
Tentu saja, kemunculan makhluk dalam wujud manusia, tapi konon seperti penyihir yang pernah dikisahkan dalam dongeng cerita anak, membuat para remaja itu panik.
Bara dan Kenta tak bisa keluar dari wilayah yang menyekap mereka. Ditambah, ada sebuah dinding tak terlihat yang membuat anak-anak di luar wilayah itu tidak bisa menolong.
Azumi menangis karena tak bisa menolong kakaknya yang kebingungan. Di saat kepanikan melanda karena penyihir hitam itu semakin terbang mendekat, tiba-tiba terdengar suara di kejauhan.
"Tutup mata kalian semua!" teriak Czar lantang yang terbang dengan cepat bersama Laika terlihat serius duduk di punggung Griffin.
Anak-anak bingung. Namun, akhirnya mereka paham alasan itu ketika mendengar Laika berteriak lantang.
"Medusa!"
"Aaaa! Tutup mata kalian!" teriak Jubaedah memperingatkan dan langsung memalingkan wajah menutup matanya rapat.
Dengan sigap, semua anak langsung memejamkan matanya termasuk Kenta dan Bara yang tengkurap di atas tanah.
Penyihir hitam itu melihat sosok Mitologi yang terbang ke wilayahnya. Mata elang Czar tetap terfokus ke depan tak melirik ke belakang di mana Laika berada.
Pemuda itu terkejut saat melihat sosok penyihir di hadapannya yang tampak menyeramkan sedang mengarahkan tangannya ke tubuh Griffin.
Seketika, WUSS!
"ARGGHH!"
BRUKK!!
Baik Laika atau Czar, keduanya jatuh dengan keras ke tanah tak bertuan itu. Siapa sangka, tubuh Mitologi keduanya berhasil masuk dan menembus dinding tak terlihat tersebut tanpa mereka sadari.
Namun, Czar kembali ke tubuh manusianya, tapi Laika yang tak terkena angin aneh yang dikeluarkan dari telapak tangan penyihir itu, tetap bertahan dengan tubuh Medusa.
"Hashhh!" erang Laika langsung sigap berdiri dengan wajah bengis dan suara mendesis dari rambut ularnya yang terlihat marah.
Tiba-tiba saja, makhluk seperti penyihir itu terkejut. Matanya membulat penuh saat ia melihat mata dari Medusa berikut ular-ularnya memancarkan sinar warna hijau yang menyilaukan mata.
Seketika, "A-ar-aggg!" erang penyihir itu saat wajahnya perlahan mengeras layaknya batu dan terus menjalar ke tubuh lainnya.
Bruce yang mendengar teriakan itu memberanikan diri membuka matanya sedikit untuk mengintip.
Beruntung, Laika dengan sosok Medusa-nya yang memunggungi Bruce tak melihatnya. Bruce terperanjat saat melihat kemampuan sebenarnya dari sosok Medusa. Hingga, Bruce menyadari sesuatu.
"Sentuh tubuhnya sebelum menjadi batu sepenuhnya! Sentuh tubuh penyihir itu Laika! Misi level 3 meminta 5 anak menyentuh tubuhnya! Kalian bisa melakukannya!" seru Bruce lantang, tapi hal itu membuat kepala Laika menoleh ke arah Bruce.
Pemuda itu terkejut, dan matanya tak sengaja beradu pandang dengan Laika. Benar saja, "Argh!"
"No! Bruce!" teriak Laika merasa bersalah saat kawannya ikut menjadi batu secara perlahan.
Anak-anak lain tak berani membuka mata. Mereka tak tahu apa yang terjadi meski sangat penasaran.
Bruce yang masih bisa menggerakkan kedua tangannya memberikan tanda angka 5 dengan jari kanannya lalu tangan kiri menunjuk ke arah penyihir itu.
Laika memejamkan matanya rapat. Ia berusaha agar tak menangis. Ia melihat sebuah tabung di depan kawan-kawannya dan ia sepertinya memahami teknis misi tersebut.
"Bara! Kenta! Tetap pejamkan mata kalian! Percaya padaku. Ayo!" seru Laika memegang pergelangan tangan dua kawannya.
Bara dan Kenta terkejut saat diminta berdiri lalu ditarik paksa untuk berjalan ke sebuah tempat. Keduanya terperanjat saat merasakan menyentuh sesuatu yang terasa seperti tubuh seseorang, tapi terasa dingin.
Dua remaja itu terlihat gugup masih memejamkan mata tak berani mengintip. Hingga Bara menyadari jika ia mendengar suara engahan dan benda seperti diseret dengan susah payah.
BRUK!
"Hah, tinggal Boas. Hah, hah, sedikit lagi," ucap Laika yang suaranya terdengar di telinga Bara dan Kenta, tapi keduanya tak bisa melakukan apa pun selain berdiri dengan tangan kanan menyentuh sesuatu.
"Manusia!" teriak Laika lantang yang pada akhirnya membuat Bara dan Kenta membuka mata.
Keduanya terkejut saat melihat sosok penyihir di depan mata sedang dipegang oleh tangan mereka.
