
Tak usah di tanya ketika Aydan, Gilang dan Gita datang, pasutri itu tampak baru selesai mandi basah. Dan belum sarapan pagi.
Sebab bang napi bilang, kejahatan dapat terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah.. waspadalah. Lho... kok kejahatan siih, kesukaan itu ah. Segerkan pagi-pagi pasti s
bikin semangat.
Gita dan Gilang mana berani komen saat melihat bos mereka baru saja hendak sarapan. Di tinggal tadi ngapain aja coba??
"Lang..., Git, ayo sarapan bareng." Ajak Muna ramah.
"Silahkan bu, kalo kita makan semua. Takutnya si Ay rusuh." Jawab Gilang sopan.
"Neng... ambilkan sarapan si Ay. Biar cepet beres." pinta Gilang yang tau Aydan belum sarapan.
"Iih... Ay ga mau makan sama eneng, A'."
"Nanti Agi yang suapin." nego Gilang. Kemudian Gita pun beringsut mengambil makanan untuk Aydan.
"Eh... ngapain?" tanya Muna pada Gita mendekati alat masak milik Aydan.
"Mau kasih makan Ay." Jawab Gita.
"Ga usah, ini mau selesai kok."
"Ga papa bu. Ay makannya lahap dan sebentar, gemesh Gilang liatnya." Gilang berkomentar dari tempat duduknya.
"Ya sudah, makasih ya Lang." ucap Muna yang heran melihat Kevin melotot ke arah Gita.
Muna menyikut Kevin.
"Abang kenapa sih?"
"Tuh liat... Gita pemalas sekali jadi cewek, nyuapin Ay aja Gilang." Ketusnya pelan ke arah Muna.
"Biarin... mungkin Gilang memang lebih berpengalaman." Bisik Muna pada Kevin yang tidak suka dengan Gita yang menurutnya manja.
"Waaah... cepet sekali habis makanan Ay. Om Gilang pinter kasih makannya, ga belepotan juga. Udah punya anak berapa sih Om, pengalaman banget." Celoteh Muna memancing.
"Dua bu. Di rumah ada dua anak kakak, sejak bayi kami tinggal di satu rumah. Jadi kalo teteh atau ibu sibuk. Iseng aja Gilang bantu jagain." polos Gilang menjelaskan.
"Oh... pantesan ga canggung ngurus bayi. Tuh... Git. Banyak belajar dari Gilang tuh, jago lho jaga dan kasih makan bayi. Calon ayah yang baik ini." Tembak Muna membuat Gilang kehilangan senyum yang sempat ngambang di wajah Gilang.
Kevin memilih cuek, seolah tidak mendengar dan mungkin berusaha jaim pada asisten pribadinya juga seolah kaku pada adik tirinya, tidak menampakan persertujuan, juga tak tampak melarang.
Singkat perjalanan mereka telah kembali tiba di Bandung. Bertemu nyak babe yang juga rindu kembali pada Aydan yang 5 hari berlibur ke Singapura.
Sama seperti Gita dan Gilang yang juga sudah kembali ke habitat masing-masing.
"Waah... banyak banget aku di belikan oleh-oleh niih. Ya... ampun Git, ini kan parfum ori. Habislah gajimu sebulan kalo belanjaanmu begini tiap kali perjalanan dinas." Celetuk Ninik kagum.
"Tenang ga pake uang ku kok. Kan kami berangkat dengan ibu negara. Jadi dapat gratisan dong."
"Waaah keren banget. Beruntung ya kamu sama Gilang bisa ikut perjalanan bersama mereka."
"Alhamdulilah... rejeki Nik."
"Btw... gimana. Udah jadian belom sama si Gilang? Kamu suka diakan?"
"Niiik... rahasia dong, aku malu niih."
"Iya... rahasia, tapi kamu janji cerita dong gimana jadiannya."
__ADS_1
"Ga jadian Nik. Masa aku yang nembak sih. Malu tau."
"Ya ga usah di tembak, kasih efek-efek aja."
"Udah Nik. Dianya becanda melulu."
"Huum mesti pake cara lain kalo gitu."
"Apaan?"
"Ya apa aja gitu, sehingga kamu sama dia tuh selalu bersama. Terus kamu cari tau lah kesukaannya apa? sesekali kasih gitu."
"Nik... dia tuh cowok yang nyaris sempurna lho. Apa-apa bisa dia kerjain. Makin malu lah aku jadinya."
"Masa...?"
"Iya Nik. Kasih makan bayi juga dia gape banget, buseeet dah."
"Eh... gimana kalo kamu minta ajarin pake motor aja. Biar ada alesan deket gitu." Ide Ninik berkocolan di kepalanya.
"Ide bagus tuh. Lumayan kan bisa boncengan. Semoga ga banyak kerjaan. Tapi, biasanya kalo ibu negara sedang di Indonesia kantor ga bakalan di tinggal pak bos sih. Jadi di jamin aman."
