OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
BAB 251 : ASPRIMU MENJADI ASPRINYA


__ADS_3

Gilang semakin merasa kagum pada Kevin selaku bosnya juga sebagai kakakbdari wanita yang di cintai.


Jujur selama kedekatannya dengan Gita walau memang baru jadian. Tetapi ternyata ia sangat memperhatikan hubungannya dengan Gita. Bahkan begitu mendetail sampai urusan Sita pun tak luput dari pantauannya.


"Ijin menjawab pa Kevin. Jika menjadi suami Gita adalah pria kaya dan mapan, tentu saya belum mampu. Tapi jika yang boleh menjadi suaminya adalah pria yang akan berkomitmen setia, menjaga kehormatan dan akan berusaha menjadi suami yang bisa di andalkan saya siap." Tegas Gilang.


"Aku sih yess. Asal yang di Lembang kemarin jangan di ulang. Kaya ga bisa di tempat tertutup saja. Padahal kalai berduaan saja. Mungkin durasinya bisa lebih lama lho, Lang." Goda Kevin melumerkan ketegangan yang sedari tadi melanda Gilang bahkan lebih dari 30 menit bagai berada di ruang sidang.


"Heemm. Kemarin hanya terbawa suasana pak. Maunya sih tentu lebih lama. Tapi dosa kan, jadinya. Karena itu ijin kami menikah cepat, boleh?"


"Waah... niat baik sih kata babe. Memang harus di segerakan. Tapi yang kamu ajak nikah bukan saya ya. Pastikan yang bersangkutan lah. Sudah siap atau belum jadi makmum mu." Jawab Kevin lagi.


"Soal yang di Lembang... saya minta maaf dan janji tidak akan terulang. Dan dengan serius saya mohon dukungan dari pa Kevin memberi restu."


"Insyaallah." Jawab Kevin sambil mengulurkam tangannya sebagai tanda setuju.


Sementara Gilang di dalam ruang kerja Kevin. Rupanya Gita juga masih tampak uring-uringan ngobrol dengan mama Indira dan papi Diendra.


Sepertinya, Gita bernasib kurang lebih dengan Gilang di dalam tadi. Terlihat dari wajahnya yang merengut dan juga wajah Indira yang tidak bersahabat.


"Ada apa dengan wajahmu Git?" tanya Kevin ke arah Gita dengan Gilang yang berada di belakangnya.


"Ga ada apa-apa." Jawab Gita datar.


"Itu... Gita baru saja mengajukan promosi jabatan pada aspri mu itu ke mamanya." Jawab Diendra dengan bahasa penuh kode.


"Promosi jabatan dari apa kemana nih?" pancing Kevin.


"Dari jabatan sebagai asprimu menjadi asprinya seumur hidup." Jawab Diendra dengan senyum smrik.


"Oh..., nego yang baik saja dulu. Maaf, tidak bisa banyak ikut campur dulu. Sebab, itu kontrak seumur hidup, ga bisa di tanda tangani ulang, apa lagi menyetah di tengah jalan." Kekeh Kevin.


"Lang... sudah malam. Besok laporan hasil kumker kemarin saya tunggu setelah acara Aqiqah Naya. Oke.?"


"Siap pa. Dan semuanya, saya pamit. Permisi. Assalamualaikum."


"Walaikumsallam." Jawab mereka semuanya. Gita sudah melangkah mengikuti Gilang.


"A... kak Kevin bicara apa tadi."


"Neng... belum buka hape ya?" Gilang balik bertanya.


"Ga pegang dari tadi."


"Ya sudah, nanti di buka deh." Jawab Gilang pelan, lalu menuju motornya untuk kembali kerumah.


Mata Gita terbelalak melihat postingan di grup kantor. Tidak menyangka, hal itu jadi tranding topik. Gita segera keluar kamar dan mencari Kevin yang ternyata di kamar Naya untuk menemani Muna menikmati roti pesanannya.


"Kak..." Manjanya pada Kevin.

__ADS_1


"Huum."


"Gita baru liat postingannya."


"Terus?"


"Ya malu lah. Tadi malam juga Gita udah marah sama Gilang. Tapi udah terjadi."


"Ini ada apa sih?" Muna belum tau apa-apa."


"Itu di grup kantor, foto Gilang dan Gita ciuman tersebar luas." Jelas Kevin.


"Waw... tapi. Santai aja kenapa? Dulu aku pernah juga jadi tranding topik kaya gitu. Dalam bentuk video, tanganku di tarik CEO masuk ke dalam mobil. Sempat naik darah sih. Secara aku tuduh wanita penggoda CEO. Menggunakan segala cara biar dapat CEO. Tapi, CEO yang narik tanganku itu punya kuasa tertinggi dan bilang gini waktu itu, 'ga usah dengarin kata orang. Kita yang tau apa sebenarnya yang kita lakukan.' Gitu dia bilang. Jadi, yaa... seiring waktu juga terbukti. Aku tidak seperti itu. Walau akhirnya menikah juga." Muna mengenang masa lalu.


