
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Seperti anak-anak yang lain. Boas juga meminta untuk kawannya yang bernama Peter dan Rocky agar ingatan selama di Planet Mitologi tetap disimpan serta ingatan tersembunyi di Bumi dikembalikan. Boas kini memiliki sisa empat permintaan.
"Aku merasa kemampuan Mitologi-ku yang paling lemah diantara yang lain. Aku hanya seperti manusia, tapi memiliki sayap. Sisanya, tak ada. Kenapa Oag pilih kasih?" tanya Boas kesal.
Sosok rupawan itu tersenyum. "Itu karena kau tak memaksimalkan kemampuanmu. Padahal, kau bisa melakukan semacam telepati. Maksudnya, kau bisa mengirimkan pesan melalui bisikan ke dalam pikiran makhluk bernyawa seperti manusia dan hewan. Kau bahkan bisa meminta mereka melakukan sesuatu untukmu. Seharusnya, kalian bisa melewati tiap level dengan mudah tanpa harus berteriak satu sama lain dan membuat strategi terbaca musuh dengan pengiriman pesan telepatimu," jawab sosok rupawan yang membuat Boas merasa bodoh seketika karena baru menyadari hal tersebut.
"Sial! Aku benar-benar tidak tahu hal itu! Tidak berguna!" pekiknya marah, terlihat kecewa pada dirinya sendiri.
"Mungkin kau bisa menebus ketidakcermatanmu dengan membawa darah perimu ke Bumi. Yah, siapa tahu ada ilmuwan jenius yang bisa menerapkan kemampuan itu sebagai antisipasi mungkin, guna menghadapi bencana di masa depan?" jawab pria bersayap seolah memberikan arahan.
Boas diam sejenak, terlihat memikirkan hal tersebut. "Kenapa kau menyarankan hal itu? Apakah ... kawan-kawanku melakukannya? Mereka ... meminta darah Mitologi padamu?" tanya Boas menduga, dan pria itu mengangguk membenarkan.
"Arghhh! Ada apa denganku? Kenapa aku menjadi bodoh seperti ini!" pekiknya kesal seraya meremat-remat rambutnya hingga berantakan.
"Waktumu semakin sedikit, Boas. Bergegaslah," ucap pria itu mengingatkan.
"Oke, oke. Berikan darah periku. Lalu ... permintaan seperti apa yang kawan-kawanku minta padamu?" jawab Boas tergesa.
Pria itu menjentikkan jari untuk mengabulkan satu permintaan dari Boas mengenai darah Peri-nya.
"Kusarankan kau meminta darah Yeti. Harun juga belum memaksimalkan kemampuannya. Ia belum tahu jika napas Yeti bisa membekukan suatu benda. Yah, mirip daun es temuannya. Malah menurutku, napas esnya lebih hebat ketimbang daun itu," jawab malaikat tersebut.
"Ya, aku ambil itu. Apa lagi?" tanya Boas yang menurut dengan semua saran dari pria bercahaya di hadapannya.
"Beberapa kawanmu meminta kekayaan demi kemaslahatan manusia di masa depan. Maksudnya, setelah bencana berakhir. Mereka yang sudah kaya raya dan sukses, akan menggunakan kekuasaan serta hartanya untuk mengembalikan perekonomian dunia," tambahnya.
"Aku setuju. Jadikan aku kaya raya, sukses, berkuasa, dan tangguh layaknya petarung. Pasti zaman itu akan sangat sulit jika fisik tak kuat karena harus bekerja keras," ujarnya.
Sosok berparas rupawan itu menjentikkan jari. Boas terlihat serius akan sesuatu.
"Masih tersisa satu 'kan?" tanyanya memastikan, dan pria berambut ikal itu mengangguk pelan. "Oke. Aku ingin hubunganku dengan ayahku menjadi baik. Maksudku ... selama ini aku berselisih dengannya. Aku juga tak mau terus-terusan menghindar darinya," pinta Boas gugup.
Pria itu tersenyum. "Tanpa kau meminta hal itu padaku, kau bisa melakukannya sendiri, Boas. Malah aku rasa, dengan kau berjuang sendiri, kau akan mendapatkan hasil maksimal di luar dugaanmu. Hal ini mengenai kasih sayang dan rasa saling percaya. Maaf, tapi aku lebih suka melihatmu berusaha sendiri kali ini tanpa harus meminta hal tersebut padaku. Sebaiknya, kau gunakan untuk permintaan lain," jawab sosok itu. Boas terdiam dengan pandangan tertunduk terlihat gugup.
