
Czar dengan tubuh Griffin-nya dengan sigap terbang ke arah naga Rex yang menunggu di dekat tabung bersama anak-anak yang berhasil ia selamatkan dengan wujud naga.
"Rexy!" panggil Laika lantang dari punggung C.
"Hei!" jawab Jubaedah melambaikan tangan menunjukkan keberadaannya.
Czar segera mendarat dan Laika berlari ke arah Rex.
"Kami butuh gas milikmu yang bisa membuat orang linglung. Kita akan gunakan untuk menangkap makhluk-makhluk itu!" ucap Laika panik.
"Oh! Dia benar, Rexy. Kita bisa pakai gas halusinasi!" sahut Jubaedah.
Namun, kening Rex berkerut. Ia segera merubah wujudnya kembali menjadi manusia. Ia lalu membuka tas ranselnya di mana koper itu ia masukkan dalam sana.
"Tersisa satu," ucapnya seraya menunjukkan granat warna putih itu.
Jubaedah terlihat cemas. Laika menatap Jubaedah saksama.
"Kita harus benar-benar memanfaatkannya. Jangan sampai gagal," ucap Jubaedah menatap Laika lekat.
"Oke, aku mengerti," jawabnya mengangguk dengan kening berkerut.
"Juby, kau tetap di sini bersama yang lain. Aku akan ke sana membantu mereka," pinta Rex dan Jubaedah mengangguk pelan.
Rex menumpang pada tubuh Griffin Czar dengan Laika ikut bersama mereka. Makhluk berwujud elang dengan tubuh singa itu segera terbang kembali ke tempat kawan-kawannya berada.
Namun, saat tiga remaja itu tiba, makhluk lain muncul dan membuat kawan-kawan mereka yang berada di luar hutan panik.
"Apa lagi itu?!" pekik Rex dengan mata melotot.
"Hei!" panggil Czar lantang dari atas langit di mana ia kesulitan mendarat karena banyak hewan seperti ubur-ubur di sekitar wilayah itu.
"Czar awas! Sengatan dari tentakel hewan itu bisa membuat tubuhmu yang terkena mati rasa!" jawab Gibson lantang terlihat berusaha menjauh dari ubur-ubur yang tampak cantik tak mengerikan itu.
"What?!" pekik Czar, Laika dan Rex bersamaan saat mereka baru tahu jika hewan itu berbahaya.
Saat Czar menemukan tempat untuk mendarat, tiba-tiba saja, seekor ubur-ubur yang bisa melayang di udara dan tak hidup di air itu berenang ke arahnya layaknya ubur-ubur yang hidup di laut.
"Czar, awas!" teriak Laika saat melihat hewan tersebut mendekat.
Dengan sigap, Czar kembali terbang. Ubur-ubur itu ternyata tak bisa melayang lebih tinggi. Rex mengamati pergerakan ubur-ubur itu dan melihat hewan-hewan yang tadi menyerang mereka dari dalam hutan menghilang. Rex menyimpulkan sesuatu.
"Hei! Ubur-ubur ini tampaknya tak bisa terbang lebih dari 2 meter! Segeralah terbang! Dan sepertinya, hewan-hewan pemakan daging itu takut dengan ubur-ubur ini. Kulihat mereka tak berani muncul!" ucap Rex lantang dari atas permukaan tanah dengan jarak kurang lebih 5 meter.
"Kalian dengar yang Rex katakan? Segera terbang!" perintah Gibson seraya memegangi tangannya yang lunglai seperti tak bertulang.
"Ayo, cepat!" ajak Vadim yang kini mengepakkan sayapnya kuat dan membuat ubur-ubur itu terhempas terkena terpaan angin dari sayapnya.
Gibson dengan sigap naik ke punggung Vadim. Pasha juga ikut mengangkut Harun yang telah kembali ke wujud manusianya dari perubahan Yeti sebelumnya.
Ryan menyusul dan ikut naik ke punggung Manticore Pasha di mana tadinya ia berubah menjadi pohon ajaib.
Rangga dengan sigap memegang kedua pergelangan kaki Bara yang akan menariknya dengan wujud Kesatria Garuda.
Lazarus ikut berubah dan segera menaiki Vadim yang berhasil mengusir ubur-ubur di sekitar Lazarus saat berwujud Centaur.
Mandarin memeluk Boas yang dengan sigap mengepakkan sayap perinya untuk membawa kawannya itu pergi dari sekumpulan ubur-ubur yang ingin melumpuhkan mereka.
"Rex, sekarang!" seru Gibson setelah melihat kawan-kawannya berhasil terbang, tapi ....
