OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 99 : HALALIN MUNA BANG


__ADS_3

Muna tidak bisa mengingkari betapa nikmat dan indah dosa itu. Jika ia mengikuti keinginan setan nakal yang nongkrong dalam pikirannya. Tentu ia sendiri pun tak rela melepas pertautan, penyerangan, desakan, hisapan dan gigitan kecil yang terjadi bagai pergolakan lembut di dalam rongga-rongga mulutnya.


Namun kali ini, bukan Muna yang melepas pertautan itu. Melainkan Kevin yang seolah tersadar sendiri untuk mengakhirinya. Tanpa kode dari Muna.


Semburat rona merah menghiasi wajah Muna, terselamatkan oleh gelap malam yang hanya mendapat kilau pijar lampu dari haluan kapat tersebut.


"Makasih sayang." Peluknya pada Muna yang Kevin rasakan telah benar menerimanya, yang dapat Kevin rasakan dari setiap balasan manuver didalam mulutnya tadi.


Muna hanya memegangi bibirnya dengan telunjuknya. Memastikan jika ciuman tadi benar-benar telah berakhir.


"Kenapa... mau lagi?" goda Kevin yang tentu kembali mengundang guruh gemuruh tak menentu kembali membuncah dadanya.


"Abaaaang buruan halalin Muna." Ucapnya dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.


"Waaaw... Mae sudah ga tahan ya. Abang bilangin ya sayang. Tadi kita baru di beranda nirwana. Ibarat langit, tadi abang baru ajak Mae terbang di lapisan ke 3. Sabaaar, tunggu kita halal. Abang akan bawa Mae berada langit ke tujuh." Gombal Kevin yang sungguh dapat menguasai emosinya untuk tidak bertindak lebih dari itu.


Jangan di tanya bagaimana gejolah gairah dan setan-setan yang bermunculan di pikiran Kevin. Ia sendiri hampir tidak dapat memgendalikan tangannya sendiri untuk tidak menggerayangi bagian-bagian favoritnya.


Kevin sadar, itu adalah Muna. Calon istrinya, wanita yang ia imani menjadi ibu untuk anak-anaknya. Bukan wanita bayaran yang biasa melayaninya penuh n@f_5u dan demi uang saja. Yang selalu siap menjarah hampir seluruh bagian dalam tubuhnya tanpa terkecuali, dengan segala gaya sensual dan bin@l.


Kevin dan Muna sudah tidak saling duduk berpangku. Keduanya hanya saling duduk berjajar dan bersandar pada kursi malas yang tersedia di sana. Hanya saling meremas jari satu sama lain, menikmati malam panjang bertabur bintang, masih beratapkan langit dengan lirikan bulan sabit melengkung di sana.


"Mae sayang..."


"Hmm... ape bang?"


"Nanti kalo kita sudah nikah, panggilnya jangan abang lagi, ya sayang."


"Terus... Muna panggil ape? Entong? biar sama kayak babe?"


"Iisshh... sayang. Calon laki mu ini tampan sayang. Masa di panggil Entong. Cukup babe yang panggil begitu, Mae jangan ikutan dong."


Pinta Kevin manja.


"Ha...ha...ha. Teruuuus, Muna panggil abang apa dong?"


"Daddy lah, kan nanti kita pasti punya anak. Abang manggil Mae juga ganti. Jadi Mommy, oke sayang?"


"Mbuuuaahaahaaaa. Gondrongin dulu dong rambut abang kalo mau Muna panggil daddy." Kekeh Muna sambil memengangi perutnya menahan tawanya.


"Apa hubungannya?" Kevin tidak mengerti.


"Biar kaye Dedi Dores... !! Wuuuaahhahaa." Tawa Muna pecah sendiri membayangkan Kevin yang nanti di panggilnya dengan sebutan dedi.

__ADS_1


"Aseeeem ya calon bini abang...hah!!!" Kevin sudah mencubit hidung bangir Muna dengan keras dan lama.


"Adeeeedeeeh, ampun bang. Ampuuuun." Teriak Muna sambil mencubit perut Kevin tak kalah keras.


"Awas... jangan sembarangan cubit abang. Bawahan dikit, Mae selesai malam ini." Jawab Kevin melepas jepitan tangannya pada hidung Muna.


"Iye...iye. Maaf." Muna segera melepas cubitannya juga.