"Boas?" panggil sosok rupawan itu yang membuyarkan lamunannya.
"Ya?" jawabnya langsung menaikkan kepala di mana ia malah terhenyak dengan batin berkecamuk mengingat sosok sang Ayah—Victor.
__ADS_1
"Maaf, waktumu habis. Namun, permintaanmu sudah sangat mulia. Semoga ... kau selamat saat bencana menerjang Bumi dan semua harapanmu setelahnya bisa terwujud," ucap sosok itu, dan Boas mengangguk pelan.
Sebuah portal kembali menyala. Boas menarik napas dalam lalu mengembuskannya. Remaja tampan itu melangkah masuk dengan perlahan di mana pikiran dan hatinya masih terbelenggu akan pembicaraannya dengan sang Ayah nanti.
"Hem, dia pasti sedang dilema. Namun, ya ... kurasa hal itu memang harus ia komunikasikan dengan sang Ayah. Bicara dari hati ke hati. Aku rasa, itu akan berhasil. Selamat berjuang, Boas. Kurasa Victor bisa memahamimu," ucap sosok rupawan itu dengan senyuman saat portal yang membawa Boas padam.
Di tempat Rangga berada.
"Kau meminta apa?" tanya sosok rupawan itu mengulang.
"Aku ingin semua permintaan milik kawan-kawanku yang hangus karena kehabisan waktu diberikan padaku. Aku tahu di antara mereka pasti tidak ada yang memenuhi target. Berikan sisanya. Ayo, waktu kita terbatas," pinta Rangga memaksa.
Sosok bersayap itu diam sejenak seperti mencoba mempertimbangkan hal tersebut. Rangga terlihat tak sabar, tapi sosok itu menjentikkan jari tanda ia setuju.
"Yes, bagus! Oke. Soal berapa jumlahnya, aku tak peduli. Dari sepuluh milikku sudah terpakai lima, termasuk yang baru saja kuminta. Hitunganku benar bukan?" tanyanya memastikan, dan pria berambut ikal itu mengangguk. "Baik. Permintaan keenam. Aku ingin agar kawan-kawanku yang belum meminta untuk menjadi kaya raya diberikan. Termasuk aku. Jadikan kami orang-orang sukses, berkuasa di Bumi, dan tangguh layaknya petarung. Seperti Ayah dan ibuku. Aku tahu mereka orang-orang kuat. Dan yang paling penting, kami memiliki skill khusus sewajarnya bagi seorang manusia. Jadi, kemampuan kami akan beragam sehingga bisa saling melengkapi dan menolong," pintanya tergesa.
Sosok itu memejamkan mata sejenak lalu mengangguk. "Permohonan dikabulkan untuk Rangga," ucapnya lalu menjentikkan jari. Rangga mulai menghitung dengan jarinya untuk memastikan agar tak dibodohi atau dicurangi. "Permohonan dikabulkan untuk Kenta," ucapnya lalu kemudian menjentikkan jari. Rangga mengangguk dengan jari sudah berjumlah tujuh dari total 10 permintaannya. "Permohonan dikabulkan untuk Harun." Rangga mengangguk mantap di mana permintaannya sudah delapan. "Permohonan dikabulkan untuk Azumi." Rangga tersenyum dan terus mendengarkan dengan serius. "Permohonan dikabulkan untuk Rex." Rangga melihat sepuluh permintaannya telah habis, tapi sosok rupawan itu masih memejamkan mata seperti mencari siapa saja anak-anak dari para pemenang dan yang terkait dengan mereka untuk mendapatkan hadiah tersebut. "Permohonan dikabulkan untuk Mandarin." Senyum Rangga terkembang. Jarinya mulai bergerak di mana permintaan kesebelasnya dikabulkan. "Permohonan dikabulkan untuk Jubaedah, Czar, dan Laika."
Namun tiba-tiba, mata pria yang menggenggam Trisula seperti milik Poseidon tersebut terbuka. Rangga bingung, tapi matanya mengikuti ke arah jam pasir di mana waktu telah habis. Rangga mengembuskan napas panjang di mana permohonannya sudah dianggap habis meski ia yakin jika belum semuanya.
