
Kevin dan Muna sudah di dalam mobil yang di kemudikan oleh pak Min supir pribadi Kevin sejak mulai pindah le Bandung.
"Ke rumah dulu pak." Perintah Kevin pada pak Min.
"Ngapain yang...?"
"Perlengkapanmu masih di rumahkan?"
"Udah tuh di belakang."
Cup
Kevin mencium kening Muna.
"Istri the best."
"Pak... langsung ke klinik biasa ya."
"Siap pak." Pak Min melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Muna sudah mensharelook alamat klinik pada mama Rona, agar mereka langsung menuju klinik tanpa ke rumah. Sebab Muna tau, rasa sakit itu sudah semakin cepat jedanya.
Kevin mengeringkan peluh Muna di kening dan sekitar wajah Muna.
"Udah makin sakit ya...?"
"Iya... kayaknya prosesnya lebih cepet nih yang."
"Udah makan tadi?"
"Udah... telor 4 biji, sama sup ikan salmon pap."
"Oke lah... yang kuat ya sayang."
"Selalu."
"Kira-kira tangan abang di gigit lagi ga ya..." Kenang Kevin ke saat lahiran Aydan.
"Boleh juga biar adil ngerasa sakitnya."
"Yaaang... di gigit sampe berdarah-darah, berbekas juga. Mana ada samanya dengan sakit yang Mae rasakan."
"Kodrat yang kodrat. Syukur di kasih boleh ngerasain lahiran lagi. Inget gimana awal hamil ade, rasanya ga sanggup bisa sampai di hari ini." Kenang Muna yang sempat keluar masuk rumah sakit di awal kehamilan ini.
"Iya... Bismilahirohmanirohim. Anak papap lahir lancar ya nak." Elus Kevin pada perut Muna.
Muna sudah di letakan di atas ranjang bersalin. Dan di lakukan pemeriksaan dalam oleh dokter Asih. Yang menangani Muna.
"Usia kematangan cukup, letak kepala bayi normal sudah turun ke jalan lahir, tekanan darah stabil, sudah ada pembukaan 7 cm. Ibu masih kuat berjalan, silahkan beraktivitas di luar kamar dahulu. Tapi bila sudah tidak sanggup rebahan saja." Dokter memaparkan hasil pemeriksaannya.
"Masih kuat jalan kok, dokter." Jawab Muna. Menuruni ranjang pasien berpegang dengan Kevin.
"Mau kemana?"
"Sembarang lah pap. Asal ga duduk aja." Jawab Muna sambil tersenyum.
Kevin tau semangat istrinya selalu berkobar jelang akan bersalin. Maka walaupun hanya berjalan keliling klinik tanpa tujuan Kevin tetap terlihat sabar memani Muna.
Mama Rona, abah Dadang, nyak Time dan babe Rojak sudah tampak sampai di klinik tersebut.
"Muna... lu mau kemane...?" tanya nyak Time bingung melihat Muna masih berkeliaran di klinik itu.
__ADS_1
"Mau cari coklat di market depan nyak." Jawab Muna pelan.
"Biar abah yang belikan, kamu ke kamar saja Mun." Dadang sedikit khawatir melihat wajah Muna sudah banjir peluh.
"Jangan.. biar Muna banyak gerak bah."
"Iya banyak gerak tapi kagak ke warung juga kali Mun, masuk." cerocos babe. Dan Muna tak punya pilihan selain menurut dan patuh pada babe kesayangannya.
Kevin hanya tersenyum, pembelanya sudah pada datang. Muna mana mau mendengar jika hanya Kevin yang melarang. Jatuhnya Muna emosi dan salah sangka menuduh Kevin malu lah berjalan dengannya yang berperut besar, ya mau lari dari tanggung jawablah, ga mau menemani dia menjalani proses akhirnya. Bumil pra bersalin bebas dong, punya pikiran apa saja untuk mengalihkan rasa sakit yang sesungguhnya.
"Mae... beneran mau coklat? Abang belikan ya." Kevin menawarkan diri untuk mencari selera Muna.
"Hmm... boleh deh. Coklat putih ya bang." Pinta Muna yang sesungguhnya sudah semakin sakit tak berjeda.
"Abang keluar dulu... boleh?"
"Iya... buruan." Perintah Muna.
"Pegel pan... sini babe pijetin."
"Ga di situ sakitnya be."
"Di mane...?"
"Semuanye..." kekeh Muna.
"Udah jarak berapa menit sakitnya Mun?" tanya mama Rona menghapus keringat Muna.
"20 ... 10 menit kayaknya mah."
"Atur napas deh. Jangan jalan lagi, duduk saja di atas bed." Pinta mama dengan lembut.
"Iya mama."
Muna sedikit melupakan kesakitannya saat coklat itu sudah masuk ke dalam mulutnya.
