OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : RAMUAN PELAKOR


__ADS_3

Kevin tumbang namun bukan berarti kalah, apalagi merasa puas. Ia hanya sedang mengendurkan otot otot yang baru selesai melakukan gerakan inti dengan dahsyatnya.


Muna teler, juga bukan berarti akan menolak serangan berikutnya. Muna sudah biasa dengan long trip, juga ekstra ekstra part yang selalu di suguhkan suaminya ini. Persis kaya reader yang udah lupa karya ini tamat, karena bonus chapternya selalu di nanti, celakanya otor juga tetap mau kasih. He... he... he.


"Abang naf su banget sih tadi." Muna memulai obrolan dalam posisi masih di pelukan Kevin juga, rupa mereka masih kaya bayi baru lahir. Polosan gaes.


"Itu bukan naf su, tapi kangen banget. Otong liburnya lama lho Mae." jawab Kevin membela dirinya.


"Baru lima hari papap DLnya. Habis lahiran tahan ngantri dua bulankan." Timpal Muna menganalisa.


"Ya kan itu beda kasus Mae. Itu mumun sedang dalam tahap renovasi, mana bisa di geprek geprek." Tawa Kevin berderai.


"Ayam kali pap di geprek." kekeh Muna.


"Eh... Mae. Kenapa otong masih harus sarungan? Mae belum pasang pager?" tanya Kevin agak serius dalam hal keinginan Muna menjaga diri agar tidak hamil dulu.


"Belum. Kan kata dokternya, itu di pasang saat haid. Ini Muna belum dapat juga haidnya." Jelas Muna.


"Mau di periksa lagi jangan jangan isi?" Kevin menakut nakuti Muna.


"Ya kan baru 2 minggu lalu kita USG, ga ada pembuahan. Aman kok. Lagian kata mama Indira, itu wajar saja terjadi. Dulu, mama bahkan hampir 8 bulan ga dapat haid setelah lahirin Daren." Tambah Muna kembali menjelaskan untuk Kevin, yang tangannya sudah mulai meraba raba bagian favoritnya. Dulu sih gundukan kembar, tapi sekarang sulit tangannya berpendar di sana. ASI Annaya masih sangat lancar. Jadi tangan Kevin bertandang ke rumah mumun saja, walau juga rawan banjir tapi ga banyak, hanya lembab jadi lincin deh tangannya keluar masuk, berselanjar di pekarangan yang di tumbuhi rerumputan kehitaman agak tipis, berbentuk dan teratur.


"Oh... sekarang bergaulnya sama mama Indira?" tanya Kevin sekedarnya, sebab sudah mulai tidak fokus dengan pertanyaannya sendiri, karena ulah tangan liarnya yang berkelana ke mana mana tadi. Belum lagi moncongnya, sudah mengendus endus sekitaran bahu wanita kesayanganya.


"Ya ... kan sekarang kita tinggalnya sekota. Mama juga kangen kali sama Ay dan Nay. Suka sepi katanya di rumah, jadi mendingan main di sini." Terang Muna yang tidak mau melewatkan sensasi yang ia rasakan di bawah sana, sehingga ia sengaja merenggangkan kedua pahanya, memberi akses sebebas-bebasnya untuk suaminya, bermain di daerah sensitiv yang mulai membuatnya meremang, hah. Tak lama lagi Muna yang minta di timpa. Tangan Kevin nackal tapi bikin candu juga bagi Muna di gituin.


"Terus tadi otong serasa di gigit gigit, kaya kejepit tuh, kenapa ya?" heeerr kulit wajah Muna memerah malu.


"Masa siih?" tanya Muna beneran malu.

__ADS_1


"Yang rasain itu otong, dan ga mungkin salah. Ayooo... mumun di apain jadi rasanya legit nikmat gitu?" puji Kevin yang merasa Muna tidak selugu biasanya.


"Kagak di apa apa in abang. Biasa aje kali." Jawab Muna.


"Jangan ada dusta di antara kita sayang. Bukannya dulu abang spesialis icip icip yang begituan, ya kerasa lah bedanya." Kevin mulai melorot ke tubuh Muna, giliran bibirnya yang berpendar di atas permukaan kulit perut istrinya, geli geli sedap. Itu yang Muna simpulkan.


"Ga pake apa apa, hanya karena mama Indira baru tau haid Muna galancar, jadi Muna di kasih minuman racikan jamu, ramuan apa gitu. Katanya biar cepet haid lagi. Dan badan sehat." Aku Muna pada suaminya.


