
Satu per satu, para remaja itu memasuki portal meninggalkan dunia permen usai menyelesaikan misi level 3.
Anak-anak berkumpul dan kembali dibuat takjub saat berada di tempat lain entah misi apa yang akan mereka hadapi kali ini.
"Lihat! Ada bulan! Apakah kita di Bumi?" tanya Vadim menunjuk.
"Entahlah, tapi tempat ini memang terasa seperti di Bumi. Kalian rasakan itu? Ada embusan angin," ucap Mandarin saat melihat rambut Azumi yang tergerai menari-nari.
"Kau benar! Di planet Mitologi tak ada angin. Kita pulang!" seru Pasha senang, dan anak-anak lainnya ikut bahagia.
Namun, Gibson sepertinya berpendapat lain. Ia menaiki daratan yang lebih tinggi untuk memastikan keberadaan mereka.
"Mm, aku rasa ... kita bukan di Bumi. Tempat ini mirip, tapi setahuku, di Bumi tidak ada hewan-hewan itu," ucap Gibson seraya menunjuk ke bawah di mana ia mendapati beberapa makhluk berkumpul.
Praktis, kegembiraan itu sirna. Anak-anak segera berkumpul dan melongok dari atas bukit.
"Woah! Unicorn? Pegasus?" tanya Boas dalam posisi merangkak karena takut ketahuan.
"Sepertinya ... pegasus. Mereka tak bertanduk," ucap Lazarus menilai.
"Lihat! Banyak burung-burung bercahaya di sekitar. Agh, aku kira kita sudah pulang," keluh Nicolas kecewa, termasuk anak-anak yang lain.
"Setidaknya, kita memiliki satu pegasus di sini, Vadim," ucap Gibson seraya menepuk pundak remaja gemuk itu. Vadim terkejut, tapi akhirnya berlagak layaknya ia penyelamat timnya.
"Bagaimana jika kita beristirahat di tempat ini? Sepertinya, tempat ini aman. Juby ngantuk," keluh Jubaedah terlihat lesu dengan tubuh masih basah.
"Ya. Ini sudah malam. Setidaknya, langit menunjukkan demikian. Baiklah, siapkan perlengkapan," tegas Gibson.
Namun, entah apa yang terjadi, Tina malah memandangi bulan yang bercahaya itu. Timo menatap adiknya lekat yang seperti terhipnotis akan sesuatu.
"Tina? Kau tak apa?" tanya Timo panik karena adik perempuannya seperti terbengong. Tiba-tiba, "Wow!" pekik Timo saat melihat tubuh Tina tiba-tiba berubah.
Sekujur tubuhnya mengeluarkan bulu berwarna hitam. Giginya mengeluarkan taring begitupula kuku-kukunya yang berubah tajam.
"Jangan bilang dia berubah menjadi manusia serigala!" seru Rex panik menunjuk.
"Semuanya menyingkir!" titah Gibson, dan praktis, anak-anak ketakutan.
Mereka berteriak dan menjauh dari Tina yang masih terpaku oleh bulan yang ditatapnya.
"Tina! Tina!" panggil Timo yang masih enggan menjauh.
Namun sepertinya, kekhawatiran Gibson terjadi.
"Auuuuu!" lolong Tina dengan tubuh sudah berubah menjadi manusia serigala seutuhnya.
__ADS_1
"Timo! Timo!" panggil Harun panik karena kawan lelakinya itu malah terpaku dan hanya mundur perlahan terlihat gugup saat mata serigala Tina manatapnya tajam.
"Ti-Tina ...."
"Gggrr ...," erang Tina yang seperti tak mengenali sosok Timo.
"Timo, awas!" seru Ryan saat melihat Tina mulai mengayunkan tangannya yang memiliki kuku tajam ke arah kakaknya.
Namun tiba-tiba, GRAB! SWING!
"Tina!" panggil Timo terkejut saat wujud serigala Tina tiba-tiba ditangkap oleh sosok makhluk bersayap seperti kelelawar, tapi bertubuh besar.
Tina meraung-raung mencoba memberontak, tapi makhluk seperti setengah manusia setengah binatang itu terus terbang dan membawa Tina ke sebuah tempat di atas bukit batu.
"Makhluk apa itu?!" pekik Rangga panik saat melihat kemunculan makhluk tersebut.
Ternyata, kemunculan makhluk itu membuat para pegasus yang berada di lembah langsung terbang meninggalkan wilayah.
Timo yang masih berdiri di tepi tebing bukit terkejut, karena ternyata, makhluk yang menculik Tina muncul secara berkelompok seperti melakukan penyerangan kepada para pegasus.
