
Waktu terus berlalu. Dan benar saja Kevin yang lebih sering merasakan mual muntah ga jelas kadang tiap bangun pagi. Muna tetap terlihat baik-baik saja, bahkan terlihat sabar mengelus tengkuk Kevin dan memverikan pijatan kecil jika mual itu mendera
Tidak ngidam saja Kevin cerewet, apalagi pas Muna hamil begini. Muna bahkan harus ekstra sabar menghadapi kebawelan Kevin yang semakin manja.
"Mae..."
"Hm... apa? Minta masakin apa lagi?"
"Mau manisan buah kedondong yang."
"Bosque... ini tengah malam. Plis deh, kenapa ga bilang dari siang."
"Kan maunya baru ini yang."
"Tunda besok deh. Muna ngantuk. Abang juga udah mau rapat kan." Muna menunjuk ke arah laptop Kevin yang sudah tersambung dengan kantornya.
Muna sebenarnya mau di manja Kevin. Tapi logikanya masih jalan. Pagi Kevin harus muntah-muntah ga jelas. Tengah malam harus mantau kantor. Itu kantung mata udah hampir ngalahin kantung kresek sampah deh, item mbulet, bikin ketamapanannya berkurang 1 oktav, ddeeeuuh.
"Ok cek... cek. Sinyal aman pak. 10 menit lagi meeting di mulai ya." Suara Gilang terdengar dari sound laptop.
"Oke Lang aman. Eeh, bentar itu apaan tuh?"
"Yang mana pa?"
"Itu yang di gelas!"
"Oh... he...he Es goyobod pa. Maaf belum sempat Gilang pindahin. Bentar di rapiin."
"Kamu minum es tengah malam."
"Maaf pa, di sini teh Indonesia. Di Bandung cuaca lagi panas-panasnya. Makanya kami pesan es ini cocok di minun di saat gerah."
"Sepertinya segar sekali ya Lang."
"Hmm... iya pak. Isiannya juga komplit ada sagu aren yang kenyal dengan kuah santan, susu kental manis dan serutan es. Ada tambahan alpukat, roti tawar, peuyeum, pacar Cina, kolang-kaling hingga kelapa muda juga."
"Kamu akan beralih profesi jadi penjual es Lang, jika tidak di angkat jadi pegawai tetap?"
"Ya jangan atuh pa. Gilang sudah menyenangi pekerjaan ini. Dan sudah tidak sabar di angkat jadi pegawai tetap. Sudah lewat 3 bulan kan pa?" dengan wajah tersipu Gilang mengingatkan jika masa percobaannya telah lewat seperti yang Muna janjikan, namun apalah daya. Kevin memilih bertahan mondok di Apeldoorn demi menikmati masa awal kehamilan istrinya.
"Ya... nanti saya bicarakan dengan ibu komisaris Lang. Btw, masalah isian es mu tadi. Tolong di chat ya. Semoga semua bahan bisa di dapat di sini. Sepertinya menggiurkan." Kevin tanpa malu menyatakan keinginannya untuk menikmati es goyobod."
"Hmm... cie-cie. Bapak ngidam nih? Mungkin sagu aren dan kolang-kalingnya pa yang sulit di cari di sana. Tapi itu optional kok. Es mah, yang penting dingin dan ada manis-manisnya." Gilang akrab namun masih sopan dengan Kevin.
"Ya sudah... kamu cari semua bahan itu dan kirim ke sini. Kecuali es batu dan air kelapanya." Perintah Kevin membuat Muna yang sedari tadi menyimak obrolan Kevin dan Gilang, sedikit heran sekaligus takjub. Bahkan kini kecerewetan suaminya merambah ke Gilang yang tidak ikut dalam pembuatan bayi mereka.
__ADS_1
"Hah...? Ngirim bahan es goyobob ke Belanda? Bapak becanda nih."
"Ini perintah Lang." Ucapnya tegas.
"Eeh... i... iiya pak. Laksanakan." Ucapnya patuh.
"Lang... kirim saja dulu semua bahannya. Nanti... besok ibu cari di sini. Yang ga ada baru di kirim. Maaf bapak merepotkanmu." Celetuk Muna tanpa menunjukkan wajahnya sebab ia telah berpakaian tidur.
"Oh... iya siap bu, terima kasih." Jawab Gilang yang sesungguhnya menyesal tak sempat menyingkirkan es goyobob tadi dari atas meja.
Rapat pun di mulai, Kevin sudah dengan penuh wibawa bijaksananya memimpin rapat tersebut walau dari jauh. Muna menatap serius wajah tampan di depannya, hamoir tak berkedip makin terpesona menikmati pemandangan itu.
