
Walau setelah bangun tidur tadi tubuh Gita terasa di rajam, remuk dan perih. Namun tetap tidak dapat menjadi alasan untuk menolak ajakan beribadah sebelum mereka benar-benar tidur malam itu.
Satu putaran pergolakan lagi terjadi. Bahkan giliran bibir Gita yang nempel kayak lintah penghisap darah di leher,dada, dan perut Gilang.
Yeee... banyak meses ceres kemerahan bertaburan di atas roti sobek itu, sebanding dengan taburan bintang kecil di area pegunungan milik Gita. Impas.
Pagi menjemput. Jadwal sudah tertera di WAG. Pukul 9 waktu setempat mereka akan mulai bergerak. Pukul 7 mereka di himbau untuk sarapan bersama di resto hotel tersebut.
Seusai sholat subuh, Gita tidak berani lenyeh-lenyeh. Memilih segera mengeringkan rambut basahnya, takut malu jika nanti akan di goda Ninik atau Kevin. Jika saja menemukan rambutnya dalam keadaan basah. Mana dingin pulak, bisa jadi ia akan sakit akibat masuk angin, kedinginan.
Gilang melakukan hal yang sana, memilih mengeringkan rambutnya lalu menatanya dengan pomade agar ketampanan itu tetap terjaga.
Gilang bangga dengan tampilan permukaan kulit dadanya, saat masih belum memasang kemejanya di depan cermin.
"Waaw... banyak juga semalam a'a di gigit nyamuk ya neng." Gilang ber putar putar bangga di depan cermin.
"A'aaa, neng malu." cemberutnya.
"Ngapain malu. Ini pertanda eneng sudah pro." Kekeh Gilang memeluk Gita dari belakang.
"A'a... juga udah ahli."
"Puas ga bebph?"
"Tau aaah..." kulit wajah Gita merah jambu, asli malu dengan godaan ringan suaminya.
"Eh... gimana masih sakit?"
"Dikit."
"Jalannya gimana?"
"Ya di kuat-kuatin aja lah. Ga mungkinkan selama kegiatan nanti A'a gendong eneng."
"Maaf ya neng. Mestinya kalo beginian memang sebaiknya bulan madu beneran. Bukan sambil kerja gini. A'a ga modal sih." simpul Gilang sendiri.
__ADS_1
"Bukan ga modal a. Emang momennya pas juga sih. Yang penting... di kurangilah gempurannya. Malam ini neng ijin ya a. Pliis mau istirahat aja." Sepagi itu Gita sudah minta ijin saja. Takut di hajar lagi oleh suami yang ternyata menyimpan stamina yang luar biasa.
"Insyaallah." Jawab singkat Gilang yang sudah rapi dengan pakaian yang pantas untuk bekerja.
Penampilan Gita tak kalah keren. Sudah mirip tampilan sewajar orang-orang luar pada umumnya. Menggunakan mantel dan syal mencegah cuaca dingin di luar sana.
Dengan mengucapkan Bismillah keduanya pun keluar kamar bersama, menuju tempat sesuai jadwal.
Baru ada beberapa orang di sana, dan orang tau mereka hanya berstatus pacaran. Soal Gita adalah adik Kevin sebagian juga sudah di ketahui, sehingga agak segan mereka untuk meledek atau sekedar menyapa kebersamaan pasangan yang datang bersama dengan raut wajah berseri-seri itu.
Ninik baru tiba saat Gita sudah berhadapan dengan piring makannya. Sedangkan Gilang yang masih canggung memilih berbaur dengan pegawai laki-laki lainnya. Agar tidak kentara jika kini mereka sedang bersandiwara, seolah bukan pasangan yang sudah sah.
Kevin agak terlambat datang, saat hampir semua pegawai lain menyelesaikan sarapannya, ia baru tiba. Entah apa yang membuat CEO itu terlambat pagi ini. Mungkin sibuk bersolo karier, secara colokan batrenya ga kebawa. Bisa jadi sepanjang malam, ia hanya habiskan untuk berfantasi sendiri saja.
Oh... mai got. Otornya pik tor banget yak.
Kevin sudah di layani oleh petugas hotel untuk urusan menu breakfastnya. Memilih duduk di meja yang di duduki Gita dan Ninik. Agar lebih aman, dari godaan pegawai wanita lainnya.