"Agh!" rintih Rangga ketika kakinya terkena sengatan seekor ubur-ubur yang berhasil mengejarnya sebelum ia terbang lebih tinggi lagi.
Rangga memejamkan matanya rapat menahan sakit di kakinya yang tiba-tiba saja menjadi lesu seperti tak bertenaga.
__ADS_1
"Oh my God!" pekik Laika panik.
Dengan sigap, Rex segera melemparkan granat tanpa bom dari salah satu koleksi Rainbow Gas ke arah sekumpulan hewan bertentakel itu.
BUZZ!!
"Terbang menjauh!" pinta Rex lantang.
Segera, para remaja yang memiliki kemampuan terbang menghindari kepulan asap yang menyeruak di sekitar daratan berbatu itu.
"Oh! Hewan-hewan itu mulai menunjukkan gejala! Mereka tak lagi bergerak, lihat!" seru Mandarin dengan mata melebar.
"Kita tunggu sebentar sampai gas itu memudar. Jangan turun dulu. Kita tak tahu dampak gas akan bertahan berapa lama terhadap hewan-hewan aneh itu," ucap Rex dan anak-anak mengangguk setuju.
Czar tetap terbang saat beberapa dari kawan mereka yang terluka akhirnya memilih untuk segera berkumpul bersama kawan lainnya yang menunggu di tebing dekat tabung.
Akhirnya, setelah 5 menit berlalu dan asap tak lagi terlihat, Czar memberanikan diri turun bersama anak-anak yang masih menunggu di tempat tersebut.
Gibson, Vadim, Bara, dan Rangga pergi meninggalkan lokasi setelah menurunkan Lazarus.
"Bagaimana kita membawa mereka? Jika menyentuhnya, kita akan mati rasa," tanya Ryan bingung.
"Oh! Masukkan saja dalam tas! Lalu ... gunakan kain atau plastik saat akan memasukkan mereka dalam tabung. Bagaimana?" tanya Rex mengusulkan.
Anak-anak mengangguk setuju. Rex mengambil koper yang ia masukkan dalam tas agar ubur-ubur itu bisa dimasukkan dalam ransel.
Rex mendekati salah satu ubur-ubur yang terbang melayang tak bergerak. Ia membuka sleting tasnya lebar dan memasukkannya seperti menjaring. Ternyata, usahanya berhasil. Ubur-ubur itu masih diam saja berada di dalam.
"Satu tas muat untuk tiga ubur-ubur jika dipaksakan," ucapnya.
"Kalau begitu, kita masukkan semua ubur-ubur dalam tas. Kita pindahkan isi tas kita ke satu atau dua orang saja. Ayo, cepat!" seru Lazarus dan diangguki semua anak.
Akhirnya, tas Pasha dan Laika yang akan membawa perlengkapan milik kawan-kawannya. Sedang tas anak-anak lainnya berisi ubur-ubur hasil tangkapan mereka.
"Masih ada ubur-ubur yang tersisa!" seru Boas saat semua anak sudah menggendong tas dengan ubur-ubur yang berhasil mereka tangkap.
Rex terbang dengan cepat menuju ke tempat di mana anak-anak lainnya menunggu kedatangan mereka untuk menyelesaikan misi.
"Itu Rexy!" seru Jubaedah senang seraya menunjuk.
"Rex! Yey! Mereka berhasil!" seru Azumi senang bertepuk tangan.
Rex segera mendarat dan menurunkan kawan-kawannya. Gibson dan Rangga terlihat sedih karena tubuh mereka mengalami mati rasa.
"Ayo. Selesaikan misi kalian," ajak Timo seraya menepuk pundak Rangga di mana salah satu kaki kawannya itu tak bisa digerakkan seperti lumpuh.
"Aku bantu berdiri," sahut Nicolas dan diangguki oleh Rangga.
Anak-anak yang belum menyelesaikan misi, berdiri di depan sebuah tabung didampingi oleh seorang diantara mereka dengan tas ransel berisi ubur-ubur.
"Cukup masukkan satu ekor saja. Kau mengerti?" terang Tina dan diangguki oleh Lazarus.
Semua anak yang baru menyelesaikan level satu menarik napas dalam. Laika menyentuh tabung kaca di depannya.
Tiba-tiba saja, bagian atas tabung itu terbuka. Anak-anak terkejut karena ternyata, memasukkan hewan itu dari atas tabung.
"Aku bantu," ucap Ryan yang merubah dirinya menjadi Pohon Ajaib.
Ryan mengangkat tubuh Laika yang sudah membawa sebuah tas dalam dekapannya. Laika duduk di telapak tangan Ryan yang besar seperti papan.
