
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Timo pingsan karena tak sanggup melihat kengerian di depan matanya saat dua tanduk yang tertanam di kepala raksasa itu dicabut paksa oleh Mandarin dan Rangga. Namun seketika, keajaiban lain terjadi.
"Woah! Dia datang lagi!" pekik Kenta sampai matanya melotot ketika sosok hitam muncul diantara kumpulan anak-anak itu.
Raksasa yang sudah sekarat itu seperti kehilangan tenaganya. Mandarin dan Rangga yang masih memegang tanduk seperti ditatap oleh sosok melayang tersebut. Praktis, ketegangan kembali terasa.
"Siapa diantara kalian yang akan mengklaim tanduk itu?" tanya sosok hitam.
Rangga dan Mandarin saling memandang terlihat bingung. Rangga mendekat lalu berbisik ke arah Mandarin. Semua anak tampak serius menyimak.
"Untuk Timo saja," jawab Mandarin yang mengejutkan semua anak.
"Timo? Kenapa kalian memberikannya pada Timo?" tanya Ryan heran.
"Dalam misi kali ini, Timo tak diuntungkan. Dia tak bisa berubah karena sosok Merman-nya. Sedang kita, bisa. Jadi, akan kami berikan pada Timo saja. Kami khawatir dia akan tewas terbunuh jika tetap menjadi manusia," ujar Rangga.
Semua anak mengangguk paham dan terlihat bisa menerima hal tersebut.
"Baiklah, Timo. Kau lolos," ucap sosok hitam di mana lelaki asal Filipina itu masih memejamkan mata tak sadarkan diri.
"Harghhh!" erang raksasa tersebut saat jiwanya dihisap oleh sosok hitam.
Mata semua anak kembali melebar karena tak menyangka jika sosok hitam bisa melakukan hal itu di luar penjara Hades.
Praktis, teriakan kematian itu membuat kaget semua raksasa dan juga anak-anak yang masih bertarung melawan para manusia besar itu.
"Jika tak ingin mati, bertahanlah," ucap sosok hitam kepada para raksasa yang ketakutan melihat sosoknya.
"Hei! Kau ini memihak siapa?!" pekik Ryan kesal yang kini duduk di samping Timo.
Sosok hitam tak menjawab. Namun lagi-lagi, hal mengejutkan terjadi. Tubuh Timo melayang dan bergerak mendekat ke arah sosok hitam.
Semua orang tampak takjub dan tiba-tiba, sosok hitam dan Timo hilang dari pandangan.
"A-apa yang terjadi? Di-di mana Timo? Timo!" teriak Ryan panik.
"Bunuh utusan Oag! Atau kita akan mati!" titah seorang raksasa dengan taring mencuat.
Mata semua anak melebar mendengar ucapan raksasa itu yang mengomandoi untuk melenyapkan mereka.
"Semuanya! Kita harus selesaikan misi ini dan pulang ke Bumi. Ayo!" seru Lazarus dalam sosok Centaur.
"Yeah! Serang!" sahut Czar semangat.
"GOARRR!" raung para raksasa yang kini terlihat semakin buas untuk membunuh para anak manusia.
"Heyahhhh!" balas anak-anak manusia dalam wujud Mitologi yang kali ini, mereka berhadapan satu lawan satu melawan para raksasa.
Pertarungan sengit tak terhindarkan. Meski ukuran tubuh mereka tak sepadan, tapi hal itu tak membuat para anak manusia gentar.
Mereka yang sudah mampu mengendalikan dan menguasai wujud Mitologi, dengan sigap meluncurkan serangan ke arah lawan.
Kenta mengabarkan kepada kawan-kawannya tentang barang berharga para raksasa saat ia terbang melintas di atas mereka.
__ADS_1
"Oke! Kami mengerti!" jawab Harun dengan anggukan mantap.
"Kenta, Rex! Serangan kombinasi!" seru Nicolas yang berkolaborasi dengan Ryan seraya terus melesatkan anak panahnya.
"Kita harus cari nama untuk serangan keren kita, Rex!" seru Kenta saat terbang berdampingan dengan naga hijau tersebut.
"Aku punya ide! Bagaimana dengan RK Attack?" tanya Rex seraya menoleh.
"Oke! Ayo, teriakkan bersama-sama!" ajak Kenta yang setuju dengan saran kawannya itu.
Tampak dua makhluk besar itu siap melakukan serangan di mana keduanya menukik tajam ke arah seorang monster bermata satu yang sudah dibidik.
"Now!" teriak Rex lantang.
"RK Attack!" teriak Rex dan Kenta bersamaan yang kemudian melakukan semburan antara campuran gas beracun dengan api berkobar.
"Harghhh!"
Para raksasa yang tak mampu menghindari serangan tiba-tiba dari atas langit meraung kesakitan. Tubuh mereka berasap dan melepuh karena racun serta panas api.
"Kesatria pedang Elf! Serang mereka!" seru Nicolas dari atas kepala Tuan Pohon.
"Heyahhh!" teriak anak-anak lantang yang sempat menghindar saat Rex dan Kenta melakukan serangan mematikan.
Para makhluk mitologi yang telah mempersenjatai diri menggunakan pedang Elf dengan sigap menyabet tubuh para raksasa itu dengan semangat membara.
Satu per satu, para raksasa berjatuhan setelah tubuh mereka terluka parah terkena sayatan pedang, tusukan, dan juga anak panah yang tertancap.
"Ada satu raksasa yang berusaha kabur!" seru Vadim dengan sosok Pegasus.
"Aku ikut!" sahut Boas dalam sosok Peri.
