MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
ANAK-ANAK IBLIS PEMBURU MONSTER?*


__ADS_3

Keesokan harinya, anak-anak segera bersiap di mana kali ini mereka akan menangkap Siren.


Hanya saja, Satyr mengatakan jika keberadaan Siren di perbatasan dengan lorong penjara tempat para tahanan dulu kabur.


Itu berarti, mereka bisa berhadapan dengan Chimera sekaligus jika bertemu dengan sosok tersebut.


Para remaja itu dibuat cemas mengingat Siren sudah termasuk lawan yang sulit ditaklukkan dan kini harus ditambah dengan Chimera.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Jadi ... bagaimana? Tetap memburu Siren atau bertemu dengan Sphinx?" tanya Rex bingung.


"Lokasi Siren dan Sphinx berjauhan, saling bertolak belakang. Sphinx di gurun tandus, sedang Siren dekat perairan. Kita tinggal mengikuti arah sungai ini dan akan bertemu dengan para Siren. Lalu, jika diteruskan kita akan berjumpa dengan Chimera," jawab Satyr santai seraya mengambil anggur dari dalam tas topi pemberian Azumi.


Anak-anak saling berpandangan, tapi seperti biasa. Pandangan mereka berakhir ke sosok pemimpin kelompok, Gibson.


"Hempf, sepertinya rencana dirubah. Kita bertemu Sphinx terlebih dahulu," ucap Gibson.


Wajah anak-anak berubah seperti mendapatkan pencerahan usai Gibson memberikan jawaban.


Kening Satyr berkerut. Ia merasa jika sosok Gibson sangat diandalkan oleh kumpulan para remaja itu.


Satyr menyayangkan jika Gibson menyerahkan nyawa agar kawan-kawannya bisa melanjutkan ke babak berikut bila mereka berhasil.


"Satyr. Jelaskan pada kami tentang pengetahuanmu mengenai Sphinx ini," pinta Gibson.


Satyr lalu memasukkan kembali buah anggur meski mulutnya masih mengunyah.


"Mm, begini. Aku memang pernah melihatnya satu kali. Namun, aku tak yakin jika makhluk itu sungguh hidup. Sebab, ia seperti patung. Aku sempat menyentuh tubuhnya dan ia keras seperti batu. Tak bergerak bahkan aku pernah mencoba meniup seruling padanya kala itu, dan ... dia masih bergeming," jawabnya kaku.


"Ha?" sahut Timo terlihat bingung, begitupula anak-anak lainnya.


"Tanya saja pada cermin ajaib jika kalian ragu. Karena saat aku mendengar dia salah satu makhluk yang ditangkap, aku sempat heran juga," jawab Satyr seraya menunjuk tas Azumi.


Semua anak kini menatap Kenta saksama. Remaja itu dengan sigap mengambil cermin ajaib Azumi dan menanyakan hal tersebut.


"Oh! Inikah ... wujud Sphinx itu?" tanya Kenta tampak terkejut.



Kenta langsung mendatangi Satyr dan menunjukkan sosok Sphinx dari cermin. Satyr mengangguk membenarkan meski mulutnya tertutup rapat. Gibson dan lainnya ikut melihat hingga tampilan itu hilang dengan sendirinya.


"Dia besar sekali," ungkap Boas sampai mulutnya menganga.


"Yep. Dia sangat besar. Dan jujur, aku belum pernah melihat sepak terjangnya selama ini. Namun, kabar yang kudengar, Sphinx dibawa ke penjara Hades karena Firaun sudah kehilangan masa kejayaannya. Ia lalu mengklaim kekuasaan Firaun dengan mengatakan dialah Ratu Mesir yang menguasai gurun pasir. Dia memperbudak para manusia untuk bekerja untuknya tanpa upah dan makanan yang pantas. Saat para manusia itu mati, ia memakannya dan menjadikan tulang belulangnya sebagai fondasi bangunan yang sedang dibangun. Karena kekejamannya itu, ia diseret kemari," jawab Satyr yang membuat semua anak melongo seketika.

__ADS_1


"Di-dia memakan manusia?" tanya Ryan sampai tergagap.


"Bagaimanapun, dia itu manusia setengah singa dan burung. Naluri berburu dan jiwa memangsa layaknya hewan pasti melekat dalam dirinya. Sama sepertiku," jawab Satyr mengingatkan.


"Ah iya, benar juga," sahut Rangga seraya menganggukkan kepala.


"Kita akan cari cara untuk membangunkan Sphinx itu. Seingatku, makhluk itu akan memberikan teka-teki. Namun, dari cerita yang kuketahui sebelumnya, aku tak tahu dampak jika kita tak bisa menjawab atau dia tak bisa menjawab," ucap Gibson yang membuat wajah anak-anak tegang seketika.


"Mungkin kalian akan dimakan olehnya jika gagal menjawab," sahut Satyr dengan dua tangan melipat depan dada.


"Kenapa lawan kita senang sekali memangsa manusia? Apakah kita begitu lezat seperti permen?" tanya Rex yang kembali teringat saat akan dilahap oleh Cyclops.


"Sepertinya begitu. Terlebih, daging manusia muda. Kalian renyah dan gurih. Apalagi jika gemuk seperti Vadim. Sangat menggiurkan," sahut Satyr, tapi membuat semua anak menelan ludah.


"Aku lezat?" ulang Vadim dengan wajah pucat.


"Jangan bahas lagi!" seru Bara kesal, tapi membuat Satyr tertawa senang.


"Oke. Aku sudah pikirkan sebuah kesepakatan dengan Sphinx jika kita berhasil membangunkannya," ucap Gibson.


"Apa itu, Gib?" tanya Lazarus penasaran.


"Lihat saja nanti. Ayo, kita harus bergegas," jawab Gibson, dan semua anak mengangguk siap.


