
Lazarus dan Boas berlari kencang menyusuri wilayah yang bagi mereka mirip seperti Bumi meski tetap ada perbedaan yang dirasakan.
Hingga mereka tiba di suatu tempat yang memiliki sebuah bangunan di atas tebing dekat pohon besar.
Seketika, keduanya menghentikan laju lari dan menatap tempat itu dengan kagum karena berbatasan dengan wilayah es.
"Kaulihat seperti yang kulihat?" tanya Boas, dan Lazarus mengangguk cepat. "Haruskah kita ke sana?" tanya Boas lagi menatap kawannya lekat.
Lazarus diam dan pada akhirnya mengangguk.
"Mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk di tempat itu. Terlebih, kita juga tak tahu di mana Rangga kini berada. Kita ambil saja kesempatan yang ada di depan mata," tegasnya.
Boas mengangguk setuju. Dua remaja lelaki itu kembali berlari menaiki bukit di mana terlihat bangunan mirip sebuah istana di atasnya.
Keduanya mulai memperlambat langkah saat mendapati jalan setapak yang menanjak. Namun, bukan jejak sepatu manusia yang mereka temukan, melainkan seperti kaki hewan yang cukup banyak di sekitar jalanan tanah itu.
"Seperti jejak kaki kuda," bisik Boas dan Lazarus mengangguk setuju.
"Waspada, Boas," ucap Lazarus yang kini berjalan mengendap di balik semak, menghindar dari jalanan setapak.
"Oh!" pekik Boas terkejut saat mereka melihat dua makhluk Centaur seperti sedang melakukan pesta pernikahan di tanah hijau berkabut itu.
Dua makhluk itu saling berciuman bahkan mengenakan pakaian layaknya manusia. Tampak beberapa makhluk sejenis memberikan tepuk tangan yang berdiri dengan keempat kaki mengelilingi sekitar wilayah.
"Woah! Ini pertama kalinya aku melihat makhluk mitologi menikah. Kecuali Juby dan Rex. Mereka seperti ... seorang puteri dan seorang kesatria. Lihatlah tubuh kuda hitam itu. Gagah sekali," ungkap Boas memuji.
"Hem. Kuda hitam itu seperti jenis Shire yang berasal dari negaraku, Inggris. Pamanku si Jonathan Benedict memilikinya, termasuk dua isterinya Sierra dan Cassie. Belum anak-anaknya," sahut Lazarus menceritakan tentang keluarga besarnya.
"Wah, pasti kuda-kuda itu sangat mahal," timpal Boas kagum, dan Lazarus mengangguk membenarkan terlihat bangga karena berasal dari keturunan bangsawan, meskipun hal itu masih menjadi tanda tanya.
Saat keduanya terlihat menikmati pemandangan pesta pernikahan unik itu, tiba-tiba ....
"Zar ...," panggil Boas dengan mata terbelalak saat melihat ujung pedang kini berada di samping lehernya.
Ternyata, hal serupa juga terjadi pada pemuda asal Inggris itu. Keduanya spontan mengangkat kedua tangan dan berdiri perlahan dengan wajah pucat pasi.
Mereka berbicara dalam bahasa Inggris berlogat kental. Terjemahan.
"You!" pekik seorang centaur wanita yang membuat Lazarus melirik ke asal suara. "Lelaki bantal," ucapnya lagi seraya mendekat.
Lazarus melebarkan mata dan mulutnya menganga lebar saat mengenali sosok gadis centaur itu.
Makhluk berparas cantik itu ternyata centaur yang pernah bertemu dengannya saat pertama kali menginjakkan kaki di planet Mitologi.
"Kau mengenalnya? Sepertinya ... dia mengenalimu," tanya Boas masih berdiri mematung karena ditodongkan senjata tajam.
Lazarus memejamkan mata sejenak mencoba mengingat nama gadis berkaki kuda itu. "Oh, aku ingat! Kau Atala. Puteri dari kaum Centaur Wilayah Selatan Planet Mitologi!" serunya lantang, dan praktis, para centaur lainnya terkejut.