"Nak... papap lagi kerja. Besok kamu juga bijaksana, penyayang dan setia kayak papap ya nak. Terima kasih, ga buat mama mabok. Sebab kita tiap hari kan harus ngampus nak. Sekarang kita bobo aja, biar papap bisa fokus kerja. Met tidur anak mam." Monolog Muna sambil mengelus perutnya yang mulai terjadi melebaran sedikit.
"Selamat pagi suamiku, papap anakku."
"Hmm... pagi sayang."
"Gimana hasil meetingnya semalam?"
"Aman."
"Abang ga harus pulangkan? Tapi ini abang hampir sebulan lho di sini, apa ga kelamaan ninggalin kantor?"
"Abang ga bisa pergi dari kalian Mae. Kalo abang mau masakan Mae gimana?"
"Ngidam lama ga sih Mae?"
"Ga tau. Katanya sih trimester pertama aja. Tapi tiap orang beda respon sih."
"Hmm... gitu. Kapan cek kandungan lagi yang? Otong kayaknya kelamaan puasa deh. Nengok boleh?"
"Ini tuh sudah sebulan yang lalu dari kita cek kemarin. 7 minggu tambah 4 minggu. 11 minggu pap. Eh, seminggu lagi udah 3 bulan aja nih baby. Sabar yang, seminggu lagi deh tong..." pinta Muna dengan manja.
"Heeemmm... gimana ya. Di luar deh, pelaaaan aja yang. Semalaman otong kejer lo... gegara pakaian malam Mae ketipisan dan ada ke buka dikit, ampuun itu apem nyembul dikit kayanya rada bengkak deh. bikin ngiler, parah."
"Masa...?"
"Nih pegang." Kevin tanpa malu sudah menyodorkan si otong ke arah Muna yang masih tampak rebahan saja di tempat tidur.
"Maksudnya apa niih?"
"Bantu tidurkan lah Mae. Pliis."
"Kalo ade ke goncang pegimane tuh?"
__ADS_1
"Janji ga dalem, boleh ya?"
"Ijin sama baby deh pap."
Kevin menyeruduk ke arah perut Muna langsung mencium dan komat-kamit di permukaan perut itu.
"Udah Mae. Abang mulai ya." Ujar Kevin yang memulai aktivitasnya justru dari arah berlawanan dengan wajah Muna.
Hm... Kevin bahkan tidak berminat memulai cumbuan itu dari bibir Muna. Melainkan memilih mengendus pelan area teras rumah mumun, yang katanya sejak semalam sudah kaya manggil-manggil menggodanya untuk segera bertandang.
Jangan tanya kerasnya si otong saat Kevin mencumbu area rumah mumun dengan permainan lidahnya. Muna saja gelagapan di buatnya, basah gaes.
"Yaang... masuk deh. Muna kagak tahan."
"Jangan, seminggu lagikan." kekeh Kevin.
"ABAAAANG." toa kumat, rupanya bukan Kevin yang rindu membara, Muna justru lebih mendamba.
Kevin memposisikan dirinya di atas tubuh Muna, dan otong di letakannya di antara belahan gundukan padat di atas dada Muna. Hanya dengan beberapa kali gerakan maju mundur di jepitan gunung itu, otong sudah muntah sembarangan. Meleleh, basahlah permukaan dada Muna karenanya.
"Iih... abang ngape di siram di mari sih." Kesal Muna menutup hidungnya akibat aroma yang tidak enak dari lelehan otong.
Kavin segera menghapus cairan itu dengan kain segitiga miliknya yang masih di atas tempat tidur.
"Makasih ya. Muntah di mumunnya tunda sampai minggu depan saja." Jawabnya santai lalu merebahkan dirinya di sebelah Muna yang masih rada kesal. Ngenes ga siih gaes?
"Tumben pagi ini abang kagak mual muntah?" Muna mengalihkan pembicaraan.
"Kayaknya hari ini giliran otong yang muntah, Mae. He...he. Tau gini bisa gantian, mending sejak dulu tong, kamu aja yang muntah dari pada menyiksa gue." Umpat Kevin absurd.
"Abang tuh makin hari makin kagak jelas." Muna mendorong wajah Kevin dengan bantal.
"Cie... cie yang tak tersalurkan. Pusing ya bu...?" Kevin justru menggoda Muna.
"Apaan siih...?" malu Muna yang sesungguhnya memang mau, tapi takut juga.
"Sini... abang peluk saja. Sabar ya, makasih pelayanannya. Pahalanya dapat kok Mae, walau ga di dalam juga."
"Udaaah diem ga?" sarkas Muna eneg.
Bersambung...
Ni Kevin perasaan makin somplak ya gaes😚
Es Goyobob
__ADS_1