__ADS_1
Boas yang pingsan, digeletakkan di samping mereka, tapi tangan kanannya dipegangi oleh Laika dengan tangan kiri. Sedang tangan kanan gadis itu memegang tubuh penyihir tersebut.
Czar terlihat kesakitan karena tangan kirinya terjuntai, tapi ia sadar meski berlutut saat memegang tubuh penyihir itu dengan tangan kanan.
"Tak terjadi apa pun! Apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan misi ini? Bruce bilang ... Bruce ...," ucap Laika kembali menangis dan roboh saat teringat kawannya menjadi batu karena sosok Medusa-nya.
"Hei!" teriak Gibson di kejauhan yang membuat lima anak di dalam wilayah penyihir itu menoleh seketika. "Masukkan dalam tabung!" teriak Gibson lantang seraya menunjuk benda tersebut.
Kenta dan Bara bingung karena Gibson serta lainnya masih tak bisa masuk ke dalam. Namun, kenapa Laika dan Czar bisa?
"Cepat! Bawa makhluk ini ke dalam tabung sebelum menjadi patung seutuhnya!" seru Czar dengan napas terengah memegangi tangan kirinya yang sepertinya sakit.
"Ayo, Bara!" ajak Kenta. Bara dengan sigap memegang bagian tubuh penyihir yang telah menjadi batu.
Laika ikut membantu dengan memegang bagian bawah tubuh penyihir itu yang ternyata tak memiliki kaki. Tentu saja, wujud itu semakin membuatnya ngeri.
Bara, Kenta dan Laika berlari dengan tergesa seraya membopong tubuh itu ke arah tabung. Sayangnya, ukuran tabung yang tinggi, membuat tiga anak itu kesulitan untuk memasukkannya.
"Lemparin aja!" seru Mandarin menyarankan.
"Nanti pecah dan malah gagal bagaimana?" sahut Azumi yang sudah tak menangis lagi.
Semua anak yang berkumpul dan melihat di tepian wilayah itu terlihat berpikir keras mencari solusi.
"Oh! Aku masih bisa berubah menjadi Phoenix! Aku belum terkena mantra anehnya. Semuanya minggir!" seru Kenta yang teringat jika ia bisa terbang untuk mengangkat tubuh penyihir itu.
Dengan sigap, Kenta merubah dirinya menjadi Phoenix. Laika dan lainnya menyingkir karena takut terkena kobaran api panas yang memancar dari tubuh burung besar itu.
Kenta menggunakan cakar di kedua kaki untuk mencengkeram tubuh penyihir yang sudah menjadi patung meski belum sepenuhnya.
Kenta terbang dan memasukkan tubuh itu perlahan ke dalam tabung di mana bagian atasnya telah terbuka seperti misi sebelumnya. Seketika ....
"Selamat! Kalian berlima berhasil menyelesaikan misi level 3," ucap Kenta membaca tulisan dalam dinding tabung.
"Kenta! Rubah dirimu kembali! Kami tak bisa membuka mata! Apimu bisa membakar mata kami!" teriak Rex, dan pemuda itu baru menyadari risiko dari wujudnya.
"Kenta, Bara, Boas, Czar dan Laika, mendapatkan hadiah misi. Silakan ambil dibagian bawah tabung," ucap Bara membaca tulisan yang kembali muncul dalam dinding tabung.
"Hei!" panggil Czar yang masih berada di tempat mereka menyentuh penyihir tadi, di mana Boas mulai sadarkan diri.
Dengan cepat, Laika segera berlari mendatangi kawannya untuk membantu. Boas terlihat baik-baik saja meski seperti orang pusing karena memegangi kepalanya.
Laika membantu Czar berjalan yang merasakan tangannya seperti patah karena jatuh dari ketinggian.
Kaki kirinya mengalami keseleo sehingga tak bisa berjalan. Boas membantu Czar berjalan meski tertatih.
"Apa yang terjadi?" tanya Boas bingung saat melihat sebuah patung dalam tabung dan kawan-kawannya berkumpul di luar.
"Kujelaskan nanti. Semuanya ... rumit dan kacau," jawab Laika dengan napas tersengal karena melakukan banyak hal.
Boas mengangguk dan terus berjalan bersama dua kawannya. Setibanya di depan tabung, terlihat anak-anak bertepuk tangan karena kawan mereka berhasil menyelesaikan misi.
Kenta, Bara, Czar, Laika, dan Boas mendapatkan sebuah botol yang sama seperti hadiah misi sebelumnya.
Sayangnya, Laika, Boas, Bara, dan Czar yang telah mendapatkan keinginan mereka, melihat kawan-kawan di luar dinding seperti mengharapkan bisa mendapatkan hadiah itu.
"Adakah yang tahu, siapa nama orang tua Bruce?" tanya Laika, tapi semua anak menggeleng.
Laika tampak sedih, tapi Rex tiba-tiba mendekat meski masih terhalang dinding tak terlihat.
"Dengan bantuan ayahku, pasti dia bisa menemukan orang tua Bruce. Dia sangat ahli menemukan orang hilang," ucap Rex dengan mata membulat penuh.
