
Setelah semua anak-anak berkumpul, kapal bajak laut tersebut siap untuk berlayar. Para alien memberikan banyak pekerjaan bagi anak-anak itu.
Selama mereka belum memasuki wilayah Kraken, kemampuan Mitologi yang dimiliki oleh anak-anak dimanfaatkan oleh sang kapten.
Bahkan, Rex terlihat cemburu pada sang kapten karena ia terlihat seperti ingin terus dekat dengan Jubaedah yang memang berparas cantik setelah menjadi Lady Dragon.
Mereka bicara dengan bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Gunakan kemampuanmu, Lady, untuk membuat laju kapal kita lebih cepat," pinta sang Kapten menatap Jubaedah lekat.
Jubaedah mengangguk pelan di mana ia mulai terbiasa mengendalikan kemampuan mengolah cuaca tanpa harus menunggu kondisi hatinya sedang baik atau buruk.
Rex bagaikan penjaga Jubaedah karena ia selalu berada di samping sang kekasih saat dimintai sesuatu oleh para alien tersebut.
Jubaedah memejamkan mata terlihat fokus dengan yang akan dilakukannya. Czar, Vadim dan Pasha, dengan sigap membentangkan layar dan mengikat semua tali agar tak lepas ketika angin kencang siap untuk membuat kapal melaju lebih kencang.
"Hiyah!" seru Jubaedah dengan kelima jari ia lebarkan.
Seketika, embusan angin kencang menerpa dan membuat layar pada kapal menggembung besar. Semua orang terkejut dan berpegangan kuat agar tak terjatuh.
"Hahahaha! Sangat mengagumkan! Hebat sekali! Hebat sekali!" seru Kapten bajak laut begitu gembira berikut para alien lainnya.
Rex menyipitkan mata karena merasa kemampuan Jubaedah seperti dimanfaatkan. Namun, Rex masih mentolelir selama sang kekasih tak dirugikan dan misi yang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana.
"Ada apa, Rex?" tanya Gibson mendekat.
"Aku masih tak percaya pada alien-alien ini. Mereka licik. Mereka memanfaatkan Juby," gumannya geram.
"Hem, aku juga merasa demikian. Tak hanya Juby, tapi kita semua. Dia menggunakan kemampuan terbang kawan-kawan kita untuk melakukan banyak pekerjaan terutama bagian atas kapal seperti layar, tiang dan lainnya. Bahkan, Timo diminta menceburkan diri ke laut untuk membetulkan bagian bawah kapal yang rusak dan memastikan kapal tak bocor sebelum berlayar," sahut Gibson saat melihat para alien menugaskan kawan-kawannya untuk melakukan sesuatu.
Lagak para alien itu bagaikan bos tak seperti sebelumnya ketika para remaja tersebut datang ke kapal. Rex mengangguk paham dan tetap berada di sisi Jubaedah untuk melindunginya.
"Mm, Kapten. Bagaimana kami tahu sudah memasuki wilayah Kraken atau belum?" tanya Harun memberanikan diri mendekat dengan sebuah ember dalam genggaman usai mengepel lantai kapal.
"Kalian akan menjadi manusia normal. Untuk itulah, kalian kuminta dalam wujud Mitologi agar saat memasuki wilayah Kraken, kita mengetahuinya," jawab sang Kapten terlihat sigap dikemudi.
Rangga dan anak-anak lain yang mengetahui hal tersebut mengangguk paham. Harun segera beranjak untuk menyelesaikan tugasnya yang lain.
"Kapten! Lalu ... bagaimana cara kita melawan Kraken? Apakah ada senjata khusus atau semacamnya?" tanya Nicolas menyahut dengan alat pel dalam genggaman.
Semua anak tampak serius melihat sang kapten dari tempatnya berdiri. "Kulihat beberapa dari kalian memiliki senjata. Gunakan senjata itu. Bagi yang tidak, Viper akan memberikannya," jawab sang Kapten tenang.
"Siapa Viper?" tanya Laika bingung.
"Aku, psttt ...."
