MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
HADIAH SANDARA JORDAN UNTUK DEMON KIDS*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Keesokan harinya, Jubaedah memberanikan diri menemui Sandara saat lainnya masih tertidur lelap karena matahari belum terbit.


"Maaf, Bibi Dara. Hanya saja, ada satu hal yang terlewat dan itu ganggu pikiran Juby," ucap Jubaedah yang masih mengenakan piyama usai mengetuk pintu kamar Sandara.


"Ya, tak apa. Lebih baik diungkapkan dari pada kau tertekan nantinya. Masuk saja," jawab Sandara ramah di mana Jordan juga ikut terbangun, tapi masih duduk menyender di kasur.


"Maaf ya, Om Jordan. Juby ganggu subuh-subuh," ucapnya tak enak hati. Jordan mengangguk pelan dengan kaki tertutupi selimut.


Sandara mengajak Jubaedah duduk di sofa panjang untuk mencari tahu, apa yang membuat puteri Eko tersebut sampai nekat menemuinya di pagi buta.


"Jadi gini. Alasan kami meminta darah-darah itu dan permintaan aneh lainnya karena ...," ucapnya menggantung dan terlihat ragu.


"Katakan saja meskipun itu terdengar konyol," sahut Sandara karena ia bisa melihat ketakutan dari mata gadis manis di hadapannya.


"Mm, jadi gini, Bibi. Kata Oag, ilmuwan di Planet Mitologi melihat masa depan Bumi. Di sana terlihat saat tahun 2050, Bumi akan terkena bencana hebat dan tak diketahui kapan akan berakhir. Lalu, si ilmuwan yang melihat ramalan tersebut membuat perjanjian dengan manusia bijak di Bumi pada zaman itu dengan melibatkan anak-anak bukan orang dewasa. Juby lupa alasannya kenapa harus anak-anak bukan orang dewasa karena Juby udah ketakutan. Sebab bencana itu seperti kiamat," ucapnya seraya meremat ujung kemeja piyama yang dikenakan.


Sandara melirik Jordan, dan pria tampan itu terlihat serius mendengarkan. "Hem, tak apa. Lalu?" tanya Sandara lembut seraya menatap Jubaedah lekat.


"Lalu ... selama permainan berlangsung yang merenggut banyak nyawa termasuk Juby yang ikut tewas karena gak bisa lawan Cerberus dan malah masuk ke kolam lava, kami melihat jika kemampuan makhluk Mitologi ini sangat hebat. Meskipun jenis dan kemampuan kami berbeda serta beragam, tapi saat digabungkan akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Buktinya, kami bisa menang karena bekerjasama. Oleh karena itu, saat mendapatkan 10 permintaan hadiah untuk masing-masing anak, ketiga belas kawan Juby meminta darah dari makhluk-makhluk yang dianggap memiliki potensi dan berharap bisa diterapkan dalam tubuh meski Oag sudah kasih tahu jika hasilnya mungkin tidak sama dengan yang berada di Planet Mitologi. Namun, kami yakin jika ilmuwan kita gak sebodoh itu," sambung Jubaedah balas menatap Sandara lekat.


"Hem, aku suka semangatmu. Lalu?" jawab Sandara dengan senyuman.


"Oleh karena itu, kami percaya pada Bibi Sandara untuk bisa menerapkannya pada beberapa manusia terpilih. Jika benar tahun 2050 nanti bencana itu datang, setidaknya kita sudah bersiap. Nah, tinggal keputusan Bibi Sandara apakah kemampuan dari makhluk-makhluk itu bisa diimplementasikan atau tidak pada manusia. Jika ya, semoga para manusia terpilih mampu melindungi Bumi dan mengembalikan seperti semula bila bencana tak bisa ditanggulangi," sambung Jubaedah panjang lebar yang membuat Sandara dan Jordan terhenyak karena tak menduga hal tersebut.


"Apakah kau tahu jenis bencana di tahun 2050 itu seperti apa?" tanya Jordan menimpali. Jubaedah menggeleng.


"Mereka bisa menyebutkan tahun, Jordan. Itu bukanlah ramalan omong kosong," tegas Sandara, dan Jordan mengangguk sependapat.


