
Gita sadar jika penampilannyalah yang paling lebay di antara tetamu yang juga duduk dengannya di bagian depan rumah tersebut. Kedatangan mereka agak terlambat, pembukaan sudah lewat, sehingga Gita tak sempat mendengar nama pengantin yang akan di nikahkan pagi ini. Pihak WO pun tidak menyilahkan mereka masuk.
"Mas... ini tuh rumah saya. Ijinkan saya duduk di dalam lah paling tidak." sengit Gita pada salah satu WO yang menutup aksesnya masuk ke dalam. Gita malu, sumpah malu sadar dia seperti di dandan kayak pengantin, sebel pokoknya hari ini.
"Maaf mbak. Sabar sebentar, hargai klien kami. Acara sedang berlangsung tunggulah paling tidak, setelah ijab qobul ini mbak boleh masuk. Nanti kami yang pandu."
"Huh... emang aku pengantin perempuannya. Masuk pake nunggu ijab qabul selesai." Maki Gita pada pihak WO yang kembali berdiri di depan pintu, untuk menjalankan tugasnya.
"Iih mama utang penjelasan banyak sama aku, gila aja. Aku bahkan ga boleh masuk di rumah sendiri. Gendek banget." Umpat Gita sambil merengut.
Sementara dari tempat duduknya tersebut, Gita tentu dapat mendengar dengan jelas, lantunan ayat suci Alquran juga beberapa pesan nikah yang di jabarkan di dalam sana. Ya iyalah sound sistem segede gaban udah terpasang di seluruh penjuru rumah itu.
Tak berapa lama rungu Gita menangkap suara yang tak asing, menyeruak dari dalam dan sangat menyesakkan dadanya, guruh gemuruh mengundang tsunami kecil di hatinya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan Ananda Gilang Surenra bin Prima Pratama dengan anak saya yang bernama Gita Putri Mahesa dengan mas kawinnya berupa Seperangkat alat sholat, satu set perhiasan, Logam murni seberat 88 gram dan uang sebesar Rp. 888.000 di bayar. Tunai." Di luar Gita speachles. Kamera tiba-tiba mengarah ke wajahnya.
Tim MUA tadi lagi menyerbunya memasang juntaian melati, menyelipkan di sanggulnya ke arah kanan tubuhnya. Ada apa lagi siih ini??
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Gita Putri Mahesa binti Diendra Mahesa dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.” Lantang Gilang dengan satu tarikan nafas, dengan tangan yang masih saling berjabat dengan Diendra di depan saksi dan penghulu di dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah." gemuruh kata sakral itu menyeruak, menyentak keterkejutan Gita yang sedikitpun tidak curiga bahwa hari ini adalah hari akad nikahnya.
Gita hampir semaput di luar, saat mendengar namanya yang di sebut dari dalam sana. Luruh sudah semua rasa dongkol kesal Gita, menyadari ia korban prank yang sangat sempurna dan indah itu. Ada setitik air mata bahagia tergenang di pelupuk matanya. Sadar ternyata hari ini ia telah menjadi istri Gilang Surenra.
Zahra memberikan segelas air mineral untuk Gita, sebab tau bagaimana kacaunya perasaan Gita sekarang. Pihak WO yang menjaga pintu tadi pun, sungguh sudah menyilahkan Gita masuk. Bahkan mama sudah tampak keluar untuk menjemputnya. Kesel ga sih Gita, melihat dandanan mamanya yang juga tampak sempurna sebagai ibu mempelai pengantin.
Kini Gita sudah duduk berdampingan dengan Gilang yang tentu saja sudah menggunakan pakaian couple yang mereka pilih bersama untuk akad nikah.
__ADS_1
Pandangan netra Gita berpendar, ada ibu Gilang, Arum, Riswan, Haiyah, nyak, babe, Siska, Ninik juga. Ya Tuhan, hanya dia yang tiba-tiba merasa asing di ruangan ini. Ingin ghosting saja, saking kesal dan bahagia bercampur jadi satu dalam hatinya.
Sorot matanya sempat menajam, ingin minta penjelasan pada Gilang. Tapi ajakan untuk doa nikah sudah kembali di tangkap indra dengarnya. Sehingga duduk tenang, menunduk kepala dan menengadahkan tangannya adalah hal wajib yang harus ia lakukan sekarang.
Selanjutnya adalah sesi penandatanganan dokumen pernikahan. Keduanya bergantian membubuhkan goresan tangan pada buku nikah mereka.
