MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
KESEPAKATAN DENGAN GOBLIN*


__ADS_3

Keesokan harinya, Harun dan Nicolas yang mendapatkan kabar jika Kenta telah sembuh terlihat senang.


Kenta tampak gembira karena bisa melihat lagi. Tina berpura-pura seolah tak terlibat dalam kesembuhan mata kakak dari Azumi itu.


"Ayo, kita sarapan dulu lalu segera pergi ke sarang naga!" seru Jubaedah gembira.


Anak-anak segera berkumpul mengelilingi api unggun di mana Jubaedah sudah menyiapkan sarapan dari ikan-ikan tangkapan Timo. Terlihat, anak-anak menikmati menu ikan bakar tersebut.



"Ikannya serem banget. Ini ikan apa?" tanya Gibson mengamati ikan bakar yang akan disantapnya itu.


"Kurcaci udah pastiin kalau ikan itu aman kita santap. Katanya, apa yang dimakan sama Hihi dan Kurcaci, bisa kita makan, begitu," jawab Jubaedah seraya meniup-niup ikan bakar yang masih mengeluarkan asap dalam tusukan di genggaman tangan kanannya.


Gibson mengangguk paham. Ia tak mempermasalahkan hal itu lagi. Anak-anak terlihat bersemangat mengisi perut mereka yang keroncongan.


Namun, wajah Nicolas dan Harun tampak kesal karena kehadiran Oscar dalam kelompok mereka. Selain itu, Oscar terlihat seperti orang kelaparan dan rakus saat menikmati ikan bakar dalam dua genggaman tangannya.


"Kesel banget Nico liat bocah itu. Liat aja, sampai bikin gara-gara, Nico gak segan tonjok dia," ucap Nicolas menyipitkan mata menatap Oscar tajam di kejauhan.


"Idem. Harun juga. Kita kudu waspada, Bro. Harun masih inget sama anak yang badannya gede bisa berubah jadi Troll. Liat aja si Oscar gendut itu. Dia aja bisa selamat meski terluka. Gak mungkin si Troll mati," sahutnya berbisik.


Nicolas mengangguk setuju dan ternyata, Kenta juga mendengarnya. Pria asal Jepang itu ikut mencurigai Oscar yang terlihat begitu bernapsu menghabiskan dua ikan bakar dengan lahap.


Akhirnya, acara makan bersama itu usai. Gibson kembali mengumpulkan kawan-kawannya yang kini dibagi menjadi tiga kelompok. Terlihat, anak-anak itu siap untuk menjalankan misi.


"Karena anggota kita sekarang bertambah, jadi kelompok akan Gibson bagi tiga. Kelompok Yeti, Ogre, dan Merman," tegasnya dan anak-anak mengangguk setuju.


"Kelompok Yeti beranggotakan Harun, Nicolas, Kenta, Azumi, Kurcaci Topi Biru, dan Hihi ." Orang-orang yang disebutkan mengangguk.


"Lalu, kelompok Ogre beranggotakan Mandarin, Vadim, Pasha, Rex, Jubaedah, Kurcaci Ungu dan Kuning." Nama-nama yang disebutkan menunjukkan jempol pertanda siap.


"Terakhir, kelompok Merman. Ada Timo, Tina, Ryan, Oscar, dan aku. Lalu ditambah dua kurcaci topi jingga dan merah," ucapnya seraya menunjuk orang-orang yang bersangkutan.


"Siap, Bos!" jawab Timo dengan hormat dan semua anak terkekeh.


"Oke. Timku akan jalan duluan. Ingat, masing-masing dari kelompok kita membawa telur naga. Kita juga memiliki navigator hebat yakni para kurcaci untuk membantu kita. Jadi, tetaplah bersama jangan sampai terpisah," ucap Gibson menegaskan.


"Eh, Gib. Bagaimana jika ... anggap saja kita terpisah karena suatu hal. Bisakah, kita memberikan kode atau jejak?" tanya Mandarin, dan Gibson terlihat setuju akan usulan itu.


"Oh! Pakai ini aja. Aku rasa jumlahnya cukup," sahut Rex tiba-tiba seraya membuka kopernya.


Semua anak menatap isi koper Rex saksama. Terlihat, Oscar terkejut karena Rex memiliki perlengkapan keren yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Apa ini?" tanya Ryan saat menerima sebuah alat berbentuk silinder yang diberikan oleh Rex.


"Itu adalah senter dengan sinar laser. Coba kalian tekan tombol itu. Cahayanya bisa sampai setinggi pesawat terbang, apalagi ketika malam hari. Sinarnya akan terlihat sangat jelas," jawabnya semangat.

__ADS_1


"Woah! Benarkah?" sahut Vadim terlihat penasaran. Seketika, KLIK!


"Oh! Sinarku berwarna merah!" seru Pasha saat ia menyalakan senter lasernya.


Anak-anak lainnya ikut mencoba. Sayangnya, jumlah senter yang terbatas, tak bisa dimiliki oleh semua anak.


Hanya anak-anak yang belum mendapatkan wujud makhluk Mitologi yang diberikan oleh Rex. Timo dan lainnya memaklumi hal tersebut.


