
Di sisi lain.
Danau yang dilihat oleh mereka bertiga ternyata dihuni oleh para Centaur. Tiga pemuda itu tak bisa mendekat karena kelompok itu terlihat berbahaya dan memiliki senjata.
Harun, Nicolas dan Kenta memilih menghindar agar tak menimbulkan masalah. Kenta melihat sebuah gua. Dua kawannya sepakat untuk menelusuri gua tak dikenal tersebut.
Cukup lama mereka menyusuri hingga akhirnya, tiga remaja pria itu tiba di sebuah tempat dalam gua dengan cahaya kristal ungu bersinar terang.
Mereka senang, karena akhirnya mendapatkan air untuk minum. Tiga remaja itu segera mengisi botol yang mereka temukan dengan air kolam tersebut yang terasa menyegarkan.
"Ujung dari gua ini mengarah ke mana ya? Aku lihat ada cahaya di seberang sana," tanya Harun yang berjongkok di tepian kolam dalam gua.
"Entahlah. Namun, tempat ini sungguh indah. Bagaimana caranya batu-batu itu bersinar terang?" tanya Kenta penasaran.
"Meskipun bercahaya, tapi aku tak suka tempat yang bagiku masih gelap dan mengurung seperti ini. Ayo, kita harus segera keluar. Kita sudah terlalu lama menyusuri gua ini," pinta Nicolas melihat sekitar dengan ngeri.
"Hah! Kau takut kegelapan, Nico?" tanya Harun meledek.
Saat tiga pemuda itu berdiri dan siap melangkah, tiba-tiba terlihat sebuah pergerakan dari dalam kolam tersebut. Praktis, tiga anak remaja itu mundur hingga punggung mereka terpepet di dinding gua.
"Itu apa? Aku melihat seperti ada ekor besar dengan bercak di tubuhnya," tanya Harun sampai melotot.
BLUB ... BLUB ....
Seketika, beberapa gelembung besar bermunculan di permukaan air kolam tersebut.
"Aaaaaa!" teriak Nicolas panik dan langsung berlari keluar dari gua dengan tergesa.
"Woi, Nico!" panggil Harun terkejut karena kawannya langsung berlari kencang bahkan makhluk apa yang muncul di permukaan belum terlihat.
"Gak mau tau, gak mau lihat, nanti kepikiran dan jadi mimpi buruk! Kabur, Bro! Kabur!" jawab Nicolas berteriak yang suaranya menggema di dalam gua.
Harun dan Kenta yang sepemikiran dengan kawan berambut pirangnya tersebut, ikut berlari kencang dari gua agar tak bertemu makhluk lain yang bisa menewaskan mereka.
Anak-anak itu berlari terbirit-birit tak peduli dengan sekitarnya. Hingga tiba-tiba, "Goarrrr!"
"Woahhh!" teriak Nicolas langsung jatuh dengan pantat sebagai alas ketika tiba-tiba saja di hadapannya muncul kepala naga dari balik batuan besar.
Ternyata, mereka berada di sebuah pegunungan batu yang dihuni oleh seekor naga yang terlihat sedang marah akan sesuatu.
Harun dan Kenta ikut menghentikan laju lari dan malah menabrak Nicolas hingga mereka jatuh bergulung-gulung karena jalanan menurun yang dipenuhi batu kerikil.
Naga itu kini mengejar mereka, tapi kemudian hewan besar tersebut kembali menoleh lalu mengaum dengan suara memekakkan telinga yang membuat dengungan kencang di gendang.
SRAKK!! BRUKK!!
"Agh!" rintih Harun yang akhirnya berhenti bergulung setelah tubuhnya menghantam sebuah batu besar.
BRUKK!! BUKK!!
__ADS_1
"Agh, aduh, sakit ...," rintih Nicolas karena juga mengalami hal serupa termasuk Kenta.
Tiga remaja itu mengerang kesakitan karena bergulung-gulung di atas batuan terjal dan mengalami luka lecet di tangan.
"Hah, sembunyi!" ajak Kenta saat ia berusaha bangun dan mendapati naga tersebut seperti mencari incarannya. Harun dan Nico menahan sakit di tubuh mereka.
Tiga anak itu bersembunyi di balik batuan besar dan berusaha untuk tak menarik perhatian.
Hingga tiba-tiba, Kenta merasa kakinya seperti menyenggol sesuatu yang cukup besar. Perlahan, kepala pemuda itu menoleh karena terlihat ragu dengan apa yang ia gelindingkan.
"Oh!" pekiknya kaget dan langsung melotot saat mendapati dua buah telur naga di dekat kakinya. Spontan, Nicolas dan Harun ikut menoleh.
"Telur?" tanya Nicolas ikut melebarkan mata. Kenta mengangguk pelan.
"Lihat! Telur itu bercahaya!" seru Harun menunjuk sebuah telur yang memancarkan sebuah cahaya dan terlihat ada embrio dari seekor makhluk.
"Apakah ... ini telur naga? Mungkinkah ... naga besar itu induknya?" tanya Kenta menduga. Harun dan Nicolas saling memandang dalam diam. "Tapi biasanya ... telur itu ada di sebuah sangkar. Kenapa telur ini seperti digeletakkan begitu saja? Hampir saja terinjak," tanya Kenta heran.
