
Semua orang yang terhempas badai gurun ciptaan Jubaedah mulai bangkit satu per satu meski mereka tercerai-berai. Ternyata, para penyihir juga mengalami hal yang sama.
SRAKK!!
Tangan-tangan bermunculan dari dalam pasir. Satu per satu dari mereka bangun dari pasir yang mengubur meski kesulitan.
"Hah, hah," engah Gibson yang berhasil membebaskan diri dan segera bangun. Ia berlari lalu menarik salah satu tangan yang berhasil ia tangkap.
"Uhuk!" Harun berhasil ditolong meski seluruh tubuhnya berselimut pasir.
"Bantu aku menolong yang lain," pinta Gibson dan diangguki oleh Harun yang duduk di atas pasir, meski pinggul ke bawahnya masih tertimbun.
Harun melihat tangan-tangan bergerak seperti minta diselamatkan lalu menariknya. Mandarin, Ryan, Nicolas, Rangga, Kenta, dan anak-anak lainnya berhasil ditemukan. Sayangnya, beberapa yang tersisa tidak ada di sekitar mereka.
"Di mana Lazarus, Jimmy, Peter dan Rocky?" tanya Bara yang tak melihat tangan lainnya dari dalam pasir.
"Hah, Juby ...," ucap Rex yang berdiri menjauh dari kerumunan teman-temannya mencari keberadaan sang kekasih yang tiba-tiba saja tak terjangkau pandangannya.
"Lihat! Para penyihir itu masih hidup!" seru Rangga menunjuk ke arah para penyihir yang muncul dari dalam pasir.
"Mumpung mereka lengah, kita tangkap mereka!" ucap Czar mantap dan diangguki oleh anak-anak lainnya.
Harun terpikirkan sebuah ide dan mengajak Nicolas untuk membantunya. Dua pria itu berlari berdua di mana anak-anak lainnya sudah membentuk tim untuk menangkap para penyihir yang kabur.
"Jangan sampai lolos!" seru Timo dan anak-anak mengangguk siap seraya berlari.
"Rex, ayo!" ajak Tina, tapi remaja itu terlihat bingung dan sedih.
"Juby tidak ada. Ia di mana?" jawab Rex seperti akan menangis.
"Aku akan membantu mencarinya setelah kita berhasil menyelesaikan misi level 3. Ini kesempatan kita. Juby telah membantu dengan badai pasirnya. Ayo!" ajak Tina.
Rex akhirnya mengangguk pelan. Ia terpaksa menunda pencarian Jubaedah dan berlari untuk membantu yang lainnya.
"Aghh! Ikat dia, cepat!" pinta Pasha yang sudah memegangi seorang penyihir dengan luka di kepala, hasil perbuatan Rangga saat itu.
Vadim ikut membantu memegangi tubuh penyihir tersebut yang mengerang mencoba untuk membebaskan diri.
Nicolas berlari ke arah mereka berdua dan memasukkan sebuah daun berwarna putih ke mulut penyihir yang sedang meronta ganas. Vadim dan Pasha terkejut karena Nicolas bukan datang untuk mengikat target mereka.
"Apa yang kaulakukan? Mana tali?!" tanya Vadim memekik, tapi Nicolas malah berdiri dengan napas tersengal karena lelah berlari seraya menatap penyihir itu saksama.
Tiba-tiba saja, tubuh penyihir itu membeku dan tak berteriak lagi seolah suaranya tercekat. Vadim dan Pasha terkejut karena penyihir itu tak memberontak. Tubuhnya menegang dan kaku tanpa mereka ketahui penyebabnya.
"Wahahaha! Berhasil! Harun! Idemu berhasil!" seru Nicolas senang dari tempatnya berdiri, tapi dua remaja gemuk asal Rusia itu bingung saling memandang.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Akan kubekukan mereka semua!" ucap Harun senang dan berlari kencang mendekati kelompok yang berhasil menangkap penyihir.
__ADS_1
"Cepat, berubah menjadi pegasus. Kita bawa penyihir ini!" pinta Nicolas dan Vadim mengangguk bingung.
Vadim segera berubah menjadi kuda bersayap. Pasha membantu mengangkat tubuh penyihir yang sudah membeku meski mereka yakin jika wanita seram itu masih hidup.
Vadim terbang dan mengepakkan sayapnya kuat dengan Nicolas naik ke punggungnya seraya memegangi tangkapannya.
"Aku masih bingung. Tadi ... apa yang Nico lakukan?" guman Pasha mencoba mengingat-ingat kejadian yang berlangsung cepat itu.
Ryan melihat Harun memasukkan daun putih yang ia temukan bersama Nicolas kala itu. Seketika, penyihir yang memakannya langsung membeku meski tubuhnya tak berubah menjadi es.
Harun lalu membagikan daun-daun itu kepada kawan-kawannya untuk melumpuhkan para penyihir.
"Cepat pergi, Ryan!" pinta Harun dan diangguki oleh pemuda keturunan India itu.
Ryan menunjuk koper berisi Rainbow Gas milik Rex yang ia geletakkan di atas pasir. Harun mengangguk paham dan segera mengambil koper tersebut. Harun berlari kencang menuju ke arah pemilik koper yang berada cukup jauh darinya.
Boas membantu membawa tubuh penyihir itu. Ryan memeluk tubuh Bara saat mereka terbang meninggalkan wilayah berpasir menuju ke tabung.
Namun, para penyihir yang berusaha untuk lolos dari kejaran anak-anak yang sudah tak takut lagi pada mereka, menyadari cara remaja itu melumpuhkan mereka.
