
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Anak-anak berubah menjadi sosok campuran, tapi kini dengan wujud lebih manusiawi. Mereka tak lagi berubah menjadi makhluk Mitologi melainkan seperti seorang kesatria. Semua orang tampak senang, tapi tidak bagi Timo yang merasa risih dengan penampilannya.
"Hehehe, kau akan terbiasa, Timo. Awalnya aku juga merasa aneh," ucap Nicolas yang membuat Timo meliriknya sadis.
"Aku hanya memakai tempurung untuk menutup buah dadaku. Apanya yang bagus! Mata kalian dari tadi melirik mesum padaku. Aku bisa tahu isi pikiran kalian," jawabnya kesal, tapi malah membuat semua orang terkekeh.
"Pakai jubah ini saja," ucap Harun saat memberikan jubah bulu yang bisa mengendalikan seluruh makhluk berbulu agar menurut padanya.
Timo menerima pemberian Harun untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang terpampang jelas. Kali ini, tas-tas mereka tak ikut menghilang ketika dalam wujud Mitologi. Biasanya, saat mereka berubah wujud, tas itu akan menyatu dengan tubuh dan akan kembali saat berubah menjadi manusia. Namun, kali ini mereka tetap menggendong tas layaknya saat menjadi manusia.
"Aku masih penasaran dengan kemampuan kita. Kenapa senjata kita berupa Trisula? Apa karena monster itu hidup di air? Namun, diantara kita, hanya Timo saja yang menjadi duyung. Bagaimana dengan sisanya jika harus melawan dalam air?" tanya Mandarin bingung dengan wujud barunya yang besar seperti Ogre, tapi memakai baju perang dan senjata Trisula.
"Entahlah. Mungkin kita harus mencobanya nanti. Tempat ini sedikit aneh dan tak menjanjikan untuk melakukan percobaan," jawab Lazarus seraya melihat sekitar.
Keturunan Benedict itu tetap menjadi seorang Centaur. Hanya saja perbedaannya, wujudnya seperti Satyr yang memiliki dua kaki tidak empat layaknya kuda, meski tetap berekor kuda. Lazarus mengenakan pakaian perang, memegang Trisula dan juga perisai.
Semua anak memakai pakaian tempur layaknya kesatria, bersenjata Trisula dan hal menarik lain sesuai dengan kriteria dari jenis mereka sebelumnya. Saat anak-anak masih berdiskusi, tiba-tiba sebuah portal muncul layaknya pintu. Rex dan lainnya yakin jika itu adalah jalan menuju ke level 10. Semua anak saling memandang lalu mengangguk mantap.
Harun melangkah dengan mantap saat memasuki portal tersebut. Tubuhnya tak sebesar sebelumnya. Ia berwujud manusia, tapi ditutupi bulu putih Yeti di bagian dua lengan sampai tangan dan juga dua kaki. Dari dada sampai perut, menunjukkan otot bidang layaknya seorang atlit binaraga yang perkasa, begitupula punggungnya. Ia juga menggenggam Trisula warna putih seperti es. Dua tangan besar dan kakinya seperti gorila.
Ukuran anak-anak itu menjadi hampir sama tak besar kecil seperti saat menjadi makhluk Mitologi. Mereka seperti kumpulan manusia yang memiliki keanekaragaman bentuk. Satu per satu, para remaja itu memasuki portal dan tiba di sebuah wilayah bersalju yang dipenuhi oleh gunung-gunung dan batuan besar.
"Oh! Sepertinya, aku tak merasa dingin," ucap Vadim karena tempat itu berangin dan terdapat bulir-bulir es seperti salju musim dingin.
"Woah! Tampaknya baju perisai kita bisa menghalau cuaca ekstrim! Ini keren!" sahut Bara dengan wujud Kesatria Garuda, tapi berkepala manusia tak burung lagi. Trisulanya berwarna merah seperti sayapnya yang terlihat begitu gagah perkasa.
Saat semua anak melihat sekitar untuk memastikan keberadaan, tiba-tiba saja dari atas langit muncul benda raksasa yang membuat mata anak-anak itu melebar. Pandangan mereka terkunci pada benda yang terlihat begitu mengagumkan saat timbul dari gumpalan awan tebal dan membuat angin di sekitar lenyap.
"Pesawat? Tapi bentuknya ...," tanya Boas terlihat bingung dengan wujud Peri, tapi lebih tangguh dari sebelumnya.
"Oh! Ada sinar yang muncul dari bagian bawah pesawat berbentuk seperti gangsing! Apa itu? Manusia?" tanya Rangga menunjuk yang kini memiliki dua tanduk perkasa di kepalanya.