"Wooow... istriku udah terkontaminasi minuman racikan pelakor. Jadi itu rahasia punya istriku, jadi ketat gitu? Apa itu juga resep biar laki orang berhasil di rebut." Kevin memilih rebah lagi di sisi Muna, entah kemana seleranya menguap setelah ingat, bagaimana dulu Indira menggoda papinya, dan menyingkirkan maminya.


"Maaf... Muna hanya menghargai pemberian mama. Muna sempe di tungguin lho saat minumnya pap. Kalo ga tiap pagi di telepon juga, untuk di ingatkan minumnya. Masa Muna bantah." Terang Muna membela Indira.


Kevin masih diam saja meletakan dua tangannya bersilang di bawah kepalanya.


"Ya udah.... nanti Muna buang saja. Dan ga minumnya lagi." Muna menyimpulkan jika suaminya agak marah. Memilih menarik selimut untuk menutupi tubuh bu gil suaminya, dan akan beranjak memunguti pakaian yang berserakan di lantai bagai sampah, adalah pilihan yang terbaik bagi Muna saat ini.


"Eeh... mau kemana?" Replek Kevin mengaitkan dua tangannya tadi pada pinggang Muna yang akan meninggalkan peraduan mereka.


"Siapa bilang ini sudah selesai. Tuh, otong udah on lagi." Kevin menumpuk tubuh itu di atas tubuhnya dalam posisi mereka sama sama duduk ke arah hadapan yang tidak besebrangan.


"Bentar abang cek lagi efek jamunya, tahan untuk 3 atau 4 ronde berikutnya ga?" kekeh Kevin yang otaknya sudah stabil.


"Modus deh. Kalo sampe segitu, bukan efeknya ga kerasa, tapi Munanya yang bakalan gagal nafas. Kelelahan." Kekeh Muna memilih berputar menghadap suaminya, lalu menerkam benda kenyal terbuka di depannya.


Hap


Cap


Cip

__ADS_1


Cup


Kembang kuncup. Teng teng teng, pertempuran di mulai.


Muna liar, Kevin menggila.


Lupa jika ada Aydan yang kritis, bisa saja dia bertanya itu leher bokap sama nyokapnya kenapa pada merah merah semua. Di pikir entar deh jawabannya karena apa. Yang pasri keduanya benar sudah lupa segalanya. Yang di pikiran mereka hanya menuntaskan rasa terpendam, dan harus di selesaikan hingga keduanya puas.


Muna sejak awal tak pernah gagal membuat batin Kevin puas, merasakan kenikmatan tiada bandingannya. Sejak, memiliki Muna, jangankan menggauli cewek cewek di luaran, melirik saja Kevin ogah. Sudah di pasang Muna kacamata kuda agar Kevin tidak jelalatan. Hati Kevin sudah di borgol, sehingga hanya tertuju pada hati Muna. Apalagi nyawanya, sudah ia pasrahkan sampai menutup usia hanya ingin bersama Muna seorang.


"Mae... ramuan pelakornya mantap. Mae boleh konsumsi lagi, tapi ada syaratnya." Kevin dan Muna sudah di kamar mandi, dengan posisi Kevin sedang membantu Muna menggosok punggung wanitanya dengan spons berbusa.


"Apa syaratnya bang?" tanya Muna penasaran.


"Jangan pernah mengkonsumsi itu untuk menggoda suami orang. Efeknya luar biasa, bisa bikin nagih dan susah lupa. Itu si otong beneran serasa di isep isep, bikin dia tambah keras aja." puji Kevin pada ramuan buatan Indira.


"Yang mau goda suami orang sape bang? Layani suami satu ini aje, aye klenger. Masa masih punya pikiran kelain hati?" Jawab Muna, yang kini berganti posisi mengosok punggubg suaminya dengan penuh kasih sayang.


"Abang cuma ngingetin. Jangan selingkuhin abang ya Mun. Abang janji akan selalu setia sama Mae." Tetiba Kevin melow, takut di selingkuhin oleh Muna, oooww no.


"Terima kasih sudah mengingatkan. Sayangnya semua yang ada dalam diri abang, baik itu sikap sampai harta yang abang punya, sudah sangat cukup bagi Muna. Jadi, insyaallah. Kita panjang jodoh ye bang."


"Amiiin." sahut Kevin mengecup tangan Muna walau masih penuh dengan busa sabun


Bersambung....


Tolong jangan minta nyak kasih resepnya mama Indira yaaak. Takut semua jadi penggoda suami tetangga ntar setelah minumnya. wkwkwkwkwkk


Salam halu se Indonesia Raya

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2