
Kevin tampak melangkah terburu-buru berpendar hampir keseluruh koridor rumah sakit itu, demi mencari Muna gadis pujaan hatinya, yang baru beberapa jam di tinggalkannya. Demi memperhatikan keadaan sang calon mertua.
Bahkan sudah berkali-kali Kevin memastikan di setiap sudut mushola tersebut. Namun nihil. Kevin sama sekali tidak menemukan Muna di sana.
Kevin mulai gamang, pikirannya pada tempat yang tepat, tak lagi bersih. Bermacam ragam pikiran bermunculan sekehendak datang dalam benaknya.
Ingin bertanya, namun pada siapa?
Ingin mencari tapi sudah tak tau harus kemana?
Kevin merogoh kantongnya, baru terbesit dalam pikirannya untuk menghubungi ponsel Muna.
"Bulsiiit. Saking gugupnya, Aku bahkan lupa untuk mencarinya dengan benda ini." Pekik Kevin di dalam hati.
Nada tunggu terdengar dari sambungan telepon Kevin. Dan Kevin memilih untuk masih berada di sekitar mushola rumah sakit tersebut.
Namun bukan jawaban telepon itu yang di terimanya, justru suara dering ponsel yang sedari tadi meronta-ronta untuk segera minta di angkat yang dapat di tangkap oleh rungunya.
Kevin memendar langkahnya, dengan terus memindai suara dering itu melalui ponselnya. Ternyata ponsel Muna teronggok kaku tidak jauh dari tumpukan lipatan mukena yang tersusun di sudut ruang mushola tersebut.
Tertera nama 'Abang' yang terpampang memanggil tampak meronta pada layar pipih, canggih itu di sana. Dan hal itu semakin menyulitkan Kevin untuk tau di mana keberadaan Muna sekarang.
Kevin hanya bisa termangu, meruntuki kesialannya hari ini. Belum selesai keterkejutan hatinya akan kabar calon mertuanya yang mengalami kecelakaan, lalu terungkapnya sebuah kenyataan jika Muna adalah anak pungut, mengapa kini justru sekarang ia harus di perhadapkan dengan kenyataan jika Muna menghilang.
Jangankan untuk makan, sekedar untuk melangkah pun bagi Kevin kini sangat berat. Berat, teramat berat.
"Aku memang seorang pendosa, namun aku juga manusia yang memiliki keterbatasan yang tak bisa dengan mudah menaklukkan semuanya, Tuhaaaaan." Hati Kevin seolah tercabik-cabik. Sibuk dengan perih dalam versi baru. Yang ia sendiri tak tau, kedepan apakah ia masih mampu berdiri tegak menantang segala badai menaklukan semua aral, dan bersabar akan segala cobaan.
Adzan magrib sudah kembali berkumandang. Kevin tentu memilih sholat untuk mendapat kejernihan pikiran, membawa prahara baru untuk ia adukan pada sang Tuhan, yang maha mengetahui segala dan empunya jagad alam semesta ciptaannya.
Mendapat sedikit ketenangan setelah melaksanakan kewajibannya, Kevin memilih untuk menemui babe dan nyak. Ia menyadari walau berat, yang mungkin ia jalani sekarang, namun ia harus tetap berdiri tegar setegar karang di lautan. Demi Muna, masih ada babe yang harus medapatkan perhatiannya secara ekstra. Masih ada nyak Time yag tak kalah lelah dalam menanti kabar terbaik untuk kesembuhan sang suami.
__ADS_1
Tampak beberapa perawat sudah mendorong bed pesakitan itu ke ruang operasi.
Setelah membisikan rapalan doa dan ucapan penyemangat untuk babe. sebelum blankar itu benar-benar masuk keruang operasi. Akhirnya Kevin berhasil membujuk nyak untuk mencari tempat makan, yang sejak tadi memang tampak lemas, tak bertenaga. Tidak hanya tenaganya yang terkuras, justru pikirannya yang sedang di guncang cobaan.
Pikiran nyak terlalu penuh dengan kekhawatiran akan kondisi suaminya, sampai ia lupa akan tubuhnya sendiri yang justru lebih harus di perhatikan terutama urusan makan.
"Pin... Muna kemane?"
"Makan saja dulu nyak." Jawab Kevin berusaha menutupi kenyataan bahwa ia pun sedang gundah gulana tak tau di mana Muna yang bahkan pergi tanpa membawa ponsel.
"Tapi kalian ude makan pan...?"