"Ah, itu benar! Ayah Rex dan ibunya, sangat hebat dalam mencari orang bahkan dicelah Bumi terpencil. Jika kau berkenan, biarkan ayah Rex dibangunkan untuk menolong," sahut Jubaedah terlihat serius.
"Oke. Siapa nama ayahmu?" tanya Laika bersiap untuk menulis.
"Eiji. Terima kasih, Laika. Aku berhutang banyak padamu," ucap Rex tersenyum tipis dan Laika mengangguk pelan saat menuliskan nama itu pada botol tersebut lalu memasukkannya.
__ADS_1
Seketika, muncul wajah ayah Rex dalam dinding tabung. Semua anak terkejut karena hal itu tak terjadi sebelumnya saat misi sebelumnya.
Mata Rex bergerak tak beraturan saat ia melihat ayahnya yang terbaring di atas lantai di sebuah ruangan dipenuhi oleh komputer, tiba-tiba saja bangun dan terlihat bingung.
Rex membungkam mulutnya rapat ketika melihat dinding tabung itu seperti sebuah layar televisi.
Dugaan semua anak benar, jika para orang dewasa tak menyadari jika mereka terkena dampak dari permainan Maniac tersebut.
Mata Rex hampir tak berkedip saat melihat ayahnya berlari dengan tergesa menyusuri seluruh ruangan seperti berusaha membangunkan orang-orang yang tiba-tiba saja tak sadarkan diri.
"Siapa yang belum mendapatkan hadiah ini sebelumnya?" tanya Czar yang memberikan hadiah itu untuk kawan lainnya.
"Bagaimana jika ayah kami?" sahut Timo dan diangguki Tina dengan cepat.
"Ayah kami seorang ilmuwan. Dia pasti bisa membantu untuk mencari obat atau solusi untuk membangunkan manusia lainnya," sahut Tina.
"Oke. Siapa nama ayahmu?" tanya Czar yang memberikan botolnya pada Laika untuk membantu menulis.
"Jeremy," ucap Timo dan Tina bersamaan.
Laika dengan sigap menulis lalu menunjukkan tulisan itu pada dua kawannya. Tina dan Timo mengangguk membenarkan.
Laika memasukkan botol itu ke dalam. Seketika, muncul sosok ayah dari Tina dan Timo dalam layar tabung menggantikan tayangan ayah Rex sebelumnya.
Tina dan Timo terlihat senang karena ayah mereka baik-baik saja, meski terlihat bingung.
"Juby. Ayahmu siapa?" tanya Bara yang memberikan hadiah itu untuk kawannya.
"Eko!" jawabnya riang. Kening Bara berkerut. "Eko? Namanya familiar banget. Bara sering denger nama itu disebut sama bapak," ucap Bara seraya menulis nama ayah Jubaedah.
"Oh ya?" tanya Jubaedah heran.
"Hem. Ayahmu ... apakah kepalanya gundul?" tanyanya memastikan, praktis mata Jubaedah dan Rex melebar.
"Kok tahu?" tanya Jubaedah langsung melotot.
"Oh, benarkah? Coba aku pastikan," sahut Bara yang dengan sigap memasukkan botol itu ke dalam tabung.
Timo dan Tina terkejut saat layar pada tabung menunjukkan sosok pria yang tengkurap di atas dudukkan motor Vespa seperti sedang memperbaikinya. Visual Jeremy telah digantikan oleh ayah Jubaedah.
"Bapak!" teriak Jubaedah riang saat melihat sosok ayahnya.
"Itu ... ayahmu?" tanya Lazarus mengedipkan mata entah apa yang ia pikirkan. Jubaedah mengangguk cepat.
"Om Eko ngapain sih?" tanya Rex bingung.
"Entah, sebelum pingsan lagi benerin motor kali," tanya Jubaedah ikut heran melihat sikap ayahnya yang masih memegang obeng saat tak sadarkan diri.
Terlebih, saat pria bernama Eko tersebut bangun. Ia malah berjalan dengan santai seraya menguap sembari merenggangkan tubuhnya.
Berbeda dengan Eiji dan Jeremy yang dengan sigap mencari tahu keanehan yang terjadi. Sedang pria bernama Eko, malah kembali tidur.
Lelaki gundul itu berjalan mendekati sofa panjang dan merebahkan tubuhnya di sana lalu mendengkur.
"Ya ampun," ucap Jubaedah seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Eko seperti tak menyadari jika terjadi hal aneh di sekitarnya.
"Gimana, Bara? Kamu kenal?" tanya Rex ikut malu melihat sikap calon mertuanya.
"Gak tau. Mendadak lupa. Kayaknya bukan deh, fotonya beda," sahut Bara, meski terlihat ragu menjawab.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Huhu, ketiduranš© Pas bangun udah reset timeš Btw upnya monster hunter gak tentu ya karena lele mau nguber Red Lips dan 4YM2 mengingat kondisi saat hamil jebule mood2an. Gaswat. Jangan lupa vote vocernya keburu angusā¤ļø