"Kau benar-benar membuatku repot, Anak muda," ucap pria itu menatap Rangga lekat terlihat sebal.
"Hehe, terima kasih, Malaikat," jawab Rangga dengan senyuman seraya membungkuk.
"Sampai jumpa dan ... semoga semua hal yang kaujanjikan terjadi ketika kami sudah kembali ke Bumi. Awas saja jika bohong. Akan kuobrak-abrik Planet Mitologi entah bagaimana caranya," tegasnya mengancam seraya menunjuk.
Sosok rupawan itu terkejut, tapi diam saja tak menjawab. Rangga masuk ke dalam portal dan cahaya biru terang itu sirna saat sosoknya sudah tak terlihat usai melewatinya.
"Oag, kau dengar itu. Jika sampai tak terwujud, dia akan menghancurkan Planetmu," ucap sang Jenderal seraya melirik ke sekitar.
"Aku mendengarnya. Anak manusia memang merepotkan," gerutunya yang membuat Jenderal tersenyum meski wujud Oag tak terlihat, tapi suaranya masuk ke dalam pikiran sang Jenderal.
"Hah, tinggal satu lagi yang belum selesai, Ryan," imbuhnya.
Di tempat Ryan berada. Peserta terakhir dari total ketiga belas anak yang memenangkan Permainan Maniac.
"Adrian Axton?" tanya pria berpakaian serba putih itu dengan kening berkerut.
"Ya. Sejak lahir aku tak mengenal ayahku. Aku hanya bisa melihat fotonya dan mendengar kisah dari ibuku serta beberapa orang yang pernah bekerja dengannya. Aku ingin kau memberikan ingatan mereka padaku akan sosok ayah Axton. Aku ingin mengetahuinya. Aku tak peduli dia seperti apa di mata dan hati orang-orang itu, tapi aku harus tahu seperti apa ayahku. Kumohon," pinta Ryan memelas seperti akan menangis.
__ADS_1
Sosok rupawan itu menatap Ryan lekat seperti memikirkan dengan serius permintaannya. Ryan balas memandangi pria tampan di hadapannya dengan wajah sedih.
"Baiklah. Kukabulkan permohonanmu. Namun, ingat ucapan yang sudah kaulontarkan, Ryan. Kau harus menanggapi hal ini dengan bijak. Mungkin kau akan terkejut saat tahu fakta sebenarnya tentang ayahmu, tapi ... dia salah satu pria yang memiliki keunikan tersendiri dalam menjalani hidup. Ambil sisi baik dari pengalaman hidupnya, dan jangan tiru sisi buruknya. Kau paham?" tegas pria berambut ikal itu menunjuknya.
Ryan mengangguk dengan semangat. Pria itu lalu menjentikkan jari sebagai tanda keinginan Ryan terwujud. Ryan terlihat gembira, tapi sang Jenderal malah tampak tertekan karena ia mengetahui siapa Adrian Axton sebenarnya.
"Lalu ... tolong selamatkan aku, Ibu, dan Ayah Rohan saat bencana datang. Jika salah satu dari kami ada yang harus hidup ketika bencana menimpa Bumi, tolong jaga agar tak tewas. Aku tahu jika kalian bisa melakukannya. Kalian pasti sudah mengawasi gerak-gerik kami selama di Bumi entah apa maksudnya. Jadi ... aku yakin, kalian setidaknya bisa membantu," pinta Ryan yang lagi-lagi memasang wajah penuh harap.
Pria tampan itu menghela napas untuk kesekian kali, tapi mengangguk. Ia menjentikkan jari sebagai bentuk permintaan dikabulkan. Ryan kembali bersemangat.
"Aku ingin menjadi pria yang kuat, tak cengeng lagi, dan sukses seperti Ayah Rohan. Meski ia bukan Ayah kandungku, tapi kulihat dia sangat keren. Dia bisa melakukan banyak hal. Aku tak ingin menyusahkan Ayah dan Ibu karena mereka selalu mencemaskanku. Itu karena ... aku terlihat lemah dan tak bisa melakukan apa pun. Aku ingin membuktikan pada mereka bahwa sudah berubah. Tolong ya," pinta Ryan lagi yang semangatnya redup dan kembali memelas.
Sang Jenderal terheran-heran dengan perilaku Ryan yang baginya sedikit aneh itu karena mood-nya mudah berubah. Pria itu hanya bisa menjentikkan jari karena ia juga sudah lelah akibat tugasnya untuk mengabulkan permintaan ketiga belas anak dengan hal-hal unik dari tiap individu.
