
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Kenta!"
Vadim ikut berteriak saat melihat Kenta merintih kesakitan dan menggelepar dalam kubangan lumpur karena kepala belakangnya terkoyak akibat semburan cairan dari makhluk berkepala bagaikan bunga mekar.
Nicolas segera melompat turun dari Pegasus Vadim dan berlari mendatangi Kenta. Ia melihat isi tas pemuda Jepang itu berjatuhan karena ransel sudah rusak dan meleleh. Beruntung, botol ramuan Oag masih bisa diselamatkan. Nicolas segera meminumkan ramuan obat itu agar Kenta segera pulih. Namun, semua anak kembali tegang karena mereka diserang oleh makhluk berkepala seperti bunga yang siap untuk membunuh.
"Nico! Ambil darah makhluk itu cepat! Biar kami yang melawan makhluk-makhluk ini!" seru Ryan masih menahan makhluk buruannya.
Nicolas yang sudah mengobati Kenta segera mengambil suntikan dari dalam tas pemuda asal Jepang itu. Ia berlari ke arah Ryan dan segera menusukkan jarum itu saat makhluk tersebut mulai melemah karena kehabisan darah. Lazarus dan Rangga yang melihat Nicolas berhasil, membunuh makhluk tangkapan mereka agar tak menyerang lagi.
"Aku mendapatkannya!" seru Nicolas senang dan segera beranjak pergi dengan suntikan berisi darah warna merah.
"Yeah! Kita berhasil mendapatkan dua!" seru Timo senang yang kini terpaksa turun dari tubuh naga Rex untuk mengamankan Kenta. Pemuda asal Jepang itu diamankan karena tak sadarkan diri usai meminum ramuan. Namun, Timo bernapas lega karena Kenta masih hidup hanya saja terluka parah di kepala. Nicolas memberikan suntikan itu kepada Timo untuk diamankan. "Bawa kami kembali ke atas, Rex!" pinta Timo, dan naga hijau itu dengan sigap mengepakkan sayap untuk membawa dua anak manusia ke tempat mereka beristirahat tadi. "Pergilah. Aku akan baik-baik saja. Bantu yang lain," pinta Timo dan Rex mengangguk siap.
Kenta dibawa masuk ke dalam gua oleh Timo. Pemuda asal Filipina itu melepaskan ransel Kenta dan mengamankan sisa barang. Ia memasukkan barang-barang milik Kenta dan Azumi ke dalam tas milik Tina yang nantinya akan dipakai oleh Kenta.
"Ramuan Oag milik Kenta masih tersisa setengah. Seharusnya ini cukup. Lalu ... cermin ajaib dan topi mimpi aman. Heh, sepertinya Oag memiliki banyak koleksi topi mimpi mengingat sebelumnya sudah diberikan pada Satyr," kekeh Timo seraya memasukkan barang-barang itu dalam tas merah muda milik Tina.
Kenta digeletakkan di atas lantai tanah dalam gua dengan posisi tengkurap. Kepala Kenta yang terluka dan terkoyak, membuat Timo miris melihatnya. Ia terpaksa memakaikan topi mimpi ke kepala Kenta agar lukanya tertutupi. Perlahan, senyum Kenta terbit meski matanya terpejam. Timo berspekulasi jika Kenta sedang mendapatkan mimpi indah entah itu apa.
Di alam mimpi Kenta.
"Azumi!" teriaknya senang saat bertemu dengan sang Adik.
Ia segera berlari dan memeluk adiknya yang cantik dengan penuh kebahagiaan. Azumi membalas dengan senyum terkembang dan tak melepaskan pelukan kakaknya.
"Kak Kenta. Kau harus segera pulih lalu bantu kawan-kawan lainnya. Sedikit lagi kau menyelesaikan level 9. Tinggal dua makhluk lagi. Berusahalah!" ucap Azumi saat melepaskan pelukan.
"Ya, kau benar. Aku harus memenangkan permainan ini. Aku berjanji akan menghidupkanmu kembali dan kita pulang ke Bumi. Oh ya, jika aku menang, kauminta apa? Oag akan memberikan 10 hadiah dan itu keren sekali!" seru Kenta menatap adiknya lekat.
Azumi terlihat bersemangat. Ia mengajak Kenta duduk di atas batu di mana sekitar mereka ditumbuhi bunga-bunga yang cantik seperti di padang rumput. Azumi mengatakan keinginannya dan Kenta mendengarkan dengan saksama.
Di Markas Oag.
__ADS_1
"Azumi beruntung banget. Juby ngiri," keluh Jubaedah cemberut karena ternyata, mimpi itu memang membuat Kenta bertemu dengan sang Adik.