Panggilan sholat di jam azar mengudara. Semuanya saling pandang, kemudian memandang ke arah Muna bersamaan. Ingin sholat ke mushola tapi trauma kejadian saat lahir Aydan membuat mereka tak sempat melihat Muna lahiran.
"Ngapa liat Muna kayak gitu?"
"Mau sholat Mun." Jawab nyak Time.
"Sholat aja...?"
"Ntar lu brojol pas kami tinggal." Jawab babe.
"Ya udah sholat di mari aja." pinta Muna.
Mereka pun masing-masing menggelar sajadahnya di ruang bersalin yang sempit itu.
Muna masih berusaha menghabiskan coklat putih yang di beli Kevin. Sambil meringis menahan sakit yang semakin terasa menusuk nusuk perut bagian bawahnya.
Tub
Muna merasa ada yang meletup dan merembes dari bagian bawahnya. Tepat setelah mereka melipat sajadah itu kembali.
"Yang... panggil dokternya. Udah pecah ketuban ini." Rintih Muna memiringkan tubuhnya ke kiri.
Kevin segera ingin bergerak keluar tapi di tahan abah.
"Di samping Mae saja, itu tombol tinggal di pencet bukan??"
__ADS_1
"Astagafirullahalazim." Kevin tepok jidat mengakui kegugupannya.
"Pinter bikin doang niih si Entong, tiba giliran mo lahiran, grogi banget." ledek babe.
Dokter sudah masuk dengan 3 perawat. Tanpa aba-aba salah satunya sudah memegang pergelangan tangan Muna untuk menancapkan jarum Infus. Untuk jaga-jaga kondisi Muna.
"Ya... pembukaan lengkap. Atur nafas, buang teratur. Tiup-tiup ya..." dokter memberi arahan sambil memasang kaos tangannya.
"Tekanan 110/70 dokter." Ucap perawat yang baru saja memeriksa tekanan Muna.
"Oke bagus, normal ya. Tenang... berdoa."
"Tarik nafas ... buang."
"Tariik lagi... buang. Bagus."
"Kuat yang..." bisik Kevin di telinga Muna dengan tangan yang masih erat menggenggam tangan Kevin.
Kevin bergeser mencium kening Muna.
"Love you mam." Bisiknya lagi.
Tangan Muna terlepas dari genggaman tangan Kevin tadi. Pindah ke kepala Kevin yang tadi dekat wajahnya. Mengacak kepala itu, lalu reflek menjambaknya kuat. Sekuat ia mengedan.
"Terus bu... terus."
"Nafaaas."
"Tarik nafas dalam, tiup-tiup. Dorong."
"Eeecchhk... " lengu han Muna terdengar pasrah.
"Tariiik lagi, dikiiit. baguss."
"Oweeee...oweee." bayi merah itu sudah berhasil keluar dari rahim Muna.
Kevin tak punya alasan untuk marah, saat merasakan sakitnya cengkraman di kepalanya, jambakan itu terasa kuat. Dan terasa terlepas saat suara bayi mereka menguar dalam kamar bersalin.
"Alhamdulilah." Ucap para penyaksi itu kompak. Merasa lega, kecemasan mereka terjawab saat mendengar tangisan bayi kedua Muna.
"Bayinya perempuan, panjang 51cm, berat 3,3kg. Lengkap sempurna ya pa, bu." terang dokter yang sudah membersihkan bayi muna dan menyerahkan pada Kevin untuk di lantunkan ayat suci Alquran.
"Annaya Intan Mahesa." Ucap Kevin kemudian melanjutkan ayat adzan dan iqomah untuk anak keduanya dengan sungguh dan syahdu.
"Allhamdulilah. Selamat ya sayang, sudah di percayakan menjadi ibu 2 anak. Beban kalian sebagai orang tia bertambah satu. Jadikan anak kalian menjadi anak yang sholehah." Cium peluk, mama Rona pada Muna yang baru selesai di reparasi.
"Bagus namanya Vin. Apa artinya?" tanya abah pada Kevin.
"Annaya adalah berkah dari Tuhan.
Intan itu batu permata berharga
Jadi Annaya Intan Mahesa ialah berkah berharga dari Tuhan di keluarga Mahesa."
"Masyaallah... Amin." jawab abah Dadang bahagia.
"Permisi... kita taroh ade bayinya di dada ibu ya. Biar cepat kenal sama sumber kehidupannya." Ucap dokter ramah.
Tidak menunggu waktu lama, air susu Muna yang memang selalu lancar bahkan dari sebelum melahirkan. Tentu saja bayi itu sudah bisa langsung mendapat transferan kalustrom dari sang mama.
Bersambung...
__ADS_1
Cie...cie... readers nyak udah punya dua ponakan online niih