
Gibson mengomandoi dua tim tersebut. Tim Yeti beranggotakan Gibson, Harun, Rex, Jubaedah, Vadim, dua kurcaci topi jingga dan merah.
Sedang Tim Ogre beranggotakan Mandarin, Azumi, Kenta, Nicolas, Pasha, Ryan, tiga kurcaci yakni topi ungu, kuning dan biru.
Timo sudah berubah menjadi duyung. Ia bertugas untuk menjaga kawan-kawannya yang menaiki batang pohon agar tak tenggelam sampai mereka tiba di sarang naga.
Sedang Hihi, sebagai penjaga kawanan di langit untuk memastikan kawan-kawannya tak mendapatkan serangan yang mengancam nyawa mereka.
Anak-anak yang akan mengarungi sungai merasa lega karena ada Timo dan Hihi yang menjaga mereka.
Setelah semua persiapan selesai, para remaja itu mendorong batang kayu menuju ke sungai bersama-sama lalu bergegas menaikinya.
Wajah tegang tampak jelas di raut anak-anak itu karena takut tergelincir saat menaiki batang kayu.
BYUR!
"Woah! Ternyata asyik!" seru Vadim gembira.
Ternyata, anak-anak lain juga merasakan keseruan yang sama. Mereka menjaga kestabilan laju batang pohon yang mereka naiki dengan dayung dari batang pohon.
Sungai tersebut cukup dalam dan arusnya lumayan deras. Timo melihat di bawah air untuk melihat pergerakan arus sungai.
"Timo!" panggil Gibson seraya mengendalikan pergerakan batang pohon itu.
"Sejauh ini aman, tak ada cabang. Lurus saja dan tetap berada di tengah. Tepian sungai banyak batu-batu. Hati-hati, batang pohon bisa tersangkut," jawabnya dengan bagian tubuh atas muncul ke permukaan.
"Oke! Kami mengerti," ucap Gibson yang diangguki semua anak.
Tim yang berada di urutan kedua mengikuti pergerakan tim Gibson yang memimpin jalan. Sungai tersebut cukup lebar dan panjang.
Cukup lama mereka mengarungi sungai dan bertahan agar tak tergelincir. Pengalaman mereka di planet Mitologi memberikan kesan mendalam meski bahaya selalu mengancam nyawa setiap saat.
Namun, anak-anak itu mulai menuai keberanian ketika keadaan terdesak. Mereka saling membantu dan percaya dengan anggota timnya.
Selang 15 menit usai kepergian tim Ogre dan Yeti, kelompok 'Killer' tiba di lokasi terakhir sebelum mereka akhirnya memutuskan untuk mengarungi sungai.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Bagaimana?" tanya Bobby menatap serigala wanita yang melacak jejak.
Seketika, serigala hitam itu berubah menjadi manusia lagi seorang gadis cantik. Ia melihat sekitar seperti memikirkan sesuatu.
"Jejak mereka hilang di sini, Bobby. Ini aneh," jawabnya serius.
"Oh! Lihat! Dua batang pohon ini seperti dipatahkan. Getahnya masih baru. Dan ... lihatlah jejak ini. Tampaknya, mereka menggunakan batang pohon sebagai kapal dan berlayar di sungai," ucap Oscar di kejauhan seraya menunjuk pohon yang tumbang.
Mata Bobby menyipit.
"Kita harus segera menyusul mereka. Anak-anak itu pasti memiliki rencana. Sepertinya telur naga kita akan dibawa ke suatu tempat. Bisa jadi, telur itu salah satu misi mereka. Ini tak bisa dibiarkan!" serunya lantang terlihat marah.
"Apakah kita akan mengikuti cara mereka? Jujur, Bobby. Aku ... takut air. Aku pernah tenggelam sebelumnya," ucap gadis serigala terlihat gugup.
"Aku tidak mau tahu. Kauharus ikut, jika tidak kauakan kami tinggal. Kauakan sendirian, dan kautahu konsekuensinya? Kaubisa mati karena tak ada kami yang melindungimu," ucapnya seraya berjalan mendekat dengan sorot mata tajam ke gadis cantik itu.
"Oke, oke, aku mengerti," jawabnya takut.
