
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Luka-luka Azumi perlahan pulih usai ia meminum ramuan ajaib. Rex berinisiatif untuk berubah menjadi naga agar bisa segera menyusul Lembuswana.
Gibson dan lainnya setuju. Sebagian dari mereka memilih menjadi wujud mitologi sendiri yang memiliki kemampuan terbang.
Saat semua anak bersiap pergi, tiba-tiba saja Satyr yang mereka abaikan menghentikan aksi para remaja itu.
"Apa lagi?" tanya Kenta ketus, tapi Satyr tersebut seperti masa bodoh dan tak tahu malu.
"Aku sedang baik hati. Lembuswana mengamuk karena mahkotanya hilang. Hal ini sering terjadi. Entah makhluk itu bodoh atau pikun, tapi ini tak terjadi satu atau dua kali. Wujudnya juga tak sebesar itu saat mahkota miliknya terpasang. Jadi ... kalian tahu 'kan, alasan kenapa dia bisa menjadi besar seperti itu?" tanya Satyr tersebut seraya mengorek salah satu kuping dengan jari tengahnya.
Gibson menyipitkan mata, tapi ia seperti paham akan petunjuk Satyr tersebut.
"Kau tak terlalu buruk untuk laki-laki yang banyak tingkah, Tuan Satyr. Sampai jumpa," ucap Gibson lalu menepuk punggung naga Rex sebagai tanda jika mereka siap berangkat.
Rex dan kawan-kawannya segera mengepakkan sayap untuk mengejar Lembuswana yang masih mengamuk. Azumi tersenyum tipis sebelum ia berubah menjadi Unicorn.
"Semoga kau mimpi indah, Tuan Satyr," ucap Azumi lalu melangkahkan kaki menapaki udara seperti berlari di atasnya.
Satyr tersebut balas tersenyum saat Azumi tak melihatnya, tapi perlahan ia kembali masuk ke dalam gua yang gelap seraya memegang erat topi mimpi pemberian gadis cantik itu.
"Kalian dengar yang Satyr tadi katakan?" tanya Gibson seraya menoleh ke belakang tempat kawan-kawannya duduk di punggung naga Rex.
"Ya! Jika ucapan pria kambing itu benar, kita harus menemukan mahkotanya. Tubuhnya besar karena ia kehilangan benda berharganya," sahut Lazarus, dan Gibson mengangguk membenarkan.
"Oh begitu rupanya. Untung kalian pintar karena aku tak pandai bermain teka-teki. Hahaha," sahut Bara dalam wujud Ksatria Garuda.
"Vadim! Apakah kompasmu bisa membawa kita ke tempat mahkota itu berada?" tanya Timo.
"Kau lupa? Benda itu tak berfungsi di sini. Oag sengaja mempersulit kita," jawabnya sebal dan terus terbang dengan sosok Pegasus.
"Jadi bagaimana? Apakah kita akan berpencar lagi? Ini berbahaya," tanya Mandarin cemas.
"Jangan. Tetap bersama. Kita akan coba mencari di sekitar tempat ini. Aku yakin kita akan menemukannya," jawab Gibson mantap.
"Hei! Makhluk itu kini masuk ke air!" seru Rangga menunjuk.
"Oh, aku baru ingat. Lembuswana konon katanya menjaga sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Kutai. Mungkin benda itu ada di air," ucap Bara seraya menepuk dua tangannya.
"Begitukah? Lembuswana mitologi dari negaramu?" tanya Nicolas penasaran, dan Bara mengangguk mantap.
"Baiklah kalau begitu. Jika masalahnya di air, biar aku saja," sahut Timo yakin.
"Yeah! Kau memang hebat, Timo! Ayo, kita mendarat!" ajak Boas.
"Ayo!" jawa semua anak serempak.
Akhirnya, kelompok itu mendarat tak jauh dari tempat Lembuswana menenggelamkan dirinya dalam aliran sungai, tapi sosoknya masih terlihat karena tubuhnya yang besar.
Timo bersiap untuk masuk ke air bersama Gibson. Sedang Azumi, siap menggunakan kemampuan cermin ajaibnya dan anak-anak lain sudah mempersiapkan bahan untuk barter dengan cermin yang bagi mereka matre itu.
__ADS_1
"Cari tahu tentang jenis makhluk mitologi lainnya, Azumi. Aku percayakan hal ini padamu," ucap Gibson yang siap berenang bersama Timo.