Laika tersenyum dan membuka sleting itu perlahan. Ia lalu memasukkan seekor ubur-ubur ke dalam tabung dengan membaliknya.
SRING!
__ADS_1
"Woah!" seru anak-anak serempak saat cahaya dalam tabung menyala dan bagian atas tabung tertutup.
"Selamat! Kamu berhasil menyelesaikan misi level 2. Dapatkan hadiahmu di bagian bawah tabung," ucap Azumi membaca tulisan yang muncul di kaca tabung tersebut.
"Oh! Ada hadiahnya!" seru Kenta seraya menunjuk bagian bawah tabung berbentuk kotak yang menyala lampu biru.
Segera, Ryan menurunkan Laika. Dengan sigap, Laika memasukkan tangannya ke dalam kotak bercahaya itu.
Wajahnya berubah saat ia mengeluarkan tangannya dan melihat sebuah benda yang ternyata sebuah botol kaca bening, tapi ada sebuah pena dengan bulu di dalamnya. Laika membuka penutup botol dan mengambil pena itu.
"Ini apa?" tanyanya bingung.
"Oh! Ada tulisan di tabung lagi!" seru Kenta menunjuk.
Laika yang sedang berjongkok segera membacanya.
"Tulis nama orang dewasa yang ingin kau selamatkan di Bumi dari pengaruh hypersleep," ucapnya pelan. "What?!" pekik Laika kaget.
"Oh! Hadiah level ini bisa menyelamatkan orang di Bumi! Wah, ini hebat sekali!" seru Vadim sampai matanya melotot.
Segera, semua anak yang mendapatkan misi tersebut memasukkan ubur-ubur bercahaya ke dalam tabung.
Lazarus dan lainnya tak sabar untuk mendapatkan hadiah yang sama seperti Laika. Ternyata, hadiah mereka memang sama.
"Terus, kita gak dapat hadiah?" tanya Jubaedah iri.
"Entahlah. Namun sepertinya, tidak," jawab Rex, dan hal itu membuat Jubaedah serta lainnya sedih.
"Jangan khawatir. Pasti akan ada hadiah yang sama menguntungkannya di level berikutnya. Kami akan membantu," sahut Bara dan diangguki oleh tim yang mendapatkan hadiah istimewa itu.
"Hem, amin," jawab Jubaedah masih lesu.
Dengan sigap, Laika dan lainnya menuliskan sebuah nama di dinding botol itu. Mereka menuliskan nama orang tua mereka. Tina dan lainnya mendekat untuk mencari tahu.
"Itu ... nama ayahmu?" tanya Azumi mendekati Gibson.
"Ya. One adalah nama ayahku. Dia pintar dan kuat. Jika dia berhasil selamat, dia pasti memiliki cara untuk menyelamatkan yang lainnya. Oleh karena itu, aku memilih ayahku ketimbang ibuku. Bukan berarti tak menyayangi ibuku, hanya saja ... ayahku lebih bisa diandalkan," jawab Gibson dengan senyuman.
"Wah! Aku tak terpikirkan hal itu! Sial! Apa ini bisa dihapus?" tanya Lazarus memekik seraya menatap tulisan di botolnya tajam.
"Memang kautulis siapa?" tanya Kenta heran.
"Pamanku," jawabnya lesu.
"Jonathan Benedict? Memang ... apa yang salah dengan pamanmu?" tanya Harun heran.
"Entahlah. Aku juga heran kenapa menuliskan namanya. Sial!" gerutu Lazarus karena ternyata, tinta dari bulu unggas itu tak bisa dihapus setelah dituliskan.
"Oh! Ada instruksinya lagi!" seru Nicolas menunjuk. "Masukkan botol itu kembali ke tempat kau mengambilnya. Pergilah ke portal selanjutnya untuk menyelesaikan misi level 3. Selamat berjuang," ucap Nicolas membacakan.
"Woah! Kita menuju ke level 3?!" tanya Timo terlihat panik.
"Ya, sepertinya begitu. Ayo, kita harus bergegas," sahut Gibson meski ia masih tak bisa menggerakkan tangan kirinya.
"Namun ... di mana portal itu?" tanya Kenta bingung seraya melihat sekeliling.
Tiba-tiba saja, muncul sebuah garis bercahaya biru di atas permukaan tanah seperti memberikan petunjuk arah ke mana mereka harus pergi.
Anak-anak itu terkejut saat melihat garis itu meminta mereka untuk melewati hutan yang ditinggali oleh makhluk-makhluk pemakan daging. Praktis, anak-anak itu pucat seketika.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Jangan lupa vote vocer sebelum angus ya di novel lele manapun terserah kamu❤ tengkiyuw💋