"Jangan berubah menjadi makhluk Mitologi! Mereka tak bisa menggunakan kekuatan jika kita masih dalam wujud manusia!" seru Gibson berlari kencang mengejar salah satu penyihir yang berusaha kabur dengan merangkak di atas pasir menggunakan dua kaki dan dua tangannya seperti binatang.
Laika ikut bersama Gibson dengan Czar bersamanya mengejar penyihir dengan wujud setengah binatang itu.
Namun, penyihir itu sangat cepat dan gesit. Tiga remaja itu kewalahan dan malah menjauh dari kumpulan.
Rex dan Tina yang menyadari jika kawan-kawannya terpisah karena mengejar penyihir, merasa jika mereka seperti sengaja dipecah.
"Hah, hah, aku akan membantu," sahut Azumi mendatangi dua orang kawannya seperti merencanakan sesuatu.
"Kau menyadarinya?" tanya Rex menatap gadis Jepang itu lekat.
"Ya. Kak Kenta mengatakan, saat ia terbang dalam wujud Phoenix-nya, ia melihat jika terdapat beberapa rumah yang mengeluarkan asap. Ia yakin, jika itu kediaman para penyihir. Melihat arah perginya kawan-kawan kita, kak Kenta berasumsi jika mereka digiring ke sana. Bisa jadi, ini jebakan," jawab Azumi dengan napas tersengal.
Rex dan Tina tampak terkejut. Tiba-tiba saja, Kenta merubah wujudnya menjadi burung Phoenix. Semua anak dan penyihir terkejut.
Kenta seperti memiliki rencana karena ia terbang menjauh dari kelompok menuju ke sebuah tempat.
"Ia ke mana?" tanya Tina penasaran.
"Dia ingin membakar rumah-rumah penyihir itu. Ayo, kita harus cegah para penyihir yang ingin menggagalkan aksinya," jawab Azumi tersenyum.
"Sangat pintar," puji Rex dan diangguki oleh Tina.
"Ayo!" seru Rex dan Tina bersamaan.
Seketika, Azumi berubah menjadi unicorn. Perubahan wujudnya menarik perhatian para penyihir.
Azumi lalu berlari dengan empat kakinya menuju ke tanah lapang agar para penyihir itu merubah arah mereka.
__ADS_1
Benar saja, usaha Azumi berhasil. Dua remaja itu melihat Harun berlari kencang ke arah mereka. Rex mengenali kopernya dan segera berlari mendatangi Harun.
"Cepat!" pinta Harun dengan napas tersengal saat ia menyerahkan koper itu dan Rex membukanya.
Rex memberikan sebuah granat warna hitam kepada Tina dan Harun berikut serumnya.
"Gas ini bisa membutakan pandangan. Minum serum itu sekarang," ucap Rex dan diangguki oleh Tina serta Harun. Rex ikut meminum penawar.
Tiga orang itu melihat unicorn Azumi mendatangi mereka setelah ia berhasil menarik perhatian para penyihir. Rex, Tina dan Harun bersiap dengan granat warna hitam dalam genggaman.
"Azumi! Berubah!" seru Rex lantang dan gadis Jepang itu segera merubah wujud menjadi manusia.
Tina melemparkan pil serum penawar dan Azumi segera menangkap lalu meminumnya.
"NOW!" titah Harun lantang.
SWING! BUZZ!
"Hargghhh!" erang tiga penyihir saat terkena dampak dari Rainbow Gas yang mengeluarkan asap warna hitam pekat.
Anak-anak yang berlari mengejar langsung menghentikan langkah. Rex dan lainnya berlari mendatangi kawan-kawan mereka untuk membagikan serum penawar agar mereka tak keracunan.
"Cepat!" pinta Rex yang mengajak kawan-kawannya memasuki kepulan asap yang mulai memudar di mana tiga penyihir mengerang kesakitan dengan mata berdarah.
Timo, Harun, Rangga, Pasha, Tina, Azumi, Rex, Mandarin, Gibson, Laika, dan Czar berkumpul lalu mengepung tiga penyihir itu.
Gibson, Mandarin, dan Harun memasukkan daun putih itu ke mulut para penyihir. Seketika, tiga tubuh penyihir itu membeku.
Anak-anak senang karena usaha mereka berhasil. Rex segera berubah menjadi naga untuk membawa tiga penyihir itu.
Timo, Tina dan Azumi menaiki punggungnya seraya memegangi tubuh kaku para penyihir. Rex terbang meninggalkan kawan-kawannya untuk mengantarkan tiga temannya menyelesaikan misi.
Saat anak-anak itu bersorak riang, di kejauhan, tampak kobaran api dahsyat di beberapa tempat.
Gibson dan lainnya terkejut saat melihat Kenta menyemburkan api dari mulutnya seperti membakar sesuatu. Namun, Harun menyadari sesuatu.
"Baru lima penyihir. Sisanya?" tanya pria berkulit hitam itu melihat kawan-kawannya dengan panik.
"Mungkinkah?" tanya Rangga tegang.
"Mereka pasti mengejar Kenta! Kita harus selamatkan dia!" seru Mandarin dan diangguki semua orang.
Segera, anak-anak itu berlari ke tempat Kenta berada di mana anak lelaki itu melakukan aksinya sendirian tanpa dibantu oleh kawan-kawannya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya mbak Aju😍 Lele padamu❤️Yg lainnya mana uyy. Kwkwkw😆