"Hem!" jawab Azumi dengan anggukan.
Czar dan Vadim berjaga di tepi sungai untuk mengawasi sekitar jikalau ada makhluk mitologi lain yang dirasa menjadi ancaman selama mereka mencoba menyelesaikan misi.
Semua anak bersiap dengan benda yang mereka miliki dari dalam tas karena pertanyaan mereka cukup banyak.
Azumi mulai memanggil sosok dari cermin itu yang tak lain adalah pantulan dari wajahnya sendiri.
"Cermin ajaib. Katakan padaku sosok makhluk mitologi jenis Harpy yang harus kami tangkap untuk menyelesaikan misi level 7," pinta Azumi serius.
"Apa yang kautawarkan sebagai imbalanku? Permintaanmu sulit," tanya cermin itu seraya menaikkan salah satu alisnya.
"Wah, dia sama menyebalkannya dengan Satyr itu," keluh Bara sebal.
Azumi melotot pada Bara, tapi pada akhirnya remaja lelaki itu memberikan sebuah benda pada Azumi untuk ditukarkan.
"Lihatlah. Ini adalah lentera kuno yang kami dapatkan dari sebuah kastil peninggalan para dewa. Ini milik mereka. Ini barang langka," ucap Azumi meyakinkan meski jantungnya berdebar.
Sosok di cermin itu mengangguk. Azumi memasukkan lentera itu ke dalam cermin tersebut yang perlahan tenggelam seperti dimakan olehnya.
Tiba-tiba saja, muncul sosok makhluk mitologi dari cermin tersebut. Mata semua anak melebar saat melihat wujud makhluk mitologi yang bernama Harpy karena bagi para remaja lelaki, sosok tersebut cukup cantik.
"Woah! Makhluk itu tampak mengagumkan. Kenapa tak ada diantara teman-teman perempuan kita yang berwujud seperti itu ya?" tanya Rangga heran.
"Kau lagi! Kau menguntit kami?!" seru Kenta kesal karena Satyr tersebut ternyata mengikuti mereka.
Namun, makhluk itu tampak cuek dengan dua tangan menyilang depan dada.
"Kenapa repot-repot bertanya pada cermin jelek itu? Aku tahu lebih banyak darinya," ucap Satyr tersebut seraya mendekat tak terlihat takut pada anak-anak yang menatapnya tajam.
"Kau tak ada kerjaan ya? Baiklah jika kau tahu banyak. Jawab pertanyaanku dan kali ini, tak ada imbalan. Jika kau memintanya, lebih baik kami bertanya pada cermin ajaib yang jelas-jelas akurat informasinya," sahut Nicolas sebal.
"Oke," jawab Satyr tersebut seraya duduk di atas batang pohon yang tumbang dengan kaki menyilang. Anak-anak tampak kesal pada sikapnya.
"Kenapa kau bisa di penjara? Dan kenapa kau tak dirantai? Awas saja bohong," tanya Nicolas ketus.
"Mudah saja. Aku memperkosa banyak wanita dari kaum manusia dan beberapa dari mereka tewas karena tak sanggup mengimbangi kehebatanku. Salah sendiri mereka lemah. Aku dianggap binatang tak beradap padahal aku setengah manusia. Oleh karena itu, aku dihukum di tempat ini tanpa rantai membelenggu tubuh sampai sisa hidupku," jawabnya santai, tapi Kenta dengan sigap mengamankan adik perempuannya di belakang tubuh.
"Awas saja jika kau berani macam-macam dengan adikku. Aku tak sungkan membakarmu dengan sosok Phoenix-ku," ancam Kenta menunjuk.
"Ya, kuakui adikmu manis. Apakah dia sudah punya pacar?"
"Kau memuakkan!" teriak Kenta marah dan bersiap untuk menyabetkan pedangnya.
"Hahahaha! Oh, kakak yang posesif," tawa Satyr tersebut seraya bertepuk tangan.
"Dia ini gila atau bagaimana sih?" tanya Bara terheran-heran.
__ADS_1
Azumi berusaha menahan amukan sang kakak yang terlihat kesal setengah mati dengan manusia setengah kambing itu.
Satyr itu lalu mengeluarkan buah anggur dari kantong panjang yang diikat dengan tali dan dijadikan seperti tas. Ternyata, tas itu dikenali anak-anak tersebut.