"Iya... sudah. Setelah ini, nyak istirahat di kamar yang sudah Kevin pesan untuk nanti babe tempati setelah operasi ya. Pakaian ganti nyak sebentar lagi di akan di antarkan Bara." Kevin sedikit berbohong agar nyak Time tidak panik.
"Pin... maafin nyak, babe ude banyak ngerepotin elu."
"Sudah menjadi tanggung jawab Kevin nyak."
"Namanya juga musibah nyak, siapapun tidak bisa menolak. Yang penting kita bisa melewatinya dengan sabar. Babe kecelakaan, dan kita sudah tepat membawa beliau ke rumah sakit ini. Sehingga nanti kita tinggal menunggu pemulihannya saja." Terang Kevin so tenang.
Padahal Kevin hanya berpura-pura tenang. Ia bahkan sudah mendatangi pihak security rumah sakit itu untuk membantunya mencari keberadaan Muna.
Tetapi tetap saja, walau foto Muna di perlihatkannya pada beberapa penjaga, mereka tetap mengatakan tidak melihat orang itu keluar dari rumah sakit ini.
Kevin di buat bingung sekaligus penasaran. Maka cara satu-satunya adalah meminta pihak rumah sakit memperlihatkan CCTV yang ada di rumah sakit tersebut. Berapapun biaynya, dan apapun konsekuensinya akan ia jalani, demi tau kemana arah dan keberadaan calon istrinya tersebut.
Kevin dan nyak Time sudah kembali ke area rumah sakit itu kembali, dan berpapasan dengan Bara yang sudah membawa 1 tas keperluan nyak Time dan babe. Agar nyak Time tidak banyak pikiran hanya soal keperluan hari-harinya nanti.
Kevin menitipkan nyak Time pada Bara, sebab ia memilih untuk kembali berurusan tentang keberadaan Muna.
"Pa Kevin, dalam tas itu tidak hanya pakaian kedua orang tua Muna yang saya beli. Tapi ada untuk bapak juga. Semoga cocok. Sebab sepertinya bapak juga tak ada mandi sejak dari kantor tadi." Ucap Bara dengan hati-hati.
__ADS_1
Kevin menundukkan kepalanya, untuk memperhatikan tampilannya yang lusuh tak berupa. Dan hanya menepuk bahu Bara sebagai pergantian ucapan terimakasih atas pengertian sekretarisnya itu.
Kevin memilih untuk mandi menyegarkan kondisi tubuhnya, agar sekaligus lebih mendapatkan kesegaran jiwa. Operasi babe masih berlangsung, ada Bara yang berjaga di depan pintu, sementara nyak Time juga melakukan hal yang sama dengan Kevin, memilih untuk mandi dan bersih-bersih agar nanti saat babe sudah kembali siuman mereka menyambutnya dalam keadaan baik.
Kevin sudah berada di ruang pengelola CCTV, dengan segala bentuk rayuan dan negosiasi yang alot akhirnya Kevin di ijinkan untuk melihat bebrapa cuplikan tangkapan kamera tersembunyi tersebut.
Mungkin menyalahi kode etik rumah sakit, tetapi Wakil Direktur Hildimar Hospital, Dadang Sudrajat pun Kevin temui demi mendapatkan ijin untuk melihat walau hanyaberdurasi 5 menit.
"Saya mohon pak. Ijinkan saya melihat rekaman kamera di area mushola pada pukul 15.25 tadi. Sebentar saja. Saya mohon pa. Saya sungguh akan gila jika kehilangan calon istri saya." Pinta Kevin yang bahkan itu adalah untuk pertama kalinya ia meminta belas kasih pada seseorang.
"Calon istri mu ya anak muda...?"
"Iya pak. Kami bahkan akan melaksanakan akad nikah pada sabtu besok." Kevin sedikit curhat.
"Baiklah, saya ijinkan. Tetapi tetap bersama saya, agar pihak yang bertanggung jawab di sana tidak melarangmu masuk." Jawab pria paruh baya itu penuh pengertian.
Kevin dan pak Dadang sudah di ijinkan dalam ruang pantau tersebut. Tangan operator tampak begitu lincah memainkan kursor, memindai satu demi satu potongan gambar di sana.
"Itu... itu STOP di adegan itu...!!!" Pekik Kevin menunjuk pada monitor di hadapan mereka.
Bersambung...
Like, komen, mawar dan kopi dari readers adalah moodboster bagi nyak.
Tetap simak dan ikuti lanjutan kisah ini ya👍.
Nyak usahakan bisa duoble up biar sengsara ini cepat berlalu.
Nyak tunggu di babselanjutnya.
Lope se-Indonsia Raya.
__ADS_1
❤️❤️❤️