
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Mata semua anak terbelalak ketika melihat induk rusa tersebut seperti berubah wujud, tapi belum sempurna. Para makhluk berkepala seperti kelopak bunga, dengan sigap menyerang.
"Rarrr!" erang salah satu makhluk menyembur cairan dari ekor. Hewan berkaki empat itu melompat seperti siap menerkam, tapi tiba-tiba ....
"Iiiikkk! Iiiikkk!"
"Argh! Telingaku sakit!" teriak Vadim langsung menggelepar begitu pula anak-anak lain yang memegang kedua telinga mereka.
Ternyata, hal serupa juga terjadi pada makhluk dengan kepala seperti kelopak bunga. Hewan seperti rusa itu terus melengking dengan suara tinggi menyakiti telinga bahkan membuatnya berdarah. Cahaya dari makhluk itu juga meredup dan berubah menjadi putih pucat. Ekornya menjadi runcing pada bagian ujung dan giginya berubah menjadi seperti gerigi gergaji.
"Hargh!" erang induk rusa yang berubah menjadi seperti hewan predator.
Rusa kecil ikut berubah dan ikut menyerang para makhluk dengan kepala seperti kelopak bunga yang mekar. Dua hewan berkulit putih pucat itu menusukkan ujung ekor ke tubuh lawannya dengan membabi buta seraya menggigit dengan buas hingga kulit musuhnya robek. Harun yang bisa bertahan dari lengkingan maut karena masuk dalam gua dan menyumpal telinga dengan potongan roti, menyaksikan pertarungan tak terduga itu dari atas tebing. Para remaja lainnya masih terlihat kesakitan bahkan telinga beberapa diantara mereka berdarah. Harun yang fokus dengan pertarungan dua jenis makhluk itu, tak menyadari jika ada makhluk lain yang menyadari keberadaan mereka dan mengintai dari kegelapan.
"Oh! Rusa itu menang! Hebat sekali!" seru Harun kagum dengan senyum terkembang.
Saat induk rusa dan bayinya kembali ke wujud semula, keduanya dengan sigap berlari meninggalkan lokasi pertempuran. Ketika Harun menoleh untuk mengabarkan hal ini kepada kawan-kawannya, ia terkejut saat melihat Rex serta lainnya mengerang kesakitan.
"Apa yang terjadi? Kalian kenapa?" tanya Harun bingung.
Pemuda berkulit hitam itu mendatangi Nicolas yang tampak pucat dengan dua tangan gemetar memegangi dua telinganya. Harun melepaskan dua tangan itu dan tersentak saat melihat darah warna merah di telapak tangan sahabatnya.
"Agh! Sakit sekali! Telingaku rasanya seperti ditusuk-tusuk," rintih Nicolas sampai napasnya tersengal.
Harun dengan sigap membuka tas ransel Nicolas dan mengambil botol ramuan ajaib pemberian Oag lalu meminumkannya. Harun menggunakan botol milik Nicolas untuk menyembuhkan kawan-kawannya yang terluka pada bagian telinga.
"Nico, maaf. Hanya saja ... ramuanmu habis," ucap Harun merasa bersalah, tapi Nicolas tampak tak keberatan dengan hal tersebut.
Harun memasukkan botol kosong itu ke dalam tas Nicolas. Perlahan, para remaja itu mulai tenang. Napas mereka tak tersengal lagi meski masih terlentang di atas tanah. Harun lega dan segera duduk menyender pada dinding batu luar gua. Ketika Harun sedang melepaskan sumpalan di dua lubang telinganya, tiba-tiba ....
"Grrr ...."
Mata Harun langsung bergerak ke arah jalanan yang menurun di tebing. Kening remaja berkulit hitam itu mengkerut saat mendengar suara samar dari seekor binatang. Harun merangkak melewati teman-temannya yang masih menggelepar di tanah sedang dalam penyembuhan. Mata Harun memindai sekitar, tapi tak mendapati sosok apa pun di wilayah itu. Namun, Harun bisa merasakan jika mereka tak sendiri melainkan ada makhluk lain, tapi wujudnya tak terlihat. Wajah Harun tegang seketika.