"Om Oag pilih kasih," sahut Hihi ikut sebal dengan wajah cemberut saat melihat tayangan dari sebuah layar besar seperti genangan air, tapi pada dinding batu.
Oag yang lagi-lagi diprotes oleh anak-anak hanya diam saja meski terlihat seperti marah karena tentakel di dagunya bergerak. Sang Jenderal tersenyum tipis tak berkomentar. Namun, ia merasa jika Oag mulai terbiasa dengan sikap, cara berbicara, dan jalan pikiran anak-anak manusia di Bumi.
Kembali ke wilayah berlumpur tempat anak-anak bertempur.
Rex kini ikut membantu melawan para makhluk yang memiliki kepala seperti mahkota bunga. Rex melakukan serangan untuk melumpuhkan musuh. Nicolas kembali menaiki Pegasus Vadim untuk membantu kawan-kawan mereka melawan makhluk tak kasat mata.
Pertempuran di atas lahan berlumpur di malam gelap, membuat suasana hening yang biasanya terjadi di wilayah tersebut berubah menjadi teror. Makhluk-makhluk yang hidup di sekitarnya segera meninggalkan area karena tak ingin terkena imbas. Terlebih, bagi mereka yang merasa lemah dan tak bisa menandingi makhluk-makhluk kuat. Para remaja itu mengerahkan seluruh kemampuan.
Timo melihat dari atas tebing saat pertempuran mendebarkan antara makhluk Mitologi melawan makhluk tak dikenal yang mungkin disebut alien sedang berlangsung. Anak panah Nicolas yang tak ada habisnya, ternyata mampu membuat wujud para makhluk tak kasat mata terlihat seluruhnya. Hewan-hewan itu menggelepar di atas lumpur usai tubuh mereka tertancap anak panah Elf cantik tersebut. Sedang hewan-hewan berkepala seperti kelopak bunga yang merasa kalah kuat dengan gabungan makhluk Mitologi, mulai melarikan diri dari pertempuran.
"Yeah! Kita berhasil mengusir mereka!" seru Mandarin senang usai berhasil membuat makhluk tak kasat mata lari meninggalkan kawasan lumpur menuju ke dalam hutan kabut.
Anak-anak bersorak gembira meski beberapa tubuh Mitologi mereka juga terluka karena serangan makhluk-makhluk buas tersebut. Lazarus sampai duduk dengan lemas karena ia melawan dengan dua pedang sekaligus setelah perisainya meleleh dan tak bisa digunakan lagi. Para remaja itu saling memandang dan tertawa karena tak menyangka bisa memenangkan pertarungan.
"Kita kembali ke atas," ajak Rex dan semua anak mengangguk.
"Kalian keren sekali!" seru Timo senang saat menyambut kedatangan kawan-kawannya di atas tebing.
"Bagaimana keadaan Kenta?" tanya Bara cemas.
"Ramuan Oag sedang bekerja. Biarkan dia beristirahat," jawab Timo seraya menoleh ke arah gua.
"Woah, bau bangkai mereka menyengat. Kenta benar-benar membuat mereka semua terpanggang," ucap Rangga seraya menggosok hidung karena bau daging terbakar dari makhluk tak kasat mata.
"Kita apakan bangkai-bangkai ini? Baunya membuatku mual," tanya Boas seperti akan muntah.
"Lempar saja dari atas tebing," saran Lazarus, dan semua anak kali ini sepemikiran dengannya.
Anak-anak itu lalu melemparkan makhluk-makhluk yang sudah tak bernyawa itu ke kolam lumpur. Mereka membersihkan arena tempat istirahat di mana seharusnya anak-anak itu tidur, tapi malah dikunjungi oleh makhluk yang masuk dalam daftar buruan.
"Aku lelah sekali," keluh Vadim langsung merebahkan tubuhnya dalam posisi terlentang di atas tanah.
__ADS_1
"Aduh, badanku lengket. Sayang tak ada air untuk mandi," sahut Czar yang merasa rambutnya menjadi kaku karena terkena lumpur.
"Sebaiknya kalian meminum ramuan agar luka-luka ringan itu cepat mengering. Kita masih ada 2 buruan yang belum ditangkap," tegas Harun, dan anak-anak mengangguk paham.
Nicolas yang tak terluka memilih untuk tak minum agar menghemat ramuan tersebut. Terlebih, miliknya juga sudah habis. Anak-anak yang kelelahan segera tidur. Namun, Timo yang tak melakukan banyak aksi memilih untuk berjaga saat kawan-kawannya terlelap di malam gelap tanpa api unggun.
"Selamat malam, Timo," ucap Ryan seraya menepuk-nepuk tasnya yang dijadikan alas bantal.
