OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 71 : MELUMER


__ADS_3

Muna mengakui kebenaran yang nyak sampaikan padanya. Kekhawatiran babe juga, Muna sangat mengerti akan maksud mereka.


Desakan Kevin untuk segera menaikkan level hubungan mereka menuju halal pun sangat Muna pahami. Mungkin mengingat usianya yang makin matang.


Dukungan dan restu dari mama Leina yang walaupun bukan ibu kandung Kevin juga telah di kantongi oleh Muna.


Tak ada alasan yang pasti dan masalah berat sebenarnya bagi Muna untuk selalu menolak dan terkesan menunda keinginan Kevin untuk segera melamarnya menjadi istri Kevin. Istri seorang CEO yang tentu menjadi idaman wanita-wanita normal di luar sana. Tapi entah mengapa tidak dengan Muna, apakah tidak mengerti betapa mapannya Kevin, atau memang tidak peduli dengan hal materi keduniawian.


Muna juga sesungguhnya tidak menampik, betapa hatinya terkadang bergejolak dahsyat saat ia dan Kevin saling dekat. Ada aliran darah yang berdesir-desir saat ia hanya menyebut nama pria itu. Ada rasa resah dan rindu mengerogotinya, saat sehari saja tak mendapat kabar dari pria, yang ternyata mungkin telah membuatnya candu akan tingkah polah lelaki yang tak pernah ia kira, akan sedekat itu padanya.


Kehangatan sambutan mama Leina membuat Muna sedikit berubah pikiran. Untuk mencoba melumer untuk mungkin menerima saja, jika suatu waktu Kevin dengan serius melamarnya.


Ucapan Kevin menuju halal, ingin melamar dan kadang menyebutnya sebagai calon istri, entah. Seolah seperti sebuah tawaran makan pisang goreng di pinggiran jalan saja di indra dengarnya. Hal itu membuat Muna seolah belum menemukan kesungguhan di sana.


Melihat keakraban Kevin dengan keluarganya juga sangat di nikmati oleh Muna. Ia menyadari Kevin telah di anggap seperti keluarga sendiri oleh babe dan nyak. Sampai kapan Muna menunda, untuk apa ia terus menghindar hanya demi rasa takut yang belum tentu juga terjadi.


Ada kelakar dan perbincangan yang selalu mengundang tawa saat babe dan Kevin saling bercengkrama. Muna sadar, hubungan Kevin dengan papinya tidak baik. Sehingga, Muna tau. Betapa Kevin, justru tidak hanya serius ingin menikahinya, tetapi juga sangat ingin menjadi bagian keluarga Muna.


Usai makan malam, Kevin pamit pada mereka semua yang ada di rumah Muna, mampir untuk mengambil beberapa stell pakaian kerjanya di apartemen, kemudian melajukan mobilnya menuju rumah kediaman mama Leina. Di sana lah Kevin menginap, sesuai janjinya pada mama Leina.


Pagi merekah cerah ceria, secerlang gemilang suasana hati Muna dan Kevin yang terbangun oleh kumandang adzan di indra dengar mereka pada tempat yang berbeda.


"Assalamaualaikum. Bangun Mae, subuhan." Isi chat Kevin yang langsung mengundang senyum sumringah menambah semangat dalam hati keduanya.


"Walaikumsallam. Iye Muna ude bangun. Abang ude sholat?" balas Muna masih dengan sampiran senyum bibirnya.


"Ini mau wudhu. Sampai jumpa di pantry ya sayangnya abang. Muaaach."


Tokotok kotok


Tokotok kotok


Kira-kira begitu suara hati Muna yang sulit ia artikan mengapa itu selalu terjadi. Entah di akui Muna atau tidak, sesungguhnya. Kevin telah sangat sering membuatnya melayang, pulang pergi ke bulan, angkasa raya atau antariksa sekalipun. Karena kata dan perbuatan Kevin terhadapnya.


"Ampe kapan juga aye bertahan untuk kaga meleleh ame ni orang, ngapung iye, bedenyut ape lagi, meleleh udah sering juga. Dah aye nyerah ae dah. Takut nye malah khilaf berjama'ah ntar pan brabe ayenye." Monolog Muna dalam hati. Yang sudah yakin tidak akan menunda jika nantinya Kevin akan benar-benar melamarnya dengan lebih serius dan tidak terkesan seperti sedang bercanda.


