
Timo panik dan segera naik ke permukaan.
SPLASH!
"Hei! Hei!" panggil Timo lantang dari tengah kolam.
Segera, kawan-kawan satu timnya berdiri dan mendatangi pinggir kolam dengan tergesa.
"Ada apa, Timo?" tanya Rex panik.
"Gibson diculik oleh seekor duyung! Aku harus bagaimana?" tanyanya bingung.
Mata semua anak langsung melebar seketika. Tiba-tiba, Vadim membuka isi tasnya. Ia mengambil sebuah tabung yang tersambung dengan masker penutup mulut, hidung dan mata.
"Pakai ini. Oksigen dalam tabung ini mampu bertahan hingga 30 menit dalam air. Aku ... tak pandai berenang. Oleh karena itu, ayahku membawakan ini," ucap Vadim seraya menunjukkan alat tersebut.
Dengan sigap, Rex segera mengambilnya. Ia juga meminta tas yang dikenakan oleh Ryan. Jubaedah mendatangi Rex terlihat cemas.
"Kamu mau ngapain?" tanya Jubaedah menatap kawan prianya saksama yang memasukkan Rainbow Gas warna hijau beserta serum penawar dan belati Silent Gold yang ia sarungkan di pinggul sampingnya.
"Doain Rex pulang dengan selamat ya," jawabnya seraya menggendong tas tersebut dan mengaitkan tali di dada. Rex segera berdiri dan memakai alat tersebut dengan sigap.
"Rexy, ati-ati ...," pinta Jubaedah sedih.
Rex mengangguk mantap. Saat pemuda itu akan masuk ke air, Mandarin memberikan pedangnya kepada putera dari Eiji tersebut. Rex terlihat bingung, tapi menerimanya.
"Pemindai sidik jarinya rusak, jadi ... kau aman saat memakainya, tak akan tersengat listrik. Seharusnya laser itu masih bisa bertahan sampai 30 menit," ucap Mandarin seraya melangkah mundur dari tepian kolam.
"Oh! Sama. Belati milik Rex juga rusak alat pemindainya, makanya Juby bisa pake. Selain itu, untuk mengisi baterai cukup pakai panas dari matahari," sahut Jubaedah dan Mandarin mengangguk karena pedangnya juga menggunakan cara yang sama.
"Semangat, Rex!" seru Azumi yang diikuti oleh anak-anak lain yang memberikan dukungan.
Rex menunjukkan jempolnya dan dengan sigap masuk ke dalam air. Timo kembali menjadi pemandu dengan Rex duduk di punggungnya.
Kali ini, Timo berenang lebih gesit, mengingat waktu yang dibutuhkan oleh Rex hanya 30 menit.
Saat mereka menuju ke dasar kolam di mana terlihat sebuah jalanan seperti menuju ke suatu tempat, lagi-lagi sekumpulan ikan berwarna-warni menyala dalam kegelapan seperti neon mengerumuni Timo dan Rex.
Timo melihat ikan-ikan itu seperti berusaha untuk menyingkirkan Rex dari tubuhnya. Benar saja, Rex terjatuh dari tubuh Timo dan membuatnya terlentang di dasar kolam.
"Hentikan!" seru Timo lantang terlihat marah dengan bahasa ikan. Praktis, ikan-ikan itu langsung menghentikan aksi mereka mengeroyok Rex. Ikan-ikan kecil berwarna-warni itu berkumpul dan berdiri di hadapan Timo. "Kenapa kalian menyerang kawanku?" tanya Timo melotot menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap sikap para ikan.
"Blup ... blup, bup bup," jawab salah satu ikan berwarna hijau.
"Ha? Itu tidak benar. Kami berteman dengan Elena. Aku ikut menguburkan para duyung usai tragedi itu. Berita di kolam air asin memang benar, tapi para duyung itu yang menyerang kami duluan. Jadi, itu bukan kesalahan kami sepenuhnya!" tegas Timo.
Rex yang tak paham, memilih untuk berlindung di sebuah jamur besar yang mengeluarkan cahaya sembari menunggu Timo menyelesaikan tugasnya.
Rex melihat sekitar dan ia mendapati sebuah bangunan di dalam air di kejauhan. Rex menyalakan laser belatinya sebagai tanda, dan Timo dengan sigap menoleh ke arahnya. Rex menunjuk sebuah jalan menuju ke suatu tempat dan Timo mengangguk.