"Di hemat ya," ucap Rex seraya menutup koper.


"Kau tak memberikanku senter?" celetuk Oscar merasa seperti disisihkan.


"Oscar, tapi kau—"


"Sstt, diam saja," potong Oscar ke arah Tina.


Serigala putih itu langsung diam dengan wajah tertunduk. Timo yang mendengar percakapan itu, menyipitkan mata mencurigai Oscar.


"Kau tak lihat jika jumlah senter terbatas? Oleh karena itu, jika ingin bergabung dengan kelompok kami, pastikan kau tak terpisah. Tetaplah berada di sekitar kami," tegas Rex serius.


Oscar menghembuskan napas kesal. Ternyata, banyak anak-anak yang masih tak menyukai Oscar setelah mendengar kisah lebih detail dari Harun, Kenta dan Nicolas saat mereka mengumpulkan kayu di pagi hari untuk membakar ikan.


"Kita berangkat. Kita harus menyelesaikan misi sebelum gelap," tegas Gibson selaku pemimpin tim.


"Yeah!" seru anak-anak semangat lalu berjalan berurutan sesuai kelompok membentuk barisan panjang seperti ular.


Di tempat Bobby berada.



Bobby tampak ketakutan dengan kedua tangan dan kaki terikat. Ia terkurung di gua bercahaya redup dari beberapa kristal yang memancar di dinding gua.


Tiba-tiba, salah seorang Goblin memberikan dia air minum dari sebuah tempurung kayu. Bobby menggeleng menolak, tapi para Goblin terlihat marah dan berteriak.


Bobby ketakutan dan terpaksa meminum air itu yang ternyata memiliki rasa seperti melon.


"Emph, airnya enak. Boleh minta lagi?" pintanya.


"Harg!" erang salah satu Goblin terlihat marah dengan melakukan gerakan intimidasi seperti akan memukulnya.


Bobby langsung memejamkan mata dengan jantung berdebar. Ia terlihat panik karena takut hal buruk terjadi padanya.


"Apa kaumengerti yang kami ucapkan sekarang?" tanya salah seorang Goblin dengan suara serak.


Praktis, mata Bobby melotot.


"Ya, aku mengerti. Wow, bagaimana bisa?" tanyanya heran.

__ADS_1


Para Goblin terkekeh seperti merasa geli dengan pertanyaan konyol itu. Bobby terdiam enggan bertanya lagi.


"Apa misi yang kaudapatkan?" tanya seorang Goblin menatapnya saksama.


"Aku sudah mendapatkan misiku. Namun, dua kawanku yang lain belum."


Tiba-tiba, terdengar suara seperti orang mengerang dengan suara tertahan. Bobby terlihat takut ketika melihat bayangan dari dalam gua seperti ada yang bergerak menuju ke arahnya.


Para Goblin terkekeh saat melihat dua anak manusia terikat kedua tangan dengan mulut disumpal.


"Scott! Owen!" panggil Bobby saat mendapati kawan mereka tertangkap dan kini digiring menuju ke arahnya.


Dua remaja pria itu terkejut ketika mendapati Bobby muncul di hadapan mereka. Bobby terlihat senang, termasuk dua kawannya.


"Hah! Hah!" engah dua remaja itu saat sumpalan di mulut mereka dilepaskan oleh salah seorang Goblin.


Scott dan Owen duduk di samping kanan kiri Bobby menyender dinding gua.


"Dua anak ini kawanmu?" tanya seorang Goblin berwarna hijau. Bobby mengangguk. "Apa misi dua kawanmu ini?" tanya Goblin itu lagi.


"Mengumpulkan 10 telur naga dan mengambil kuku dari cakar Griffin," jawab Bobby gugup.


Para Goblin terkekeh. Bobby, Scott dan Owen terlihat takut karena para Goblin tampak menyeramkan.


"Akan kami bantu, tapi ada syaratnya," ucapnya dengan seringai.


"Apa itu?" tanya Bobby penasaran.


"Setelah kau mengumpulkan 10 telur naga dan mendapatkan hadiahnya, kau harus memberikan satu buah telur naga masing-masing untuk kami sebagai imbalan."


"Hanya itu?" tanya Scott heran.


"Ya, hanya itu. Untuk misi telur naga," jawabnya tersenyum lebar menunjukkan gigi bertaringnya. Scott menelan ludah.


"Lalu ... bagaimana dengan misi Griffin?" tanya Owen penasaran.


"Kami juga akan bantu, tapi setelah misi telur naga dirampungkan."


Bobby melirik dua kawan prianya. Owen dan Scott mengangguk setuju. Bobby akhirnya sepakat dengan perjanjian itu yang baginya menguntungkan.


Tanpa mereka sadari, para Goblin memiliki maksud terselubung dengan telur-telur naga tersebut.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy makasih tipsnya. Lele padamu. Mandi dulu ah mumpung hujan dan mumpung inget. Kwkwkw. Yg mau novel ini di crazy up ditunggu vote koin berlimpahnya ya.


__ADS_2