Muna membalut tubuhnya selalu dengan pakaian rapi saat berangkat bekerja. Sehingga saat berpapasan dengannya tentu sebagian orang tidak menyangka akan tugas dan pekerjaannya. Walau pun saat melakukan pekerjaan tersebut, nanti tetap akan tertutup apron khusus atau di ganti dengan seragam OBnya.

__ADS_1


Muna dan Siska kali ini berangkah lebih pagi namun tetap sempat membawa bekal untuk sarapan pagi, yang rencananya akan mereka santap bersama di pantry.


Muna menoleh kiri dan kanan, berharap ia yang datang lebih dahulu dari Kevin. Tetapi ternyata perkiraan Muna meleset.


Kini Kevin sudah tampak duduk dengan santainya di salah satu kursi pantry dengan secangkir kopi di hadapannya.


Muna salah tingkah karena kehadiran Kevin di ruangan itu, sedangkan Siska memilih untuk pergi keluar, dengan alasan ada yang tertinggal di dashboard motor yang mereka gunakan tadi.


"Selamat pagi Mae..." sapa Kevin dengan senyum termanisnya. Sedemikian saat ia memandang gadis cantik pujaannya, yang kini telah berdiri di hadapannya.


"Pagi juge babang tamvan."


"Waaaaww... mimpi apa abang semalam di puji tampan oleh Mae. Ada maunya niih...?" Kevin berdiri mendekati Muna.


"Kagak..., mau aje sekali-sekali muji abang. Karena pagi ini auranya beda. Pasti karena tadi abang sholat." Ujar Muna yang langsung membuka lemari tempat biasa ia menyimpan alat pemanggang roti.


"Ketahuan ya... klo biasanya abang ga rajin sholat subuh?"


"Kagak use di bahas. Cuma abang dan Allah yang tau." Jawab Muna sekenanya.


"Mae... cari apa?" tanya Kevin saat melihat Muna yang kasak kusuk mbolak balik susunan stok makanan di dalam lemari pendingin.


"Yang ada, apa tuh di dalam?" tanya Kevin sedikit bingung.


"Telur, sosis, mie instan. Muna ada bawa bekal tuh, nasi tapi. Abang mau?" tawar Muna yang sebenarnya ia tau, dari ekspresi wajahnya. Pasti Kevin akan menolak.


"Abang malas makan berat pagi ini Mae." Jawab Kevin yang jawabannya sesuai dengan prediksi Muna.


"Muna buatkan omelet sosis aje bentar, pegimane?"


"Oke... boleh deh."


"Pernah coba yang pake mie instan kagak?"


"Belum siih."


"Mau coba...?"

__ADS_1


"Ga usah, mie ya sama kali Mae, karbohidrat juga."


"Kenapa takut gemuk ya si abang?"


"Ga juga, takut penyakitan saja. Abang belum mau mati, belum nikah ini." Jawabnya sambil terus memperhatikan Muna yang dengan cekatan sudah mulai beraksi dengan beberapa bahan yang akan di olahnya untuk sarapan pagi Kevin sang arjuna.


"Mae, kenapa bawa bekal?"


"Biar bisa sarapan bareng abang di mari. Ntar pasti abang minta di temenin makan pan."


"Pinter. Gitu dong, jadi pacar abang tuh harus peka. Jangan cuek aja. Cup." Sebuah kecupan hangat mendarat darurat di pipi kiri Muna.


"Sebelahnya lagi bang." Canda Muna menyindir.


"Ga... ah, buat nanti lagi aja. Yang punya pipi kadang galak dan pelit juga. Nanti kalo abang nyosor di kira ngelunjak." Kekeh Kevin yang tau, Muna hanya ngetes dia doang.


Muna tersenyum manis mendengar jawaban kekasih hatinya yang sangat semakin mengerti karakternya.


"Mae... kamis abang baru ga sibuk. Jadi, Kamis saja kita beli mobil buat kamu ya, atau Mae udah punya mobil impian sendiri, Mae tinggal bilang saja. Nanti abang beliin."


Praaaang...!!!


Serok untuk membalik omelet yang di pegang Muna sukses terlepas dengan sendirinya, akibat Muna terkesiap akan ucalan Kevin barusan.


Bersambung...


Hmm...


Mau jadi Muna atau mau satu kayak Kevin yaak??


Besok Senin niih


Nyak mau di kasih voteπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Lopeh-lopeh buar semua


β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1



__ADS_2