"Harrghhh!"
"Waaaa!" teriak Jubaedah histeris yang membuat kaget semua anak yang ikut berteriak panik sepertinya.
"Run!" teriak Gibson karena menganggap makhluk mengerikan itu bukan kawan melainkan ancaman.
Makhluk dengan sayap besar itu terus terbang mengejar seperti mencoba untuk menangkap mereka.
"Buset! Buset! Serem amat! Penyihir 'kah?!" pekik Bara panik karena wujud mengerikan makhluk itu.
"Terus lari! Jangan sampai terpisah!" seru Gibson yang berlari kencang dengan kawan-kawannya yang mengikuti di sekitarnya.
Namun, "AAAAA!"
"Peter!" seru Ryan dengan mata melotot saat melihat Peter berhasil ditangkap dan dirinya dibawa terbang seperti Tina.
"Ada lagi!" teriak Nicolas yang mengejutkan semua anak.
"Pergi ke sisi lainnya. Cepat!" titah Gibson yang mengubah laju lari mereka. Anak-anak lainnya segera berlari menghindari kejaran dari makhluk tak dikenal itu. Hingga Gibson melihat ada sebuah gua di dekat pepohonan. "Masuk ke gua itu cepat!" perintahnya lantang.
Vadim, Pasha dan lainnya segera masuk ke gua tersebut bergantian. Kenta yang melihat jika mereka bisa dikejar saat memasuki gua, segera merubah wujudnya menjadi Phoenix.
"Oakkk!"
"Harghhh!" erang para manusia kelelawar itu tampak kaget saat melihat wujud burung Phoenix Kenta yang bisa mengobarkan api di sekujur tubuhnya.
"Bakar mereka, Kenta!" seru Rex yang masih berdiri di luar mulut gua agar teman-temannya masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
Kenta tak terlihat takut dan melakukan yang Rex perintahkan. WHOOM!!
"Harghhh!" erang para manusia kelelawar saat mereka terkena semburan api dari mulut burung Phoenix Kenta.
Rex bersorak gembira karena wujud Kenta mampu mengusir para makhluk aneh itu meski dua kawan mereka diculik dan tak tahu dibawa ke mana.
"Kerja bagus, Kenta!" seru Gibson yang juga masih berada di luar untuk memastikan kawan-kawan mereka selamat.
Kenta mengembuskan napas keras hingga lubang hidungnya mengeluarkan asap. Kenta segera turun dan kobaran apinya reda. Ia merubah wujudnya kembali menjadi manusia usai berhasil mengusir musuh-musuhnya.
"Mengerikan. Makhluk apa itu?" tanya Rex ikut bernapas lega.
"Entahlah. Namun melihat wujudnya, apakah ... mereka sejenis vampir? Mereka bertaring, bersayap kelelawar, dan setengah tubuhnya manusia," jawab Gibson berpendapat.
"Ha? Emang vampir kaya gitu wujudnya? Bukannya manusia ganteng atau cantik gitu?" tanya Rangga terkejut yang ternyata masih berada di dekat mulut gua.
"Ya, itu di film-film, tapi entahlah. Kita menyebutnya apa? Ciri-ciri makhluk itu demikian," jawab Gibson menjelaskan.
Kenta, Rangga dan Rex saling berpandangan. Mereka kembali melihat langit di mana bulan mulai memudar.
Sayangnya, mereka belum berani untuk menjelajah karena khawatir, makhluk itu akan datang kembali.
"Teman-teman! Pasha menemukan sesuatu!" panggil Rocky kembali keluar dari dalam gua.
Segera, Gibson dan lainnya bergegas masuk. Ternyata, gua itu menuju ke suatu tempat. Semua anak berkumpul di tepi seraya melihat sekitar.
"Tempat ini seram," ucap Juby langsung menggenggam tangan Lazarus dengan mata memindai langit-langit gua.
"Ehem!"
"Eh! Salah pegang," ucap Jubaedah ketika menyadari jika tangan yang ia genggam bukan kekasihnya. Jubaedah langsung mendatangi Rex dan meringis malu.
"Sengaja pasti," ucap Rex melirik Jubaedah sadis.
"Ih, tempat ini gelap. Mana tau kalau yang Juby pegang bukan kamu. Gitu aja ngambek, cemburuan," ledeknya.
Lazarus menahan senyum. Namun, tempat baru yang mereka datangi kali ini sungguh berbeda.
Di balik keindahan alamnya, ternyata tersembunyi tempat-tempat menyeramkan. Anak-anak pucat seketika.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
makasih mbak Aju tipsnya. met weekend semua❤️