
Keesokan harinya.
Para remaja pria asal Bumi itu masih belum bisa memutuskan siapa pemimpin pengganti Gibson untuk membimbing mereka.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Aku memang terbiasa memimpin kelompok, tapi bukan seperti yang kita alami sekarang. Aku hanya ketua kelas dan ketua regu pramuka. Aku tak bisa memimpin kalian. Tugas ini terlalu berat," ucap Rangga menolak.
Bara yang mengusulkan Rangga untuk menggantikan Gibson garuk-garuk kepala ikut pusing memilih kandidat selanjutnya.
"Bagaimana denganmu, Lazarus? Kau 'kan setara dengan pangeran. Kau pasti bisa memimpin kami," tanya Boas yang kini menunjuk keturunan Benedict itu.
"Ya, itu benar. Hanya saja, aku sadar diri. Aku terbiasa memerintahkan para pelayan untuk melakukan banyak hal untukku. Sedang di sini, hal itu tak berlaku. Yang lain saja. Aku tak mau disalahkan jika ada yang terluka diantara kita saat menjalankan misi," jawab Lazarus ikut menolak.
"Hah! Kalian ini sungguh aneh. Di mana-mana semua orang menginginkan posisi sebagai pemimpin. Namun, kalian malah angkat tangan. Kalau begitu, biar aku saja," ucap Satyr menawarkan diri.
Praktis, anak-anak memicingkan mata.
"Kau tak ingat pesan sosok hitam? Kau tak bisa ikut. Kau hanya bisa menunggu di bawah, tak boleh memanjat," ucap Mandarin mengingatkan. Satyr berdecak kesal.
"Ya sudah, pergi saja. Tanpa pemimpin kalian kulihat bisa saling menjaga. Mungkin sosok Gibson memang tak bisa digantikan. Jangan mempersulit diri dan segeralah kembali. Aku tak suka di sini sendirian," keluhnya seraya melipat dua tangan depan dada.
"Hem, benar juga katanya. Kenapa kita malah repot dan menghabiskan waktu mencari pemimpin pengganti? Kalau begitu, kita pergi sekarang. Waktu kita terbatas," ajak Ryan semangat.
"Ayo! Hati-hati, batang ini licin. Hah, jika diperbolehkan terbang, mungkin kita bisa lebih cepat sampai. Oag menyusahkan," gerutu Rex.
Saat anak-anak mulai memanjat bergantian, tiba-tiba Czar berubah menjadi Griffin. Praktis, semua orang dibuat kaget akan hal tersebut.
"Czar! Kau mau apa? Kata sosok hitam—"
"Aku hanya ingin membuktikannya. Terbang!" jawabnya seraya mulai mengepakkan sayap.
Saat tubuh Czar mulai melayang di udara, tiba-tiba, "Woh! Woh! Waaa!"
"Czar!" seru Harun histeris saat melihat sayap Griffin Czar tiba-tiba lenyap.
Sosok Mitologi Czar jatuh dengan keras di atas rumput. Satyr segera datang dan menolongnya. Semua anak bergegas turun dari pohon dan menghampiri remaja Rusia itu.
"Kau tak apa?" tanya Nicolas cemas.
"Hah, ya. Untung belum terlalu tinggi," jawabnya seraya kembali ke wujud manusia.
"Sayapnya hilang. Mengerikan sekali hukuman Oag bagi yang tak patuh," ucap Vadim pucat.
"Czar, apa sayapmu benar-benar hilang? Coba kau berubah lagi," pinta Kenta.
Czar mengangguk pelan dan kembali berdiri. Semua anak tampak serius melihat saat Czar berubah menjadi Griffin lagi.
"Oh! Sayapnya kembali! Syukurlah, aku takut setengah mati jika nasibmu seperti para Harpy," ucap Rex lega.
"Hah, aku juga lega. Aku sangat mengandalkan sayap burungku," jawab Czar lalu kembali ke wujud manusia seperti instruksi misi.
"Mungkin kita harus seperti kisah Jack. Bukankah Jack hanya manusia biasa. Dia tak memiliki kemampuan ajaib dan berubah seperti kita. Dia berhasil karena usahanya sendiri," ucap Lazarus menduga.