"Jujur, aku suka inisiatif kalian. Tak kusangka, kalian pintar. Meski keadaan terdesak, ditambah mendapatkan sepuluh keinginan di mana kalian bisa meminta apa saja, tapi memilih darah-darah monster, kurasa ... itu bukan keputusan mudah," ucap Jordan memuji. Jubaedah tersenyum dengan anggukan. "Ya, kurasa ucapan Sandara benar jika kalian harus diberikan hadiah. Khusus dariku, akan kutunjukkan besok," sambung Jordan yang membuat Jubaedah terlihat senang.


"Ya sudah. Kaulanjutkan tidur agar saat matahari menyambutmu, kau bisa melihat hadiah dariku dan juga Jordan. Terima kasih atas informasi mengejutkan darimu, Juby. Aku sangat menghargainya," ucap Sandara seraya mengelus kepala Jubaedah penuh kasih.


"Ya, Bibi. Sampai ketemu besok pagi. Sekali lagi, maaf ganggu ya. Bye," ucap Jubaedah seraya beranjak dan melambaikan tangan.

__ADS_1


Jordan balas melambai ketika Sandara membuka pintu kamar dan mempersilakan Jubaedah keluar. Sandara menutup pintu dan langsung menatap Jordan tajam.


"Tahun 2050. Itu bukan waktu yang lama, Sayang. Jika benar, kita harus bersiap," tegas Sandara, dan Jordan mengangguk setuju.


Pagi itu, setelah matahari menunjukkan sinarnya. Semua anak terlihat bersemangat karena penasaran dengan hadiah yang dijanjikan oleh Jordan dan Sandara. Kediaman Jordan di Napoli bagi mereka sudah cukup memuaskan karena dilengkapi banyak fasilitas termasuk kolam renang, lapangan basket, jalan setapak untuk berkuda, dan hunian tersebut berada di tepi pantai. Anak-anak merasa seperti menikmati liburan meski di musim gugur.


"Kita akan ke mana?" tanya Tina penasaran karena Jordan menggunakan bus mewah sebagai akomodasi layaknya sedang study tour sekolah.


"Kalian akan tahu," jawabnya singkat.


Bus warna hitam berkesan ekslusif karena dilengkapi banyak fitur mewah itu benar-benar memanjakan para remaja tersebut. Mereka menikmati keindahan kota Napoli di mana ini pertama kalinya berkunjung ke negara Italia. Ternyata, Jordan mengajak mereka untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang dipesan khusus tanpa ada tamu lainnya. Anak-anak kembali dibuat takjub. Terlebih, mereka bebas memesan menu apa pun yang disediakan restoran tersebut.


"Ya ampun! Hadiah dari Bibi Sandara dan Om Jordan ngalahin Oag!" seru Jubaedah senang saat ia menikmati makanan khas Italia asli bukan restoran ala Itali yang berada di Indonesia.


"Heish, ati-ati bicara. Nanti Oag denger bisa bahaya. Bara yakin, kalau Oag masih ngawasi kita," bisik Bara, dan diangguki Jubaedah karena merasa hal itu benar adanya.


Sandara dan Jordan bahkan tak membatasi mau berapa lama anak-anak itu berada di restoran tersebut. Hingga pasangan suami isteri itu menyadari jika para remaja mulai bosan karena perut kenyang dan sudah puas foto bersama. Tiga jam mereka berada di restoran itu untuk memuaskan perut dengan berbagai jenis hidangan yang tak ingin terlewat.


"Oke. Kembali ke bus. Masih ada tempat yang harus kita kunjungi," ajak Jordan.


"Hem?" sahut Pasha saat Mandarin menepuk lengan remaja gemuk itu yang tertidur pulas.


"Wah, kita di mana?" tanya Vadim seraya mengucek mata di mana ia ikut tertidur lelap.


"Perusahaan Farmasi Elios. Selamat datang," sambut Sandara ketika pintu bus terbuka.


Wanita cantik itu menuruni tangga perlahan diikuti Jordan. Anak-anak tampak kagum. Tina dan Timo yang sudah terbiasa keluar masuk laboratorium sang Ayah, masih dibuat takjub karena bagi mereka, fasilitas di laboratorium milik Sandara berkesan futuristik seperti bangunan masa depan. Lantai yang mereka pijak bahkan bergerak sendiri seperti eskalator. Dinding-dinding kaca tebal berada di sepanjang koridor kanan kiri, di mana mereka bisa melihat para ilmuwan melakukan eksperimen dengan peralatan canggih.


