dan pemuda itu mengangguk.
"Aku Bara, dia Rangga," ucap Bara mengenalkan diri seraya mengajak bersalaman dan pemuda berambut pirang itu menyambutnya, termasuk ajakan jabat tangan Rangga.
Anak-anak lain ikut memperkenalkan diri. Beberapa dari mereka berasal dari kota-kota di Amerika. 10 remaja itu akhirnya berkumpul di mana Minotaur tersebut masih setia mendampingi Rangga.
Tiba-tiba, pepohonan yang awalnya berwarna hijau berubah menjadi berwarna merah muda dan kabut mulai muncul. Para remaja itu tertegun dan terlihat panik seketika. Segera, mereka berdiri dan berkumpul membentuk lingkaran terlihat waspada.
"Harg, horgg," ucap Minotaur seperti mengatakan sesuatu.
"Dia bilang apa, Ngga?" tanya Bara penasaran.
"Katanya, tiap ada pertumpahan darah dari makhluk di Planet Mitologi, wilayah tersebut akan berwarna seperti ini. Seperti ... berduka," jawabnya terlihat sedih.
"Kami tak pernah menginginkan terjadi peperangan bahkan ada yang tewas diantara kami. Kalian pikir, kami senang berada di sini, ha? Kami bahkan tak tahu apa yang harus dilakukan di tempat ini. Hanya misi yang tiba-tiba muncul, lalu mendapatkan hadiah, lalu sampai kapan hal ini akan berakhir?" tanya C gusar.
"Kami ingin pulang. Bukan di sini seharusnya kami berada. Kami bahkan tak tahu apa yang terjadi dengan keluarga dan kawan-kawan kami. Semuanya mendadak dan begitu cepat. Di sini pun, kami harus berjuang agar tetap hidup dan pulang dengan selamat," sahut L ikut tersulut emosi.
Minotaur itu terdiam. Semua orang menatap makhluk itu saksama dan sudah tak terlihat takut lagi dengan sosoknya. Tiba-tiba, sebuah portal muncul. Para remaja itu melangkah mundur dan berkumpul.
"Lazarus Benedict. Selamat, kau berhasil menyelesaikan misi. Ambil hadiahmu dan selesaikan misi berikutnya," ucap Lazarus membaca tulisan dalam portal seperti genangan air di dalamnya.
__ADS_1
"Misi berikutnya?" sahut L curiga.
"Oh! Jangan-jangan misimu ... mengambil perisai dan pedang dari Centaur ya?" tanya Rangga, dan Lazarus mengangguk membenarkan.
"Masuk cepat!" sahut Bara antusias.
Lazarus terlihat ragu, tapi C mengangguk meyakinkan. Lazarus melangkah dengan tegap dan sorot mata tajam ke dalam portal itu, seketika ....
"WOW!"
"Oh, shitt!" pekik Lazarus dengan mata melotot saat melihat dirinya berubah menjadi Centaur jantan.
Lazarus terlihat panik dan kebingungan. Semua orang menyingkir karena Lazarus seperti sedang beradaptasi dengan tubuh barunya yang memiliki empat kaki, tubuh kuda dan ekor.
"Aku bahkan tak bisa menyentuh bokongku!" teriak Lazarus marah karena pantatnya menjadi berada jauh dari gapaian tangannya.
"Haha, dia malah mikirin bokong. Hadeh, bule edan," kekeh Bara dan diangguki Rangga, C dan L yang paham dengan bahasa tersebut.
"Hei. Aku tahu yang kaukatakan! Aku bisa bahasa Indonesia," tegasnya menunjuk.
"Wow. Oke," jawab Bara mengangkat kedua tangan seperti menyerah.
"Aneh. Kaki belakangku seperti bergerak dengan sendirinya saat aku melangkah dengan dua kaki depanku," ucapnya terheran-heran seraya menoleh ke belakang melihat kaki kudanya bergerak.
"Kibaskan ekormu. Itu bisa menjadi senjatamu. Seperti sebuah tamparan mungkin?" usul Rangga, tapi Lazarus terlihat enggan melakukannya.
Pemuda tampan itu menjadi seperti pria dewasa dengan otot perut yang indah. Lazarus mengelilingi sekitar dengan tubuh barunya seraya memegang pedang dan perisai.