Tiga makhluk bersayap itu terbang melesat mengejar buronan. Vadim yang tak memiliki tangan, dengan sigap menghadang pergerakan raksasa itu dan berhasil mengejutkannya.
"Bagus, Vadim! Kita serang dia bersama, Boas!" seru Bara dalam wujud Kesatria Garuda dan memegang dua pedang Elf dalam genggaman.
Raksasa itu terlihat kesal karena tak mampu menangkap Pegasus Vadim yang dengan gesit berkelit. Vadim sengaja meledeknya agar Bara dan Boas bisa meluncurkan serangan.
Seketika, "Hiyahhh!"
SRET! JLEB! JLEB!
"Harghhh!"
"Rasakan ini!" seru Vadim saat ia menjejakkan dua kaki depan Pegasus ke wajah raksasa itu hingga membuat manusia besar tersebut terjungkal ke belakang dan menghantam pohon besar dengan keras.
"Dia jatuh! Segera ambil anting di telinganya!" seru Vadim yang sudah mengetahui benda berharga milik raksasa itu.
Bara dan Boas dengan sigap mendatangi raksasa yang masih mengerang kesakitan. Vadim terus melakukan serangan dengan menginjak wajah raksasa itu menggunakan empat kaki kudanya.
"Tarik saja!" seru Boas kesulitan untuk melepaskan anting itu.
"Jangan, nanti telinganya putus! Potong saja!" sahut Bara tak sependapat.
"Yang mana saja terserah! Cepat! Aku tak bisa menahannya lebih lama lagi!' teriak Vadim mulai kelelahan.
__ADS_1
Bara dan Boas yang tak sepemikiran, melakukan dengan cara masing-masing.
KRASS!
CRATT!
"Harrghhh!" erang raksasa itu yang langsung bangun karena telinga kanan putus dan telinga kiri robek sebab ulah dua anak manusia yang menginginkan antingnya.
Raksasa itu meraung kesakitan dan berlari kencang seraya memegangi dua telinganya yang berdarah hebat.
"Yeah! Kita berhasil!" seru Vadim senang begitupula dua kawannya yang berhasil mendapatkan anting berharga itu. Namun, "Eh, eh, eh, dia mau ke mana?" tanya Vadim masih dalam wujud Pegasus ketika melihat raksasa itu terus berlari seraya mengerang menuju ke tepi pulau terapung.
Benar saja, "Harghhh!"
"Woah! Dia terjun!" seru Bara sampai melotot karena melihat manusia besar itu seperti tak menyadari jika daratan yang dipijak telah habis dan terjun bebas dari ketinggian.
Bara, Boas dan Vadim terbang menuju ke tepi pulau. Mereka melongok ke bawah dengan mata membulat penuh saat raksasa itu jatuh dengan cepat.
Di tempat Satyr berada.
Manusia setengah kambing itu tertidur pulas di bawah pohon kacang usai menikmati bekal peninggalan anak-anak.
Tiba-tiba, "Harrghhh!"
"Hah?!" pekik Satyr langsung membuka mata karena terkejut saat mendengar raungan besar di dekatnya. Satyr melihat sekitar hingga menyadari ada bayangan besar dari atas. Spontan, Satyr mendongak dan, "Huwahhh!" teriaknya panik dan dengan sigap berlari menghindar.
BRUKK!!
"Hah, hah, apa itu?!" pekik Satyr melotot yang berhasil menjauh dengan napas tersengal.
Mulut Satyr menganga lebar karena baru pertama kali melihat sosok manusia raksasa yang ukurannya hampir sebesar Sphinx. Makhluk bertanduk itu memberanikan diri mendekat meski terlihat gugup.
Tanah yang tertimpa tubuh besar manusia itu sampai berlubang dan retak di tepian karena ukurannya. Napas makhluk itu masih terdengar meski terlihat sekarat. Hingga lagi-lagi, hal mengejutkan terjadi.
"Woah!" teriak Satyr langsung melangkah mundur dengan wajah panik saat sosok hitam muncul dan langsung menghisap jiwa raksasa tersebut.
Tubuh makhluk itu mengering dan sosok hitam kembali hilang. Satyr yang bingung, kaget, dan terkejut diam mematung seraya menggenggam seruling erat.
"Oke. Aku anggap ... anak-anak itu berhasil," jawabnya kaku. Namun seketika, wajahnya berbinar. "Mereka berhasil menjatuhkan seorang raksasa. Hahaha! Anak-anak setan itu sungguh hebat! Lanjutkan! Habisi mereka semua! Wohooo!" seru Satyr senang seraya mendongak ke atas.
Satyr yang gembira memainkan musik di sekitar mayat raksasa dengan serulingnya sambil menari-nari.
Siapa sangka, suara musik kegembiraan karena kini ia berwujud Faun, membuat seekor penghuni planet Mitologi menampakkan diri.
Makhluk tersebut perlahan mendekat tanpa sepengetahuan makhluk berkaki kambing itu.
Dan seketika, "Wow!" pekik Satyr terkejut dan langsung menghentikan musiknya saat melihat sosok jelita di depan mata. "La-Lana? Kau Lana bukan?!" pekiknya dengan mata melebar.
"Ya, kau mengenalku? Kau siapa?" tanya wanita dari kaum Satyr itu.
Seketika, senyum Satyr merekah. Ia meneteskan air mata kebahagiaan karena bertemu dengan kekasih hati yang selama ini dirindukan.
***
masih eps bonus dari tips kemarin, tapi bsk udh abis😆 selamat akhir pekan cemua~
__ADS_1