"Pagi Gita... apa kabar?" sapa Kevin imut agak nakal penuh nada agak kepo pada adiknya itu.
"Baaiiik." Gita bingung harus panggil Pak atau Kak di saat kerja begini tapi bukan di kantor.
"Gimana MPnya sukses...?" haiiiissh itu mulut pliis deh, bisa ga sih di tata ga se kaleng rombeng itu, Gita kan malu.
"Hmmm." Dehemnya dengan menoleh kiri da kanan. Padahal jarak meja mereka cukup jauh dari yang lain. Tapi dasar Gita terlalu peka, jadi ngerasanya tuh, orang orang perhatikan dan kepoin dia saja pikirnya.
"Hah... cuma hm. GOAL ga sih? Gilang mana?" Volume tolong ya... tolong ga makin keras juga kalii suaranya. Gita benernya pengen getok aja kepala Kevin itu, cari lakban atau semacamnya gitu, supaya Kevin ga bawel. Bukan ga boleh, hanya Gita malu. Ga tau kenapa.
Waktu memang sudah hampir pukul 9, sehingga pegawai lain sudah berpendar menuju bus yang akan mengantar mereka ke TKP kaji tiru.
Gilang mendekati meja yang di duduki Kevin, Ninik dan Gita. Ada kilatan sinis dari sorot mata Kevin saat melihat Gilang yang sudah dekat meja yang ia tempati.
"Pagi pak Kevin." Sapa Gilang ceria seperti biasa. Kevin cuma mengangguk, sebab mulutnya masih sibuk mengunyah makanan terakhir di atas piringnya tersebut.
Kevin berdiri, setelah menenggak segelas air bening untuk memastikan rongga mulutnya sudah dalam keadaan bersih. Lalu tangannya meraih kemudian melepas syal di lehernya, melemparnya ke arah Gilang.
__ADS_1
"Nyesel gua, punya ide ngawini lu bedua sebelum ke sini." Ucapnya agak sinis, kemudian beranjak akan pergi meninggalkan mereka.
Gilang gelagapan menyambut syal di tangannya. Tidak mengerti dengan maksud kata-kata Kevin yang terdengar kesal, entah serius atau tidak.
"Kenapa kak?" tanya Gita mendekati Kevin.
"Kamu juga. Kasih penutup apa gitu. Biar hasil karya kamu ga keliatan kemana-mana." Kevin sangat terlihat agak malu. Dan terus melangkah meninggalkan mereka menuju bus menyusul pegawai lainnya.
Gita beralih memandang Gilang yang masih memegang syal yang Kevin lempar tadi. Dengan wajah agak bingung.
Gita tepok jidat, baru sadar. Taburan meses ceres itu ternyata tidak hanya di atas roti sobek Gilang, tapi di leher juga ada dua.
Ambyaaaar... udah ga merah jambu lagi itu wajah Gita karena malu. Tapi merah jingga, dan agak pucat.
"Ya ampun. Gua bisa ngilang ga siih sekarang. Sumpaah malu." Desis Gita yang kemudian menggalungkan syal itu dengan sempurna di leher suaminya, agar belas isapannya semalam tidak terlihat untuk umum.
"Ketawa dosa ga siih Git...?" celetuk Ninik yang dari tadi mirip patung kayu, hanya sebagai penyaksi tanpa aksi.
"Diem... lu diem aja Nik. Ini kaki tetiba lemes, malu banget tau." Umpat Gita, menyesal tidak berusaka menutup dengan foindation mungkin pada jejak cinta yang di torehnya tak sengaja di batang leher suaminya.
"Kenapa malu...? Udah sah kok. Wajar dong. Hari gini anak SMP juga udah gape bikin begituan." Lagi Ninik meledek Gita yang panik.
"Iya udah sah. Tapi ga di leher di juga. Kan ketahuan akunya yang anu." Gita Ga jelas.
"Anu apa neng...?" Gilang yang sebagai korban akhirnya sudah hilang rasa malunya. Terganti dengan rasa lucu melihat wajah panik dan malu di wajah Gita
Bersambung...
Hmmm... akhirnya bisa double up
Walau kemalaman.
Salam anu ya buat reader semua
❤️❤️❤️
__ADS_1