Namun anehnya, para makhluk itu malah menghindar dan bersembunyi ketika melihat sosok mereka terbang melintas di udara.


Tentu saja hal ini membuat Gibson dan lainnya bingung, tapi Satyr tampaknya mengetahui sesuatu.


"Ya, benar begitu! Bersembunyilah dan takut pada kami! Hahahaha!" tawanya riang saat menaiki Pegasus Vadim.


"Apa maksudmu?" tanya Timo bingung.


"Oh, kalian belum tahu? Rumor tentang kalian yang menangkap para makhluk Mitologi untuk diseret dan dieksekusi oleh sosok hitam telah menyebar luas di Penjara Hades. Wajar saja jika kemunculan kalian membuat para tahanan ketakutan. Mereka berpikir jika menjadi salah satu target dan akan berakhir dengan kematian," jawab Satyr berlagak.


"Woah! Mereka takut pada kita? Ini sungguh keren!" tanya Czar karena tak menyangka hal tersebut.


Praktis, rasa percaya diri langsung membuncah di hati anak-anak manusia itu. Mereka terlihat bangga karena ditakuti oleh para makhluk Mitologi di mana sebelumnya, para remaja itu yang ketakutan jika harus berhadapan dengan mereka.


"Oke! Kita harus buktikan kepada para penjahat itu jika para anak manusia ini adalah polisi penangkap para monster!" seru Nicolas senang dalam wujud Elf-nya.


"Yeah! Kalian adalah anak-anak setan!" sahut Satyr mantap, tapi membuat kening para remaja itu berkerut.


"Kami bukan anak setan! Kami anak manusia! Sembarangan bicara!" bantah Harun protes.


"Heish. Nama itu kuberikan karena kalian seperti pemburu iblis di sini. Para manusia pada zamanku, menganggap para makhluk Mitologi itu jelmaan iblis. Jadi, kurasa julukan itu sudah tepat untuk kalian. Para pemburu monster," sahut Satyr menjelaskan.

__ADS_1


Anak-anak diam sejenak terlihat memikirkan ucapan Satyr dengan serius.


"Hem, Monster Hunter? Demon Kids?" guman Lazarus, dan anak-anak yang mendengar mengangguk pelan.


"Nah, gunakan julukan itu untuk membuat takut lawan kalian. Jadi, gunakan sebuah gaya yang keren ketika bertemu musuh. Katakan dengan mantap. 'Kami adalah para pemburu monster. Anak-anak iblis!' Kujamin, nyali lawan kalian akan ciut seketika," jawab Satyr bangga seraya bertolak pinggang dengan dagu terangkat.


Namun, anak-anak masih diam tak berkomentar akan usulan dari manusia setengah kambing itu. Bagi mereka, julukan itu sedikit menyeramkan.


Rex dan lainnya tetap fokus dengan penerbangan mereka yang ternyata cukup jauh karena berada di sisi lain dari tempat biasanya anak-anak itu menjelajah.


Gibson malah sudah memikirkan bagaimana caranya membawa Sphinx itu kepada sosok hitam jika makhluk tersebut berhasil ditangkap mengingat tubuhnya yang besar.


"Aku sudah lelah membayangkan mengangkut tubuhnya nanti," keluh Czar dalam wujud Griffin.


"Apakah ... akarku kuat ya untuk mengikatnya? Sepertinya, untuk membawa Sphinx itu bisa sehari semalam," tanya Ryan lirih seraya melihat dua tangannya meski masih dalam wujud manusia.


"Jangan bicara lagi. Perutku sudah mulai bergemuruh. Tandanya, sebentar lagi makan siang. Sebaiknya, kita istirahat dulu sebelum bertempur dengan Sphinx. Terlebih, harus menggunakan otak karena permainan teka-teki. Itu lebih menguras tenaga ketimbang bertarung secara fisik," ucap Vadim mulai mengeluh.


Wajah semua anak berubah malas seketika. Bukan ketakutan ketika harus bertarung menggunakan senjata tajam atau kemampuan Mitologi saat menghadapi Sphinx.


Melainkan, membayangkan seperti ujian sekolah saat berhadapan dengan makhluk tersebut yang dikenal cerdas.


"Ketauan deh kalau IQ Bara jongkok. Kenapa harus ada lawan kaya dia sih? Nyusahin," gerutu Bara yang terbang dalam wujud Kesatria Garuda.


Gibson yang mendengar kawan-kawannya mengeluh hanya bisa menahan senyum. Diam-diam, Satyr mengamati Gibson yang sibuk menuliskan sesuatu selama mereka terbang di punggung Czar.


Satyr yang duduk di punggung Pegasus Vadim, sesekali mengintip tulisan yang dibuat oleh Gibson, tapi makhluk itu tampak bingung karena tak bisa membacanya.


"Kau menggambar atau menulis?" tanya Satyr dengan kening berkerut.


"Oh, ini sandi rumput. Tak semua orang paham tulisan ini. Oleh karena itu, aku menuliskannya," jawab Gibson santai lalu melanjutkan menulis sandi itu di buku milik Ryan yang ia pinjam.


"Sandi rumput? Hem, aku malah baru tahu jika ada jenis tulisan seperti itu. Wah, aku harus mempelajarinya," guman Satyr seraya menyilangkan tangan di depan dada.


Ternyata, keinginan Satyr didengar oleh Gibson, Czar, dan Vadim. Tiga anak itu menahan senyum karena ternyata, makhluk setengah kambing itu tertarik untuk mempelajari hal baru.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Ajudan lagi yang tips koin. Kwkwkw yang lain gak ikut serta kah? Brankas kosong uy dan belum sempat rekaman. Bumil mode lesu uy kurang istirahat😩

__ADS_1


__ADS_2