MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
SATU PER SATU DIPULANGKAN


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Di tempat Vadim berada.


Pemuda itu juga ikut menggunakan empat permintaan yang sama seperti kawan-kawan lainnya untuk menjaga kenangan selama di Planet Mitologi dan mengembalikan ingatan masa lalu ketika mereka masih saling mengenal. Vadim juga meminta Pasha karena kawannya itu telah gugur terlebih dahulu, memanfaatkan sepuluh hadiah yang diberikan oleh sosok rupawan bak malaikat dengan baik.


"Oke, masih ada enam 'kan?" tanyanya tak sabaran. Pria bersayap itu mengangguk. "Aku ingin, sampai tua nanti, aku dan Pasha selalu bersama. Aku sudah menganggap dirinya sebagai saudara. Banyak yang bilang, Maksim dan Yuri bagaikan kakak beradik meski ayah kami tak memiliki hubungan darah. Aku juga ingin demikian dengan kawanku itu. Tolong kabulkan ya, lalu ... buat kami selamat saat bencana datang menimpa Bumi," pintanya.


Sosok dengan cahaya bersinar dari tubuhnya itu menjentikkan jari mengabulkan permintaan Vadim. Senyum remaja gendut itu merekah.


"Ada lagi?"


"Ya. Di masa depan usai bencana berakhir, aku ingin bersama Pasha, bisa berkumpul lagi dengan kawan-kawan yang menjadi satu kelompok Demon Kids. Kami berumur panjang, keluarga selamat, dan hidup sukses. Bisa kaukabulkan?" tanya Vadim penuh harap.


Sosok rupawan itu diam sejenak. "Maksudmu ... keluarga siapa? Keluarga kalian nantinya saat di masa depan? Apakah termasuk Ayah Ibu dan lainnya?" tanyanya memastikan, Vadim mengangguk. "Aku tak bisa menjanjikan hal itu. Aku bukan Tuhan. Aku juga memiliki keterbatasan. Jika hanya pemain Maniac, aku masih bisa, tapi jika mencakup banyak orang, itu sulit dan cukup menyusahkan. Aku saja tak tahu seperti apa bentuk bencana itu," tegasnya. Vadim diam sejenak.


"Kalau begitu ... aku dan Pasha prioritas diselamatkan. Aku yakin, jika kami berdua selamat, kami bisa menjaga keluarga besar dari bencana," ucapnya yakin.


"Hem, baiklah. Jadi, saat dewasa nanti di masa depan, kau dan Pasha kaya raya, berumur panjang, dan bertemu dengan kawan-kawan Demon Kids yang selamat dari bencana?" tanyanya mengulang.


Vadim mengangguk membenarkan. Pria itu menjentikkan jari sebagai pertanda permintaan itu dikabulkan.


"Oh, lalu. Bisakah kau katakan padaku, kelebihan dari kawan-kawan yang belum kuketahui saat menjadi sosok Mitologi? Yang belum diminta oleh yang lain. Aku rasa, beberapa dari mereka menginginkan kemampuan Mitologi untuk dibawa pulang. Aku sempat mendengar beberapa dari mereka membicarakan hal itu saat di gua bersalju. Bisa kau bocorkan rahasia itu? Please," pinta Vadim seraya menelengkupkan dua tangan dengan wajah memelas. Sosok berpakaian putih itu mengangguk pelan dengan senyuman.


"Sosok Tuan Pohon Ryan. Dia bisa berkamuflase. Maksudnya, musuh bisa tak menyadari keberadaannya karena ia berwujud pohon. Sayangnya, Ryan tak menyadari hal itu. Padahal, jika ia melakukannya, saat bahaya datang, kalian bisa selamat dengan bersembunyi dalam sosoknya. Ia ... dianggap seperti pohon biasa oleh musuh di sekitar," ucap pria itu yang membuat Vadim seperti bingung dengan penjelasannya.


"Maksudnya? Bisa kaukatakan dengan bahasa manusia? Aku tak mengerti," pinta Vadim memelas. Pria itu terlihat bersabar dan kembali mengangguk. Padahal, sedari tadi ia bicara dalam bahasa yang sama.


"Anggap saja kau tiba-tiba seperti batu. Keberadaanmu tak bisa dirasakan oleh makhluk lain. Kau ... bagaikan batu. Kokoh, kuat, dan ... tak bernyawa," ucapnya mencoba menggunakan bahasa sederhana. Vadim akhirnya paham dan mengangguk pelan.


"Aku mau itu. Berikan aku kemampuan Ryan yang bisa menjadi ... entah apa itu sebutannya. Pasti itu akan sangat berguna jika bencana datang. Kalau bisa, begitu disuntikkan ke tubuh, orang itu menjadi seperti yang kaukatakan tadi. Dengan begitu, hidup kami pasti akan tenang karena tak perlu khawatir dengan ancaman di sekitar," pinta Vadim menggebu.