"Lazarus, boleh aku menaikimu? Aku belum pernah menunggang kuda," tanya salah seorang remaja pria yang berumur lebih muda darinya.
"Kau pikir aku tunggangan, ha? Aku ini kaum bangsawan!" serunya lantang.
C dan L yang sudah tahu latar belakang Lazarus terlihat malas seketika. Sedang Rangga dan lainnya terlihat kagum.
"Bangsawan? Maksudmu ... seperti pangeran, raja, begitu?" tanya Rangga memastikan.
"Yes. Aku tinggal di sebuah Kastil megah di Inggris. Aku memiliki perusahaan dan aku ahli waris dari keluarga Benedict. Namun ... tentu saja, pamanku lebih kaya dariku," jawabnya terlihat sebal di akhir kalimat.
"Pamanmu? Siapa?" tanya L bingung.
"Jonathan Benedict. Dia sebenarnya ... sepupu, tapi ... dia tak mau mengakuinya. Aku diminta untuk menyebutnya om atau paman. Katanya ... karena dia lebih tua dariku, dan dia tak ingin memiliki sepupu yang tak seumuran dengannya. Jadi ... aku diminta memanggilnya paman. Dia memang aneh," jawabnya malas.
__ADS_1
C dan L menahan senyum, sedang anak lainnya semakin tidak mengerti dengan yang diucapkan oleh pemuda tampan di hadapan mereka.
"Oke. Kita kembali berkumpul. Kita harus mulai membuat strategi agar bisa selamat di tempat ini," ucap C menatap kawan-kawan barunya.
Lazarus dan lainnya mendekat membuat lingkaran termasuk Minotaur pemandu.
"Minotaur ini mengatakan jika ... kita diminta untuk mendatangi markas mereka," ucap C menunjuk makhluk banteng di sebelah Rangga.
"Aku rasa, ini pilihan yang tepat untuk saat ini karena kita belum mengenal betul medan di kawasan ini. Bahaya bisa muncul kapan saja dan mengancam nyawa kita," terang C dan semua anak mengangguk setuju.
"Selain itu, banyak diantara kita yang belum mendapatkan atau menyelesaikan misi. Sejauh ini, hanya Lazarus dan Rangga yang berhasil. Ada yang lain?"
Anak-anak yang belum mendapatkan misi menggeleng. C mengangguk paham.
"Jadi ... kita ambil tawaran untuk pergi ke sarang Minotaur?" tanya Rangga.
Anak-anak terlihat setuju termasuk Lazarus. Pemuda keturunan Benedict itu diajarkan oleh Rangga tentang teknis merubah wujudnya. Semua anak menyimak dan mereka mulai paham cara kerja permainan di Planet yang disebut Mitologi tersebut.
"Simpan pedang dan perisaimu ini baik-baik, Zar," ucap Rangga dan Lazarus mengangguk siap.
"Kau membawa bantal?" tanya L menunjuk.
"Ya. Jika kau tak keberatan, bisakah kau membawa tas ranselku? Aku cukup kerepotan dengan perisai dan pedang ini," pintanya. Laika mengangguk meski terlihat malas.
Namun dengan sigap, C merebut tas ransel itu. Ia menggendongnya dan L hanya membawa bantal tersebut. L tersenyum dan berterima kasih kepada kawannya. C membalas senyumannya.
"Mereka ini pacaran apa gimana ya? Klop banget," bisik Bara.
"Kayaknya gitu. Lazarus, C terus L, kayaknya mereka saling mengenal. Cuma nih bau-baunya, si Lazarus ini berada di kasta tertinggi. Ibarat kaya majikan dari dua orang itu. Liat aja gaya Lazarus. Bos banget, berani nyuruh pula padahal baru ketemu," jawab Rangga ikut berbisik. Bara mengangguk setuju.
Minotaur berjalan di depan sebagai pemandu di dampingi oleh Rangga dan Bara. Lazarus berjalan di belakang mereka diikuti oleh 5 remaja yang ikut dalam tim. Sedang C dan L berjalan di paling belakang sebagai pelindung tim.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Masih eps bonus dr tips Mak Ben❤️ Selamat akhir pekan, lele padamu💋 lalu ini ada tutorial cara vote poin terbaru ya. Cek aja di beranda novel Monster Hunter. Teknisnya sama. Tararengkyuw😘
__ADS_1