"Ini beda kasus, foto itu real. Saat itu mendadak aku di sosor olehnya. Saat Sita bilang hubungan kami hanya pura-pura."


"Oh... jadi itu semacam tindakan reflek, biar semua orang tau kalian saling memiliki? Kereeen."


"Keren...?"


"Iya... bagus kan. Supaya Sita mundur maksud Gilang pastinya."


"Iya... tapi aku tidak suka caranya begitu. Seolah aku gampangan." lanjut Gita.


"Jadi kamu kecewa Gilang begitu padamu?" tanya Kevin agak bingung dengan maksud Gita.


"Buahahahaaa..." tawa Muna dan Kevin pecah mendengar penuturan Gita.


"Mae... Gita sama nih kaya Mae dulu. Habis di cip ok sekali langsung bilang 'buruan halalin Muna, bang." ledek Kevin pada Muna.


*ABBAAAAANG" Sudah beranak dua, toa masih mengudara lhoo.


"Stt... Naya dan Ay bisa ke bangun sayang ah."


"Ya udah Git, bener dah tuh. Buruan nikah aja, udah saling cocok belum sih kalian berdua?"


"Kami cocok."


"Ya nikah segera."


"Kakak setuju?"


"Asal kamu yakin dengan pilihanmu, kenapa tidak?" jawab Kevin.


"Papi gimana?"


"Udah di bilang?"


"Udah tadi Gilang langsung yang ngomong."

__ADS_1


"Apa katanya?"


"Deket saja boleh, tapi kalau menikah kami harus dapat restu dari mama, kak Kevin dan kak Daren juga."


"Ooh. Gilang siap nikahin kamu?"


"Sebenarnya kami berdua belum pernah bicara ke arah itu sih. Secara kami baru jadian kak. Dekat selama ini kan hanya karena tuntutan pekerjaan, hanya sebagai teman. Sehingga isi obrolan kami bukan temtang konsep berumah tangga." Jelas Gita.


"Kalau begitu, nikmati masa pacaran kalian saja dulu. Yakin kan hati kalian masing-masing. Babe pernah bilang pada kami berdua dulu kan Mae. Menikah bukan akhir segalanyam Tapi justru awal dari segalanya. Dan bemar saja, kamu lihat sendiri bagaimana rumah tangga kami, yang setelah menikah justru harus pontang panting selalu di uji dalam hal kesetiaan. Menikah bukan hanya sekedar karena aku cinta padamu. Tapi bagaimana caranya meletakan rasa cinta itu agar selalu di tempatnya tanpa keraguan." Kevin pakai rumus keliling persegi nih, dua kali panjang tambah lebar.


Gita diam mendengar kata-kata Kevin. Semakin terpesona saja dia dengan cara pandang kakak tirinya tersebut.


"Eh... Git. Kemarin di cium saja kan? Bukan yang lainnya?" usik Kevin.


"Kakak... di cip ok aja Gita marah. Apa lagi di buat lebih dari itu, ya ga lah kak."


"Ya... kalo cuma di cium sih. Ga usah buru-buru nikah ga papa. Kecuali kamu bunting, besok juga udah kakak yang panggil penghulu ke rumah ini."


"Kalo di gitu in duluan juga, Gita ga bakalan repot minta restu. Udah ngacir aja ke KUA terdekat kak."


"Haaaa... ngebet nikah." ledek Kevin.


"Kakak dukung Gita kan?"


"Jangankan dengan Gilang, sama Baskoro kemarin juga kakak dukung. Asal kamu bahagia." Jawab Kevin.


"Iih... Gita ga mau sama Baskoro, matre."


"Nah... kamu bisa menilai sendirikan. Jadi, kakak beri kebebasan untukmu memilih yang terbaik dari yang baik. Ga papa banyak ketemu banyak orang sebelum nikah, ketemu yang salah dulu juga ga papa. Sampai yakin ketemu dengan orang yang tepat. Tuh, kayak kakak ketemu mamam dua anak ini." Kevin kesempatan dong nempel bibirnya di jidat Muna.


"Huumm... kalo kak Muna ya emang paling da best lah kak. Kakak beruntung dapatin dia, tau dianya... buntung kali dapetin kakak." Ledek Gita.


"Hahaa... hanya wanita yang beruntung dapetin kakakkmu ini. Tampan, mapan, setia dan perkasa."


"Penting ya pap perkasa itu?" leceh Muna pada Kevin.


"Siapa yang selalu klepek-klepek sama abang, Mae?"


"Iya... aye yang bucin sama abang." Muna mengalah.


"Hah? kok mama Ay yang bucin? Bukannya kakak Kevin yang bucin akut?" tanya Gita.


"Git... udah. Di diemin aja, kasian yang lagi masuk masa puasa. Biarkan dia bahagia." kekeh Muna.


Bersambung...


Maaf lagi susah bagi waktu nulis ya.


Beneran sedang sibuk jadi wanita kurir nih. Wara-wiri🤭

__ADS_1


__ADS_2