MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
SEPERTI HANSEL AND GRETEL*


__ADS_3

Anak-anak yang letih dan merasa kenyang setelah menikmati makanan lezat di negeri itu, perlahan memejamkan mata menikmati keteduhan di bawah pohon lollipop yang melindungi mereka dari terik matahari.


Satu per satu, anak-anak itu tertidur lelap bahkan tak ada yang berjaga seperti biasanya. Hingga tak terasa, malam datang menjelang.


Ternyata, di planet itu, perbedaan siang dan malam terlihat tak seperti ketika mereka berada di Planet Mitologi.


"Oh! Sudah malam?" tanya Kenta langsung bangun dari tidurnya dengan mata terbuka.


Pemuda asal Jepang itu melihat sekeliling dan baru menyadari jika sekitarnya gelap. Namun, ada yang menarik perhatiannya ketika ia mendapati tangan Ryan bercahaya dalam gelap seperti lampu.


"Hehe, Mr. Lamp," kekehnya. "Hem, tapi aku rasa, namanya lebih cocok sebagai Neon Boy," imbuhnya.


Tangan Ryan bercahaya bagaikan penerang di tengah kegelapan hutan yang kini melindungi mereka.


Tiba-tiba, Kenta mencium aroma lezat seperti kue yang baru saja dipanggang di dekat hutan itu.


Sayangnya, pemuda itu tak bisa berubah wujud karena sosoknya yang terlalu mencolok dan khawatir malah akan menimbulkan kebakaran jika ia menjadi Phoenix.


"Oh! Pasha, Vadim, hei bangun," panggil Kenta menggoyangkan lengan dua anak gemuk itu.


Namun, dua remaja asal Rusia itu sungguh tertidur dengan nyenyak. Mereka hanya bergerak untuk merubah posisi dan melanjutkan tidur. Kenta berdecak kesal dan kini menyenggol lengan Bara.


"Hei, hei, bangun," pintanya yang kini usahanya membuahkan hasil. "Bara, apa kau—"


"Wah! Baunya enak!" ucapnya langsung mengendus dan duduk. Kenta terkejut, tapi ia mengangguk membenarkan.


"Kau menciumnya? Baunya membuatku lapar. Bagaimana jika kita mencari tahu? Berubahlah menjadi Garuda," pinta Kenta dan Bara dengan sigap berdiri, meski ia masih terlihat kaget dan hampir menginjak Rangga yang tidur di sebelahnya.


Ternyata, gerak-gerik dua pemuda itu membuat Tina terbangun dan melihat keduanya, meski masih mengantuk.


Tina melihat Bara berubah menjadi Kesatria Garuda lalu terbang membawa Kenta seperti ke suatu tempat meninggalkan hutan.


"Oh! Mereka pergi ke mana?" tanya Azumi langsung duduk dan ternyata, ucapannya membangunkan anak-anak yang lain.


"Hem? Ada apa?" tanya Timo seraya mengucek matanya.


"Kenta dan Bara pergi," jawab Tina menatap kakaknya lekat.


"Sembrono sekali. Bagaimana jika mereka—"


"Woah! Bau makanan!" seru Vadim tiba-tiba bangun dan seperti orang bingung mencari sesuatu.


"Bau roti panggang rasa vanila dan cokelat!" timpal Pasha yang ikut bangun dan langsung duduk.


Keduanya berkelakuan seperti seekor anjiing. Dua remaja itu mengendus, tapi sambil berdiri. Gibson dan anak-anak lainnya bingung, tapi mereka bergegas dengan merapikan perlengkapan lalu menggendong tas.


"Eh! Tanganku bercahaya!" seru Ryan kagum ketika melihat tangannya bersinar lebih terang dari biasanya.



"Woah!" seru semua anak yang kini mengerubungi tangan pemuda asal Amerika, tapi tinggal di Swiss itu.


"Bisa gitu ya? Keren," saru Rex sampai wajahnya ikut bersinar karena terpantul dari cahaya di tangan Ryan.


"Ya ampun! Vadim! Pasha! Rexy!" teriak Jubaedah memegangi tas yang digendong dua remaja gemuk itu karena mereka berjalan begitu saja meninggalkan kelompok.


Praktis, anak-anak terkejut. Gibson dengan sigap berlari ke arah Jubaedah yang kewalahan menahan dua remaja itu yang kini menjadi seperti zombie kelaparan.


"Mm, begini. Kita bagi dua kelompok. Kelompok terbang cari keberadaan Bara dan Kenta. Lalu kelompok darat pergi bersama Vadim dan Pasha untuk mencari asal aroma lezat itu. Kita akan bertemu di sini lagi. Oke?" pinta Gibson seraya jalan mundur karena tak ingin tertinggal oleh langkah dua remaja yang sudah tak sabaran itu.


