
Babe sudah tidak harus tidur di ranjang pesakitannya, sebab tangannya tidak lagi di infus. Hanya memerlukan perpindahan sedikit dengan kursi roda, babe sudah bisa tidur di kasur biasa.
Jadilah malam itu babe, nyak dan Muna tidur bertiga pada bed berukuran king size yang tersedia di ruang rawat inap itu. Tentu sangat cukup di tiduri oleh mereka bertiga.
Sementara Siska yang mendapat bagian tidur di ranjang pasien menggantikan posisi babe.
Mata Siska terpejam, tapi tidak dengan hatinya. Jantungnya masih berdetak tak karuan membayangkan wajah Asep. Wajah oriental itu sangat sesuai seperti bayangan yang ia lukis selama ini dalam benaknya untuk menjadi pasangan hidupnya, Sedari tadi mereka tak saling bicara. tetapi sesekali mata keduanya saling bersirobok, kemudian salah tingkah menyerang keduanya.
Dulu Dadang Sudrajat hanya seorang supir pribadi di keluarga Hildimar. Namun karena kesetiaannya bekerja serta baik dalam bekerja dan ketulusan ahklaknya mampu membuat Rona jatuh cinta. Yang bahkan lupa akan status sosial mereka yang berbeda.
Cinta keduanya sudah melewati berbagai hambatan dan rintangan yang di ciptakan oleh Hildimar Herold. Namun semakin cinta itu di guncang prahara justru semakin kuat cinta mereka.
Hildimar Herold tak selamanya muda. Tampuk kekuasaan tak bisa selalu di pegangnya. Sama dengan kekerasan hatinya. Bukankah kerasnya batu pun dapat terkikis oleh tetesan air sekalipun. Yang berkali-kali membasahinya, menimpanya, sabar saja kuncinya. Sebab hanya waktu yang bisa mengubah segala.
Hildimar Hospital hanya satu dari usaha yang di miliki oleh kakek Muna. Masih ada beberapa perusahaan yang di pimpin oleh Rona Margaretha ibu kandung Muna.
Rumah sakit yang mereka miliki itu memang sengaja mereka manfaatkan untuk mencari bayi yang pernah mereka letakkan ditempat yang salah. Muna beruntung di pungut oleh pasangan Betawi Rojak dan Fatime, yang sangat mendamba ingin memiliki seorang anak.
Muna sudah melekat dengan babe dan nyak. Sehingga ia justru gusar setelah tau dia memiliki orang tua asli. Bahkan lebih tajir dari nyak dan babe.
Muna tidak sepenuhnya membenci orang tua kandungnya, sebab babe Rojak tak pernah tanamkan hal itu pada Muna. Ahlak Muna selalu di latih untuk rendah hati, mawas diri dan selalu berbaik sangka pada ketentuan Allah SWT.
Maka ketika babe meminta untuk Muna menerima mereka sebagai orang tuanya. Muna tidak memiliki alasan untuk melawan. Bahkan ajakan untuk ke negeri kincir pun segera ia terima. Demi alasan kamanusiaan, untuk memberi maaf serta dukungan kesembuhan untuk seorang pria yang di sebut kakek.
Bukan hal sulit bagi orang sekelas Dadang yang kini berstatus wadir di sebuah rumah sakit swasta semewah Hildimar Hospital. Maka pada pukul 8 pagi ia sudah kembali datang menjemput Muna untuk berurusan untuk keperluan terbang. Yang rencananya begitu semuanya selesai mereka akan segera terbang dengan jet pribadi milik keluarga Hildimar. (Orang kaya mah bebas yak)
__ADS_1
"Be..., beneran Muna boleh ikut kereka ke Belanda?" Muna masih menyimpan keraguan untuk pergi dengan keluarga yang baru di kenalnya. Bahong saja jika bilang hatinya tidak galau. Cemas, ragu dan khawatir terpisah dengan babe dan enyak tentu saja melanda hatinya bergentayangan.
"Muna... Kita punya Allah yang maha pengatur segala. Babe justru dosa kalo ngehalangin lu ketemu ame engkong lu yang asli." Jawab babe yang sesungguhnya tidak rela di tinggal Muna. Tetapi siapakah dia? Hanya segelintir manusia yang hanya pernah di titipkan seorang bayi yang memang bukan miliknya.
"Kalo mereka jahat dan kagak balikin Muna ke mari lagi. Pegimane be?" pancing Muna yang tau babe tak seikhlas itu melepasnya.