"Emph, ada apa, Harun?" tanya Mandarin yang akhirnya mulai membaik dan perlahan bangun meski masih duduk di atas rumput.
"Sstt ... jangan bergerak tiba-tiba," bisiknya dengan suara mendesis pelan seperti ular.
Mandarin langsung berwajah tegang. Ia ikut menoleh ke kanan dan ke kiri tampak waspada. Anak-anak lain yang mendengar bergerak perlahan. Seketika, suasana hening menyelimuti atas tebing batu itu. Saat Harun mulai merasakan jika makhluk yang tak terlihat itu seperti tak berada di dekatnya lagi, tiba-tiba ....
KLEK!
"Harun!" teriak Czar ketika melihat ranting pohon yang berserakan di atas tanah tiba-tiba retak seperti diinjak oleh sesuatu.
Mata Harun melebar, dan benar saja, "GOARRR!!"
"AAAAAA!"
"Harun!" teriak Czar lantang saat makhluk yang tadinya tak terlihat itu tiba-tiba menampakkan diri.
Harun diterkam dari samping saat dirinya tak menyadari pergerakan itu. Keduanya terjun dari atas tebing tinggi menuju ke kawasan berlumpur yang berada tepat di bawahnya.
"Makhluk apa itu tadi?!" pekik Nicolas langsung melebarkan mata dan dengan sigap berlari ke tepi jurang.
"Tidak tahu, tapi ia bisa membuat dirinya tak terlihat!" jawab Czar panik dan dengan sigap berubah menjadi Griffin.
Harun berusaha melawan makhluk yang ingin memakan wajahnya. Pemuda itu segera berubah menjadi Yeti agar mereka seimbang saat bertempur nanti.
"Cepat selamatkan Harun! Dia bisa tewas jika jatuh dari tebing setinggi ini!" titah Timo panik karena tak memiliki kemampuan terbang.
Bara, Boas, Vadim dan Czar segera menukik tajam untuk membantu kawan mereka. Saat Timo dan lainnya bersiap menaiki punggung naga Rex, tiba-tiba mata Nicolas dengan sosok Elf menoleh ke arah turunan tebing seperti menyadari sesuatu. Ryan yang duduk di belakangnya menatap Nicolas tajam ketika Elf cantik tersebut menarik anak panah dan segera melesatkannya ke tempat kosong.
__ADS_1
SHOOT! JLEB!!
"GOARRR!"
"Woah!" pekik Ryan langsung histeris ketika anak panah Nicolas berhasil mengenai makhluk sejenis yang akhirnya menunjukkan diri usai dirinya terluka.
"HARGHHH!"
"Kita dikepung!" seru Lazarus.
Kenta dengan sigap berubah menjadi sosok Phoenix. Ia yang awalnya hanya ingin menumpang tanpa harus berganti wujud, bergegas terbang untuk melindungi Rex karena membawa kawan-kawannya.
WHOOM!
"HAARGHH!" erang para makhluk itu setelah kamuflase mereka gagal.
Kenta menyemburkan napas apinya di sekitar Rex di mana ia juga melihat pergerakan dari jejak kaki di sekitar mereka beristirahat tadi.
"Cepat pergi dari sini!" seru Kenta yang masih terbang dan membakar sekitar.
Rex dengan sigap mengepakkan sayap. Anak-anak berpegangan kuat pada tubuh naga Rex agar tak jatuh. Rex melihat Harun sedang berusaha melawan makhluk jenis baru yang ingin menyantapnya.
"Eakkk!" lengking Czar saat cakar burung elangnya mencengkeram kuat tubuh dari makhluk itu sebelum menghantam tanah berlumpur.
Vadim menambah serangannya dengan menjejakkan kaki kuda Pegasus-nya ke wajah makhluk itu karena hampir melahap wajah Harun.
"Harun!" panggil Boas dan Bara yang terbang berdampingan ke arah teman Yeti mereka.
Harun mencoba melepaskan diri dari makhluk yang menyerangnya dan bergegas melompat. Boas dan Bara berhasil menangkap tangan Yeti Harun. Sayangnya, tubuh Harun yang besar membuat ketiganya tetap jatuh ke wilayah berlumpur meski tak membunuh mereka.
BRUKK!!