"Sayang sudah malam. Tidur giih. Malam ini mau tidur sama abang atau sama Siska?" tawar Kevin yanga sudah tau jawabannya.


"Ye... dengan pak Bara lah." Canda Muna.


"Ya Mae... bakar aja terus hati abang. Buat jadi sambal goreng hati sekalian, biar sedap." Ujar Kevin seolah merajuk.


"Canda ngape bang...?" Muna sudah memposisikan wajahnya berhadapan dengan Kevin.


Cup.


Bibir Kevin sudah mendarat darurat pada bibir manis Muna.


"Kesempatan niih si abang aah "


"Bonus part sayang, sebelum tidur." Jawab Kevin sambil mendusel-dusel pucuk kepala gadis kesayangannya.


"Yaaaahhh... Mae pasti sudah penasaran abang bawa terbang ke langit ke tujuh kaaan" Goda Kevin gemeesh pada Muna.


"Ya kalo di serang ke tadi, kayaknya Muna yang bakalan ga bisa nolak." Senyum simpul Muna tercetak nyata di wajahnya.


"Hmm... nakal. Gimana...? mesum itu nikmatkan."


"Dosa abaaaang."


"Iya dosa itu nikmat sayang."


"Dosa ya tetep aje dosa."


"Terima kasih sudah hadir dalam hidup abang ya sayang. Bagi abang Mae bukan manusia. Tetapi malaikat tak bersayap yang memang hanya tercipta untuk abang seorang."


"Amiin. Tetep bawa hubungan kite dalam tiap lantunan doa-doa kite ye bang. Agar semuanye lancar sampai tiba waktu yang kite sepakati bersama."


"Siiap sayangku."


"Oke, Muna ke kamar duluan ye."

__ADS_1


"Abang antar."


"Iish... Muna berani sendiri kok."


"Hmm... abang yang takut Mae jalan sendiri. Di bawah ada kucing garong, sayang." Bisik Kevin sambil terus menuntun Muna turun tanpa melepas posisi tangannya yang berada di pinggang ramping Muna.


Jangan tanya bagaimana jengahnya perasaan Bara yang sedari tadi terus berjaga di bawah, menunggu sang tuan turun dari deck atas.


Semua perkiraan dan dugaan tentu bagai hantu gentayangan di pikirannya. Dari pikiran baik sampai pikiran jorok pun menari-nari di otaknya. Bagaimana tidak.


Waktunya untuk mengenal Muna memang singkat, bahkan belum genap sepekan.


Tetapi pesona Muna telah mampu membangkitkan adrenalinnya untuk ingin mengenal Muna bahkan lebih dari teman biasa. Mungkin bisa di katakan ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Muna. Mana ia tau, jika seleranya justru sama dengan orang nomor satu di perusahaan itu.


Mundur teratur mungkin jalan terbaik, sebab cintanya masih di permukaan. Belum tercebur dalam, bahkan tak sempat ia menanggalkan apapun untuk benar terjun ke hati seorang Muna.


Melihat bagaimana Kevin sedemikian spesialnya memintanya untuk menyiapkan lamaran malam itu, Bara dapat mengukur kemampuannya. Bahwa ia tak sebanding untuk merebut hati Muna untuknya.


Sedikit pedas dan perih, mirip dengan mata emak-emak yang sedang mengupas berkilo-kilo bawang merah untuk hajatan. Mungkin seperti itu, perasaan Bara saat melihat Muna dan Kevin yang tampak bergelayut manja menuju kamar tidur Muna. Di salah satu kamar pada kapal pesiar tersebut.


Bara hanya mampu menatap tanpa dapat berucap, hanya jika boleh meminta waktu segera berlalu. Agar moment ini di tiadakan saja, agar hatinya tetap baik-baik saja. Tetapi, siapakah dia? Hanya sekelumit sampah, bagai dedaunan kering yang di terpa angin pun akan melayang hilang pergi, kemana arah angin tersebut membawanya.


Bara tau, Kevin bukan tandingannya.


Bersambung...


Naah....reader puaskan.


Bara bukan calon pebinor kok.


Dia juga baik seperti pak Bondan.


Ini jelang senin yak?


Buseeet dah, nyak kok Pe-de siih minta di vote🙈


Moga ada yang ikhlas kasih buat nyak othor biar makin semamgat ngehalunye.


Lopeh buat semua


❤️❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2