"Oh!" pekik Ryan saat lantai eskalator itu berhenti.


Sebuah pintu warna putih yang kali ini memiliki dinding beton terlihat di hadapan mereka. Sandara mendekatkan tubuhnya pada pintu tersebut.


Seketika, "Selamat datang, Sandara Liu. Kau membawa tamu. Silakan lakukan penginputan untuk identifikasi data," ucap suara seorang wanita yang terdengar dari pintu tersebut seolah benda putih persegi panjang itu bicara.


"Sistem GIGA milikku tak mendeteksi kalian. Jadi, berdirilah di sampingku pada penanda telapak kaki satu per satu bergantian. Kalian paham?" pinta Sandara.


Anak-anak mengangguk tanda mengerti meski mereka terlihat gugup. Jordan mengurutkan mereka satu per satu dari perempuan dulu dan diakhiri para remaja laki-laki.

__ADS_1


"Aku Lazarus Benedict," ucap Lazarus saat memperkenalkan diri seraya menempelkan sepuluh jari tangan pada papan sensor kaca yang muncul dari pintu sisi kiri di hadapannya.


"Teridentifikasi. Data disimpan. Selamat datang, Lazarus Benedict. Silakan masuk," ucap GIGA.


Seketika, pintu di hadapannya terbuka. Lazarus melangkah masuk di mana Jordan sudah masuk lebih dulu sebagai pembuka jalan. Sedang Sandara, masih berdiri di tempatnya sampai data semua anak tersimpan dalam database GIGA. Anak-anak diminta menunggu di balik pintu sampai semua anggota Demon Kids masuk.


KLEK!


Anak-anak dibuat kaget saat pintu yang mereka lewati tertutup. Seketika, lampu ruangan yang tadinya redup menyala terang. Mulut mereka terbuka lebar saat melihat tempat itu didominasi warna putih sehingga terlihat bersih dan elegan.


"Ikut aku," pinta Sandara seraya berjalan mengikuti cahaya warna biru di lantai seperti sebuah garis.


Para remaja itu dibuat kagum karena ruangan itu sangat besar. Hingga tiba-tiba langkah Sandara terhenti. Jason berdiri di samping isterinya menatap anak-anak para mafia yang kini berdiri berjejer memandangi keduanya.


"Ingat kata sandi ini. Demon Kids. Lalu sebut nama kalian. Lazarus, coba kau praktikkan," pinta Sandara seraya menunjuknya.


"O-oke," jawab Lazarus gugup. Semua anak kini menatap remaja Inggris itu lekat. "Demon Kids, Lazarus Benedict."


Seketika, dari balik dinding warna putih sisi kiri, muncul sebuah tabung berbentuk kapsul. Anak-anak terkejut dan menyingkir agar tak tertabrak benda yang masih terkunci karena terdapat penyangga pada sisi-sisinya.


"Tunjuk salah satu kawanmu yang kaupercaya untuk membuka tabungmu jika keadaan terdesak," ucap Sandara yang membuat Lazarus bingung memilih.


"Boleh siapa saja?" tanyanya. Sandara mengangguk. "Mm ... Boas saja. Kau mau 'kan, Boas?" tanya Lazarus, dan Boas mengangguk.


Jordan meminta pada Boas dan Lazarus untuk meletakkan telapak tangan mereka di tubuh tabung termasuk dirinya serta sang isteri. Semua anak kembali dibuat bingung. Terlebih, ketika cahaya biru bersinar dari sepasang empat telapak tangan yang menempel pada benda itu.


"Tersimpan. Tabung Lazarus Benedict hanya bisa dibuka oleh Boas Kiril, Sandara Liu dan Jordan Boleslav," ucap GIGA yang mengejutkan para remaja itu untuk kesekian kali.


"Woah ... benda apa itu, Bibi? Mirip dengan yang digunakan Oma Vesper dan Kakek Kai," tanya Rangga penasaran.


Sandara kembali berdiri tegap ketika tabung Lazarus kembali masuk ke dinding. Semua anak menatap pasangan berwajah datar itu dengan saksama.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE/Tumgir

__ADS_1


__ADS_2