"Oke, kami mengerti. Ayo!" ajak Boas dan diangguki oleh anak-anak yang lain.

__ADS_1


Sayangnya, Rex tak bisa ikut. Ia cemas karena tubuhnya yang besar akan menarik penghuni tempat itu dan malah dianggap ancaman.


Akhirnya, Czar terbang dengan Laika naik di punggungnya. Lalu Boas terbang sendirian.


Anak-anak lainnya pergi bersama Vadim dan Pasha yang sudah meronta kelaparan padahal mereka sudah makan banyak hingga akhirnya tertidur.



Namun ternyata, baik tim terbang ataupun tim darat, keduanya sampai di tempat yang sama. Mereka mendapati sebuah rumah yang atapnya terbuat dari waffle dan memiliki taman indah terbuat dari permen lollipop, cupcake, dan beberapa tumpukan salju terbuat dari ice cream bertabur choco chips. Sungguh, rumah itu terlihat lezat.


"Wah, lihat! Permen itu menyala seperti lampu," tunjuk Jimmy dan diangguki semua anak yang berada di sekitarnya.


Boas memberi tanda dari atas jika wilayah itu sepi. Sayangnya, sosok Bara dan Kenta tak terlihat. Azumi cemas karena kakaknya belum ditemukan keberadaannya.


"Bagaimana ini?" tanya Azumi seperti ingin menangis.


"Jangan sedih. Mereka pasti berada di sekitar sini. Kita akan mencari mereka sampai ketemu," kata Mandarin menenangkan dan Azumi mengangguk pelan.


"Oh, aku bisa membantu. Aku akan berubah menjadi manusia serigala. Dengan begitu, aku bisa mencari mereka dari bau yang telah kuingat," ucap Tina menyarankan.


"Wah kerja bagus. Lakukan, Tina," sahut Timo setuju.


Dengan sigap, Tina segera berubah wujud. Semua anak yang masih merasa wujud serigala tersebut seram, memilih untuk mundur. Tina menggunakan indera penciumannya untuk mencari keberadaan dua kawannya itu.


"Ketemu! Mereka di sana!" seru Tina langsung berdiri dengan dua kaki belakang layaknya manusia. Kaki kirinya menunjuk ke sebuah wilayah yang jauh dari rumah roti.


"Kami tunggu di sini saja," sahut Vadim yang ternyata sudah memakan cupcake cokelat dengan Pasha berdiri di sebelahnya.


Anak-anak yang lain memutar bola mata terlihat malas karena dua remaja itu hanya memikirkan perut saja sejak datang ke negeri tak dikenal.


"Baiklah. Kalian berempat tetap di sini bersama Vadim dan Pasha. Kami akan mencari Kenta dan Bara. Ingat, jangan sampai tertangkap penduduk negeri ini sampai kita tahu mereka ancaman atau tidak. Kalian mengerti?" tegas Gibson menunjuk.


Vadim dan Pasha menunjukkan jempol mereka dengan mulut sudah penuh dengan makanan. Czar dan Laika menawarkan diri untuk tetap mengawasi wilayah itu selama mereka pergi.


"Aku ingin memakan rumah itu. Baunya sungguh enak," ucap Pasha yang mulutnya sudah belepotan dengan cokelat.


"Habiskan saja cupcake itu," jawab Czar yang sudah kembali ke wujud manusia.


Laika tak habis pikir dengan jalan pikiran Pasha yang masih bernapsu untuk memakan sebuah rumah.


Disisi lain.


Boas tetap terbang untuk memastikan jika rute yang diambil oleh kawan-kawannya tak berbahaya. Cukup jauh mereka berlari hingga menemukan wilayah seperti sebuah hutan.


Pohon-pohon permen tinggi menjulang di sepanjang jalan. Beberapa berbentuk seperti sebuah kancing berwarna-warni yang memancarkan cahaya seperti lampu penerang jalan.



Tina berlari di depan masih dengan sosok serigalanya memimpin kelompok besar itu. Hingga akhirnya, mereka mendapati sebuah wilayah yang tampak lain tak seperti kawasan yang pernah mereka datangi sebelumnya.


"Tempat apa ini?" tanya Nicolas dengan mata melebar saat melihat ujung dari hutan itu.


"Wow!" kagum Harun sampai berdiri terpaku saat melihat semburan besar dari lubang dalam tanah yang menebarkan kelap-kelip yang tak ia ketahui apa, tapi tak ingin mendekatinya.



"Bagaimana, Tina?" tanya Gibson menatap kawan serigalanya lekat.


"Bau mereka berdua hilang di sini," jawabnya yang lalu berubah menjadi manusia lagi.


