
Anak-anak itu mendekati portal untuk membaca tulisan di dalamnya. Terlihat, wajah para remaja itu tegang dan penasaran dengan hadiah yang akan mereka dapatkan.
"Selamat. Kalian berhasil menyelesaikan misi level 5 dengan mengagumkan. Terimalah hadiah atas kemenangan kalian," ucap anak-anak yang membaca tulisan dalam portal lirih.
Seketika, muncul hewan-hewan berbentuk aneh dari dalam portal dengan berbagai jenis bentuk. Anak-anak itu terkejut. Mereka langsung melangkah mundur dengan panik.
Timo, Boas, Azumi dan Bara yang duduk di atas kain langsung menyingkir karena khawatir hewan-hewan lucu tersebut mematikan.
Namun, Jubaedah malah terlihat menyukai makhluk-makhluk yang baginya menggemaskan seperti boneka hampir seukuran kepala manusia.
Makhluk-makhluk itu berkumpul di atas tanah dan rumput menatap para remaja dengan wajah imutnya.
"Juby, hati-hati," pinta Rex seraya memegangi tubuh kekasihnya yang ingin menggendong salah satu diantaranya.
"Juby?" panggil salah satu makhluk yang membuat mulut dan mata Jubaedah melebar.
"Rexy! Alien imutnya tau nama Juby!" serunya senang menunjuk hewan berbulu berwarna abu-abu.
"Rex! Rex!" panggil makhluk lain yang membuat remaja itu ikut terkejut.
"Sepertinya hewan-hewan ini tahu nama kita," ucap Azumi menduga, dan anak-anak mengangguk setuju.
"Oh! Mana peliharaanku?" tanya Kenta antusias.
"Ken ... taaa," ucap salah seorang makhluk yang membuat remaja asal Jepang itu langsung berlari mendatanginya.
"Kaupasti hadiahku!" serunya senang sembari mengangkat makhluk itu tinggi yang berbentuk seperti kelelawar, tapi berbulu putih dan baginya tak menyeramkan.
Anak-anak lainnya ikut penasaran. Satu per satu dari mereka mendekat untuk mencari tahu makhluk yang seperti peliharaan itu.
Hewan-hewan lucu itu mendekati majikan mereka masing-masing sesuai dengan nama seperti sudah ditakdirkan.
"Mereka ini apa?" tanya Timo seraya mengelus makhluk yang ternyata jinak dan miliknya berbentuk lain karena seperti gurita dan berwarna merah muda.
"Baca instruksi saja!" sahut Tina yang mendapatkan hewan lucu seperti kelinci. Gadis cantik itu berjongkok di depannya seraya mengelus kepalanya lembut.
"Akan kubacakan!" seru Nicolas semangat yang sejak tadi masih berdiri di depan portal. "Makhluk-makhluk itu sebagai wadah cadangan nyawa kalian. Hanya bisa dipergunakan satu kali. Saat kalian mati, setengah nyawa kalian yang sudah tersimpan dalam tubuh makhluk itu bisa menghidupkan kalian lagi, tapi akan membunuh penyimpan jiwa cadangan. Jika makhluk itu mati karena diserang, kalian akan tetap hidup, dan nyawa kalian kembali utuh, tapi kehilangan nyawa cadangan."
__ADS_1
"What?! Jahat sekali! Oag, kau sungguh kejam!" seru Harun yang tak setuju, termasuk anak-anak yang lain.
Mereka melakukan protes di depan portal, tapi Oag seperti enggan menanggapi. Portal tersebut menghilang begitu saja.
"Kasihan sekali jika mereka mati," ucap Laika iba pada hewan lucu yang akan menyimpan sebagian nyawanya.
"Wah, milikmu matanya berbeda! Hijau dan merah," seru Czar mendekat dan Laika terlihat gemas pada hewan bermata bulat itu seperti sedang menatapnya.
"Lalu ... cara mentransfer sebagian nyawa kita bagaimana?" tanya Mandarin bingung dengan hewan lucu tersebut sudah duduk di bahunya.
Tiba-tiba saja, makhluk penyimpan cadangan nyawa yang berada di atas pundak kanan Mandarin memeluk lehernya.
Mandarin terkejut, tapi makhluk itu memeganginya kuat. Seketika, mata anak-anak yang melihat hal aneh itu melebar.