"Agh!" erang Boas sampai tubuhnya tergelincir karena lumpur yang licin.
"Turun! Dasar tidak sopan!" teriak Vadim marah dan sengaja menjatuhkan dirinya ke kubangan lumpur sehingga makhluk itu ikut tercebur di dalamnya.
Czar masih terbang melayang di atas mengepakkan sayap elangnya. Vadim segera berdiri di mana makhluk itu kini dikepung dari lima sisi oleh sosok Mitologi. Czar mengawasi dari atas dan memindai sekitar dengan mata elangnya.
"Lihat! Kulitnya seperti anti air. Lumpur ini tak menempel di tubuhnya," ucap Boas usai melihat lumpur-lumpur di tubuh makhluk itu turun dengan cepat seperti kulit tersebut begitu licin berlapis minyak.
Mata semua anak menajam ketika makhluk berkaki empat itu kembali bangkit. Ia mulai melangkah dan menyuarakan nada ancaman mengintimidasi. Anak-anak tampak bersiap dengan serangan yang akan muncul secara tiba-tiba. Czar melihat kesempatan. Saat ia mulai menukik untuk menyerang dari atas, tiba-tiba ....
"Woh, woh, woah!"
BRUKK!!
"Czar!" panggil Bara ikut terkejut saat mahkluk berekor pendek itu tiba-tiba saja menghilang. Czar tergelincir di atas tanah berlumpur dan bergulung-gulung hingga tubuhnya menjadi kotor.
"Hah, hah, aku baik-baik saja!" ucapnya lantang yang kembali bangkit.
Semua anak langsung waspada karena makhluk itu bisa berkamuflase sehingga tak terlihat. Namun, Vadim menyadari sesuatu saat lumpur yang berada di sekitar mereka bisa menjadi sebuah peluang untuk mengalahkan makhluk tersebut.
"Hei, ssttt ... lihat!" panggil Vadim berbisik seraya mengibaskan kepala Pegasus-nya.
Bara, Harun, Boas, dan Czar langsung menoleh ke arah Vadim memberikan kode. Jejak langkah hewan itu tampak jelas. Pergerakan makhluk berkaki empat itu terbaca oleh mereka. Harun mengangguk pelan, diikuti anak-anak yang lain.
"Kulitnya licin seperti belut. Ia susah untuk ditangkap. Satu-satunya cara dengan melukainya," ucap Czar yang sudah mencoba melakukan penyerangan terhadap makhluk itu.
"Oke," jawab Bara dengan sigap menarik pedang Elf yang ia lilitkan di pinggul, begitupula Boas.
"Kami bertiga akan membuatnya terperangkap dan menunjukkan diri. Kalian berusahalah untuk melukainya," ucap Harun pelan. Boas dan Bara mengangguk.
__ADS_1
Mata semua anak menajam ketika langkah makhluk itu terhenti di dekat Czar jatuh tadi. Seketika ....
"Serang!" seru Czar yang langsung mengangkat dua kaki depannya berupa cakar elang yang ditopang oleh dua kaki belakang bertubuh singa.
Makhluk itu seperti terkejut melihat Czar tiba-tiba saja seperti menantangnya dengan kepakan sayap besar tepat di hadapan.
"Heyah!" seru Boas dan Bara yang berlari dengan mengepakkan sayap meski tubuh mereka menjadi kotor karena lumpur.
Dua makhluk Mitologi itu mulai mengarahkan ujung pedang di mana hewan aneh tersebut diserang dari sisi kiri dan kanan bersamaan.
"Tak akan kubiarkan kaukabur!" seru Harun langsung menghadang dari arah belakang meski kesulitan berlari karena ia hampir terpeleset berulang kali.
Harun memanfaatkan lumpur-lumpur di sekitarnya dengan melemparkan ke arah makhluk tersebut. Makhluk itu dibuat tak berkutik meski tubuhnya bisa dengan cepat menjatuhkan benda lembek itu. Namun, sosoknya menjadi terlihat karena lumpur-lumpur yang mengenai tubuhnya.
"Habisi dia!" seru Bara lantang.
JLEB!
"HARGHHH!"