Lalu Gilang dan Gita di minta berdiri untuk acara selanjutnya yaitu Serah Terima Mahar. Gilang sudah menyiapkan cincin yang akan mereka semat di jari masing-masing. Dan saat di bantu berdiri itulah, Gita sempat saja mencubit pinggang Gilang, geregetan kena prank. Gilang hanya meringis mendelik sebentar ke arah Gita.
"Bentuk cincin ini melingkar bulat tak bertepi, sama seperti cintaku padamu. Yang siap berbagi suka dan duka kehidupan kedepan, dalam lingkaran ini kita rangkum semua rasa antara aku dan kamu yang sudah menjadi kita." Ucap Gilang menatap sungguh pada Gita yang sudah sah menjadi istrinya lalu memasang benda putih perak bermata berkilau itu di jari manis tangan kanan Gita.
"Cincin ini hanya simbol ikatan. Hati jualah yang telah saling terikat. Dengan kehendak Allah SWT aku jatuh cinta kepadamu, Insya Allah kita terus berjodoh hingga jannah nanti,” Gita bahkan tak berkedip mengucapkan hal itu untuk Gilang, dengan mata berkaca terharu, bahagia.
Tanpa di perintah Gita segera mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, di balas Gilang dengan ciuman lama pada kening Gita. Sungguh hati keduanya sudah terserang badai, gugup, takut, haru, bahagia tak dapat mereka lukiskan, betapa hari ini seolah hanya terjadi untuk mereka berdua saja.
Peluk cium sudah terlerai, nasihat nikah kembali menguar oleh petugas yang sudah di tentukan. Tak henti Gita mandang tangan kanannya yang telah terikat cincin cinta Gilang. Banyak rasa yang berkecambuk di dadanya. Terlebih penasaran siapa saja yang sudah mengkondisikan acara hari ini, sehingga ia tak pernah membayangkan akan jadi pengantin hari ini. ( Untung para readers juga ga ada yang niat bocorin acara ini ke Gita, kalo ga. Amsyooong ma🤭)
Airmata bahagia tak dapat di bendung, Diendra justru bergetar parah saat Gilang sujud sungkem ke arahnya, Diendra mengangkat tubuh Gilang lalu menepuk bahu Gilang sembari berkata : " Titip Gita. Tolong demi Allah jangan sakiti putriku. Kembalikan saja padaku, jika kamu sudah tak dapat membimbingnya. Hujani ia dengan cinta jangan cecerkan luka. Hanya ini permintaan papi." Sungguh Diendra takut anaknya di perlakukan se breng sek ia pernah bermain-main dengan wanita. Setelah angkat mantu baru dia benar takut, karma akan berlaku.
"Insyaallah Gilang amanah pi." jawab Gilang yang bahkan seujung kuku pun tak pernah berkhayal untuk menyakiti wanita pujaannya itu.
Gilang beralih pada Indira, yang sudah sejak tadi terlihat lebih berlinang air mata. "Bimbing anak mama ke surga ya Lang. Doa mama selalu yang terbaik untuk rumah tangga kalian." Isaknya saat kepala Gilang ada di ceruk lehernya.
Hampir di tiap pernikahan, momen inilah yang paling banyak menghabiskan tisue. Sebab rata-rata orang tua dan anak tak kuasa menahan emosi dan tak mampu mengendalikan lajunya airmata yang mungkin sedikit merusak tatanan lem bulumata palsu yang mereka gunakan.
"Bunga mawar warnanya merah
Dari jauh terlihat indah
Pengantin baru tersenyum merekah
__ADS_1
Setelah jalani prosesi akad nikah" Celetuk babe mencairkan suasana melow di ruangan tersebut.
Sontak guruh gemuruh tawa dan celetukan kata "Cakeeep" mencuat di sana.
"Jalan-jalan ke pasar baru
Tidak lupa beli blewah
Selamat menempuh hidup baru
Untuk pengantin yang sudah sah" Ungkap babe lagi saat pasangan duo G itu sudah mendekat ke arahnya.
Bersambung....
Terpaksa nyak doubel up
Takut di kira bo'ong mau nikahin mereka di jumat berkah.
Buat readers yang selalu timpuk nyak
apa siih yang ga...?
Udah nyak bilang jangan takut dengan tanda end di sisi kiri.
Nyak akan selalu menepati janji.
Semoga suka yaaa semua
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1