"Mereka di sini? Ya Tuhan," sahut Azumi langsung terlihat panik. "Kak Kenta!" teriak Azumi tiba-tiba memanggil kakaknya dengan suara lantang di tengah wilayah antah berantah.

__ADS_1


Tentu saja, semua anak terkejut dan panik. Jubaedah langsung membungkam mulut teman wanitanya itu karena merasa jika perbuatannya bukan hal benar.


"Jangan. Juby ngerasa tempat ini berbahaya. Jangan sembarangan bikin ribut," tegur Jubaedah dengan mata melotot.


Azumi akhirnya diam tak berteriak lagi. Semua anak terlihat waspada dengan sekitar. Ditambah, keberadaan Kenta dan Bara tak terlihat.


Saat semua anak terlihat cemas karena dua kawan mereka tak diketahui keberadaannya, muncul tulisan bercahaya di tanah tersebut. Mata para remaja itu langsung menajam dan fokus membaca.


"Selamat datang di level 3. Tangkap monster penghuni daratan ini dan masukkan dalam tabung. Hadiah akan diberikan kepada lima anak yang berhasil meninggalkan jejak pada tubuh monster. Batas waktu : tidak ditentukan."


Seketika, muncul sebuah tabung dari tulisan yang menghilang tersebut. Anak-anak itu saling memandang karena tabung hanya berjumlah satu buah tak banyak seperti misi sebelumnya.


Saat mereka merasakan bahaya mengancam, tiba-tiba saja, Boas memekik. "Hei! Itu mereka!" serunya menunjuk dengan tubuh perinya dan masih terbang di atas langit.


Praktis, mata anak-anak itu tertuju pada arah telunjuk Boas. Sayangnya, karena jarak yang jauh, membuat mereka kesulitan mendapatkan sosok dari kawannya itu.


"Semuanya, berubah!" seru Gibson lantang dan diangguki oleh semua anak. Segera, anak-anak itu merubah wujud mereka menjadi makhluk Mitologi.


Benar saja, tak lama ....


"Waaaa!" seru Kenta dan Bara dengan wujud manusia sedang berlari kencang. Mereka terlihat panik seperti dikejar sesuatu.


Mata anak-anak melebar ketika mereka menangkap pergerakan dari sebuah wujud seperti manusia, tapi bisa melayang di udara karena kakinya tak menapak tanah.


"Woah! Dia seperti penyihir!" seru Jubaedah menunjuk sosok yang terbang semakin mendekat.


"Jangan berubah! Jangan berubah!" teriak Bara lantang di kejauhan seraya terus berlari kencang seperti menghindari kejaran dari makhluk berwujud manusia berjenis kelamiin perempuan.


"Ha? Bara bilang apa?" tanya Ryan berkerut kening.


"Katanya, jangan berubah," jawab Rex mengulang.


Semua anak yang merubah wujud mereka menjadi makhluk Mitologi terlihat bingung. Benar saja, tiba-tiba ....


Makhluk seperti perwujudan dari penyihir layaknya di cerita dongeng membidik Boas yang tubuhnya berada di wilayah tak dikenal itu.


Boas melihat penyihir hitam itu seperti mengincarnya. Praktis, mata Boas melebar. Tiba-tiba saja, WUSS!


"Agh!" erang Boas yang kemudian jatuh dari atas langit dan tubuhnya menghantam daratan dengan keras. Wujud peri Boas lenyap dan membuatnya kembali menjadi manusia.


"Boas!" seru anak-anak panik melihat kawannya diserang. Naas, pemuda itu tergeletak tak sadarkan diri.


"Jadi manusia! Jadi manusia, cepat!" seru Kenta lantang dengan keringat bercucuran dan terus berlari.


"Kalian dengar yang Kenta katakan? Kembali menjadi manusia!" seru Gibson mendesak.


Dengan sigap, anak-anak itu berubah wujud menjadi manusia. Sayangnya, saat mereka akan menolong Boas, tiba-tiba saja muncul sebuah dinding yang tak terlihat dan membuat mereka tak bisa masuk ke dalam wilayah itu.


"Boas! Kenta! Bara!" seru Rangga memukul-mukul sesuatu yang tak dilihatnya, tapi ia bisa merasakan sebuah dinding seperti kaca tebal melindungi wilayah itu.


BRANGG!


"Agh!" erang Bara dan Kenta saat tubuh mereka menghantam dinding kaca yang tak bisa ditembus. Praktis, dua anak itu panik seketika.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


Uhuy tengkiyuw tipsnya mbak Aju😍 Semoga sehat selalu dan mualnya segera babay😁 Maap judulnya lele ganti karena jebule di eps awal udah ada😆


__ADS_2