"Kami bukan musuh kalian. Kami juga ingin pulang. Kami memiliki planet sendiri dan tak ada niatan untuk merebut planet kalian," tegas Timo dengan bahasa ikan kepada sekumpulan ikan-ikan bercahaya itu.
Timo berenang mendekati Rex. Pemuda berwajah Asia itu segera naik ke punggung Timo di mana waktu Rex tak banyak.
__ADS_1
Ternyata, para ikan kecil bercahaya itu mengikuti Timo entah apa yang mereka inginkan dengan berenang di belakangnya secara bergerombol.
"Wow, tempat ini bercahaya, Rex! Lihatlah ikan-ikan unik itu," ucap Timo dan Rex mengangguk setuju.
Timo berenang perlahan di mana kedatangannya langsung membuat kejutan bagi penghuni wilayah tersebut. Rex menunjuk sebuah bangunan dengan menara di atasnya dan Timo mengangguk siap.
Timo terus berenang di mana ikan-ikan lain mengikutinya di belakang. Rex terlihat gugup, tapi tetap berusaha tenang tak ingin membuat hewan-hewan itu ketakutan lalu menyerangnya.
Hingga akhirnya, mereka berdua sampai di sebuah pintu yang tanpa penutup. Rex turun perlahan dan terlihat siap dengan belati dalam genggamannya. Ia melihat sekeliling di mana pemuda itu merasa kehadirannya seperti diawasi.
Timo kembali berbicara dalam bahasa ikan untuk memanggil penghuni di dalamnya, tapi ruangan yang terbuat dari batu itu nampak kosong.
Hingga tiba-tiba, Rex menepuk pundak Timo kuat. Merman tersebut melihat duyung cantik berenang ke arahnya. Seketika, mata Timo melebar. Duyung itu yang menculik Gibson.
"Di mana kawanku? Ke mana kau membawanya?" tanya Timo menatap duyung berekor biru itu tajam.
"Dia dan kawanmu itu membunuh kaumku," jawab duyung berambut panjang seraya menunjuk Rex.
"Harus berapa kali kukatakan. Kawan-kawanmu menyerang kami. Elena bahkan bisa merelakan teman-temannya, kenapa kau tidak?" tegas Timo, tapi duyung itu seperti tersinggung.
Makhluk setengah ikan setengah manusia itu langsung berenang dengan gesit ke arah Timo yang melindungi kawannya. Timo dan duyung itu saling bertatapan tajam berhadapan.
"Bebaskan kawanku," tegas Timo.
"Apa jaminannya?"
"Aku akan pulang ke planetku bersama kawan-kawanku. Kau pikir, kami suka berada di sini? Kalian semua menjauhkan kami dari keluarga. Kau membuat anak-anak tewas demi berjuang hidup di planet kalian. Apa yang kami korbankan lebih banyak ketimbang kalian semua!" teriak Timo marah dan membuat gelombang di permukaan air bergerak seperti terjadi ombak.
Ikan duyung cantik terkejut. Matanya memindai sekitar lalu pandangannya kembali kepada Timo yang menatapnya tajam.
"Manusia melawan monster, kau pikir hal itu sepadan, ha?! Cepat kembalikan kawanku agar kami bisa menyelesaikan misi! Kujamin, kami tak akan kembali ke planet ini lagi selamanya!" tegasnya terlihat marah dan air di sekitar tempat itu berubah hangat seketika.
"Emph!" rintih Rex yang membuat Timo langsung menoleh.
Rex segera berenang ke permukaan dan Timo membantunya dengan mendorong kedua kaki Rex. Duyung itu mendongak dan melihat dua anak manusia itu berenang ke permukaan.
"Hah!" engah Rex yang mulai kehabisan oksigen.
Beruntung, jarak menuju ke permukaan tak terlalu jauh. Namun, keduanya baru menyadari jika mereka berada di dalam gua yang sangat besar.
"Kau tak apa? Kau kenapa?" tanya Timo heran.
"Hah, aku tadi kaget. Aku melihat kau seperti berubah wujud menjadi seram. Mirip para duyung ketika akan memangsa kalian saat itu. Apa kau marah?" tanya Rex yang berenang mengapung dengan tubuh setengah tenggelam.
"Ya, begitulah. Apakah ... aku tampak mengerikan?" tanya Timo ikut takut dengan dirinya. Rex mengangguk.