"Naah mantap tuh. Hajaaar." Seru Ninik penuh semangat.
Sementara di rumah, Muna memang tampak tidak ada capenya bertingkah dengan Kevin. Ada-ada saja yang di dalam pikirannya, untuk mengisi waktu libur yang tersisa satu pekan itu.
"Abang... bobo di rumah nyak yuk bang. Kangen rumah."
"Ya ampun Mae. Bisa ga sih kita tuh hidup normal barang seminggu gitu. Males ah, abang cape."
"Mana liat muka capenya?" usil Muna menatap wajah suaminya.
"Apa liat-liat?"
"Mae mau goda abang?"
"Enggak... gatel aja dikit. Ini di sini." Garuknya sengaja di sisi paha deket-deket rumah mumun.
"Mau di bantu garuk Mae?"
"Oh... ga bang. Ga usah, abang cape. Muna bantu pijitin abang aja gimana?"
"Hah... Makin pinter aja emak satu anak ini merayu."
"Ga ngerayu. Tadi kan cuma usul."
"Usul boleh, maksa ga boleh."
"Mana sempat maksa, papap Ay udah nyolot gitu."
"Sayang... libur mu seminggu lagi kan. Bolehlah abang menikmati ada istri di rumah sendiri. Rumah tangga kita nih belum normal yang. Nafas bentarlah abang, Mae."
"Iya maaf. Tadi cuma ngajak, iseng. Biar ga bosen di rumah. Kalo ga boleh ya ga papa."
"Masa belum seminggu di rumah sudah bosan?"
"Ga gitu. Ya udah... iya. Ga jadi."
"Ngambek...?"
"Ga ... "
__ADS_1
"Bohong."
"Beneran"
"Tapi mukanya itu kelihatan ga ikhlas, Mae. Sini." Tarik Kevin pada tubuh itu lalu mendudukan di atas pahanya seperti biasa. Muna hanya diam.
"Marah...?"
"Ga... kesel aja dikit." Jawab Muna.
"Kenapa?"
"Udah ... ga penting. Misi..., Muna mau ambil Ay dari nyak babe aja."
"Ga boleh... selesaikan dulu masalah kita. Baru boleh keluar, ntar Ay jadi sasaran." Peluk Kevin posesif.
"Abang iih. Lepas deh"
"Ngomong aja."
"Abang gitu. Susah ya ngikutin maunya Muna. Kangen rumah doang. Kan ga harus hari ini juga. Bini orang tuh bang yang duit lakinya banyak kaya abang,. pasti udah kaya acara perjusami di mall."
"Apaan tuh perjusami?"
"Perkemahan jumat, sabtu, minggu di mall abaaaang."
"Ooh... tiga hari tiga malam gitu mager di mall?"
"Iyaa. Bini abang mana pernah? bobolin ATM abang sejak kenal sampe sekarang juga ga pernah. Masa, bini cuma minta pulang aja, udah bilang cape. Dosa tau...!!!"
"Iya maaf. Weekend ya kita tidur di sana. Sama Ay. Lama juga ga ke sana, pas Mae hamil tua ya."
"Heeemm."
"Jangan marah lagi. Abang udah iya in tuh. Jangan bikin abang berubah pikiran."
"Ga ikhlas? Ya ga usah, ga wajib juga kok."
"Ikhlas sayang. Senyum dong." Goda Kevin. Muna nyengir buatan.
"Heeem. Udah, Muna mau jemput Ay."
"Eh... bentar Mae."
"Apaan?"
"Itu tadi yang gatel. Sini abang garukin."
"Eeh buseeet. Dasar suami mesum." Kekeh Muna berlari ke arah pintu kamar mereka.
Namun sayang saudara saudara, Kevin terus menggiring Muna. Walau ada beberapa gerakan perlawanan dan penolakan dari pihak Muna. Tetapi Kevin adalah pemain handal, ia terus saja bermain, terus menggiring, hingga musuh terpedaya. Pasrah dalam kungkungannya. Siapalah Muna pemain pemula si anak bawang. Kevin terus menyerang, membuat Muna mengerang, dan pada menit ke 20, akhirnya GOAL. Gawang pertahanan Muna pun bobol tanpa adu finalti.( bacanya ala-ala reporter eh komentator bola kali ya gaes. Maklum nyambi nonton Suzuki APP nih🤭)
Muna segera bangun, berlari ke kamar mandi, segera mencuci perumahan mumun, berharap cairan, semburan otong itu tidak menempel di dalam rahimnya. Ambyaaar otong ga pake sarung beb.
Bersambung...
Udah tau jauhan, ketemuaan jarang-jarang berani ga pake KB
Cita-cita ga hamil.
Terserahlah, nyak ga ikutan pokoknya
__ADS_1
🤭🤭😂🙏