"Woah! Ularnya gede banget!" seru Jubaedah terkejut saat melihat kemunculan seekor ular seperti cobra dari belakang sang kkapten.
__ADS_1
"Kau! Jaga emosimu! Jangan sampai kita tenggelam!" seru Kapten menunjuk Jubaedah karena tiba-tiba, ombak besar bergelombang.
"Ma-maaf. Juby kaget," jawab gadis manis itu tampak tegang.
Rex segera mendekat dan menjaga sang kekasih di mana alien seperti ular tersebut tampak berbahaya karena tubuhnya memiliki senjata tajam.
"Kami sudah melawan Kraken ratusan kali untuk sampai ke pulau Pelangi, tapi selalu gagal. Dari beberapa percobaan yang dilakukan, ada beberapa cara dapat kita lakukan mengingat jumlah kita kali ini lebih banyak," ucap alien ular itu yang kini menuruni tangga dengan juluran lidah sambil mendesis.
"Ya ampun. Itu ular ngeri amat. Gak sanggup liat Bara," ucap lelaki asal Indonesia seraya memalingkan wajah.
"Kita akan terbagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok berisi empat orang dengan satu bajak laut sebagai pemimpin," tegas ular tersebut mulai mengarahkan.
Semua orang mendengarkan dengan serius di mana kapal terus berlayar dengan bantuan angin buatan Jubaedah.
"Kalian semua akan kuberikan senjata. Namun, tugas kalian nanti akan berbeda," imbuhnya. Anak-anak mengangguk paham. "Bagi yang sudah memiliki senjata, fokuslah untuk menyerang. Semua hewan penyimpan cadangan jiwa akan dikurung agar nyawa kalian juga terselamatkan jika tewas ketika serangan terjadi."
"Ya ampun. Jangan ingetin soal nyawa cuma sisa 1 doang napa?" keluh Rangga pucat, termasuk Jubaedah, Bara, Gibson, dan Ryan.
"Kita akan saling melindungi. Jangan cemas," ucap Rex mantap, semua anak mengangguk setuju. Para alien diam tak menanggapi hal tersebut.
Alien ular tersebut lalu membagi beberapa tugas kepada anak-anak sesuai kemampuan mereka.
Para alien lainnya juga membagikan senjata seperti tombak trisula, pedang, pisau dan belati. Mereka juga mengajarkan menembak dengan meriam, membakar dengan minyak dan obor, serta menggunakan panah.
Selama berlayar, anak-anak itu seperti melakukan simulasi penyerangan jika Kraken datang menyerang kapal.
Terlihat, anak-anak itu bersungguh-sungguh menggunakan senjata-senjata tersebut agar bisa mengalahkan Kraken yang dikenal buas.
"Kapten, istirahat dulu. Kami lapar. Jika terus latihan, kami akan kelelahan sebelum bertemu Kraken. Usaha kita untuk melawannya akan sia-sia," keluh Vadim dengan keringat sudah bercucuran.
Alien tersebut terlihat kesal, tapi mengangguk. Para alien dengan sigap menjaring ikan di laut sebagai santapan mereka.
Kali ini, gaya memasak dari para anak manusia itu menarik perhatian para bajak tersebut.
Para alien itu diam saja ketika Jubaedah dengan terampil membersihkan isi perut ikan dan memasukkannya dalam ember.
Gibson dengan sigap membawa semua isi perut termasuk kepala ikan yang tak mereka makan ke dapur untuk diolah Viper.
Kenta lalu merubah wujudnya menjadi Phoenix untuk membakar ikan-ikan tersebut. Bagi para alien, cara anak-anak itu cukup cerdik. Mereka juga berbagi dengan lainnya saat makan bersama.
Hingga tiba-tiba, BRUKK!!
"Kenta! Kau tak apa?" tanya Mandarin saat menolong kawannya yang tiba-tiba jatuh saat terbang dan berubah menjadi manusia ketika dalam wujud Phoenix.
"Jangan-jangan ...," ucap Azumi langsung pucat seketika dengan tusukan ikan dalam genggaman.