"Aku melihat punggungmu mengeluarkan sirip tajam. Lalu, muncul kuku tajam di jemarimu. Jangan seperti itu, kau membuatku panik," jawab Rex dengan napas tersengal.
"Ah, maaf," jawab Timo tak enak hati karena tak menyadarinya.
Namun, keduanya baru tersadar jika di tengah kolam itu ada sebuah pohon cantik berwarna merah muda.
__ADS_1
Timo membantu Rex berenang menuju ke tumbuhnya pohon. Rex memijakkan kedua kakinya ke tanah terapung tersebut lalu mendekati pohon dan berdiri di sampingnya.
SPLASH!
Rex dan Timo kembali terkejut saat melihat sekumpulan duyung muncul dengan separuh tubuh mengapung di permukaan. Dua remaja itu terlihat waspada.
Namun, mata mereka melebar seketika, saat seekor duyung menunjuk tepian gua. Praktis, mata Rex dan Timo melebar.
"Gibson!" panggil keduanya lantang.
Gibson tergeletak tak sadarkan diri. Timo dengan sigap berenang ke tempat Gibson berada untuk memastikan keadaan kawannya itu.
Rex terlihat gugup karena ditatap oleh para duyung berjenis kelamin perempuan dan laki-laki di sekitar kolam.
"Gibson, Gibson, kau tak apa? Hei, sadarlah," tanya Timo seraya memegangi kedua pipi kawannya yang menjadi basah karena tangan berselaputnya yang terkena air.
"Emph," keluhnya, dan pada akhirnya, pemuda itu membuka mata. "Oh, Timo!" ucapnya dengan mata melebar saat mendapati kawannya yang menjadi Merman berada di sebelahnya.
"Gibson!" panggil Rex di kejauhan melambaikan tangan dengan senyuman.
Gibson segera duduk dan balas melambai, tapi pemuda itu langsung terkejut karena melihat banyak duyung memenuhi sekitar kolam.
Mereka bicara dalam bahasa ikan.
"Kami pegang janjimu, Timo. Begitu kalian menyelesaikan misi, kembalilah ke Bumi dan jangan pernah menginjakkan kaki kalian lagi di Planet Mitologi," tegas duyung yang menculik Gibson.
"Aku berjanji," jawab Timo mantap.
Duyung lainnya berenang mendekati Rex seraya membawa sebuah papan batu.
"Minta kawanmu membubuhkan darahnya di batu itu sebagai kesepakatan kita," tegas duyung cantik tersebut.
Timo segera menterjemahkan dan Rex mengangguk pelan. Rex menggunakan ujung belatinya untuk menusuk jempolnya hingga muncul genangan darah.
Rex menuliskan namanya di papan batu itu seraya menahan perih. Rex segera menghisap jempolnya agar darah itu tak lagi keluar.
Duyung lain berenang ke arah Timo dan Gibson untuk melakukan hal yang sama. Ternyata, puteri duyung itu meminta kepada semua anak dalam satu tim mereka untuk memberikan janji yang sama.
Timo mengangguk setuju. Namun, Rex dan Gibson tak bisa menyelam lagi karena jarak menuju ke kolam tempat kawan-kawannya berada cukup jauh.
"Oh, katanya, kalian memanjatlah ke atas. Kalian tunggu di sana. Nanti, aku dan kawan-kawan akan menyusul," tegas Timo. Gibson dan Rex mengangguk setuju.
Gibson berjalan di tepian gua menuju ke dekat lubang yang terkena sinar matahari. Para duyung segera menyelam dan mengikuti Timo menuju ke kolam tempat kawan-kawannya berkumpul.
Rex yang penasaran dengan pohon merah muda itu, mencoba menggapainya.
"Apa yang kaulakukan?" tanya Gibson siap memanjat.
"Daunnya cantik. Aku ingin memberikannya kepada Juby," jawab Rex dengan senyuman saat ia mengambil ranting dari pohon dan memasukkan kumpulan daun indah seperti kertas tersebut ke dalam tas.
Rex lalu melewati jalan dari batu yang mengapung di air menuju ke tepian dengan sigap.
Keduanya berusaha memanjat ke atas gua di mana dinding-dinding tersebut ternyata memiliki permukaan yang membuat mereka mudah untuk memanjat.
***
__ADS_1
masih eps bonus dari mak ben😍 semoga suka ceritanya❤️ lele padamu💋