__ADS_1
"Kau mengenalnya, Adik?" tanya Centaur yang menikah dan memiliki tubuh kuda warna putih.
"Ya. Dia ... manusia yang pernah kukatakan padamu sebelumnya. Dia ... seorang pangeran di Black Castle," jawabnya gugup yang kini sudah berpakaian cantik tak telanjang lagi.
Lazarus tampak gugup saat ditatap tajam semua orang. Sedang Boas, mengerutkan kening ketika nama Black Castle disebut, tapi memilih diam seperti berpikir sesuatu.
"Ke mana bantalku?" tanya Atala berkerut kening.
"Saat itu, aku meminta tolong kepada kawanku bernama Laika untuk membawanya. Dan aku ... tak pernah menanyakan lagi keberadaan bantalmu itu. Maaf," jawab Lazarus tak enak hati. Atala diam saja meski terlihat kesal.
Lazarus kembali cemas saat mempelai wanita dari jenis centaur berjalan mendekat ke arahnya dengan sorot mata tajam. Lazarus menelan ludah dan masih mengangkat tangan ke atas.
"Kau menolak tawaran menikah adikku," tegasnya.
"Ya, itu benar. Aku ... sudah menjelaskan alasannya. Aku ... manusia dan kalian, maaf, centaur. Hal itu tidak mungkin," jawab Lazarus mulai tenang.
"Bukannya kau bisa berubah menjadi centaur?" tanya Boas yang membuat Lazarus melebarkan mata, begitupula dengan para centaur itu.
"Benarkah?!" pekik Atala ikut melebarkan mata seperti terkejut.
Lazarus mengembuskan napas pasrah.
"Ya, itu benar. Hanya saja ... benda yang digunakan untuk mengubahku hilang. Aku mengaitkannya di tubuh naga Rex sebelum akhirnya kami terpisah dan ... tinggal aku dan kawanku Boas yang berada di sini. Sisanya ... kami tak tahu," jawab Lazarus jujur.
"Oh! Kau telah berhasil menyelesaikan misi dan kau mendapatkan wujud centaur, begitu?" tanya Atala memastikan, dan Lazarus mengangguk membenarkan.
Mempelai pria dengan tubuh kuda berwarna hitam itu meminta agar senjata tajam yang terarah ke dua anak manusia diturunkan. Lazarus dan Boas bernapas lega meski masih tegang.
"Aku mengalahkan seekor centaur dari wilayah Utara," jawab Lazarus mantap.
Lazarus terperanjat bahkan matanya sampai melebar saat pundaknya ditepuk kuat oleh centaur jantan itu. "Dia kawan kita!" serunya lantang dengan senyum lebar.
"Yeah!" seru para centaur yang berkumpul di tempat itu.
Boas dan Lazarus saling melirik terlihat bingung, tapi keduanya disambut baik. Dua orang itu bahkan dijamu dan diajak menikmati makanan di pesta pernikahan.
Awalnya, keduanya canggung, tapi lama-kelamaan mereka terlena dan tak takut lagi.
"Ceritakan tentang perjalanan kalian. Aku penasaran," pinta mempelai pria yang terlihat memiliki kuasa diantara para centaur itu saat mereka berkumpul di sebuah meja kayu panjang jamuan.
Lazarus dan Boas yang sudah kenyang di mana keduanya tak menyangka akan mendapatkan keberuntungan semacam ini, dengan antusias bercerita.
Tampak para centaur itu kagum dan terkejut saat dua anak manusia itu menceritakan petualangan mereka ketika harus melewati misi dari tiap level yang diberikan.
"Jadi ... kalian kini dalam misi menyelesaikan level 6?" tanya Centaur selaku kakak Atala.
Lazarus dan Boas mengangguk membenarkan seraya meminum air yang bagi mereka seperti wine di Bumi.
"Misi itu tentang apa?" tanya Atala yang tak ingin jauh-jauh dari Lazarus dengan selalu mengekor pada pemuda tampan itu.