"Oh! Energi Mandarin seperti diserap olehnya!" seru Boas menunjuk saat terlihat seperti angin berwarna biru keluar dari tubuh Mandarin dan masuk ke dalam tubuh makhluk berwarna hitam kecoklatan itu.
BRUKK!
"Mandarin!" panggil Azumi cemas langsung mendekat.
"Kau tak apa?" tanya Azumi seraya menatap Mandarin saksama.
"Ya, hanya saja ... tiba-tiba aku seperti akan pingsan, tapi ... aku baik-baik saja. Apakah itu berarti ... jiwaku sudah diserap olehnya?" tanya Mandarin seraya menunjuk makhluk tersebut.
"Sepertinya begitu," sahut Azumi.
"Kau merasakan perubahan?" tanya Bara penasaran dan malah menjauh dari makhluk menggemaskan miliknya itu karena baginya berwujud aneh.
"Tidak, biasa saja. Hanya sedikit lemas," jawabnya santai. Namun, anak-anak jadi ragu.
"Dengar. Aku rasa pencadangan nyawa ini akan sangat berguna. Lihatlah. Permen kita sudah hampir habis. Ini berbahaya jika sampai ada dari kita yang terluka. Setidaknya dengan adanya cadangan nyawa, kita bisa bertahan sampai level selanjutnya," ucap Gibson mengutarakan pemikiran.
"Pak Presiden Tim selalu punya ide untuk mencerahkan pikiran kita yang buram ini. Oke, Rangga setuju. Rangga akan simpan sebagian nyawa ke makhluk kembaran Rangga," ucapnya seraya melirik makhluk dengan wujud berbeda dengan lainnya itu, karena lebih mirip seperti dirinya, tapi dalam versi mini. "Kemarilah, serap sebagian nyawaku. Ingat ya, sebagian jangan semuanya," tegasnya menunjuk makhluk seperti Minotaur itu.
__ADS_1
"Rang ... gaa ...," ucap makhluk itu seraya mendekat lalu memeluk salah satu kaki Rangga.
Seketika, cahaya yang sama keluar dari tubuh Rangga. Kening pemuda itu berkerut saat jiwanya keluar sebagian dari tubuhnya.
"Wow, wow ... oke, oke," ucapnya yang tiba-tiba saja terhuyung hampir jatuh, tapi kembali berdiri tegak.
"Tuh, Rangga gak papa. Jangan takut," ucap Jubaedah meyakinkan kawan-kawannya.
Gadis manis itu memeluk makhluk yang baginya seperti boneka karena menggemaskan.
Makhluk yang dipeluk Jubaedah mulai menyerap jiwanya. Rex dan lainnya akhirnya memberanikan diri karena melihat teman-teman mereka baik-baik saja usai diserap.
Akhirnya, setengah jiwa dari anak-anak itu telah disimpan dalam tubuh makhluk lucu tersebut. Laika dan lainnya merasa jika makhluk-makhluk tersebut bukan ancaman mengingat mereka sangat penurut serta selalu mengikuti ke mana pun majikan mereka pergi.
"Hahaha! Mereka seperti hewan peliharaan!" seru Pasha senang dan anak-anak mengangguk setuju.
Para remaja itu malah berlarian di atas rumput dengan peliharaan baru penyimpan nyawa mereka. Seolah, misi yang hampir merenggut nyawa itu sudah terlupakan begitu saja.
"Kita pergi dari sini. Tempat ini membuatku tak nyaman," ucap Gibson seraya meletakkan hewan lucu miliknya yang berwarna emas dan memiliki tanduk di atas rumput.
"Kita ke rumah pohon!" seru Vadim semangat.
"Ayo!" jawab semua anak riang.
Rex kembali menjadi naga, begitupula anak-anak lainnya yang memiliki kemampuan terbang.
Sekelompok remaja itu terbang melintasi daratan tak dikenal menuju ke rumah pohon bersama hewan-hewan mereka.
Anak-anak itu yakin jika para kurcaci sudah menunggu kedatangan mereka sesuai janji. Vadim dan Pasha memimpin jalan menuju ke rumah mereka selama di Planet Mitologi.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya mbak Aju. Lele padamu❤️ Hewannya imud2 jadi gemes 😆Jangan lupa vote vocernya ya keburu angus man teman💋 Makasih😍