__ADS_1


Namun, sosok itu tersenyum tipis. "Semua keinginan yang kalian minta untuk serum itu adalah bentuk mentah. Jadi ... kalian harus mengolahnya sendiri. Aku tak bisa memberikannya secara cuma-cuma karena penerapannya pun pasti akan berbeda tergantung kondisi manusia itu sendiri. Jangan lupa, Vadim. Saat kau dan teman-temanmu, bahkan seluruh anak di dunia yang masuk ke portal menuju Planet Mitologi, tubuh kalian itu hanya replika, alias tidak asli. Jadi, ada beberapa kandungan dalam tubuh kalian yang tak sama dengan manusia asli. Ibaratnya, kalian seperti boneka, tapi memiliki nyawa yang terhubung dengan teknologi canggih. Sehingga, selama menjalankan permainan, hanya tubuh replika yang rusak, sedang yang asli tidak," jawab pria itu panjang lebar, tapi Vadim malah mengedipkan mata.


"Anggap saja aku paham. Berikan saja yang kuminta tadi. Nanti akan kucari orang yang bisa memanfaatkan kemampuan itu," pintanya memaksa.


"Baiklah. Permintaan dikabulkan," jawab pria tampan itu lalu menjentikkan jari.


"Ada lagi?" tanya Vadim yang melihat waktunya masih cukup untuk meminta lebih.


"Ya. Mata dari wujud Merman Timo. Sebenarnya, ia bisa berubah menjadi buas layaknya predator air ketika bahaya mengancam. Ia bisa melihat di dalam air yang gelap dan bicara dalam air. Namun yang kulihat sejauh ini, Timo hanya menggunakan kemampuannya untuk menangkap ikan. Oh, ia juga menyadari jika bisa hidup di air laut dan tawar," jawab sosok itu sambil menggelengkan kepala.


"Jika kami memiliki banyak kemampuan hebat, kenapa tak diberitahu? Sengaja ya?" tanya Vadim kesal.


"Ya, kami memang sengaja. Itulah tujuan kami agar kalian bisa memahami diri sendiri. Kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Meski demikian, aku cukup kagum pada kalian semua. Walaupun tak banyak kemampuan yang kalian gunakan dari sosok Mitologi, tapi kalian berhasil sampai level terakhir. Hal itu tidak mudah. Sekali lagi kukatakan, aku kagum pada kelompok Demon Kids," ucap pria itu yang membuat Vadim bangga akan dirinya.


"Yah, tentu saja. Kami anak-anak hebat," jawabnya senang.


"Jadi ... permintaan terakhir?" tanya sosok itu seraya melirik jam pasir di mana waktu akan segera habis.


"Ah, kau tahu yang kuminta. Apalagi kalau bukan kemampuan Merman dari Timo. Terlebih, matanya dan perubahan predatornya. Sayang sekali, aku tak bisa melihat Timo ketika menggunakan kemampuan itu," ucap Vadim terlihat kecewa.


"Aku senang sekali karena sudah berakhir. Terima kasih, Paman tampan. Dan, bolehkah aku memelukmu sebelum berpisah?" tanya Vadim yang sudah merentangkan tangan.


Sosok itu diam sejenak, tapi mengangguk pelan. Vadim mendekat dan memeluknya. Sosok seperti malaikat itu tampak terharu saat mengelus kepala remaja gemuk itu. Tiba-tiba, sebuah portal menyala. Vadim langsung melepaskan pelukan. Keduanya saling tersenyum dan melambaikan tangan. Vadim melangkah dengan hati gembira saat memasuki portal, tak takut seperti dulu ketika pertama kali datang ke Planet Mitologi.


"Hah ... aku akan melihat rekaman dari misi tiap level anak-anak itu lagi usai tugas ini selesai. Baiklah, tinggal sedikit lagi. Kenapa jumlah mereka banyak sekali? Aku sungguh lelah," keluh sang Jenderal seraya memijat kepalanya yang mendadak terasa berat.


Di tempat Czar berada.


Hal yang sama juga terjadi pada Czar yang meminta Laika agar ingatannya selama di Planet Mitologi tetap dipertahankan dan ingatan lama dipulihkan. Sayangnya, kemampuan Medusa Laika tak bisa diberikan oleh pria tampan itu karena dianggap berbahaya jika diterapkan di Bumi. Kemampuan terbang Czar dan makhluk Mitologi lain juga tak dikabulkan oleh sang Jenderal yang menyamar menjadi malaikat. Pemuda itu terlihat kesal.


"Lalu, apa yang bisa kubawa pulang?" tanyanya seraya bertolak pinggang.

__ADS_1


"Banyak hal yang bisa kauminta. Kenapa harus kemampuan Mitologi?" tanya sosok rupawan yang bisa menjadi banyak layaknya kloning.


"Itu karena bencana yang kaukatakan. Aku jadi kepikiran. Jika saja tak ada, aku sudah meminta hal-hal keren. Namun, semua akan percuma jika nanti aku juga akan tewas karena bencana itu membunuhku," jawab Czar memasang wajah sebal.