"Kenapa tasnya mirip dengan topi mimpi milik Azumi ya?" tanya Mandarin heran.
"Itu karena dia menyukaiku. Jadi ... Azumi memberikanku hadiah. Benarkan, Azumi sayang?" tanya Satyr tersebut seraya mengedipkan mata pada adik Kenta.
Azumi kebingungan saat dirinya ditatap oleh kawan-kawannya.
"Kau saja yang terlalu percaya diri! Adikku memang baik hati kepada semua orang. Kau sungguh menyebalkan! Pergi sana!" seru Kenta marah besar dan sudah tak bisa membendung lagi kekesalannya, tapi Satyr tersebut malah semakin bahagia karena remaja asal Jepang itu mengamuk.
"Sudahlah, Kenta. Dia itu sengaja melakukannya. Sifatnya memang begitu. Bersabarlah, jangan ladeni," ucap Ryan mencoba menenangkan kawannya.
Kenta yang kesal mengajak Azumi ke tepi sungai untuk berkumpul bersama Czar dan Vadim. Mereka menjauh dari Satyr tersebut.
Manusia kambing itu menikmati buah anggur dari dalam tas yang dibawanya dengan cuek. Mandarin dan lainnya saling melirik seperti merencanakan sesuatu.
"Apakah kau tahu kisah Satyr di Bumi tempat kami tinggal?" tanya Nicolas seraya berjalan mendekati sebuah batang pohon lalu duduk di seberang makhluk tersebut.
"Ya, tentu saja kami tahu. Kami dikenal sebagai pecinta wanita. Suka pesta, dan memiliki banyak pengetahuan. Kami tinggal di hutan bersama kaum Faun. Bedanya, Faun itu bodoh, sedang kami pintar. Mereka pemalu sedang kami penuh percaya diri," tegasnya gamblang.
Nicolas merasa usahanya untuk menjebak Satyr tersebut sia-sia karena ternyata, makhluk itu memang cerdik. Semua anak tampak bingung menyikapi hal ini.
"Aku bosan di sini. Aku terkurung bersama makhluk mitologi lainnya dan tak bisa keluar. Kami akan mati dengan sendirinya meski Oag menyediakan makanan. Namun, kami harus susah payah mencarinya di wilayah ini karena saling berebut agar tak kelaparan. Jadi ... sudah kuputuskan untuk membantu kalian. Asalkan, saat kalian berhasil, berikan aku hadiah sebagai teman kesendirianku. Dari pada kalian memberikan pada cermin jelek itu," tawar Satyr tersebut.
Harun dan lainnya saling memandang. Mereka lalu berkumpul untuk berdiskusi. Kali ini, Satyr tersebut duduk dengan manis seraya menunggu keputusan para remaja tersebut.
"Apakah kita bisa mempercayainya?" tanya Mandarin ragu.
"Dia peluang terbaik yang bisa kita dapatkan sejauh ini. Selain itu, dia hanya meminta hadiah. Terserah akan diberikan apa. Aku masih menyimpan banyak barang tidak berguna di tasku. Berikan saja padanya sebagai imbalan nanti," jawab Bara menyarankan.
"Baiklah kalau begitu. Namun, kita harus waspada. Jangan sampai lengah dan barang-barang berharga kita dicuri olehnya," sahut Boas, dan semua anak mengangguk setuju.
Mereka menjulurkan tangan ke depan dan ber-Woi sebagai tanda sepakat. Nicolas kembali pada Satyr tersebut dan berdiri tegap di hadapannya.
"Oke. Kami terima tawaranmu. Jika kau berani menipu kami, kawan-kawanku sudah sepakat untuk memenggal kepalamu," ucap Nicolas garang.
Satyr tersebut tampak kaget, tapi pada akhirnya mengangguk. Ia meludahi telapak tangan kanannya dan mengajak Nicolas berjabat, tapi pemuda berambut pirang itu enggan melakukannya karena dirasa jorok.
"Kau sungguh menyebalkan," gerutu Nicolas mengernyitkan dahi, tapi Satyr tersebut malah bersiul seolah tak peduli pada hinaan yang diterimanya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
selamat hari minggu dan makasih tips koinnya diriku. habiskan brankasnya biar novelnya cepet tamat. amin❤️
__ADS_1