Boas dan Bara merasakan ujung pedang mereka seperti menusuk benda padat. Perlahan, darah warna merah terlihat. Dua anak itu lalu menarik pedang Elf dan melihat makhluk yang mereka serang menampakkan diri. Makhluk itu terhuyung karena terluka pada bagian perut. Ia jatuh dengan rintihan kesakitan yang membuat anak-anak tak lagi menyerangnya. Saat Harun dan lainnya bernapas lega, lagi-lagi ....
"Awas! Awas! Belakang kalian!" seru Mandarin dari atas punggung naga Rex saat menyadari terjadi pergerakan besar di belakang mereka, tapi tak terlihat.
"Pasti makhluk sejenis lainnya! Semua bersiap!" seru Vadim yang dengan sigap mengepakkan sayap dan terbang melayang.
Harun dan lainnya melihat jejak kaki terciprat pada danau lumpur di depan mereka. Lagi, kelompok itu bersiap untuk melawan para makhluk tak terlihat di tempat antah berantah.
"Kami akan bantu!" seru Lazarus seraya melompat dari atas punggung naga Rex saat ekor hewan besar itu sengaja diturunkan sebagai jalan bagi kawan-kawannya yang ingin turun tanpa ia harus mendarat.
Lazarus, Rangga, Mandarin, bahkan Ryan dengan sigap merosot. Mereka segera berubah dan melakukan serangan dari belakang, mengejar sekumpulan makhluk tak terlihat.
"Timo! Bersiap!" seru Rex masih dalam wujud naga.
Timo yang tak bisa berubah karena wilayah yang tak menguntungkannya mengangguk siap. Nicolas berpindah tunggangan dengan menaiki Pegasus Vadim. Meski mata Elf Nicolas tak bisa melihat wujud makhluk-makhluk tak terlihat itu, tapi instingnya seakan bisa membaca pergerakan musuh. Nicolas melesatkan panah Elf-nya saat Vadim terbang di atas segerombolan makhluk-makhluk berkaki empat tersebut.
SHOOT! JLEB! JLEB! JLEB!
"HARGHH!"
Tiga makhluk tak terlihat kini menampakkan wujudnya. Mereka jatuh dan tertinggal dari kumpulan sejenis yang terus melaju untuk menyerang kumpulan tim Harun. Saat Lazarus siap menebas kepala makhluk itu dengan pedang Centaur, ia teringat sesuatu.
"Hei! Makhluk ini salah satu buruan kita!" serunya lantang tak jadi melakukan eksekusi.
Ryan dan lainnya terkejut. Kenta yang mendengar hal tersebut segera turun usai merampungkan tugasnya di atas tebing. Makhluk-makhluk penyerang yang ternyata jumlahnya tak terhingga itu tewas terbakar karena dilahap api sang Phoenix.
"Akan kuambil darahnya!" seru Kenta saat ia kembali menjadi manusia dan kini mencoba berlari ke arah tiga makhluk yang berusaha bangkit untuk kembali melawan.
"Lindungi, Kenta! Tahan makhluk ini!" seru Lazarus saat ia tak jadi membunuh karena khawatir jika darah yang dibutuhkan harus dalam kondisi segar.
Ryan dengan sosok Tuan Pohon melilitkan tangan kayunya untuk memerangkap buruannya agar tak lolos. Rangga ikut membantu dengan memegangi salah satu makhluk yang terus memberontak meski sudah terluka. Sedang Mandarin fokus untuk membantu tim Harun karena mereka kalah jumlah mengingat jejak kaki yang ditunjukkan oleh kawanan makhluk tak dikenal itu begitu banyak seperti segerombolan banteng.
Kenta terus berlari dengan susah payah karena berulang kali hampir tergelincir. Saat ia hampir tiba di dekat Tuan Pohon, tiba-tiba, CRAT!! CESS ....
"ARGHHH!"
"Kenta!" seru Rangga saat melihat makhluk yang menyerang para rusa kembali datang dan seperti berpihak kepada makhluk-makhluk tak terlihat itu.
Kenta terkena semburan cairan peleleh dan membuat tasnya meleleh seketika. Cairan seperti asam itu juga mengenai kepala belakangnya sehingga terlihat luka besar yang mengikis rambutnya. Kenta jatuh dengan erangan kesakitan seraya memegangi kepala.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE