OB MILIK CEO

OB MILIK CEO
EKSTRA PART : MAU DISSERT


__ADS_3

Sedapat mungkin Gita tidak terpengarih dengan kata kata ibu Gilang yang jika ia tak salah mengerti, isinya tadi adalah sebagai sindiran yang menekankan agar dia harus melayani Gilang. Hallo bukankan di mobil tadi ia juga memperingati Gilang, bahkan membuka pintu mobil untuknya saja, tidak Gita ijinkan lagi.


Lalu tentang anak laki lakinya yang harus berbakti pada ibunya, apa Gita kurang informasi saja dari Gilang? Bahkan saat ia sakit kemarin saja, beliau bisa mendapatkan fasilitas gratis dari pihak asuransi. Juga karena Gilang yang aktif membayarkannya bukan? Simpul Gita, suaminya itu sudah dengan berbagai cara untuk menunjukkan baktinya.


Hah... bahkan malam pertama mereka saja tertunda karena kepanikan ibu yang meminta Gilang mengatasi sakitnya Haniyah. Suaminya kurang baik bagaimana lagi pada keluarganya?


"Tuh... a' dengerin kata ibu. Jadi anak itu harus berbakti pada ibu. Ingat sorga a'a di telapak kakinya." Gita dengan senyum menyeletuk seolah bercanda padahal menahan rasa hatu yanh kesal.


"Si a'a nih suka lebay sama eneng, bu. Tadi sebelum masuk mobil juga. Pake acara bukain eneng pintu lagi, kayak eneng ga punya tangan aja." timpal Gita lagi, sebab guyonan yang tadi tidak di tanggapi ibu maupun Arum.


"Kan iti bentuk rasa sayang dan perhatian a'a buat eneng. Biar kata nyuci baju eneng juga, boleh kok. Kan a'a ikhlas ngelakuinnya buat enenh, istri a'a tercinta." Gilang bucin parah ya gaes, ga bisa baca situasi dan kondisi. Itu duo janda di tinggal mati kira-kira lagi pada keluar tanduk merah dari kepalanya, juga keluar asap dari kedua lobang hidungnya. Tapi si pasangan pengantin baru masih merasa dunia ini milik mereka berdua saja, sumpah lupa kalo lagi di rumah mertua.


"Ini neng, namanya bala bala. Orang sih nyebutnya bakwan. Tapi yang buatan teh Arum selalu adonannya pas di lidah a'a. Di cocol sambel ini dikit. Naah, a neng. Buka mulutnya, a..." yaaa bagus. Bukannya ngerasa ga enak dan peka. Gilang malah menyuapi Gita, masih di hadapan ibu yang jelas jelas sedang dalam keadaan keki mode on.


Pletakh


Ibu Gilang sengaja melepas sendoknya dengan keras, lalu minum segelas air putih, menenggaknya hingga ludes. Dan.. takh... menghentaknya di atas meja, kemudian berdiri meninggalkan meja makan itu dengam wajah cemberut.


Gilang sepertinya memang tidak begitu menanggapi ekspresi ibu sejak tadi, dan soal arah pembicaraan inunya tadi. Sedikitpun Gilang tidak curiga jika ibunya serius. Maklum saja fokus Gilang masih hanya untuk Gita seorang, walau sedang di rumah orang tua.


Gita, Gita sebenarnya yang menangkap sinyal kekesalan yang sedang menyerang ibu Gilang tersebut. Tapi memilih bermuka tembok dan berhati batu saja, sebab niatnya memang tidak pernah ingin menguasai apa lagi merebut Gilang. Bagi Gita mereka hanya wanita wanita yang satu frekuensi dan gelombang yang sama dalam hal menyayangi Gilang. Hanya belum klik saja, belum duduk bersama dalam hal membahas cara masing masing menunjukan cinta pada Gilang.


Demikianlah kini nasib Gilang yang belum sadar mungkin akan terjadi huru hara ataukah damai damai saja, saat ia berada di antara satu istri dan dua janda. Terima nasib saja jika kini ia menjadi idola kaum wanita itu.


Makan malam berakhir dengan tak sehat, sebab ibu sudah lebih dahulu menyelesaikan makan malamnya. Memilih duduk di depan televisi, berharap ada chanel yang bisa ia saksikan yang lebih menarik perhatiannya.

__ADS_1


Dari pada harus melihat lagi, jika kini Gilang mengupaskan buah naga untuk Gita. Yaah... ngupasin, nyuapin lagi gaes. Keduanya saling tatap, bertukar senyum. Beneran ini pengantin baru beneran anggap manusia di rumah itu hanya sebagai lalat, berasa berdua saja tanpa ada ibu dan lainnya.


Lagi, ibu berlalu meninggalkan mereka dengan menghentak hentakkan kaki, agar di perhatikan anak laki lakinya. Dan benar saja, Gilang menoleh ke arah ibunya yang berjalan bagai bunyi derap langkah tentara.


"Bu... ibu kenapa jalan gitu? Agustusan masih lama bu. Udah latihan jadi paskibra aja, si ibu mah." Ledek Gilang yang memang biasa menggoda sang ibu.


Ya iyalah ibu tambah manyun, masuk ke kamarnya dengan rasa kesal yang semakin memenuhi dadanya.


Sejak awal Arum sama sekali tak bersuara, sendirinya tau apa yang Gilang dan Gita rasakan. Apalagi dulu dia pernah lebih dari setahun tinggal ikut mertua, ia tau bagaimana hati seorang ibu yang khawatir pada istrinya. Perasaan seorang ibu, yang selalu menganggap pelayanannyanlah yang terbaik untuk anak laki laki mereka. Perasaan takut di abaikan, terkalahkan oleh pesona istri anaknya, menantunya sendiri.


Tapi, Arum juga belum berani menegur ibunya. Satu sisi hatinya juga masih inscurre apakah Gita yang notabene adalah anak orang kaya akan semena mena dengan adik kesayangannya itu.


Gita dan Gilang masuk kamar, memilih bersama barang dan pakaian apa saja yang akan di bawa kerumahnya. Tentu di dalam masih terdengar asyik bercengkrama, saling bergurau,. berkomunikasi se mesra mungkin, adu gombal dan apa saja, selayaknya pasangan harmonis pada umumnya.


"A'a... mulai besok jangan ambilkan nasi buat eneng lagi ya a' ..." Gita paham ibu Gilang cemburu, Gita cukup peka akan situasi di rumah itu, hanya ia tak mau menunjukkan di depan mertuanya.


"Ga... eneng ga tersinggung kok. Hanya eneng takut di lack nati Allah kalo ga bisa melayani suami. Cukuplah eneng belom bisa masak, paling tidak eneng bisa siapin lah buat a'a." Gita juga tidak mau menyalahkan ibu mertuanya, juga ingin menjaga hati suaminya.


"Neng... jadi diri sendiri saja. Walau sudah jadi istri a'a. Standar urusan pelayanan suami istri tiap rumah tangga itu berbeda beda. Yang penting kita berdua ngejalaninya dengan ikhlas. Akan ada situasi yang tidak bisa kita atur bahwa istri harus melayani suami. Semua bisa bolak balik kok. Asal sama sama suka." Tutur Gilang yang selalu bisa mendamaikan hati Gita.


"Jangan lupa berbakti pada orang tua A'ayank." Ujar Gita mencubit hidung suaminya gemes. Agar suasana tidak menegang akibat topik pembicaraan mereka yang serba sensitif.


"Pasti lah neng. Itu wajib, waktu masih jomblo. Tapi sekarang a'a sudah punya istri, jadi harus di setujui istri dulu dong. A'a masih boleh bagi nafkah atau tidak buat ibu." Ujar Gilang sambil meletakan dagunya di pundak Gita sambil mencuri ciuman ciuman kecil di daun keladi eh, daun telinga Gita. Posisi Gita di kamar sudah seperti ga punya bidang datar kosong, nemplok aja di atas kedua paha Gilang. Heemmm pengentin baru, pengantin baru.


"Cuma di bagi kan a'...? ga semua." delik Gita menggoda sambil menarik tangan Gilang agar memeluknya dari belakang tubuhnya.

__ADS_1


"Kalau buay ibu semua, ngapain a'a nikah? Dosa tau ga menafkahi istri." Ya... itu tangan udah gerayangan saja pada squishy Gita.


"A'a... kalo di remes terus. Apa ukurannya ga makin besar ya?" tebak Gita asal.


"Ga tau juga sih, ga pernah baca artikel dan riset. Tapi, boleh lah kita buktikan. Sekarang nomor gendongannya ukuran berapa? trus bulan depan kita liat, ada perubahan atau ga neng." Kekeh Gilang yang yang jarinya sudah nyelip aja cari tombol coklat kemerahan di dalamnya.


"Neng..."


"Heemm."


"Besok lagi beberesnya. A'a mau dissert." Pinta Gilang dengan nafas yang tiba-tiba terdengar agak kasar dan cepat.


"A'a... kan tadi kita udah makan buah naga sebagai pencuci mulut." Polos Gita yang tidak paham maksud tangan yang sudah dalam gendongan benda bergantung di tubuhnya itu.


"A'a ga puas makan buah naga. Maunya makan buah yang neng sembunyiin ini." Ujar Gilang memilin pucuk merah muda kecoklatan itu.


"Aaah... a'a, bikin merinding aja." Gidiknya menunjuk pori pori kulitnya yang sungguh bermunculan karena bulu halus di permukaan kulitnya berdiri.


Bersambung...


Nyak tuh bahagia baca komen readers yang ternyata jika di simpulkan, hampir punya kisah nano nano sama ibu mertua. Ini semacam jadi ajang curhat balada menantu VS mertua.


Sabar yaa...


Nyak hobby kisah berwarna, biar isi komennya keren keren.

__ADS_1


Bukan hanya : lanjuuut nyak


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2