__ADS_1
Bobby meminta semua anak untuk segera bersiap. Bobby merubah dirinya menjadi Troll untuk merobohkan satu batang pohon ukuran sedang sebagai kapal untuk mengarungi sungai.
Terlihat jelas jika gadis serigala itu ketakutan. Nantinya, ia duduk di tengah diapit oleh dua kawannya yang duduk di depan dan belakang.
"Kau akan baik-baik saja," ucap remaja pria bertubuh gemuk di belakangnya menenangkan. Gadis itu mengangguk pelan.
"Dalam hitungan tiga, dorong batang kayu sampai ke tengah sungai. Bersiap!" teriak Bobby lantang.
"Hoi!" seru anak-anak mantap, meski gadis cantik itu terlihat gemetaran.
"Satu, dua, tiga!" serunya mengomandoi.
Anak-anak mendorong batang kayu dari tepian menuju ke sungai dan langsung menaikinya begitu terapung.
Dengan sigap, gadis itu naik dan langsung panik saat kakinya sudah tak menginjak daratan lagi. Matanya memindai sekitar seperti ketakutan akan sesuatu saat tubuhnya sudah berada di sungai.
Perlahan, batang kayu itu bergerak menuju ke tengah sungai mengikuti arus. Gadis itu memejamkan matanya erat dan berusaha agar tak menangis.
Remaja pria yang duduk di belakangnya bisa melihat jika kawannya itu ketakutan. Gadis itu berpegangan kuat pada batang kayu dengan mata terpejam.
"Tina, Tina, it's oke. Kita akan baik-baik saja," ucap anak lelaki gemuk di belakangnya, tapi Tina malah menangis meski matanya terpejam.
Anak-anak yang mengetahui kawan mereka menangis terlihat iba, tapi Bobby malah marah karena hal itu.
"Dasar cengeng! Apa yang kautakutkan? Ini hanya air dan kita terapung di atasnya!" teriak Bobby yang duduk paling depan.
"Bobby. Sebaiknya Tina mengikuti kita dari tepian sungai saja. Dia bisa berlari, tak perlu ikut menaiki batang kayu," sahut remaja pria gemuk yang duduk di belakang Tina.
Gadis itu mengangguk cepat tanda setuju.
"Tidak bisa. Kita harus selalu bersama. Dengan mengarungi sungai, kita akan lebih cepat sampai. Jika Tina di darat, tak ada yang menjaganya," jawabnya menolak.
"Aku akan melindungimu, jangan takut. Bertahanlah, ini tak akan lama," ucap remaja itu dan Tina mengangguk pelan meski air matanya terus menetes.
Namun tiba-tiba, batang kayu itu tak lagi bergerak lurus dan malah melintang. Anak-anak tersebut tak menggunakan dayung untuk mengendalikan laju batang kayu yang mereka naiki.
"Wah! Wah! Bobby! Bagaimana ini?!" tanya seorang remaja pria panik yang duduk di depan Tina.
"AAAAA!" teriak Tina histeris dengan mata terpejam saat batang pohon yang mereka naiki mulai berputar di tengah aliran arus air yang mulai ganas.
Terlihat, anak-anak mulai cemas dan bingung dalam mengendalikan kapal sederhana mereka itu.
"Oh! Bobby! Di depan ada cabang. Mana yang harus kita pilih?" tanya Oscar yang duduk paling belakang di mana kini posisinya malah menjadi di paling depan meski memunggungi aliran sungai.
Bobby tak menjawab. Ia panik karena batang pohonnya terus berputar dan mulai tak terkendali.
"Bobby!" teriak Oscar menoleh ke belakang ketika ada sebuah batu besar di tengah-tengah yang akan menghantam batang pohon mereka.
"Pegangan!" seru Bobby lantang memeluk batang kayu itu.
DUAKKK! KRAKK!!
"AAAAA!" teriak anak-anak saat batang pohon paling ujung yang di duduki oleh Oscar menghantam batu besar dan membuat kayu tersebut berputar dalam arus.
Anak-anak berteriak histeris karena kini mereka memasuki aliran sungai dengan arus deras dan beriak. Tanpa mereka sadari, batang kayu yang mereka naiki mulai retak.