"Akan kuberikan bocoran apa saja yang sudah diminta oleh kawan-kawanmu," ucap pria itu dan Czar mengangguk setuju, tapi ia minta agar jam pasir dihentikan sementara waktu saat malaikat itu menjelaskannya. Czar tak mau dirugikan mengingat sebelumya hal itu pernah terjadi pada timnya.


"Wah, aku sungguh tak menyangka jika teman-teman telah meminta banyak hal," ucap Czar kagum.


"Jadi, sudah putuskan permintaan selanjutnya?" tanya sosok itu seraya mengaktifkan lagi jam pasir. Czar diam sejenak.


"Bisa katakan padaku, wujud Mitologi apa yang sekiranya bisa diterapkan untuk para manusia di Bumi? Ya, walaupun aku yakin jika hasilnya tak akan sesempurna dengan di Planet ini. Namun, tak ada salahnya dicoba bukan? Masih ada waktu sampai bencana datang untuk mempersiapkan diri," tanya Czar serius yang matanya berulang kali melirik ke arah jam pasir.


"Sayangnya, diantara kalian tak ada yang menjadi Siren, Drakula atau Vampir. Kemampuan mereka cukup bagus jika bisa diterapkan," jawab sosok tampan itu yang mengejutkan Czar.


"Nyanyiannya? Kemampuan terbang? Atau apa?" tanya Czar seraya mengingat dua sosok itu.


"Mata Drakula sangat membantu ketika berada di tempat gelap tanpa cahaya. Matanya akan menyala merah terang. Selain itu kemampuan mengendusnya hampir sama dengan manusia serigala seperti kawanmu, Tina. Berikut pendengarannya yang sangat sensitif meski dari jarak yang sangat jauh," jawab sosok itu yang membuat Czar teringat akan drakula yang pernah timnya temui dan tewas karena masuk dalam kolam beracun.


"Oke, aku mau itu. Berikan serum, darah, atau apa pun dari kemampuan drakula sebagai hadiahku," pinta Czar bergegas. Pria tampan itu mengangguk lalu menjentikkan jari. "Lalu ... kau tadi mengatakan Siren? Apa yang bisa diterapkan?"


"Suara merdunya. Nyanyiannya bisa menghipnotis siapapun yang mendengar. Seperti ... dininabobokkan. Hanya saja, ilmuwan di Bumi harus benar-benar menemukan manusia yang cocok dengan kualitas suara Siren. Tak sembarang orang yang bisa meski ia seorang penyanyi sekalipun. Eksperimen yang akan mereka lakukan bisa menghabiskan seumur hidup hanya untuk merealisasikan semua hal layaknya para makhluk Mitologi," ucap pria itu yang membuat Czar merenung.


"Tak apa. Aku mau kemampuan itu. Setidaknya, harus dicoba. Jika di Planet Mitologi hal itu bisa dilakukan, mengapa di Bumi tidak? Ya mungkin para manusia Bumi tak sejenius ilmuwan kalian, tapi ... kami bukanlah tipe makhluk yang mudah menyerah," ucapnya mantap.


"Baiklah sesuai permintaanmu," ucap pria itu lalu menjentikkan jari.


"Kabulkan yang terakhir. Aku ... aku sangat menyukai Laika sejak pertama berjumpa dengannya. Aku ingin ia menjadi jodohku. Jadikan ia isteriku saat dewasa nanti. Lalu ... seperti kawan-kawan lainnya, selamatkan aku dan Laika ketika bencana datang. Pertemukan kami lagi ketika bencana sudah berakhir. Ayo, cepatlah, jam pasir akan segera habis," pinta Czar mendesak.


Pria itu menjentikkan jari dengan senyuman. Czar terlihat senang saat permintaannya dikabulkan. Tak lama, sebuah portal menyala. Czar tahu jika waktunya di tempat itu telah habis. Czar mengajak sosok bagaikan malaikat itu untuk bersalaman. Sang Jenderal menyambutnya dan mengantarkan pemuda Rusia itu sampai dirinya tak terlihat usai memasuki portal.


"Hem, anak-anak ini. Aku penasaran, sampai sejauh mana usaha mereka untuk mewujudkan keinginan agar kemampuan para makhluk Mitologi bisa diterapkan pada manusia. Semoga ... waktu kalian cukup sebelum bencana datang. Kalian menggadaikan keinginan di mana kebanyakan anak-anak menyukai hal-hal keren bersifat duniawi, tapi ... kalian malah memilih untuk menukarnya agar bisa menyelamatkan Bumi. Tak kusangka, anak-anak para mafia itu berhati mulia," ucap sang Jenderal yang diakhiri senyuman di wajah.

__ADS_1


***


polosan gak ada sisipan tips koin. ya sudahlah. jangan lupa vote vocer karena udah senin. like, komen, rate bintang 5 bagi yg belum, tips poin jangan lupa. serahkan seluruh harta kalian di hari2 terakhir novel Monster Hunter. Edisi ngrampok LAP. kwkwkw. lele padamu ❤️


__ADS_2