"Setiap perbuatan baik dan jahat, semua ada yang mencatat dan menghitungnya Mun. Semua kembali ame yang punya diri. Kite ude bae ame orang aje belom tentu di balas bae. Apalagi kite jahat ame orang. Neraka menunggu Mun." Jawab babe yang saat itu tepat, Dadang masuk ke ruang rawat inap, dan sempat mendengar kata-kata babe.
"Pa Dadang. Kagak use pake jaminan Asep harus tinggal di mari saat bawa Muna. Aye percaya kalian orang bae." Verbal babe justru sangat menohok hati seorang Dadang. Membuatnya tak berhenti bersyukur, jika selama ini sungguh anak mereka di asuh, di rawat dan di didik oleh orang yang tepat.
"Bukan sebagai jaminan pa Rojak. Tapi biarkan Asep membantu menjaga bapak menggantikan tugas Muna. Jika mungkin bu Fatime sedang tidak berada di dekat bapak." Ujar Dadang sopan tanpa tekanan.
"Ayok Mun, sudah siap berangkat bersama abah?" ajak Dadang yang seolah memaksa Muna mengakuinya sebagai ayah.
Babe Rojak mengulurkan kedua tangannya minta Muna mendekat memeluk tubuh sempurna Muna.
"Sekarang elu punya babe dan juga abah. Punya nyak dan emak juga. Allah juga tau, isi hati kami tulus sangat sayang ame elu. Paham." Ujar babe sambil mengelus punggung Muna penuh sayang.
"Iye... Paham be."
"Hormati, sayangi dan dengerin abah n emak lu. Sama kayak elu selama ini patuh ame nyak n babe ye Mun." Muna hanya mengangguk pelan sambil menghapus air matanya. Sumpah Muna masih perlu beradaptasi dengan situasi yang pasti sangat baru baginya.
"Nyak... Babe. Jangan lupa. Rahasiain dulu keberadaan Muna dari abang ye. Muna kesel abang kaga berusaha hubungin Muna." Bagaimanapun sisi labil Muna masih ada. Bahkan sejak semalam ia hubungi menggunakan ponsel Asep pun tak mendapat respon.
Fix pernikahan Muna tak terjadi bukan hanya karena babe kecelakaan, bukan pula karena ia sempat menghilang. Tetapi lebih kepada hati Muna sendiri. Yang merasa mungkin terlalu cepat mengakhiri masa mudanya dalam suatu ikatan pernikahan.
__ADS_1
(Jangan salahin otor yak. Ini anak lulus SMA belom berani di ajak nikah gaes🤭)
"Babe Rojak begitu ya enaknya di panggil? terima kasih sudah sangat percaya pada kami. Dan Alhamdulilah. Muna selama ini di rawat dengan baik oleh malaikat tak bersayap seperti babe dan nyak Muna ini." Tukas Dadang akrab.
"Anak entuh, bener hanya titipan pa Dadang. Maka sedapat mungkin selama masih di beri kepercayaan memilikinya, kita jaga dengan setulus hati. Benernye... Aye malu. Habis tau orang tua Muna kaya bener. Maaf pa, selama ini kami hanya hidup pas pasan."
"Babe... Harta juga cuma titipan. Kebetulan Allah nitipnya agak banyak ke mamanya Muna. Jadi sebagai suami saya hanya kena dampaknya." Kelakar Dadang yang rupanya memiliki selera humor yang lumayan tinggi.
"Ah... Pa Dadang bisa ae."
"Mari Muna. Kamu siap nak?" ajak Dadang tanpa memaksa sedikit pun dari nada suaranya.
"Insyaallah. Belanda, Muna datang." Ucap Muna berusaha meyakinkan diri sendiri.
"Alhamdulilah. Mari... Babe, dan nyak Muna. Doakan kami cepat kembali dan kakek Muna bisa segera sehat. Untuk babe Rojak juga. Jangan buru-buru pulang dari sini. Sampai benar sembuh saja. Tidak perlu memikirkan biaya, semuanya gratis untuk babenya Muna." Dadang tentu tidak mempermasalahkan jasa dokter ataupun biaya apapun yang di munculkan selama perawatan babe Rojak. Sebab semuanya tak pernah sebanding dengan di temukannya kembali mutiaranya yang sempat hilang.
Bersambung...
Maaf ye... jika keputusan Muna bikin kecewa readers setia.
Nyak kesian kalo Muna harus kawin muda.
Lop buat semua yang masih setia
See u di bab selanjutnya💪💪
__ADS_1