Badan Rangga setengah berbulu layaknya Harun karena wujud Mitologi-nya adalah Minotaur. Bersenjata Trisula berwarna cokelat mengkilap yang senada dengan warna bulunya.
"Siapa itu di sana? Seperti seorang perempuan?" tanya Ryan menyipitkan mata dengan wujud manusia setengah pohon.
"Oh! Bukankah itu ...," ucap Mandarin menggantung.
"Ju-Juby? Juby!" teriak Rex lantang langsung melotot saat melihat kekasihnya bergaya centil di atas sebuah batu besar, tepat di bawah pesawat alien yang menurunkannya.
__ADS_1
Seketika, mata anak-anak kembali melebar saat melihat sosok lain muncul satu per satu dari sinar putih yang dipancarkan oleh pesawat itu di sekitar Jubaedah.
"Gibson!" seru Boas sampai matanya melotot.
"Laika!" teriak Czar tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Pasha! Itu Pasha!" teriak Vadim histeris.
"Ti-Tina? Apakah itu sungguh Tina?" tanya Timo sampai tubuhnya bergetar.
"I-itu Azumi ... Azumi hidup kembali!" teriak Kenta yang tak kalah hebohnya saat melihat teman-temannya kembali dibangkitkan.
Sebelumnya, saat negosiasi antara Hihi dan Oag terjadi di markas.
"Katakan apa yang kauinginkan," ucap Oag menatap Hihi tajam.
"Ini sudah hampir berakhir, Om Oag. Kau harus jujur semuanya pada kami. Jangan ditutupi. Makhluk itu, kenapa dia menjadi misi terakhir? Setelah kaujawab, kau akan mendengar permintaanku dari negosiasi nanti," tegas Hihi yang kembali serius demi mendapatkan harapannya.
Oag diam selama beberapa saat, dan hal itu malah membuat suasana semakin menegangkan. Semua makhluk di tempat itu diam menatap Oag dan Hihi bergantian dengan serius. Hingga akhirnya, Oag angkat bicara.
"Dulunya makhluk itu disebut Leviathan. Raksasa yang hidup di lautan. Ia mempunyai kulit sangat keras yang mampu menghancurkan semua senjata. Selain itu, ia juga memiliki mata yang bercahaya yang digunakan untuk melihat di lautan yang dalam dan gelap," jawab Oag yang membuat mata Bobby melebar.
"Aku tahu kisah itu. Namun, setahuku wujud Leviathan tak demikian. Dia lebih mirip seperti campuran ular dengan aligator. Kenapa makhluk yang terpampang di layar tadi bisa berdiri dan seperti manusia?" tanya lelaki bertubuh besar itu menatap Oag lekat.
"Oh, biar kutebak. Pasti para ilmuwan terdahulu melakukan percobaan hingga monster tersebut berubah menjadi seperti itu?" sahut Tina yang membuat mata Oag menyipit.
"Hem, anak-anak yang pintar," sahut sang Jenderal dari balik ruangan yang mendengar pembicaraan itu.
Oag diam dan menatap wajah anak-anak itu saksama, hingga suaranya terdengar lagi. "Anggap saja begitu."
"Itu tidak adil, Om Oag. Jika kau dan lainnya saja tak bisa membunuhnya, apalagi teman-teman kami? Mereka pasti akan tewas walaupun kau sudah mengubah wujud menjadi keren seperti itu!" sahut Jimmy, dan semua anak mengangguk setuju.
"Aku sudah mempersenjatai mereka dengan teknologi terbaru. Seharusnya, itu cukup untuk mengalahkan Leviathan," tegasnya.
"Apa benda-benda itu sudah diujicobakan sebelumnya? Mendengar cara bicara dan gelagatmu, pasti baru pertama kali diterapkan!" sahut Pasha menduga.
Lagi, protesan dari anak-anak kembali menghujani Oag. Alien itu melirik ke arah Hihi yang masih menatapnya tajam. Oag terlihat seperti menarik napas dalam.
"Apa yang ingin kau negosiasikan, Hihi? Kau sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu," tanya Oag menatap gadis cantik tersebut.
"Kawan-kawan kami akan tewas jika melawan makhluk itu. Mereka butuh bantuan. Oleh karena itu, kurelakan kebangkitanku agar kau membangkitkan Gibson untuk menolong mereka."
Praktis, mata semua orang melebar.
__ADS_1
"Gibson?" sahut Jimmy, dan Hihi mengangguk meski memunggungi kawannya.