Seperti berada dalam arung jeram, tubuh mereka terombang-ambing karena batang pohon mulai bergerak tak terkendali. Tubuh mereka basah kuyup, tapi sudah tak dipedulikan lagi.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba, "Bobby!" teriak remaja pria yang duduk di belakangnya saat melihat banyak batuan di hadapan mereka dengan aliran sungai menurun berarus deras.
"AAAAA!"
DUAKK! KRAAKK!
BYURR!
"TINA!" panggil anak lelaki yang duduk di belakang gadis serigala itu saat batang pohon mereka menghantam batuan hingga terbelah.
Pegangan Tina di tubuh kawannya terlepas saat tubuhnya terhempas karena arus sungai yang deras. Anak-anak itu panik dan terus memanggil nama gadis itu.
Tubuh Tina timbul tenggelam karena ia tak bisa berenang. Tubuhnya terseret arus sungai. Batang kayu terbelah dua dan membuat anak-anak itu terpisah dalam aliran sungai yang dipenuhi oleh bebatuan besar.
DUAKKK!
"Aghh!" erang Oscar saat lengan kanannya terhantam batu besar dan membuatnya mengerang kesakitan.
Satu persatu, anak-anak itu tercebur ke dalam sungai kecuali Bobby yang masih bisa bertahan dengan berpegangan kuat pada batang pohon sebagai pelindungnya.
"AAAA! Help!" teriak anak-anak yang terseret arus sungai.
Sungai itu ternyata memiliki banyak cabang sehingga mereka semakin terpisah jauh. Tina yang pernah tenggelam sebelumnya tak ingin hal buruk itu terjadi lagi padanya.
Tina berusaha untuk tetap mengapung saat arus sungai yang membawanya mulai tenang tak beriak lagi. Sayangnya, ia sudah terpisah dari kawan-kawannya entah membawa mereka ke mana.
"Emph! Hah, hah!" engahnya berusaha untuk tetap bertahan dengan berenang semampunya menggunakan sisa tenaga.
Tina menelan cukup banyak air, tapi ia masih sanggup untuk memuntahkan dan mengambil udara saat kepalanya di permukaan.
Tina teringat ajaran saudara lelakinya yang saat itu mengajarinya berenang, tapi Tina bersikeras menolak melakukannya.
Ia hanya berdiri di pinggir kolam renang rumahnya dan melihat saudara lelakinya itu mempraktekkan gaya berenang.
"Ini gaya paling mudah dan konyol, Tina! Gaya anjiing!" seru remaja itu menggunakan dua kaki dan dua tangannya seperti seekor anjiing yang sedang berlari.
Tina bisa melihat gerakan itu dari atas kolam renang, tapi tetap enggan melakukannya. Sedang saudara lelakinya, tetap mempraktekkan gaya itu hingga Tina memutuskan pergi karena ia memiliki trauma dengan air dalam.
Tina teringat akan gaya aneh itu. Ia berusaha mempraktekkan meski tubuhnya sering tenggelam dan menelan banyak air. Ia berusaha untuk tetap tenang dan tak panik seperti yang diajarkan oleh saudaranya.
"Hah! Hah!" engah Tina susah payah menggerakkan kedua kaki dan tangannya seperti ajaran saudaranya. "Oh! Oh! Aku bergerak!" ucapnya senang dengan mata melebar.
Tina melihat tepian sungai dan terus mengayunkan kedua tangan serta kakinya untuk membawa tubuhnya ke pinggiran.
SPLASH!
"Hah! Hah! Uhuk! Oh, ya ampun," engahnya lega saat ia berhasil sampai ke pinggiran dan pada akhirnya terlentang di atas rumput.
Napas Tina tersengal, tapi ia baik-baik saja. Tina melihat langit yang mulai redup seperti akan berganti malam. Perlahan, wajahnya berubah sedih. Ia kembali menangis meski tak terisak seperti tadi.
"Hiks, Timo ... kau di mana?" tanya Tina meneteskan air mata dan membiarkan tubuhnya basah kuyup di tempat yang tak ia kenal.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya. lele padamu mbak Aju bin bohay. kwkwkw maksa banget hahahaha