"Hem, aku rasa juga demikian. Baiklah kalau begitu. Jangan sampai kita kalah di level ini. Bagiku, level ini cukup mudah tak seperti level-level sebelumnya. Soal bagaimana kita mengakali para raksasa, pikirkan sembari memanjat," sahut Timo yang siap untuk menaiki batang pohon kacang itu.
"Ya, itu benar! Kita fokus untuk tiba ke wilayah atas terlebih dahulu. Batang ini sangat tinggi bahkan menembus awan. Jangan sampai jatuh. Semangat!" seru Kenta, dan semua anak mengangguk setuju.
Satu per satu dari para remaja itu mulai memanjat. Mereka tampak berhati-hati agar tak tergelincir. Sedang Satyr, menunggu di bawah sampai anak-anak itu kembali.
__ADS_1
Ternyata, tanaman pohon kacang seperti kisah dongeng itu sungguh tinggi. Beruntung, di planet Mitologi angin hampir tak terasa, tapi udara masih bisa dihirup.
Sayangnya, keringat para remaja itu mulai bercucuran saat mereka sudah berada cukup tinggi dan Satyr tak terlihat padahal ia sedang bermain seruling di bawah.
"Hah, hah, masih belum terlihat ujungnya. Aku lelah sekali. Adakah tempat untuk beristirahat sejenak?" tanya Mandarin dengan bibir mengering karena kehausan.
"Oh! Ada cabang di atas sana. Kita bisa duduk sejenak. Bagaimana?" tanya Rangga yang berada paling tinggi diantara yang lain.
"Hah, oke," jawab Mandarin dengan napas tersengal.
Rangga dengan sigap naik ke atas untuk memeriksa tempat itu disusul oleh Harun dan Bara di mana mereka berdua pernah belajar memanjat dengan senjata dalam genggaman oleh Gibson.
"Bagaimana, Rangga? Apakah bisa untuk istirahat?" tanya Harun berpegangan erat pada batang pohon agar tak jatuh.
"Sepertinya tak bisa. Kita tetap akan jatuh jika salah bergerak. Tempatnya tak leluasa dan batangnya lembek karena cabang baru. Haduh, aku juga lelah sekali," jawabnya terlihat lesu lalu kembali ke batang utama yang lebih kokoh.
Anak-anak tampak tak bersemangat karena kelelahan. Mereka tak menyangka jika pohon itu sangat tinggi bahkan hampir menyentuh awan.
"Oh! Bagaimana jika ikat tubuh dengan kain atau tali? Seperti memeluk pohon. Yang penting, kita bisa duduk," saran Lazarus saat ia merasakan jika batang yang ia peluk cukup kuat.
"Ha? Maksudmu bagaimana?" tanya Boas bingung.
Lazarus dengan sigap melepaskan tas dengan satu tangan. Ia tampak berhati-hati saat membuka sleting dan mengambil sebuah tali. Ia lalu memindahkan tasnya di depan bagian dada kemudian mengikat pinggangnya dengan batang pohon tersebut.
"Ah, aku mengerti!" seru Timo yang kemudian mengikuti cara Lazarus.
Anak-anak lainnya mencoba hal yang sama. Mereka terlihat lega karena akhirnya bisa melepaskan pegangan dan menikmati bekal.
Namun, Kenta tertarik dengan kacang yang tumbuh pada bagian sulur melengkung di dekatnya.
"Kenta! Apa yang kau makan?" tanya Nicolas melotot karena terdengar suara gemeletuk layaknya memakan makanan keras.
Kenta yang asyik mengunyah karena rasa biji kacang itu cukup enak buatnya, tak menyadari dampak dari biji tersebut.
"Ke-Kenta! Kenta!" pekik Nicolas panik yang membuat semua anak langsung menatap Kenta lekat dari tempat mereka beristirahat.
"Hah, hah, apa ... apa yang terjadi padaku?!" pekik Kenta langsung menjatuhkan biji kacang tersebut yang sudah habis setengah.
Mata semua anak melotot ketika melihat sosok Kenta berubah. Jari-jari tangan pemuda itu menjadi seperti sebuah sulur pohon kacang dan mulai melilit ke batang pohon.
"Kenta!" teriak Rex panik.
TAK!
"Kenta!" panggil Timo ikut histeris karena tali yang mengikat Kenta putus dan membuat tubuh pemuda Jepang itu tergantung dengan dua tangan berubah menjadi sulur.