"Permintaan terakhir," tegasnya.
"Ha? Terakhir? Bukankah masih ada tiga?" tanya Ryan heran.
"Kau meminta ayahmu Rohan untuk diselamatkan, itu terhitung satu. Lalu ibumu Nandra, itu juga terhitung satu. Satu nama, satu permintaan. Kau jangan curang," jawabnya menunjuk.
Ryan ber-Oh karena baru tahu mengetahui perhitungan tersebut. Ryan melirik jam pasir seperti mencoba untuk mencari hal terakhir sebagai permintaannya.
"Oh! Darah! Adakah darah dari makhluk Mitologi yang belum diminta kawan-kawan, di mana kemampuannya sangat luar biasa? Jika ada, berikan satu padaku!" pintanya tergesa.
Sosok rupawan itu terdiam seperti memikirkan hal tersebut. "Ya ada. Sosok Phoenix Kenta. Ia bisa menyerap panas dari suatu benda atau makhluk hidup di dekatnya dan mengalirkan ke dalam tubuh sebagai salah satu energi. Atau sebaliknya. Ia bisa mentransfer panas tubuhnya ke sebuah benda atau makhluk lain. Sayangnya, Kenta tak tahu akan hal itu. Tanpa ia harus berubah menjadi Phoenix, ia tetap bisa menggunakan kemampuan tersebut saat berwujud manusia," jelasnya.
"Aku mau itu! Berikan padaku. Sepertinya, kemampuan itu cukup seru!" pinta Ryan, dan diangguki sosok tampan tersebut.
"Cakar Phoenix Kenta sebenarnya bisa merobek tubuh musuhnya seperti ... mengulitinya. Namun seperti yang kubilang, Kenta tak menyadari hal itu," sambungnya. Ryan mengangguk paham.
Pria itu lalu menjentikkan jari untuk mengabulkan permintaan terakhir dari Ryan yang sudah genap 10 hal. Ryan terlihat senang hingga ia melompat kegirangan. Sang Jenderal hanya bisa tersenyum karena tak menyangka jika anak-anak itu cukup puas dengan hadiah yang diminta bagaikan mendapat kado natal melimpah. Tak lama, sebuah portal muncul. Ryan menoleh dan menghentikan lompatan kegembiraannya. Ia menatap malaikat itu yang selalu menunjukkan senyum menawan.
"Sampai jumpa, Paman. Jaga dirimu baik-baik. Semoga ... kita bisa bertemu lagi entah bagaimana caranya. Terima kasih juga atas hadiah kerennya yang mungkin, tak bisa kudapatkan selama di Bumi. Bye!" serunya senang seraya melambaikan tangan.
Sosok bersayap yang selalu dikelilingi cahaya indah itu balas melambai sebagai salam perpisahan. Ryan berlari saat memasuki portal dengan wajah gembira. Cahaya portal perlahan meredup dan pintu antar dimensi itu ditutup. Sang Jenderal memejamkan mata dengan embusan napas panjang. Saat ia membuka matanya, ia sudah berada di dalam markas Oag. Para alien bertentakel merah mendekat dan melepaskan semua atribut yang terpasang di tubuhnya.
"Kerja bagus, Jenderal. Akhirnya, misi kita telah selesai," ucap Oag yang kini berdiri tegak di hadapannya.
"Ya, aku rasa demikian. Misi untuk permainan Maniac memang telah selesai. Namun bagiku, misi sebenarnya baru akan dimulai ketika bencana yang tak kita ketahui apa akan menerjang Bumi. Jangan lupa, Oag. Tuan-tuanmu juga ada di Bumi karena mereka memutuskan tinggal di sana. Mau tidak mau, kau juga harus tetap melindungi mereka meskipun aku yakin, para Dewa dan Dewi bisa melindungi diri mereka sendiri," tegas sang Jenderal, dan Oag mengangguk pelan seperti memahami hal tersebut.
__ADS_1
***
sudah tanggal 29. dua hari lagi tamat gaes. doakan lele selalu sehat karena bener-bener fokus tamatin MH biar kelar tepat waktu. Ghost Writer yang novelnya ringan aja sampai gak keburu buat di up. semoga TGW bisa tamat sesuai jadwal meski kudu ngebut. Amin❤️