"Kita memasuki wilayah Kraken!" seru Timo yang membuat semua orang panik seketika, termasuk para alien.
__ADS_1
"Segera bersiap! Pergi ke pos masing-masing!" seru sang Kapten tampak serius kali ini.
Anak-anak segera berhambur menuju ke titik-titik yang telah menjadi penempatan tugas mereka saat melawan Kraken nanti.
Terlihat jelas, wajah para remaja itu tegang termasuk para alien. Semua orang kini telah bersiap di pos masing-masing dengan senjata dalam genggaman.
"Rexy, Juby takut," rengek Jubaedah yang tergabung dalam satu tim dengan sang kekasih.
"Rex akan jagain Juby. Tetap deket Rex ya. Jangan panik. Kraken bisa tahu kalau kita takut dan itu jadi kekuatannya untuk menyerang. Kita harus berani. Anggap aja Kraken itu abang Otong yang nyebelin dan Juby pengen bales dendam sama dia," ucap Rex yang membuat orang-orang dalam satu timnya berkerut kening.
"Masa abang Otong disamain Kraken si gurita? Juby susah bayanginnya," sahut gadis manis itu bingung.
"Anggap aja abang Otong berubah jadi Kraken. Dia ngacak-ngacak acara pesta ulang tahunmu seperti waktu itu sampai bikin kamu malu dengan teman-teman. Sampai sekarang, Juby gak pernah kesampaian balas dendam 'kan? Nah, lampiasin aja ke si Kraken. Potong-potong dan bakar dia buat menu makan malam kita nanti. Rex penasaran makan daging monster gurita. Apalagi yang masakin ayang Juby," ucap Rex yang membuat Jubaedah tersipu malu pada akhirnya.
"Ya ampun, sabar," ucap Bara seraya mengelus dada. Rangga terkekeh meski suara tawanya tertahan.
"Psttt, kalian rasakan itu?" ucap Viper yang menjadi pemimpin tim dari kelompok Jubaedah yang berjaga di lambung kapal.
"Ah, ya. Gelombangnya. Kapalnya bergoyang," ucap Rangga, dan Viper menjawab dengan juluran lidahnya.
"Dia sudah berada di bawah kita. Pssstt ... dia sedang merasakan keberadaan makhluk hidup dalam kapal ini," jawab Viper terlihat siap dengan tangan pisaunya.
Jubaedah tampak gugup hingga tubuhnya gemetaran. Namun, Rex menatapnya tajam seperti mendoktrin sang kekasih.
"Kraken adalah abang Otong. Abang Otong harus dibalas. Jangan takut. Lawan Otong," ucap Rex berbisik.
"Hem. Otong si Sotong. Anggap aja gurita itu kaya sotong si cumi raksasa. Samain aja," sahut Bara berbisik yang ikut menyemangati Jubaedah.
Gadis manis itu memejamkan mata dan menarik napas dalam terlihat siap. Rangga, Bara, Rex, dan Viper tampak siap dengan serangan yang akan terjadi di kapal mereka.
"Hempf, Juby siap," ucap gadis manis itu mantap saat membuka mata.
Ia menggenggam kuat belati di tangan kanan dan obor yang belum menyala di tangan kiri.
"Oh! Lihat, itu tentakelnya!" pekik Rangga dengan suara tertahan seraya menunjuk.
Praktis, mata anak-anak itu melebar saat melihat dari balik jendela lambung kapal. Tentakel-tentakel besar dari sosok Kraken menempel dan terus bergerak seperti siap untuk mengepung kapal.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy trims tipsnya untuk diriku😆Akhirnya khatam Qur'an juga semalam setelah lama tertunda karena banyak kerempongan melanda. Kira2 bisa khatam lagi kapan ya?
Baiklah mari bergegas untuk tamatin Monster Hunter juga karena waktu yang bergerak cepat. Jangan lupa like, rate bintang 5, komen dan juga tips poin serta koinnya ya💋Tengkiyuw lele padamu😍