"Hah, hah, AAAAA!" teriaknya panik kemudian.
"Dia menjadi hijau seperti pohon kacang!" pekik Boas tercengang.
Ryan mengamati perubahan Kenta saksama hingga ia menyadari sesuatu.
"Kenta! Kau bisa memanfaatkan jari-jari tanganmu sebagai sulur untuk memanjat!" seru Ryan masih memeluk pohon.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Kenta terlihat pucat karena wujud barunya.
"Ingat sosokku saat menjadi Tuan Pohon?" tanya Ryan menatap Kenta lekat yang berada di bawahnya. Kenta mengangguk. "Ingat saat dua tangan kayuku bisa memanjang? Kau juga demikian. Bedanya, tanganmu berupa sulur. Harusnya lebih lentur dan elastis. Cobalah gerakkan jari-jarimu untuk mengikat batang kayu dan gunakan untuk memanjat perlahan. Kau pasti bisa!" seru Ryan menyemangati.
__ADS_1
"Hah, begitu ya? O-oke, akan kucoba," jawabnya gugup.
Semua anak tampak tegang. Kenta mencoba menggerakkan sepuluh jarinya yang telah berubah menjadi sulur pohon. Ternyata, apa yang dikatakan oleh Ryan benar.
Jari-jarinya bisa memanjang dan lentur, tapi kuat untuk mencengkeram dan menarik tubuhnya.
SYUT!
"Woah!" seru Kenta terkejut saat ia berhasil membuat tubuhnya naik ke atas dan kini sejajar dengan Mandarin.
"Tangan sulurmu seperti tali. Coba kau pindahkan ke bagian atas dekat Rangga," ucap Ryan lagi.
Kenta mencoba untuk fokus dan kini melepaskan lima jari sulurnya di tangan kanan. Ia membidik batang di samping Rangga dengan sorot mata tajam.
"Heyah!"
SYUT! WHUUT!
"Hahahaha! Dia berhasil! Dia bisa memanjat dengan memanfaatkan kemampuan barunya!" seru Ryan terlihat senang.
"Kau benar, Ryan! Dengan begini, aku bisa lebih cepat sampai!" jawab Kenta senang.
"Apakah kita juga ikut makan biji kacang itu agar bisa seperti Kenta? Bagaimana jika tak bisa kembali ke kondisi semula? Kita akan menjadi manusia setengah pohon," tanya Nicolas panik.
"Kita coba minum ramuan ajaib saja. Siapa tahu setelah minum, kita bisa kembali normal," sahut Rex memberikan solusi.
"Aku rasa tak masalah. Kita hanya mengubah tangan saja untuk membantu memanjat agar mempersingkat waktu. Kita tak tahu seberapa tinggi pohon ini dan jika terlalu lama, bisa-bisa mati kelelahan lalu jatuh," sahut Czar.
"Aku tak suka makanan mentah. Sayur tak enak," keluh Vadim.
"Kalau begitu, kau akan tertinggal," sahut Lazarus berwajah malas. Vadim cemberut.
"Oh! Celupkan saja ke cokelat. Anggap saja seperti memakan kacang almond lapis cokelat. Wah, itu enak sekali!" saran Bara.
Seketika, mata Vadim berbinar. Ia setuju dengan saran dari Bara. Vadim memetik satu buah kacang lalu melumuri kacang warna hijau itu dengan cokelat setiap akan digigit.
Semua anak terlihat penasaran karena Vadim tampak menikmatinya.
"Hem, benar! Rasanya enak!" ucapnya dengan wajah berbinar.
"Cukup setengah saja, Vadim! Jangan berlebihan atau kau akan menjadi pohon kacang seutuhnya!" seru Kenta yang posisinya kini lebih tinggi darinya.
"Sini, berikan padaku sisanya," pinta Timo.
Vadim memberikan kacang itu dengan cokelat di atasnya. Timo menghabiskan sisa setengah dari gigitan Vadim dengan lahap.
Benar saja, dua anak itu ikut berubah dan kini seperti Kenta.
"Ayo semuanya! Kita makan kacang!" seru Czar gembira lalu memetik.
Semua anak tampak antusias dan segera memakan kacang itu agar bisa berubah seperti Kenta.
***
ILUSTRASI.
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya diriku😍 Kwkwkw bonus dari rekaman misi bulan kemarin. Cairkan saja😆