"Gibson lelaki tangguh dan pintar. Ia pasti memiliki cara untuk mengalahkan Leviathan dan memenangkan level 10. Anggap saja balas budimu padaku karena sudah menolong di Planet leluhur. Jadilah makhluk yang tahu balas budi. Kami membereskan kegagalan eksperimen leluhurmu dengan mempertaruhkan nyawa anak-anak Bumi," tegas Hihi.
"Aku juga. Aku relakan kebangkitanku agar kau membangkitkan Pasha untuk menolong mereka," sahut Bobby yang membuat mata remaja gemuk itu melebar.
"A-aku?" tanya Pasha sampai tergagap. Bobby tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Pasha.
"Aku percaya pada kemampuanmu, Pasha. Aku sudah melihat pertarunganmu. Dibanding aku, kau lebih hebat dan kuat. Kau pasti bisa memenangkan level terakhir ini. Tak apa, kita bisa bertemu lagi. Dan, jangan lupa untuk berkunjung ke rumahku seperti janjimu ya. Aku tinggal di Amerika. Carilah apartemen Theresia. Ayah ibuku tinggal di sana. Kau ... ingat nama mereka?" tanya Bobby menatap Pasha lekat.
"Ya. Ayahmu dipanggil Q dan ibumu bernama Renata," jawabnya yang membuat Bobby mengembangkan senyuman.
"Aku juga. Kutukarkan kebangkitanku untuk Tina. Meski dia perempuan dan kuakui Tina cantik," ucapnya malu, "tapi ... Tina gadis yang tangguh. Aku berharap banyak padamu, Tina. Menanglah dan semoga kita bertemu lagi di Bumi," ujar Oscar yang membuat Tina malah meneteskan air mata.
"Aku akan berusaha keras, Oscar," ucap Tina mendatangi remaja itu lalu memeluknya.
Oscar balas memeluk dan terlihat senyumnya terpancar. Para manusia dewasa terharu karena tak menyangka dengan pemikiran anak-anak Bumi.
"Kuberikan kebangkitanku pada Juby. Dia ... sangat keren," ucap Jimmy yang membuat mata gadis berambut panjang itu membulat penuh.
"Hiks, Jimmy," tangis Jubaedah karena pemuda asal Amerika itu merelakan kebangkitannya agar ia bisa berkumpul dengan kawan-kawannya lagi.
Semua anak tampak sedih karena harus berpisah. Oag diam melihat anak-anak itu saling berpelukan seperti saling merindukan. Tiba-tiba, Jenderal mengangkat tangan kanan. Oag sepertinya mengetahui hal tersebut karena ia menoleh ke arah dinding yang terhalang tembok batu.
"Aku ingin agar Azumi dan Laika juga dihidupkan untuk membantu. Kau ... bisa melakukannya 'kan, Oag? Aku tak pernah meminta apapun padamu. Aku ingin dua hal itu saja," ucap sang Jenderal dari tempatnya berdiri.
Para cendikiawan ikut mengangguk setuju. Mereka menatap Oag yang memandangi mereka tajam dari balik dinding karena bisa melihatnya dari luar. Oag kembali menoleh dan kini menatap anak-anak itu saksama.
"Kuuzinkan," ucapnya yang membuat para manusia baik anak-anak atau dewasa bersorak gembira.
Anak-anak saling memberikan dukungan dan semangat meski mereka tahu jika akan berpisah. Tim yang akan berperang membantu ketiga belas remaja pria diminta untuk segera bersiap. Sedang Hihi dan lainnya, melambaikan tangan karena mereka tetap berada di dalam ruangan.
"Ini bukan perpisahan! Kita akan bertemu lagi di Bumi! Ingat, kita ada acara reuni keluarga besar! Ingat kode kita!" seru Pasha saat membalik badan.
"Yeah! 13 Demon Kids!" seru Hihi dan lainnya serempak seraya melambaikan tangan.
Jubaedah, Tina, dan Pasha melangkah dengan mantap mengikuti cahaya biru di bawah lantai bagaikan aliran air ke sebuah ruangan. Mereka bertiga telah siap untuk membantu kawan-kawan menyelesaikan misi level 10. Oag dan para manusia dewasa tak sabar melihat aksi para anak-anak manusia Bumi untuk mendapatkan kemenangan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy makasih tipsnya dirikušNgantuk parah uyy kebangun mulu tidurnya. Semoga tiponya gak menyeramkan ya. Kalo ada tandain aja. Lele padamuā¤ļø