Saat tiga anak itu terlihat bingung dengan keadaan yang mereka hadapi, lagi-lagi ada makhluk aneh muncul dari balik gua dalam kegelapan.
"Hag, hag," erangnya.
"Waaaa! Tuyul setan!" teriak Nicolas histeris menunjuk sosok menyeramkan yang muncul di kejauhan.
Dengan sigap, tiga anak itu kembali berlari menghindar dari kejaran dua makhluk berwujud aneh dan kerdil setinggi setengah badan dari tubuh mereka.
Kenta melindungi dua telur itu dengan susah payah seraya menghindari batuan di hadapannya yang memperlambat pergerakannya.
"Hag! Hag!" erang makhluk-makhluk itu terus mengejar dengan gesit entah apa yang mereka inginkan.
"Itu alien atau apaan, Bro! Serem banget!" tanya Nicolas menoleh dan mendapati dua makhluk berkulit pucat, memakai celana kain dan bertubuh kerdil mengejar mereka dengan ganas.
Kenta melihat, jika arah lari mereka semakin menjauh dari induk naga. Namun, mereka tak bisa mendekati sang naga karena ternyata, naga tersebut sedang melawan makhluk sejenis meski ukuran dan bentuk mereka berbeda.
"Yeti!" seru Kenta yang membuat Nicolas dan Harun menoleh ke arahnya dengan terus berlari. "Berubah jadi Yeti dan lawan mereka, Harun!"
"Oh! Kau benar!" jawab Harun semangat.
Dengan sigap, Harun mengambil bulu Yeti yang ia simpan di saku celananya. Kenta dan Nicolas berlari lebih dahulu untuk menyelamatkan diri.
Harun menghentikan langkah dan seketika, "Harrghhh!"
"Og, og, og!" kejut dua makhluk aneh tersebut saat melihat anak lelaki berkulit hitam berubah menjadi seekor Yeti dengan ukuran tubuh 5 kali dari mereka.
"Harrghhh!"
DUAKKK!
__ADS_1
"Oaaakk!"
BRAKKK! BRUKK!
Harun berhasil menyingkirkan salah satu makhluk aneh itu dengan menendangnya seperti bola. Makhluk pucat lainnya terlihat takut dan pada akhirnya kabur karena kawannya tewas akibat serangan tersebut.
"Yee! Kau hebat Harun!" puji Nicolas.
"Harrghhh! Huh, huh!" erangnya seraya memukul dadanya layaknya King Kong.
Namun seketika, wilayah tersebut berubah menjadi merah muda. Harun dan dua kawannya terkejut dengan perubahan tersebut.
"Bro, cepet pergi dari sini. Ayo!" ajak Nicolas khawatir.
Dua kawannya itu mengangguk setuju. Harun berubah kembali menjadi manusia lalu melanjutkan berlari.
Kenta terpaksa membawa dua telur itu dari sang induk yang pada akhirnya mampu mengusir para makhluk aneh.
Mereka menaiki bukit menuju ke sebuah hutan yang tak dikenali. Kenta menghentikan langkah dan melihat ibu naga mengumpulkan telur-telurnya yang berhasil diselamatkan.
Naga itu memasukkan tiga telur itu di mulutnya. Kenta terlihat kagum saat naga tersebut mulai mengepakkan sayap besarnya dan perlahan melayang.
Naga berwarna hijau dengan corak cokelat seperti pepohonan tersebut terbang meninggalkan kawasan.
"Hah, hah, masih berniat untuk balikin telur ke naga itu? Kejar sono gih, tapi Nico gak mau ikutan," ucap Nicolas dengan napas tersengal seraya mendatangi kawan Asia-nya yang masih mendekap dua telur naga di tangan kanan dan kiri.
"Aku akan menjaga dua telur ini sampai menetas lalu bisa terbang seperti induk mereka," jawab Kenta tenang.
Harun melongo mendengar penuturan kawan barunya itu. "Bro. Harun senang denger jiwa kemanusiaanmu yang ingin melestarikan kelangsungan hidup binatang di tempat antah berantah ini. Tapi ... woi! Itu naga, woi! Emang kamu tahu cara merawat naga? Ini bukan di Bumi!" seru Harun terlihat frustasi.
"Aku tahu. Oleh karena itu, aku penasaran seperti apa rasanya merawat, menetaskan dan memelihara naga. Sepertinya, khayalanku akan menjadi nyata. Dulu, aku selalu membayangkan bisa menaiki naga, berkawan dengan mereka lalu membuat peternakan hewan-hewan mitos itu," jawabnya dengan senyum terkembang.
Tiba-tiba, Nicolas memegangi kepala Kenta seperti memeriksa sesuatu.
"Aman kok, gak retak, gak berdarah juga. Seharusnya dia waras, Bro," ucap Nicolas yakin.
"Hah, terserah. Namun, jika nanti naga itu menetas, minta makan dan semacamnya, itu tanggungjawabmu!" tegas Harun menunjuk pemuda Asia tersebut.
Kenta terlihat senang. Ia mengangguk siap. Kenta berjalan dengan senyum terkembang seraya mengajak bicara dua telur dalam dekapannya yang sebesar telur burung unta.
"Bener-bener gak waras," guman Nicolas dan diangguki oleh Harun di mana keduanya berjalan di belakang remaja Asia itu.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya😍 Saatnya bobo💋 Lele padamu❤️
__ADS_1