"Itulah yang kami belum tahu. Kami terpisah dari kawan-kawan satu tim, terutama hewan penyimpan cadangan nyawa. Bahkan, beberapa saat yang lalu, hewan milik kawan kami bernama Rangga lenyap. Kami rasa, kawan kami Rangga dalam bahaya dan bisa jadi tewas. Lalu ... hewan penyimpan setengah nyawanya itu memberikan nyawa yang tersimpan ke tubuh kawan kami lagi. Seharusnya, Rangga selamat, tapi ... jika ia tewas, tak mungkin bisa hidup lagi," jawab Lazarus menjelaskan dengan tenang.
__ADS_1
Para centaur diam tampak serius mendengarkan.
"Mungkin ... mereka harus mendatangi Heros, sang penjaga," sahut centaur mempelai wanita.
Lazarus dan Boas yang menyimak memilih diam karena penasaran dengan rencana hewan berkaki empat di depan mereka.
Centaur kuda hitam mengangguk pelan seperti setuju dengan ucapan sang isteri.
"Beristirahatlah malam ini di kastil kami. Perjalanan kalian untuk menemui Heros cukup jauh yang memakan waktu hingga 1 hari dengan berlari. Oh! Aku lupa. Kalian manusia. Yah, mungkin, sekitar 2 hari jika berjalan," ucap sang pemimpin.
Boas dan Lazarus tampak tersindir, tapi mengangguk paham. Senyum Atala merekah. Ia sepertinya senang karena lelaki pujaan akan menginap di rumahnya.
"Wow! Rumah ini megah sekali! Aku belum pernah mendatangi kastil atau istana sebelumnya," ucap Boas terkagum-kagum sampai tubuhnya berputar-putar dengan kepala mendongak ke atas.
"Masih indah kastilku. Akan kuajak kau berkeliling dan menikmati fasilitas layaknya kaum bangsawan saat berkunjung. Jadi, datanglah ke Black Castle," ucap Lazarus menyombong, dan Boas mengangguk siap.
Para centaur mengikuti dua anak manusia yang terlihat memiliki perbedaan dalam latar belakang. Gaya Lazarus seperti kaum bangsawan.
Terlihat jelas dari caranya makan, berjalan, bertutur kata dan bersikap. Para centaur yakin jika ucapan Atala benar adanya jika Lazarus memang seorang pangeran di Bumi.
Boas malah dianggap seperti pelayan Lazarus karena selalu mengikutinya, meski kenyataannya tidak demikian.
Dua orang itu diberikan sebuah kamar yang cukup besar walaupun berkesan kuno. Boas tampak senang bahkan langsung melompat ke atas kasur seperti merindukan kenyamanan sebuah rumah.
Sedang Lazarus, mengaitkan kedua tangannya di belakang pinggang seraya melihat sekitar ruangan sembari berjalan perlahan.
Para centaur mengamati gerak-gerik pemuda asal Inggris itu yang terlihat seperti ingin memastikan sesuatu.
"Terima kasih atas sambutan dan hidangan lezatnya. Kami bisa menjaga diri selama di ruangan ini," ucap Lazarus sopan yang berdiri di kejauhan lalu membungkuk sedikit.
Atala dan lainnya mengangguk pelan seraya membungkuk sedikit membalas salam hormat itu. Atala tersenyum saat menutup pintu kamar yang ditempati dua tamu manusianya.
Lazarus melepaskan semua benda yang membelenggu tubuhnya. Ia mendatangi sebuah ruangan yang diyakini adalah kamar mandi, dan ternyata benar.
"Wah! Aku merindukan kamar mandi. Akhirnya ...," ucapnya senang karena kamar mandi tersebut cukup luas bahkan memiliki kolam kecil dan air hangat.
Lazarus segera memanjakan diri dengan membersihkan tubuhnya, sedang Boas langsung tertidur lelap bahkan mendengkur di atas ranjang.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy makasih tipsnya❤️ Okeh, kita mulai up monster hunter ya. Doain up King D ikut lancar karena baru lele setor per hari ini dan semoga lolos review. Misal belom lolos mungkin besok
karena tergolong novel baru. Lele padamu💋
__ADS_1