"Malam," jawab Timo dengan senyuman yang duduk menyender di dinding gua. Pemuda asal Filipina itu lalu membuka tasnya dan melihat dua cairan warna biru dan merah pekat yang ditugaskan oleh Oag. "Untuk apa darah-darah ini? Apakah ... Oag akan melakukan eksperimen lagi? Jika aku menang, boleh tidak ya memintanya? Siapa tahu ayahku juga bisa melakukan eksperimen keren dengan membuat makhluk seperti dalam petualangan ini. Ayah 'kan jenius," tanya Timo seraya melihat dua tabung kecil berisi darah itu. Timo kembali memasukkan benda tersebut dalam tas di mana kotak sebelumnya masih ia simpan agar darah tersebut tak rusak. Namun, Timo malah terpikirkan hal lain. "Tunggu. Ada 13 suntikan yang diberikan oleh Oag. Sedang dalam misi hanya diminta 4 makhluk saja. Sisa suntikan untuk apa? Sebagai cadangan, atau jangan-jangan ... semua suntikan itu harus terisi darah empat makhluk itu? Jika benar, gawat!" pekik Timo yang baru menyadari hal tersebut.
Timo merasa jika semua suntikan nantinya harus terisi semua darah dari makhluk buruan. Dari 13 suntikan, baru terisi 2. Timo segera mengambil suntikan milik kawan-kawannya dari dalam tas secara diam-diam agar mereka tak gagal dalam misi.
"Tiga belas suntikan dibagi menjadi 4. Pembagiannya pun ganjil, tapi pikirkan saja pembagian kasar. Kalau begitu, satu makhluk harus mengisi 3 tabung. Sisa satu tabung anggap saja sebagai bonus dan bebas memilih makhluk yang mana. Haish, Oag tak mendetail dalam memberikan misi. Sungguh alien yang merepotkan," gerutu Timo yang tanpa ia sadari, protesannya didengar oleh Oag.
Lagi-lagi, makhluk bertentakel itu dibuat bersabar karena disindir terus-terusan. Sedang para manusia baik anak-anak yang dibangkitkan atau para cendikiawan, hanya menahan tawa karena bagi mereka, ucapan Timo ada benarnya. Oag tak mendetail dalam memberikan instruksi misi.
"Aku sengaja melakukannya agar mereka memiliki inisiatif," ucap Oag beralibi di hadapan para cendikiawan manusia dewasa.
"Ya, ya, aku paham," jawab sang Jenderal dengan anggukan, meski ia yakin jika itu hanya alasan Oag saja.
Timo yang tak ingin membangunkan kawan-kawannya, berniat nekat turun dari atas tebing. Namun, ia tak memiliki benda pendukung untuk membawanya turun dari tebing yang terjal.
"Kau mau apa?" tanya Ryan yang ternyata menyadari gerak-gerik Timo karena melongok dari tepian tebing dekat ia tidur.
"Hehe, maaf mengganggu. Hanya saja, kupikir jika empat suntikan ini harus diisi dengan darah dua makhluk buruan kita. Akan kujelaskan detailnya nanti. Namun, bisakah kau membawaku turun dengan wujud Tuan Pohon? Aku ingin mengambil darah dari bangkai dua makhluk yang berada di bawah itu. Mumpung sepi," pintanya memelas.
Kening Ryan berkerut, tapi mengangguk. Ryan lalu berubah menjadi Tuan Pohon seperti permintaan Timo. Ryan meminta Timo duduk di kaki kayunya. Timo menurut, dan seketika, kaki Tuan Pohon memanjang menjadi seperti akar. Timo terlihat kagum karena ia seperti menaiki lift, tapi terbuat dari akar. Timo turun tanpa kendala di mana tubuh Ryan masih berada di pinggir tebing meski kakinya menjadi panjang.
"Tunggu ya, aku tak lama!" seru Timo lalu berlari meski berhati-hati.
Ryan mengangguk dan mengawasi sekitar. Timo dengan sigap mendatangi makhluk berkepala seperti bunga merekah dan mengambil darahnya. Ia lalu berlari ke arah makhluk tak kasat mata untuk mengisi penuh suntikan itu. Ryan bertepuk tangan dari kejauhan karena Timo berhasil melakukannya.
Saat Timo berlari mendatangi kaki Tuan Pohon, seketika, langkahnya terhenti. Timo melihat rusa bercahaya yang masuk dalam buruannya muncul di tepi hutan berkabut. Timo mematung seketika, begitupula Ryan yang merasa Timo dalam bahaya. Timo memasukkan cairan darah warna merah dan biru dalam tasnya perlahan karena tak ingin membuat rusa tersebut berubah lalu menyerangnya.
***
__ADS_1
Selamat merayakan Hari Kemerdekaan RI🎉 Kuy lomba kuy! Dapat hadiah apa nih para LAP?